
Pagi harinya, Al dan Ica sedang bersiap - siap untuk berangkat ke resto sebelum pergi ke bandara untuk ke bali.
Ibu sejak jam 5 subuh sudah berangkat ke resto diantar oleh Edo, sedangkan yang lain sedang menunggu Al turun untuk berangkat bersama.
"Abaaaang cepetaaan, udah jam 6 loh" Anggi berteriak karena sudah tidak sabar menunggu Al dan Ica turun.
"Kenapa teriak - teriak sih kak, sampai kedengeran dari belakang" tegur Ayah yang baru datang dari halaman belakang rumahnya.
"Itu abang lama ayah, kita kan mau berangkat ke resto dulu, belum lagi jemput papa sama mamanya kak Ica"
"Kan masih ada waktu kak, lagian kalau mau manggil itu nggak usah berteriak, nggak sopan, lebih baik kamu naik ke atas ketuk pintunya dan bilang baik - baik"
"Iya ayah maaf"
"Dek ikut kakak berangkat sekarang ayo, kita bantu Ibu dulu di resto"
"Sebentar kak, adek ambil hp dulu" jawab Andi
"Ayah ikut kalian juga deh, nanti biar abangmu langsung jemput mertuanya saja. Dek kamu sekalian bilang ke abang kalau kita berangkat duluan, nanti kalau berangkat juga jangan lupa kunci pintunya"
"Iya ayah" Andi lalu pergi ke kamarnya sekaligus mampir di depan kamar Al.
Tok tok tok
"Bang, kita mau berangkat dulu ya, mau bantu ibu di resto dulu"
"Oh iya dek, abang nanti habis jemput mama sama papanya kak Ica langsung nyusul ke resto"
"Iya bang, oh iya, ayah juga pesen kalau keluar nanti jangan lupa kunci semua pintu"
"Iyaa, santai aja, kamu bilang ke kakak, hati hati kalau bawa mobil"
"Iya bang, berangkat dulu yaa, assalamualaikum" ucap Andi sekaligus salim kepada abangnya itu.
Setelah Ayah, Anggi dan Anggi berangkat terlebih dahulu ke resto, Al kembali masuj kamarnya, mengambil koper dan juga barang bawaan dirinya dan juga Ica, ia memasukkan semua barangnya di bagasi mobil, lalu memeriksa jendela dan juga pintu belakang rumahnya, setelahnya dia menunggu Ica di ruang tamu sambil menghubungi rekan bisnisnya yang sudah ada di bali sejak kemarin
"Mas, kamu udah masukin ke bagasi barangnya?" Ica sampai di ruang tamu dengan penampilan yang casual, dia menggunakan celana bahan jeans, kaos putih polos yang di tutup jaket kain dan memakai sneakers kekinian.
"Udah kok sayang, mau berangkat sekarang?"
"Iya ayok mas, mama sepertinya sudah nunggu di rumah"
"Iya sayang"
Saat sudah di tengah perjalanan, Ica tiba - tiba meminta berhenti.
"Mas berhenti di apotek dulu, obatnya Ibu seharusnya udah habis, soalnya udah 10 hari dari terakhir kali beli obatnya, jadi mau beli dulu, takut Ibu lupa nggak menyiapkan"
__ADS_1
"Iya sayang, kamu tunggu di mobil aja yah, biar aku yang turun"
"Iya mas"
Setelah membeli obat untuk ibu, Al kembali melanjutkan perjalanan ke rumah mertuanya.
"Assalamualaikum" ucap Al dan Ica bersamaan saat tiba di rumah orang tua Ica, mereka ternyata sudah menunggu di depan rumah saat Ica sudah mengabari kalau dia dan Al sudah dalam perjalanan.
"Waalaikumussalam" jawab semua keluarga Ica.
"Ayo berangkat sekarang, mama sama papa bareng Ica yaa"
"Iyaaa, nanti kita ikut mobil Al, biar kakakmu bawa mobil sendiri sama istri dan anaknya"
"Om nanti di bali ada jual apa aja? Gis mau beli oleh - oleh buat teman teman Gis di sekolah"
"Om nggak tau apa aja Gis, nanti dilihat sendiri yaa, kalau papa sama mama repot, terus mau beli apapun bilang sama om atau tante yaa, nanti biar kita antar"
"Siyap om" jawab Giska sambil bersikap hormat upacara.
