PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Lili, aku harap kau hidup aman dan bahagia


__ADS_3

Kediaman Lili


Tok... Tok... Tok... (suara pintu diketuk dari luar.)


"Siapa itu?" tanya ibu Lili yang sedang berjalan sambil membawa makanan dan minuman diatas nampan.


Ia berjalan dan meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja, yang berada tepat di depan ayah Lili yang sedang duduk di sofa.


"Biar aku lihat dulu." teriak Lexi sambil berlari menuju pintu.


"Berhenti!"


"Hah?!"


"Biar aku saja." kata ayah Lili sambil beranjak dari tempat duduknya.


Ia berjalan melewati Lexi. Ibu Lili yang melihat wajah Lexi cemberut karena tidak diperbolehkan suaminya untuk membukakan pintu, segera memanggilnya untuk duduk bersamanya.


"Lexi, kemarilah!" kata ibu Lili sambil melambaikan tangannya kepada Lexi.


"Tidak mau!"


"Jangan cemberut seperti itu. Ayo kemari dan duduk bersama ibu."


"Baiklah."


Lexi pun berjalan menghampiri sang ibu dan duduk didekatnya. Saat ia mengambil camilan kue kering yang dibuat ibunya, tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar.


Boom!


Bang!


Melihat tubuh ayahnya terpental dan menabrak tembok rumahnya, membuat Lexi dan ibunya menoleh ke belakang. Dilihatnya suaminya sedang tergeletak tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Spontan keduanya langsung berdiri dan berteriak histeris secara bersamaan.


"Suamiku!"


"Ayah!"


Lexi melihat ke arah pintu. Dilihatnya pintu rumahnya hangus terbakar akibat sebuah ledakan yang hebat. Ia melihat sosok bayangan tiga orang pria yang mengenakan jubah berwarna hitam dengan mengenakan topeng di wajahnya.


"Ibu, lihat itu!" teriak Lexi dengan tangan yang gemetaran saat menujuk ke arah ketiga pria bertopeng yang misterius itu.


Ketiga pria bertopeng itu sedang berjalan masuk menghampiri ayah Lili yang sedang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Melihat ketiga pria itu berjalan menghampiri suaminya, ibu Lili berteriak menghentikan mereka bertiga.


"Berhenti!"


Ketiga pria bertopeng itu pun segera menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang wanita. Salah satu pria bertopeng yang berada di barisan tengah, melangkah maju ke depan. Sepertinya ia adalah pemimpin dari kelompok itu. Ia pun berhenti dan menoleh ke arah ibu Lili dan Lexi. Lexi yang ditatap oleh pria itu, langsung bergidik dan gemetaran. Ibunya yang mengetahui anaknya sedang ketakutan, segera memeluknya erat.


"Siapa kalian?! Kenapa kalian menyerang suamiku dan meledakkan pintu rumah kami?!"


"Uhuk... uhuk... pergi."


"A... ayah!" teriak Lexi.


"Su... suamiku?!"


Ibu Lili langsung menggendong Lexi dan terbang menuju suaminya yang sedang berusaha bangkit. Dengan tertatih-tatih ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa berdiri.


"Su... suamiku. Sebenarnya apa yang terjadi?! Kenapa orang-orang bertopeng ini datang menyerang kita?!"


"Aku tidak tahu siapa mereka. Uhuk... uhuk... saat aku membukakan pintu, mereka tiba-tiba langsung menyerangku secara bersamaan."


Cring! (suara pedang ditarik dari sarungnya.)

__ADS_1


Mendengar suara pedang yang ditarik keluar dari sarungnya, membuat pandangan mata kedua orang tua Lili tertuju padanya.


"Pergi! Bawa Lexi pergi sejauh mungkin, uhuk... uhuk. Biar aku yang menghadang mereka. Sementara aku menghadang mereka, kau bawa Lexi untuk menemui Lili. Satu-satunya tempat yang aman adalah di istana." ucap ayah Lili sambil terbata-bata>


"Ta... Tapi, bagaimana denganmu?"


"Aku baik-baik saja. Pergi dan segera temui Lili! Sekarang!"


"Tidak! Kita harus pergi bersama-sama!"


"A... ayah... aku takut... huaaaaaaa!" teriak Lexi sambil menangis sekencang-kencangnya.


"Tsk. Berisik!" salah satu pria bertopeng itu maju sambil menghunuskan pedangnya ke arah mereka bertiga.


"Cari mati kau!" teriak ayah Lili sambil melemparkan gas beracun ke arah ketiga pria bertopeng itu. Ketiga pria bertopeng itu dengan spontan langsung menutup wajahnya dengan menggunakan tangan kiri mereka.


Tak lama kemudian gas beracun itu perlahan memudar. Dilihatnya ketiga orang itu menghilang dalam sekejap mata.


"Sialan! Mereka kabur. Kita berpencar dan segera bunuh mereka bila ditemukan!"


