
Hari pernikahan Alam dan Raissa.
Al saat ini sedang duduk di kamarnya sambil bergumam latihan ijab kabul, Edo yang melihat atasa yang sudah di anggap abangnya sendiri merasa aneh melihat tingkah Al.
"Bang ayok berangkat, ayah sama Ibu udah nunggu di bawah" Anggi masuk kamar abangnya dan menyuruh untuk turun.
"Iya ayok"
Mereka berangkat dengan 2 mobil, Edo, Al dan kedua orang tua Al di mobil pertama. Alex, Alisa, Anggi dan Andi ada di mobil ke dua.
Sampai di rumah Ica sebagai lokasi acara akad nikah Al semakin gugup.
"Udah tenang aja bang, berdoa dulu biar lancar" kata Ayah.
"Hmm"
"Tadi yang buat mas kawinnya mana? nggak lupa kan?" tanya Ibu.
"Enggak kok bu, ini mau diambil dulu di bagasi mobilnya kak Alex" kata Anggi.
"Emm, yaudah ayok masuk, Ibu mau lihat mantu Ibu dulu"
Mereka semua masuk ke dalam rumah Ica, para laki - laki langsung bersiap di dekat meja untuk akad nikah, sedangkan para perempuan ke kamar Ica.
"Assalamualaikum" ucap Ibu, Anggi, dan Alisa yang baru masuk.
"Waalaikumussalam" jawab semua orang di dalam kamar.
"Cantiknya mantu Ibuu" puji Ibu sambil memeluk Ica.
"Terimakasih, Ibu juga makin cantik"
"emang cuma kamu yang mau muji Ibu, anak anak Ibu nggak ada tuh yang pernah bilang gitu" gerutu Ibu.
"Lah kan tadi pagi aku juga bilang gitu sama ibu, biasanya juga gitu, kenapa bilang ke kak Ica nggak pernah" Anggi tak terima.
"Iya kamu muji kalau ada maunya"
"Sudah kak, acaranya mau mulai, dengerin bang Al Ijab kabul dulu" lerai Alisa.
Dibawah, tempat akad nikah Al sedang duduk berhadapan dengan Papa Romy dan pak penghulu.
Acara dimulai dengan khidmad, sampai pada acara inti yaitu proses akad nikah.
"Nak Alam sudah siap?" tanya pak Penghulu.
__ADS_1
"InsyaAllah siap pak"
"Bapak Romy mari dimulai" kata pak penghulu
"Nak Al jabat tangan Pak Romy" lanjutnya.
Setelah Al dan Papa Romy berjabat tangan, pak penghulu memberitahu tata cara Ijab kabul.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Alam Syaputra, dengan anak saya Raissa Dwi Anggara, dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat, 500 gram emas 24 karat, dan uang tunai sebesar 270.523 poundsterling dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Raissa Dwi Anggara binti Romy Anggara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi dan bapak - bapak sekalian? Sah?"
"Saaah" ucap hampir semua orang
"Alhamdulillahirabbil 'alamin"
Setelah proses akad nikah dilanjutkan pembacaan doa, lalu penandatanganan dokumen pernikahan.
Raissa diminta turun dan menyalimi Al yang kini sudah menjadi suaminya.
Raissa mendekat dan salim kepada Al, hatinya merasa bergetar melakukan ini setelah mereka menjadi pasangan suami istri. Lalu Al meletakkan tangannya di ubun - ubun Ica dan membaca doa, baru setelah itu ia mengecup kening Ica.
.
"Al papa titipkan Ica padamu, tolong sayangi dia seperti kami menyayanginya, tolong hargai dia seperti kamu menghargai orang tuamu, tolong bimbing dia sebagaimana ajarannya, tolong tegur dia bila dia melakukan kesalahan, dan tolong kembalikan dia bila kamu sudah tidak sanggup untuk menerimanya kembali" kata Papa sambil meneteskan air mata.
"InsyaAllah pa, doakan rumah tangga kami baik - baik saja, walaupun pasti ada masalah dalam rumah tangga. Tolong ajari Al juga supaya jadi suami yang baik bagi Istrinya" balas Al sambil memeluk papa mertuanya.
