PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Benci Dan Cinta 3)


__ADS_3

Tetua Menzy mengangkat tangannya ke atas udara dan muncullah kilatan petir menyambar dari atas langit. Kilatan petir itu kemudian jatuh tepat di atas tempat Lili berdiri membentuk sebuah penjara petir. Tetua Menzy mencengkeram tangannya di udara, dan penjara petir itu mengeluarkan sengatan petir ke arah Lili. Lili menjerit kesakitan karena sengatan petir yang terus menyakiti tubuhnya hingga ia jatuh terkapar di atas tanah beraspal. Melihat Lili jatuh pingsan, Tetua Menzy menarik tangannya. Penjara petir itu menghilang dalam sekejap. Ia berjalan menghampiri Lili yang sedang jatuh pingsan.


"Apa dia sudah mati?" bisik salah satu penyihir berjubah hitam kepada temannya.


"Entahlah."


Tetua Menzy menginjak tangan kanan Lili dengan kakinya. Merasa sakit di tangannya, Lili yang tadi pingsan langsung terkejut dan meraung kesakitan.


"Kau tahu rasanya sakit bukan?! Ini belum seberapa!" ejek Tetua Menzy sambil menyeringai.


"Keparat! Aku akan menghancurkan kau!"


"Oh, aku takut sekali! Sayangnya, kau tidak akan bisa menghancurkan aku!" ejek Tetua Menzy sambil mengangkat tangan kanan Lili.


Melihat Tetua Menzy memegang tangan kanannya, membuat Lili ingin meludahinya. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa bergerak akibat sengatan petir yang mengenainya.


"Tangan ini sangat halus sekali. Dan alangkah baiknya tangan ini selamanya hanya akan halus dan tak berdaya untuk memukul orang lain!" ejek Tetua Menzy sambil mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghancurkan meridian Lili.


"AAAAKKKKKHHHHHHHHH!!!!"


Lili menjerit kesakitan, seolah jeritannya ditelan malam dan langit hanya diam membisu menyaksikan adegan siksaan yang sangat tak manusiawi ini. Melihat Lili meraung kesakitan, Tetua Menzy melemparkan tangan kanannya ke atas tanah. Ia menepuk kedua tangannya seolah membersihkan noda kotor yang menempel pada kedua tangannya. Lalu ia berdiri dan berbalik. Lili yang dalam keadaan setengah siuman melihat punggung Tetua Menzy yang berjalan menjauhinya. Samar-samar ia mendengar Tetua Menzy memberi perintah kepada anak buahnya. Kelima anak buahnya itu mengangguk seolah mengerti perintah yang mereka terima. Kemudian ia mengangkat tubuh Lili yang dalam keadaan setengah siuman dan membawanya ke hutan yang jauh dari ibukota. Sesampainya di hutan yang dimaksud, dengan kasarnya, kedua anak buah Tetua Menzy yang menggendongnya, melemparkan dia ke atas tanah hutan yang kasar. Lili meringis kesakitan.


"Tsk, tubuhnya memang kecil tapi berat sekali!" keluh anak buah 1


"Lihat! Dia sudah siuman!" teriak anak buah 2.


"Baguslah kalau dia siuman! Ini akan menjadi semakin menarik." kata anak buah 3 sambil berjalan mendekatinya.


"Kau benar! Dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini sepanjang hidupnya!" anak buah 1.


"Baginya, hidup segan mati tak mau! Hahaha!" ejek anak buah 4.


"Biar aku duluan yang mulai!" teriak anak buah 2.

__ADS_1


"Tsk, selera kalian sungguh rendahan. Dengan tubuh mengenaskan seperti itu, bagaimana kalian yakin dia bisa memuaskan kalian semua?!" sahut anak buah 5.


"Kau itu bodoh ya!!! Kau tidak dengar apa yang dikatakan Tetua Menzy sebelumnya! Dia berkata, kalau gadis hina ini masih perawan!" bentak anak buah 1.


