PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Sang Ratu Iblis 5 (Reuni)


__ADS_3

Selama perjalanan, Krisan memandang Lili yang berjalan di depannya. Ribuan pertanyaan dan perasaan yang mengganjal, mulai memenuhi otaknya. Ingin rasanya Krisan bertanya kepadanya, namun ia takut menyinggung perasaannya. Keheningan terjadi selama perjalanan mereka berdua. Tiba-tiba, suara Lili yang memanggil namanya mulai memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Krisan, hari ini benar-benar sesuatu."


"Hah?!"


Tiba-tiba Lili berhenti dan berbalik ke belakang menatap Krisan.


"Apa yang kau pikirkan?!"


"Apanya?!"


"Huff, jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, katakan saja."


"Lili..."


"Ya."


"Sebenarnya siapa kau?"


Mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Krisan, Lili hanya membalasnya dengan senyuman dingin.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?!"


"Maaf. Tapi aku merasa kalau... kalau kau sudah berubah."


"Berubah? Bagian mana dari diriku yang berubah?"


"Banyak hal. Termasuk dengan makhluk elf itu."


"Aku tidak pernah berubah. Itu hanya perasaanmu saja. Mengenai makhluk elf itu... apa menurutmu salah jika aku berteman dengan mereka?"


"Aku tidak mengatakan itu salah. Hanya saja, darimana kau bisa mengenal mereka? Dan, kau bahkan membantu mereka. Seolah kau mengenal mereka dengan sangat baik."


"Jika ada seseorang yang meminta tolong kepadamu, apa kau akan diam saja? Apa kau akan berpura-pura seolah tak terjadi apapun?"


"Itu..."


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di langit. Langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap dan disertai kilatan dan bunyi petir yang menyambar di langit. Lili dan Krisan melihat ke atas langit. Dan dilihatnya ada ribuan makhluk elf terbang menuju ke arah mereka. Dengan cepat mereka mendarat tepat di hadapan Lili dan Krisan. Salah satu elf cantik berwujud setengah ikan terbang datang menghampiri Lili dengan ekspresi gelisah dan ketakutan.


"Ada apa?!"


"Gugugugu!" kata elf itu sambil menggerakkan kedua tangannya ke udara seolah menceritakan sesuatu.


Krisan bingung melihat tingkah laku elf itu sambil menggelengkan kepalanya. Ia melirik sekilas ke arah Lili yang dengan serius mendengarkannya.


"Dimana dia sekarang?!"


"Gugugu...gugugu!" lanjut Elf sambil menunjukkan tangannya ke arah lain.


"Bagaimana dengan yang lain?!"


"Gugugu!"


"Ada apa Lili? Mereka bilang apa?!"


"Raja mereka diserang oleh segerombolan orang tak dikenal saat berusaha melepaskan warganya."


"Lalu?"


"Orang yang tadi aku tangkap berhasil meloloskan diri karena segerombolan orang tersebut."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menolong mereka lagi?"


"Ya. Kalau kau tidak mau membantu, kau bisa menungguku disini. Aku akan meminta salah satu elf untuk menjagamu disini."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Krisan menatap ke arah ribuan elf dengan wajah dan wujud yang sangat aneh.


"Kau jangan melihat mereka hanya dari penampilannya saja. Terkadang penampilan luar yang sempurna, polos, kalem, itu hanyalah tipuan saja. Bahkan iblis saja bisa menyamar menjadi manusia. Apa kau pernah melihat, manusia seperti iblis?"


"Tidak. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Lili?"


"Sederhananya, jangan melihat orang dari penampilannya saja. Terkadang yang buruk sekalipun, ia masih mempunyai hati nurani. Ironisnya, yang terbungkus sempurna malah berhati iblis."


"Apa di dunia ini ada hal semacam itu?!"


"Tentu saja ada. Kau hanya tinggal memilih. Kau ingin menjadi bagian yang mana?"


"Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri."


"Bagus jika kau mempunyai pemikiran seperti itu. Aku harap, kau bisa mempertahankan dirimu ini."


"Ya."


"Kalau begitu, kau tinggalah disini dengan mereka. Jangan takut, mereka tidak akan menyakitimu."


"Karena kau sudah berkata seperti itu. Aku akan tinggal disini dengan mereka."


"Ya. Kalian semua, minta bantuannya untuk menjaga temanku. Apa kalian semua bersedia?!"


"Gugugu!" teriak para elf itu dengan ekspresi ceria di wajah mereka.


Krisan yang melihat ekspresi ribuan elf yang mendengarkan permintaan Lili dengan senang hati, merasa sedikit tersentuh. Ia berpikir, apa yang dikatakan Lili ada benarnya. Kita tidak boleh melihat buku dari sampulnya. Terlebih menilai sesuatu hanya dari opini orang lain. Lili pun berpamitan kepada Krisan dan ribuan elf yang ada disana menemani Krisan. Ia terbang bersama elf cantik berwujud setengah ikan itu seperti kilatan cahaya.


"Waahh cepat sekali mereka." teriak Krisan dengan kagum.


"Aku merasa, Lili menyembunyikan sesuatu dariku. Ia seolah menghindar dari pertanyaanku. Sebenarnya, siapa dia?!"


"Gugu!"


"Maaf. Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Aku berbeda dengan temanku. Ia bisa mengerti bahasamu, tapi aku tidak. Jadi, aku minta maaf. Bukannya aku tidak mau menjawab. Tapi, karena aku tidak tahu apa yang kau katakan."


Mendengar Krisan mengatakan hal itu, elf cantik itu tersenyum kepadanya.


