
Merasa dirinya ditatap oleh seseorang, Lili pun menoleh ke arah Feng yang menatapnya. Jantung Feng berdegup kencang, ketika Lili menangkap basah dirinya yang sedang menatap ke arahnya. Karena dirinya sudah tertangkap basah oleh Lili, dengan berat hati ia terpaksa melangkahkan kakinya menuju Lili. Lili yang melihat Feng datang menghampiri dirinya, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Feng menghentikan langkahnya tepat di hadapan Lili. Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain.
"Suamiku, ada apa kau datang kesini?"
"Hanya kebetulan lewat saja."
"Oh."
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?!" tanya Feng sambil mengambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Lili.
"Bersantai." jawab Lili yang juga mengambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Feng. Kini keduanya duduk bersebelahan.
"Bersantai?"
"Iya bersantai."
"Kenapa harus di sini? Di tempat seperti ini?!"
"Di dalam kamar membuatku bosan. Aku ingin bersantai di luar. Lagipula, di sini pemandangannya cukup indah."
"Kau menyukai hal-hal semacam ini?!"
"Iya. Mungkin karena aku menyukai kebebasan."
"Kebebasan?!"
"Ya."
"Apa kau merasa, hidup di istana ini tidak sebebas saat kau hidup di luar istana?"
"..."
"Kenapa kau diam saja?!"
"Aku tidak tahu harus menjawab apa?!"
"Kenapa? Kau takut dihukum?!"
"Lebih dari itu."
__ADS_1
"Apa maksudmu?!"
"Jika yang dihukum hanyalah aku, aku akan menerimanya. Tapi, jika yang dihukum adalah keluargaku, apa menurutmu aku akan diam saja melihat keluargaku menggantikan aku untuk menerima hukuman?!"
"Hahahaha!"
"Kenapa kau tertawakan?!"
"Kau itu lucu apa bodoh?! Hahaha!!!"
Melihat Feng, suaminya sendiri sedang menertawakan dirinya, membuka hati Lili sakit. Ini bukan kali pertamanya, ia dihina oleh suaminya sendiri. Namun, berbeda dengan pertemuan pertamanya dulu. Sekarang, tidak hanya menerima hinaan, namun juga harus melihat dirinya ditertawakan oleh suaminya sendiri. Lili sadar akan dirinya, bahwa ia hanyalah gadis biasa dari kaum rakyat jelata. Semenjak ia berhasil keluar dari hutan kematian, raja mengabulkan semua keinginannya. Namun dibalik itu semua, ada sebuah harga yang harus dibayar olehnya. Setelah ia diberi kekuasaan untuk memegang kendali hukuman di Zwart School, Lili harus merelakan masa pendidikannya. Raja beralasan karena ia mempelajari ilmu sihir hitam yang tidak sesuai dengan aturan di negaranya. Bahwa seseorang dilarang untuk mempelajari ilmu sihir hitam di negaranya. Jika kedapatan ada seseorang yang mempelajari ilmu sihir hitam, maka ia akan mendapatkan hukuman. Hukumannya adalah diasingkan atau diusir oleh raja dari negaranya. Ia dilarang untuk kembali menginjakkan kakinya di negaranya, sekalipun hanya bertemu kedua orang tuanya.
Namun, karena Lili berhasil memecahkan misteri di hutan kematian yang selama ini tidak ada satupun penyihir yang berhasil keluar dengan selamat begitu memasukkinya. Namun, Lili sangatlah berbeda. Ia berhasil masuk dan keluar dengan selamat selama tiga hari dari hutan itu Karena kehebatannya itulah, raja memutuskan untuk mengabulkan keinginannya. Tapi siapa sangka, raja memiliki rencana lain. Lili selalu berpikir, kelak ia akan menikah di usia yang ia inginkan dan mendapatkan suami yang sesuai ia inginkan. Tapi, takdir berkata lain padanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menerima dekrit raja. Jika menolaknya, konsekuensi yang ia terima lebih dari itu. Bukan hanya keselamatannya, tapi juga keselamatan keluarganya. Selama menjalani kehidupan pernikahannya, Lili tidaklah bahagia. Ia terpaksa melayani pria yang sama sekali tidak ia cintai. Pria yang memperlakukan dirinya dengan kasar di saat malam pertamanya. Pria yang terkadang sikapnya menjadi hangat, terkadang pula dingin kepadanya. Selama ia menikah, ia merasa sangat kesepian. Tidak ada tempat baginya untuk sekedar berbagi keluh kesahnya. Ditambah dengan kehidupan istana yang memenjarakannya. Ia sangat ingin pergi keluarga istana dan mencari kebebasannya. Tapi bagaimana dengan keluarganya, jika ia ketahuan pergi meninggalkan istana tanpa izin. Ditambah kali ini, ia harus menerima hinaan dari pria yang duduk bersebelahan dengan dirinya. Kenyataan pahit ini membuat hatinya semakin sakit. Melihat Lili sedang melamun dengan ekspresi muram di wajahnya, Feng mulai menegurnya. Sudah ketiga kalinya, Feng memanggil namanya, tapi Lili tidak juga meresponnya.