"Sudah jangan berdebat. Mari kita hompimpa untuk menentukan siapa yang duluan bermain dengannya." sahut anak buah 3.


"Kau itu anak kecil ya! Memangnya kita main apaan!" ejek anak buah 4.


"Sudahlah. Yang senior yang duluan. Yang junior belakangan!" tambah anak buah 1.


"Enak saja kalau begitu! Aku tidak terima!" bentak anak buah 3.


"Kau mau melawan ya!!!" teriak anak buah 1 sambil menghunuskan pedangnya ke leher anak buah 3.


"Tidak...tidak. Baiklah aku setuju!" kata anak buah 3 sambil menelan ludahnya.


"Dari tadi kek! Membuang-buang waktuku saja! Kalian semua pergi dari sini! Kalau selesai aku akan memberitahu kalian!" kata anak buah 1 sambil menyarungkan kembali pedangnya.


Keempat pria itu pergi meninggalkan keduanya dan berjalan ke arah lain dan menunggunya disana. Anak buah 1 itu melepas jubah dan pakaian yang dikenakannya. Ia berjongkok sambil menyentuh wajah Lili yang pucat. Melihat pria yang ada didepannya menyentuh pipinya dan memasang wajah yang sangat menjijikkan, membuat Lili ingin memotong tangannya agar ia tak bisa menggunakan tangan kotornya lagi. Jangankan untuk memotong tangan pria yang ada didepannya, untuk bergerak saja ia sangat kesulitan. Lili tidak menyangka dia akan berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Ia menutup kedua matanya. Bulir air mata mengalir di kedua matanya yang tertutup. Dalam hatinya ia berkata "Apa aku harus kehilangan keperawananku sekarang?"


"Menjijikkan!" kata Pria itu sambil mengangkat tubuh mayat pria itu yang masih melekat di atas tubuh Lili dan melemparkan mayat itu ke sekelompok teman-temannya yang sedang menunggu giliran di tempat yang tak jauh dari tempat Lili berada.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu sambil menunduk dan mengulurkan tangan kepadanya.


Karena tubuh Lili sulit untuk bergerak, ia hanya memalingkan wajahnya.


"Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku akan menolongmu!"


"Menolongku? Konyol! Kau pikir aku akan percaya denganmu! Lebih baik aku mati dimakan singa atau serigala lewat daripada dimakan pria-pria bejat seperti kalian!"


Mendengar Lili mengatakan kata-kata kasar kepadanya, pria itu hanya terdiam dan menarik tangannya. Lalu ia berdiri dari tempatnya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berjalan mendekat.


"Yang Mulia, semua sudah dibereskan."

__ADS_1


"Bagaimana dengan mereka semua?"


"Yang Mulia tenang saja. Mayat mereka sudah kami bereskan sesuai perintah Yang Mulia."


"Bagus. Katakan kepada yang lainnya untuk kembali beristirahat."


"Baik Yang Mulia. Hamba undur diri dulu."


Lili yang mendengar percakapan itu langsung menoleh dan menatap pria yang masih berdiri di depannya.


"Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau lakukan pada mereka?"


"Aku sudah bilang akan menolongmu."


"Aku tidak mau balas budi."


"Setidaknya kita sudah impas."


"Kau... Pengemis itu?"


"Ya. Ini aku." sambil membuka cadar hitam yang menutupi mulutnya.


"Kau... kenapa ada disini?!"


"Aku mengikutimu." kata pengemis itu sambil membantu Lili duduk.


"Kau mengikutiku? Apa kau seorang stalker?"


"Lebih dari itu."


"Baru kali ini ada pengemis lucu sepertimu?"


"Aku punya nama. Jadi kau jangan memanggilku dengan sebutan pengemis. Itu tidak enak didengar."

__ADS_1


"Baiklah, siapa namamu?"


__ADS_2