"Itu hormat gis, bukan siap" kata kak Gilang
"Siap juga gitu kok pa, Gis sering lihat du TV kalau bilang siap itu sambil hormat"
"Sudah, ayok berangkat, mama udah nggak sabar mau cobain masakannya ibunya Al"
"Sayang kamu mau nunda kehamilan dulu atau bagaimana?" tanya mama kepada Ica yang duduk di sampingnya saat mobil mulai berjalan.
"Ica nggak ada niatan nunda kehamilan sih ma, se dikasihnya saja"
"Tapi kamu udah sempet anu kan?" tanya mama mulai kepo urusan pribadi anaknya.
"Ekhemm" papa batuk tanpa ada sebab dan seperti disengaja menghentikan pembicaraan 2 perempuan di kursi belakang.
"Apa sih ma" Ica berlagak tidak tau apa yang dimaksud mamanya, tapi wajahnya sudah memerah seperti tomat.
"Mama cuma tanya ca, soalnya kan kamu jadwal liburnya dua atau tiga hari setelah kalian menikah"
"Emm, sebenernya Ica belum libur mah, nanti waktu di bali mau sekalian cek, sama mau tanya tanya tentang program hamil" jawab Ica
"Hmm baguslah kalau kalian udah punya rencana seperti itu, karena mama yakin ibunya Al pasti sangat berharap segera punya cucu dari kalian, sama seperti mama dulu ketika kakakmu baru menikah"
"Bukannya mama juga ingin segera dapet cucu dari Ica? Mana mau request cucu laki - laki pula" kata Ayah menyela obrolan dua wanita beda generasi di belakangnya.
"Yaaa kan nggak salah juga, orang tua mengharap cucu dari anaknya, iya kan Al"
"Iya ma, minta doanya, semoga bisa cepat di beri kepercayaan untuk memiliki anak sama yang di atas"
__ADS_1
"Aamiin"
15 menit perjalanan mereka sudah sampai di parkiran resto, Al mengajak semua orang untuk masuk ke dalam.
"Selamat pagi bang, kak, tuan dan nyonya sekalian, mari saya antar ke ruangan yang sudah disiapkan Ibu" ucap ramah salah satu pegawai laki - laki yang ditugaskan menunggu rombongan keluarga Ica datang.
"Iya terimakasih mas"
Mereka semua masuk ke dalam dan naik ke lantai 2, disana ada beberapa ruangan privat untuk tamu tamu VIP, ketika sampai di depan pintu nomor 1, karyawan yang mengantar berpamitan untuk melanjutkan tugasnya.
"Mari masuk" ucap Al sambil mendorong pintu.
"Assalamualaikum" ucap semua orang yang baru masuk.
"Waalaikumussalam"
"Ayo sini sini duduk semuanya, sini sayang kamu duduk sama nenek" kata Ibu sambil mengajak Giska untuk duduk bersamanya.
Giska yang tiba tiba di ajak ibu bingung dan menoleh ke papa dan mamanya.
"Sana sama nenek, itu ibunya om Al, salim dulu sambil kenalan sama yang lain yaa" kata kak Siska
"Baik ma" Giska lalu berjalan ke arah Ibu dan yang lain untuk salim, semua orang yang terlihat sudah ada di dalam ketika masuk tadi ia salimi satu persatu.
"Sini sayang, duduk di sebelah nenek, yah kamu minggir sana, aku mau duduk sama Gis Gis" kata ibu sambil mengusir ayah.
Al yang melihat Ibunya seperti itu kemudian berbisik kepada istrinya.
"Sayang lihatlah, sepertinya ibu sudah tidak sabar untuk gendong cucu"
"Iya mas, semoga kita cepat diberi momongan yaa"
"Iya sayang, berarti mulai sekarang kita harus rajin buatnya"
"Ihh itusih maunya kamuu"
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya pertama saya.
Jangan lupa untuk memberikan dukungan dan juga saran agar saya bisa lebih giat dan lebih termotivasi untuk terus berkarya.
__ADS_1
Terimakasih banyak..