"Baik!"


Ketiga pria bertopeng itu segera melesat pergi seperti kilatan bayangan hitam. Setelah kepergian ketiga pria bertopeng itu, seluruh bagian dalam rumah Lili hancur berantakan. Rumah Lili yang semula hancur hanya bagian depan pintu rumahnya, akibat ledakan dari pertarungan ayah Lili dengan ketiga pria bertopeng itu. Tiba-tiba rumah itu langsung terbakar dilalap si jago merah. Tidak tahu darimana datangnya asal percikan api yang membakar hangus rumah Lili. Api berkobar dan semakin membesar ke atas langit. Disisi lain, ayah Lili membawa terbang istri dan anaknya pergi menaikki elang hitam raksasa miliknya. Dengan terbatuk-batuk, ayah Lili mengerahkan seluruh tenaganya untuk bermeditasi. Guna untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Lexi yang ketakutan terus menangis ke dalam pelukan ibunya.


"Berhenti menangis, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di istana kakakmu." bujuk ibu Lili kepada Lexi yang masih menangis sesenggukan.


"Ibu, aku takut... hiks...hiks..."


"Jangan takut. Ayah dan ibu akan melindungimu." kata ibu Lili sambil mengusap kepala Lexi dengan lembut.


"Ayah bagaimana?" tanya Lexi sambil melirik ke arah ayahnya yang duduk didepannya sambil mensilangkan kedua kakinya dan melakukan meditasi.


"Dia sedang bermeditasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Sebentar lagi dia akan baikan."


Sring!


Terdengar suara kilatan cahaya yang mendekat, kedua mata ayah Lili yang tadinya tertutup rapat langsung terbuka lebar. Dengan gerakan cepat, ia melancarkan serangan ledakan ke arah belakang.


Boom... Boom... Boom


Lexi yang mendengar ada suara ledakan dari arah belakang, segera menoleh untuk melihatnya. Dilihatnya ketiga pria itu sedang mengejar mereka dari belakang. Lexi pun mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dan dilihatnya ayahnya tak bergerak dari tempatnya. Ia masih duduk bersila.


"Ibu, apa ayah sedang melindungi kita?"


"Ya. Itu adalah salah satu kemampuan dan kekuatan ayahmu."


"Ayah sangat hebat!"


"Kau juga hebat."


"Benarkah?"


"Ya. Lexi, dengarkan ibu. Ayah dan ibu tidak selalu bisa melindungimu selamanya. Jadi kau harus belajar untuk melindungi dirimu sendiri."


"Kenapa ibu mengatakan hal seperti itu? Apa ayah dan ibu akan meninggalkan aku dan kakak sendirian di dunia ini?!"


"Tentu saja tidak."


Mendengar jawaban ayahnya, senyum ceria mulai menghiasi wajah Lexi.


"Ayah!" teriak Lexi sambil merangkak menuju ke arahnya.


Ia memeluk ayahnya dengan sangat erat. Begitu juga ayahnya, memeluk Lexi dengan sangat erat dan mencium keningnya lembut.

__ADS_1


"Lexi, apa yang dikatakan ibumu benar. Kita tidak selamanya bisa melindungimu. Jadi kau harus belajar untuk melindungi dirimu sendiri."


"Ayah, ibu kenapa kalian berdua mengatakan hal seperti itu?"


"Karena sekarang kita dalam bahaya. Ada orang yang ingin membunuh kita semua. Kau anak yang cerdas dan berbakat. Ayah dan ibu yakin, kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dengan kekuatanmu sendiri."


"Tapi... tapi... aku masih kecil. Kekuatanku tidak sebesar dan sehebat kalian."


"Kata siapa? Kekuatanmu jauh lebih besar dari kami. Sekarang, berjanjilah pada ayah dan ibu. Apapun yang terjadi, kau harus menemui kakakmu. Ceritakan yang sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga kita. Apa kau mau berjanji?!" tanya ayah sambil menunjukkan jari kelingking kanannya ke hadapan Lexi.


Lexi menatapnya dengan penuh tanya. Dengan sikap polosnya, ia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya. Keduanya saling mengaitkan janji jari kelingking. Melihat suami dan anak laki-lakinya mengikat janji jari kelingking, ibu Lili hanya bisa tersenyum.


"Lexi, kau hanya berjanji pada ayahmu saja. Apa kau tidak mau berjanji pada ibumu ini?!" tanya ibu Lili sambil menunjukkan jari kelingking kanannya ke hadapan Lexi.


"Ibu ingin aku berjanji apa?"


"Tetaplah hidup untuk kami berdua, kakakmu dan tentu saja, untukmu."


"Tentu saja. Aku berjanji. Aku sebagai anak laki-laki, meskipun aku masih kecil. Aku akan menepati janjiku kepada kalian!" teriak Lexi dengan penuh semangat.