Kalau Al sedang diberi nasihat oleh para bapak bapak, Ica sekarang sedang dikerumuni gerombolan wanita beda generasi.
"Sayang, kamu jangan sungkan sama Ibu ya, kalau ada apa apa bilang sama Ibu, dan juga Ibu minta tolong kamu jangan pernah ninggalin abang yaa, kalau memang ada masalah Ibu harap kalian bisa dewasa dalam menyikapinya" kata Ibu sambil memeluk menantu kesayangannya.
"Iya buu, Ica juga ingin belajar dengan Ibu untuk jadi istri dan Ibu yang baik"
"Kamu sudah jadi Istri sekarang, kalau kemarin harus nurut sama mama dan papa sekarang kamu harus nurut sama suami yaa, InsyaAllah Al nggak bakal ngajak kamu ke jalan yang salah, mama percaya itu" kata mama Nella.
"Iyaa, juga jangan nunda kehamilan ya sayang, Ibu pengen cepet gendong cucu" kata Ibu sambil bercanda membuat Ica merona malu.
Sore harinya, habis sholat ashar semua orang bergegas ke hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Al dan Ica.
Tamu yang diundang sebanyak 2000 orang, dan hampir semuanya hadir, Al dan Ica hanya bisa istirahat duduk saat sholat maghrib, setelahnya terus berdiri sampai pukul sepuluh malam.
Sampai hampir jam sebelas malam, baru acara benar benar selesai, Al dan Ica berpamitan kepada keluarganya untuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"Huft capek banget yang, siapa sih yang ngasih ide undangan sebanyak itu" keluhnya setelah sampai kamar.
"Nggak tau juga mas, udah selesai juga"
Melihat Ica yang sedang membersihkan riasannya, Al ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menyiapkan Air hangat untuk Ica berendam.
15 menit kemudian ia keluar.
"Sayang kamu mandi gih, udah aku siapin air hangatnya" kata Al.
"Emm, aku nggak bisa buka resleting belakangku mas, boleh minta tolong" kata Ica dengan suara yang kecik hampir tidak terdengar.
"Ohhh, sini aku bantuin" Al membantu membuka resleting gaun yang dipakai ica dari belakang, melihat punggung mulus Al sedikit tergerak untuk mengusapnya, namun ia tahan, karena dia tau Ica sedang ingin cepat mandi.
"Terimakasih mas" ucap Ica sambil berjalan ke kamar mandi
Lebih dari 30 menit Ica di kamar mandi, Ica keluar dengan menggunakan bathrobe.
"Kenapa masih pakai bathrobe sayang?" heran Al, bukannya tadi sudah membawa baju ganti ke kamar mandi.
"Anu, itu mama sama kak siska nggak kasih aku baju tidur yang biasanya" jawab Ica gugup.
"Hmm yaudah ayok sholat Isya' dulu"
"Iyaa" Ica lalu melepas bathrobenya, walaupun sudah secepatungkin ia berganti mukenah. Tapi tetap saja di mata Al, moment saat Ica melepas bathrobe itu terlihat sangat lambat alias slowmotion, Al yang baru pertama kali melihat Ica menggunakan lingerie sedikit goyah imannya.
Setelah selesai sholat Isya' dan berdoa bersama, Al langsung naik ke ranjang dan memperhatikan tingkah Ica yang sepertinya bingung hendak melepas mukenah atau tidak.
"Kenapa masih disitu, sini sayang, udah halal masak nggak mau tidur satu ranjang" goda Al.
"Enggak kok, bukan gitu, a - aku malu mas"
"Udah nggak usah malu, nanti lama lama juga terbiasa kok, sini" Al berdiri dan menarik tangan Ica lalu membantu melepas mukenah yang Ica pakai. Ica yang hanya diam.
Setelah melepas mukenah dan menaruhnya di meja, Al kemudian berjalan mendekat sambil melihat Ica dari atas sampai bawah, melihat betapa cantik dan indahnya tubuh Ica, dia sudah tidak tahan lagi.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih semua yang sudah membaca karya pertama saya, dan juga mohon untuk memberikan kritik dan saran, karena saya merasa perlu banyak belajar agar bisa terus berlanjut berkarya.
Jangan lupa Like dan dukungannya yaa. ❤️❤️
__ADS_1