"Aku pikir kau mengerti bahasa kami." kata elf itu sambil tersenyum kepadanya.


Betapa terkejutnya Krisan mendengar kata yang keluar dari mulut elf cantik itu. Bukan kata "Gugu" yang ia dengar. Melainkan bahasa manusia.


"Kau... kau... bisa bahasa manusia juga?"


"Tentu saja. Kami semua bisa."


"Tapi kenapa kau berkata Gugu?"


"Itu adalah bahasa kami dalam menyampaikan informasi yang bersifat rahasia."


"Jadi sebenernya kalian..."


"Iya. Kami bisa berbicara seperti kalian. Kami juga bisa merasakan emosi seperti kalian. Baik itu cinta, amarah, benci."


"Begitu ya."


"Mungkin dimatamu, kami adalah elf yang jahat."


"Aku tidak berpikiran seperti itu."


"Aku hanya mengatakan mungkin. Selebihnya, hanya kau yang tahu sendiri."


"Maaf, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Katakan saja. Sebisa mungkin, aku akan menjawabnya."

__ADS_1


"Sebenarnya, sejak kapan raja kalian mengenal temanku?!"


"Mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku hanya merasa, temanku menyembunyikan sesuatu dariku."


"Dia bukan orang seperti itu."


"Hah? Apa maksudmu, dia bukan orang seperti itu?!"


"Dia bukan orang jahat. Dia juga tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Dia orangnya tulus. Hanya saja..."


"Hanya apa?"


"Yang aku tahu, dia orangnya tidak seperti yang kau pikirkan. Dia orangnya hangat, selalu tersenyum dan tulus. Kadang aku berpikir, apa dia tidak pernah menangis selama hidupnya? Mungkin dia pernah menangis, tapi tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Jika kau bertanya, kapan rajaku mulai mengenal dia. Seingatku, dia. dan raja mulai saling mengenal saat pasukan raja terdahulu mengepung dan berusaha membinasakan kami semua. Ia datang menolong kami. Jika saat itu tidak ada dia, kami mungkin tidak akan hidup sampai saat ini."


"Jadi maksudmu, dia... ah temanku itu pernah menolong kalian?!"


"Iya. Dia pernah menolong kami. Dan karena itu, raja menyuruh kami untuk menghormatinya. Sama seperti kami menghormati raja."


"Jika seperti itu, berarti dia sekarang... berumur ratusan tahun?!"


"Benar. Dia awet muda ya?"


"Tidak. Ini tidak mungkin. Jika apa yang mereka katakan itu benar, kalau Lili telah menolong mereka dan mengenal raja mereka sudah lama saat mereka ingin dibinasakan oleh raja terdahulu, itu berarti Lili... berusia ratusan tahun. Jangan-jangan dia..."


Di tempat lain


"Hahaha... raja Elf apanya?! Kau tidak lain seperti sampah! Hahaha!" teriak pria berjubah hitam sambil menginjak tangan raja Elf dengan kakinya.


"Aaakkkkhhh!!?" teriak raja Elf kesakitan.


"Tuan, kau benar dia tak lain adalah sampah! Kita bunuh saja dia, tuan?!"


"Humph, kau benar juga. Lagipula, dia tak berdaya sekarang. Berkata ingin membebaskan warganya, tapi dia sendiri terjebak dan tak bisa melarikan diri. Kau benar-benar cerdik."


"Terima kasih, Tuan atas pujiannya!"


"Mari kita akhiri saja semua ini! Hiyaattt!" teriak pria itu sambil mengacungkan pedangnya dan hendak menusukkan ke arah punggung raja Elf yang tengkurap di atas tanah tak berdaya.


Saat hendak menusukkan pedangnya, tiba-tiba sebuah tombak es berbentuk pedang raksasa terbang dan menabrak pedang itu, hingga pedang itu jatuh ke tanah dengan keras. Mirisnya, tombak es itu tidak hanya menabrak pedang itu, melainkan mampu menembus dan melukai tangan pemiliknya.


"Tuan, kau tidak apa-apa?!"


"Sialan!!! Siapa itu?!!" teriak pria berjubah hitam itu sambil menahan rasa sakit akibat tertusuk tombak es di tangan kanannya.


"Ternyata kau bisa merasakan sakit juga, Tetua Menzy."


Kedua pria itu langsung menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang gadis yang sangat ia kenal. Raja Elf yang mendengar suara familiar ini, berusaha untuk bangkit dan menoleh ke arah sumber suara itu.


"Yang Mulia." teriak raja Elf.


"Apa?!" kata Tetua Menzy sambil terkejut mendengar apa yang dikatakan Raja Elf.


"Ada apa Tetua Menzy? Kenapa kau gugup sekali? Bukankah tadi kau terlihat sangat angkuh?!" ejek gadis itu.


"Brengsek, itu kau rupanya! Gadis sialan! Kau masih hidup rupanya!"


"Kau salah. Aku pernah mati. Dan aku, datang kemari untuk membayar utang diantara kita!" kata gadis itu dengan senyum dingin diwajahnya.


"Cih, utang apa?! Jangan banyak bicara! Tanganku sudah gatal ingin membunuh orang!"


Sorot matanya tajam seperti pisau yang siap menghunus siapa saja yang mendekat. Ada kilatan tajam di kedua matanya. Senyum yang dingin ditambah sorot matanya yang penuh kebencian, menambah suasana menjadi mencekam.


"Tetua Menzy, mari kita reuni sejenak. Apa kau mau memulainya?"

__ADS_1


__ADS_2