"Lili!" teriak Feng.
"Iya Yang Mulia, ah maaf. Iya suamiku, ada apa?!"
"Ada apa kau bilang?! Sedari tadi aku memanggil namamu, dan kau tak kunjung menjawabnya! Apa sebenarnya yang kau pikirkan, sampai kau mengabaikan panggilanku?!"
"Maaf. Aku sungguh minta maaf."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Feng dari kejauhan. Mendengar hal itu, keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Dilihatnya putri Cariz berjalan menghampiri mereka berdua. Ia menatap ke arah Lili dan kemudian berbalik menatap ke arah Feng.
"Terima kasih Feng." kata putri Cariz sambil duduk di kursi yang telah disediakan.
Kebetulan kursi yang ia dudukki bersebelahan dengan kursi Feng. Melihat hal itu, Lili hanya bisa menatapnya. Merasa dirinya ditatap oleh Lili, putri Cariz sangat kesal. Dia langsung menegurnya tepat di hadapan suaminya.
"Lili, kenapa kau menatapku seperti itu?!"
"Apa aku tidak boleh menatap orang lain, termasuk dirimu?!"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa ditatap oleh calon ratu di masa depan."
"Putri Cariz, tolong jaga ucapanmu!" bentak Feng sambil menatap ke arahnya.
"Maafkan aku Feng."
"Dan tolong, jangan memanggilku dengan hanya namaku!"
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh?! Istrimu saja memanggil kau dengan namamu! Tidak adil!"
"Dia istriku! Hanya istriku yang berhak memanggil namaku! Kau siapaku?!"
"Tentu saja aku temanmu. Kita kan berteman saat kita masa kecil. Jadi boleh kan, kalau aku masih memanggilmu dengan namamu?!"
"Tidak!"
"Humph! Kenapa?!"
"Bukankah sudah jelas aku mengatakannya padamu! Hanya istriku yang berhak memanggil namaku! Bahkan jika kita pernah berteman sejak kecil pun, yang harus kau dengar dan kau ingat adalah Hanya istriku yang berhak memanggil namaku, bukan kau! Apa kau mengerti?!"
"Feng, kau berubah! Kau sangat jahat padaku!" bentak Putri Cariz sambil memukul meja yang ada di depannya.
Melihat Putri Cariz memukul meja dengan sang keras, Feng langsung beranjak dari tempat duduknya. Lili yang melihat kejadian itu, ikut beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap putri Cariz yang sedang meluapkan emosinya kepada meja.
"Putri Cariz, apa kau lupa... kau sedang berada dimana sekarang?!"
"Kau sedang menggertakku?!"
"Tidak hanya menggertakmu, tapi juga mengusirmu."
"Apa?! Kenapa?! Berani sekali kau mengusirku, Feng!"
"Kenapa tidak?! Aku melakukan hal ini karena kau sangat tidak sopan bersikap semena-mena di kediamanku!"
"Lili, ini semua gara-gara kau!"
"Kenapa jadi aku?!"
"Kau bilang kenapa?! Jelas-jelas kau yang mulai terlebih dahulu merebut pria yang aku cintai! Pria yang seharusnya menjadi milikku! Suamiku! Kau!! Kau itu wanita j*lang!"
Plakkk!!!
Melihat suaminya menampar teman masa kecilnya yaitu putri Cariz, membuat Lili merasa sedikit ketakutan. Ia melihat Feng, suaminya yang penuh dengan aura membunuh di wajahnya. Sedari tadi ia sudah menahan marahnya.
"Feng."
"Diam! Jangan ikut campur urusanku!" bentak Feng sambil melotot ke arahnya.
__ADS_1
Jantung Lili berdegup kencang, ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat barusan. Suaminya membentak dirinya sambil melotot tajam ke arahnya. Di sisi lain, ia melihat Putri Cariz menatapnya sambil tersenyum sinis kepadanya. Seolah ia melihat, putri Cariz sedang tersenyum di atas penderitaannya.
"Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk melewati ujianmu." batin Lili dengan penuh harap.