PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Pesona Cinta


__ADS_3

Tok... tok... tok...


"Masuklah." kata Lili yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin riasnya.


Hana membuka pintu kamar Lili dan masuk ke dalam. Ia berjalan menghampiri Lili sambil membawa sepucuk surat ditangannya.


"Nona, ada surat untukmu." kata Hana sambil menyodorkan sepucuk surat itu kepada Lili yang masih asyik menyisir rambutnya.


Lili melirik ke arah surat yang ada di tangan Hana. Kemudian ia meletakkan sisirnya di atas mejanya. Ia pun berbalik dan mengambil sepucuk surat di tangan Hana.


"Surat dari siapa ini?"


"Putra mahkota Feng, calon suami nona."


"Ada angin apa dia mengirimku surat?!" pikir Lili sambil membuka surat itu.


Betapa kagetnya Lili, saat surat itu dibuka. Ternyata isi surat itu kosong, tak ada tulisan.


"Kenapa bisa kosong? Tak ada tulisan sama sekali. Apa dia sedang mempermainkan aku?!"


"Hahhh... nona serius?! Nona, berhati-hatilah dalam berbicara. Jika tidak, kepala nona yang akan menjadi taruhannya."


"Kau pikir aku becanda! Coba kau lihat sendiri!" kata Lili sembari memberikan isi surat yang telah ia buka kepada Hana.


Hana menerimanya dan membacanya. Ternyata apa yang dikatakan oleh tuannya memang benar. Isi surat itu kosong, tak ada tulisan apapun disana. Tiba-tiba masuklah Lexi ke dalam kamar kakaknya. Ia berlari dan langsung memeluk kakaknya yang sedang duduk di kursi meja rias.


"Kakak, putra mahkota sudah datang."


Mendengar hal itu, baik Lili dan Hana saling bertukar pandang.

__ADS_1


"Lexi tau darimana kalau putra mahkota datang kemari?"


"Aku yang membukakan pintunya. Ayah dan ibu sedang keluar."


"Lalu, dimana dia sekarang?"


"Dia menunggumu di bawah. Di ruang tamu."


"Hana, tolong jaga Lexi. Aku akan turun menemuinya."


"Baik nona."


Tanpa banyak basa-basi, Lili langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Tanpa sadar ia masih memakai baju yang tipis untuk menemui putra mahkota. Tiba-tiba Hana menyadari ada yang salah dengan tuannya. Dan benar saja, tuannya belum berganti pakaian. Tapi semua sudah terlambat. Tuannya sudah pergi meninggalkannya.


"Astaga..."


"Ada apa Hana?"


"Aku mengantuk Hana."


"Baiklah kalau begitu. Hana akan menemanimu tidur." kata Hana sambil menggendong Lexi di pinggangnya.


Lexi terus menguap. Hana pun pergi dan menutup pintu kamar Lili. Ia segera berjalan menuju kamar Lexi untuk menidurkan Lexi yang sedari tadi menguap. Lili menuruni anak tangga satu persatu. Dan dilihatnya, putra mahkota Feng duduk di atas sofa di ruang tamu. Sudah lama ia tak pernah melihat putra mahkota Feng. Bukan tak pernah, karena memang mereka tak pernah saling bertemu satu sama lain. Jika bertemu pun, itu hanya saat kebetulan dan sedang berada di istananya. Dan ini adalah pertama kalinya, putra mahkota Feng berinisiatif mengunjungi rumahnya yang jauh dari kata mewah. Mendengar derap langkah seseorang yang sedang menuruni anak tangga, putra mahkota Feng mendonggak ke atas. Keduanya bertemu dalam satu pandang. Putra mahkota Feng memandang Lili dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia melihat Lili yang masih mengenakan gaun tipis di badannya. Dengan rambut hitam panjang yang tergerai ditambah sedikit riasan di wajahnya, memperlihatkan kecantikan yang alami dalam dirinya. Lekuk tubuhnya yang ramping sangat terlihat ketika ia mengenakan gaun tipis itu, meski ia bertubuh mungil. Melihat penampilan Lili yang tidak seperti biasanya, putra mahkota Feng hanya bisa menelan ludahnya. Jantungnya berdegup kencang. Menyadari bahwa ada yang salah dengan tatapan putra mahkota Feng, Lili langsung menunduk dan melihat dirinya. Betapa malunya dia, bahwa ia masih mengenakan baju yang sangat tipis untuk menemui putra mahkota Feng. Ia pun segera berbalik dan mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti karena putra mahkota Feng memanggil namanya.