Melihat anak laki-lakinya sangat bersemangat, keduanya hanya tersenyum kecil.


"Kwakkk!" teriak elang hitam raksasa itu sambil mengepakkan kedua sayapnya.


Elang itu terbang dengan kehilangan keseimbangan. Tubuh elang itu tergoncang yang mengakibatkan orang yang menaikinya ikut terguncang. Ayah Lili mengamati tubuh elang miliknya. Ia melihat sayap bagian kanan elang miliknya tertusuk oleh anak panah beracun. Itulah yang menyebabkan elangnya terbang dengan tidak seimbang.


"Sialan! Istriku buat pelindung. Kita akan mendarat darurat!"


"Apa yang terjadi?!"


"Iblis hitam terluka di bagian sayap kanannya akibat luka tembakan anak panah beracun, yang dilancarkan oleh mereka!"


"Ehm." kata ibu Lili sambil melakukan gerakan memutar kedua tangannya ke udara dan menyatukan kedua telapak tangannya. Ia menutup kedua matanya sambil merapalkan mantra.


Sebuah pelindung tak terlihat mulai melindungi elang hitam milik suaminya. Dan mereka melakukan pendaratan darurat di hutan. Ketiga pria bertopeng itu terus mengejar mereka sampai ke hutan.


Whuuushhh....


Desiran angin berhembus kencang di sekitar hutan, menyebabkan beberapa pohon di sekitar sana tumbang. Elang hitam itu mendarat dan berubah menjadi kecil. Dengan cepat ibu Lili mengambilnya dan menarik anak panah itu, lalu membuangnya. Ia segera mengobati elang hitam itu dengan kekuatan pengobatan miliknya. Lexi tetap berada disamping ibunya, sambil melihat pengobatan yang dilakukan oleh ibunya kepada elang hitam milik ayahnya. Ketiga pria bertopeng itu berhasil menemukan mereka. Ayah Lili yang sedari tadi sudah bersiap untuk menunggu kedatangan mereka, tersenyum dingin kepada mereka.


"Yooo... seperti yang diharapkan dari ayahanda calon ratu masa depan, tidak bisa diremehkan! Meski diusiamu yang separuh abad, kekuatanmu tidak menurun juga!"


"Humph! Terima kasih atas pujianmu. Sepertinya kau sangat mengenalku dengan baik. Katakan, siapa tuanmu? Dan, seingatku... aku tidak pernah menyinggung seseorang. Jadi katakan yang sebenarnya, kenapa kalian menyerang dan ingin membunuh kami?!"


"Heh, kau memang tidak pernah menyinggung seseorang, tapi anak perempuanmu. Dia sudah menyinggung seseorang yang paling berkuasa di kerajaan ini?!"


"Anak Perempuanku? Apa yang dia maksud adalah Lili. Seingatku, Lili tidak pernah bercerita tentang dirinya yang pernah menyinggung seseorang. Lalu siapa orang yang telah dia singgung? Orang yang paling berkuasa di kerajaan ini?! Orang itu adalah... tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" pikir ayah Lili dalam hati.


"Aku tidak mengerti maksudmu?!"


"Kalau kau tidak mengerti, aku akan membuatmu mengerti. Itupun jika kau bisa melewati kematianmu ini! Hiyaaaattt!" teriak satu pria bertopeng itu diikuti oleh kedua temannya yang ikut mengepung ayah Lili. Melihat ketiga pria bertopeng itu datang dan menyerang dirinya, ayah Lili hanya tersenyum dingin. Kilatan cahaya yang keluar dari kedua matanya memancarkan aura pembunuh. Dengan cepat, ayah Lili mengeluarkan pedang miliknya.


Klang!


Whuuussshhh!


Kedua pedang saling berbenturan satu sama lain, ditambah dengan kedua pria bertopeng yang berada di belakang punggung temannya itu keluar dan melancarkan serangan andalan mereka. Namun, serangan keduanya berhasil diblokir oleh ayah Lili dengan pedang ditangannya. Ditambah dengan pedang yang berasal dari pria bertopeng itu yang masih bertahan untuk menekannya.


"Tsk, butuh seratus tahun lagi bagi kalian untuk melawanku! Hiyattttttt!" teriak ayah Lili sambil mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya.


Seluruh tubuhnya memancarkan aura kekuatannya, membuat Lexi dan ibunya menoleh ke arah mereka. Ia melihat pertarungan suaminya yang sengit dengan ketiga pria bertopeng itu. Baru kali ini ia melihat suaminya mengerahkan jurus tingkat tingginya untuk melawan ketiga pria bertopeng itu.


"Lili, ayah harap... kau hidup dengan aman dan bahagia bersama adik kecilmu." batin ayah Lili dengan penuh harap sambil melancarkan kekuatannya untuk melawan ketiga pria bertopeng itu.

__ADS_1


__ADS_2