"Tunggu Lili! Kau mau kemana?!"


"Maaf Yang Mulia. Aku harus kembali ke kamarku dulu. Aku akan berganti pakaianku dulu, baru menemui Yang Mulia." jawab Lili tanpa berbalik badan.


"Tidak perlu. Lagipula, aku hanya datang sendirian. Berbaliklah dan temani aku sebentar saja."

__ADS_1


Mendengar permintaan putra mahkota Feng, Lili nampak ragu-ragu untuk berbalik dan menemuinya dengan penampilannya yang memalukan ini. Menyadari bahwa Lili masih ragu-ragu, putra mahkota Feng hanya tersenyum.


"Ehem. Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu. Kemari dan duduklah. Temani aku."


Mendengar pernyataan itu, hati Lili sedikit lega. Ia pun membalikkan badannya dan berjalan menghampiri putra mahkota Feng. Dengan malu-malu Lili hanya sesekali melirik ke arah putra mahkota Feng. Melihat Lili yang tersipu malu, membuat hati putra mahkota Feng berdegup semakin kencang. Kini, Lili sudah berdiri di depannya dengan jarak satu meter.


"Kenapa kau menjauh. Aku memintamu untuk duduk di sampingku, bukan duduk di sana."


Mendengar putra mahkota memintanya untuk duduk di sampingnya, Lili hanya bisa terdiam tanpa kata. Ia sedang bingung, apakah harus menolaknya atau menurutinya. Ia masih bergelut dengan pemikirannya saat ini. Melihat Lili yang masih melamun, putra mahkota Feng yang masih duduk diatas sofa, langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan kiri Lili. Lili pun kaget tangan kirinya di tarik paksa oleh putra mahkota Feng. Keduanya pun terjatuh di atas sofa secara bersamaan. Dengan posisi putra mahkota yang tertindih oleh Lili yang berada di atas tubuhnya, membuat keduanya merasa canggung. Untuk pertama kalinya, Feng merasa ada sesuatu yang sangat lembut menyentuh dadanya. Wajahnya mulai memerah. Melihat dadanya bersentuhan dengan dada putra mahkota Feng, Lili pun malu bukan main. Ia segera menarik dirinya, namun putra mahkota Feng memegang kepalanya dari belakang dan mencium bibirnya. Sontak Lili pun kaget bahwa ia dicium oleh putra mahkota dengan posisi yang sangat canggung ini. Ia merasa, seseorang menekan titik akupuntur tubuhnya. Lili tak bisa bergerak sesuai keinginannya. Putra mahkota Feng melepaskan ciumannya. Dengan senyum nakal di wajahnya, ia menatap Lili yang sedang memerah.


"Bibirmu manis juga. Apa kau habis makan permen?" goda putra mahkota Feng sambil mengganti posisinya yang semula berada di bawah kini berada di atas tubuh Lili.


"Yang Mulia, apa yang ingin kau lakukan? Tolong lepaskan aku."


"Maaf, aku tak sengaja menekan titik akupuntur di tubuhmu. Aku akan melepaskannya setelah aku puas bermain denganmu."


"Apa maksudmu?! Jangan sentuh aku!" teriak Lili sambil gemetaran.


"Kau melarangku untuk menyentuhmu? Apa tidak ada yang memberi tahumu bahwa, jangan menolak keinginan suamimu?!"


"Kau belum menjadi suamiku."


"Hee... kau benar. Karena itu, aku akan menjadikanmu sebagai istriku sekarang." kata putra mahkota Feng sambil menutup mulut Lili dengan bibirnya. Ia sangat menikmati bibir lembut Lili dengan lidahnya.


Tanpa sengaja Hana menangkap basah putra mahkota Feng, yang sedang mencium paksa tuannya.


"Nona!" teriak Hana kaget


Mendengar Hana memanggilnya, Lili sangat lega. Ia terbebas dari ciuman panas yang dilakukan oleh putra mahkota Feng. Karena perbuatannya telah diketahui oleh pelayan pribadinya Lili, putra mahkota Feng langsung melepaskan ciumannya dan menatap ke arah Hana dengan tajam. Kemarahan jelas terlihat di wajahnya. Hana yang merasa bersalah karena telah mengganggu kesenangan putra mahkota, merasa bergidik dan gemetar ketakutan. Ia mundur beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


"Jangan sakiti dia. Aku mohon Yang Mulia."


__ADS_2