PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Hutan Kematian Ratu Iblis


__ADS_3

Hutan Kematian


Sesampainya mereka di hutan kematian, Lili melihat sekelilingnya. Dirasa tidak ada siapapun, ia menoleh ke arah Hana yang masih menggendong mayat adiknya.


"Hana, maukah kau membantuku?"


"Apa itu nona?"


"Berikan aku sedikit kekuatan sihirmu."


"Mmm."


Hana pun segera meletakkan tangannya di punggung Lili. Ia mentransfer sedikit kekuatannya kepada Lili. Lili segera melakukan gerakan tangan mengunci dan membukanya. Seketika segel yang menyegel hutan kematian itu terbuka. LilI mengajak Hana masuk ke dalam. Saat Hana berjalan memasukki hutan itu, ia melihat sekelilingnya. Suasana di dalam hutan itu sangat berbeda dari luarnya. Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia melihat sebuah istana es yang sangat megah. Yang disekelilingnya terdapat ribuan pohon yang membeku.



Tidak hanya itu, ada beberapa manik-manik es yang tergelantung di sepanjang pepohonan di jalan. Hutan yang terkenal sebagai hutan kematian yang banyak memakan korban, mampu diubah menjadi hutan yang sangat indah dan jauh berbeda dari hutan yang lainnya. Langkah kaki Hana terhenti ketika melihat Lili yang berjalan di depannya menghentikan langkah kakinya. Ia melihat Lili meletakkan telapak tangan kanannya di pintu gerbang istana es miliknya.


Krekkkk! (Suara pintu gerbang istana yang terbuka dengan sendirinya.)


Betapa terkejutnya Hana melihat isi di dalam istana es yang megah itu. Anak tangganya yang berbelok-belok berlapis es, dengan ruangan yang sangat indah, benar-benar menyejukkan mata siapa saja yang melihatnya. Ia berjalan mengikuti kemana Lili melangkah. Sampai pada di sebuah tempat yang berada di luar istana. Tempat itu sangat hijau dan penuh dengan bunga-bunga mawar yang mekar. Hana pun sempat terkagum-kagum melihat pemandangan di depan matanya.


"Mari kita kuburkan jenazah Lexi disini." kata Lili kepada Hana.


"Baik nona."


...****************...


Setelah mereka berdua menguburkan jenazah Lexi disana, keduanya lalu berdo'a. Setelah selesai berdo'a, Lili meletakkan beberapa bunga mawar di sekita batu nisannya, diikuti oleh Hana di belakangnya. Keduanya pun pergi meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan, keduanya diselimuti oleh keheningan. Hana ingin bertanya kepada Lili, namun melihat ekspresi Lili dan segala permasalahan yang tengah ia hadapi sekarang, ia harus menahannya. Namun, Lili mulai memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Hana, apa kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?!" tanya Lili tanpa menoleh ke arahnya.


"Ti... tidak ada nona."


"Tak perlu disembunyikan. Katakan saja. Aku akan menjawabnya semampuku."


"Maaf nona. Maaf jika aku lancang. Ini... apa ini nona yang membuatnya menjadi seperti ini?" tanya Hana dengan


"Ya."


"Kapan nona membuat ini? Kenapa aku tidak mengetahuinya?! Apa kedua orang tua nona mengetahui hal ini?"

__ADS_1


"Tidak. Tidak seorang yang tahu hal ini, kecuali kau." jawab Lili sambil menatap ke arah Hana.


"Ahh... benarkah? Apa benar yang dikatakan oleh nona, kalau aku adalah orang pertama yang mengetahui hal ini?!"


"Tentu saja."


"Sungguh sebuah kehormatan bagiku menjadi orang pertama yang melihat hal hebat seperti ini nona. Apalagi hal hebat itu datangnya darimu."


"Benarkah? Hal hebat apa yang kau maksud? Aku sama sekali terlihat sangat menyedihkan. Setengah dari kekuatanku telah disegel oleh orang yang sampai saat ini belum aku ketahui. Aku terlihat seperti gadis biasa sekarang. Yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Bagaimana aku bisa melindungi orang yang aku cintai?" keluh Lili sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Nona. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha menjagamu dan melindungimu. Tidak hanya itu, aku akan selalu setia kepadamu."


"Terima kasih Hana. Sekarang kau adalah satu-satunya orang yang menemaniku. Kau tidak perlu melakukan banyak hal untuk melindungiku."


"Kenapa nona? Aku tahu kekuatanku tidak setinggi kau, tapi aku akan berusaha untuk melindungimu."


"Sekarang, aku memintamu untuk melindungi dirimu sendiri."


"Kenapa nona? Apa kau tidak mempercayaiku lagi?!"


"Tidak. Bukan itu yang kumaksud."


"Lalu apa?!"


Hana pun mengikuti Lili berjalan menaikki anak tangga yang berkelok-kelok. Sambil berjalan, ia menyentuh pegangan tangga yang terbuat dari es. Keduanya pun berhenti tepat di depan pintu kamar yang berwarna putih dengan ukiran tanaman merambat yang disekitarnya ada beberapa kelopak bunga berjatuhan. Lili pun memejamkan kedua matanya dan pintu kamar itu terbuka. Hembusan angin dingin keluar dari dalam kar itu, tepat saat pintu kamar itu terbuka. Hana merasakan hawa dingin yang berhembus keluar dari dalam kamar itu.


"No... nona... brrr...brrr... ini... di... dingin sekali." keluh Hana sambil memeluk dirinya yang kedinginan. Seolah tak mendengar keluhan Hana, Lili berjalan masuk ke dalam. Hana pun mengikutinya meski ia harus menahan hawa dingin di dalamnya. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Lili berjalan menuju sebuah anak tangga yang diatasnya terdapat sebuah meja yang terdapat busur panah berbentuk seperti es yang melayang di udara. Kedua mata Hana berbinar-binar melihat ada busur es yang melayang di atas. Disekeliling busur panah itu terdapat sebuah pelindung yang melindunginya. Lili pun mengangkat tangannya ke udara dan perlahan pelindung yang menyelimuti busur panah es itu perlahan menghilang. Hana mengucek-ucek kedua matanya seolah tidak percaya dengan hal ini.Ia melihat Lili memecahkan pelindung yang ada disekitar busur panah itu. Tidak hanya itu, ia juga mampu memegang busur panah itu. Begitu ia memegang busur panah itu, sebuah cahaya terang muncul menyinari seluruh tubuhnya. Dari balik cahaya terang itu, penampilan Lili sedikit berubah. Ia mengenakan gaun berwarna putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, dengan jubah berwarna biru dan dengan mahkota di atas kepalanya. Tidak hanya itu, busur panah yang ia pegang berubah menjadi sebuah tongkat dengan kristal yang berbentuk menyerupai kristal di dalam tongkatnya. Penampilannya saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat sangat cantik dan seperti seorang ratu. Hana terpesona melihat kecantikan Lili saat itu. Ia tidak menyangka nonanya berubah seperti itu. Kecantikannya sangat hebat dan susah untuk diungkapkan lewat kata-kata.



Lili pun berbalik dan menatap ke arah Hana dengan tersenyum lembut kepadanya. Ia pun berjalan menuruni anak tangganya. Lili bisa melihat ekspresi kekaguman yang terlihat jelas di wajah Hana.


"Hana?"


"No... nona? Apa benar itu kau??! Aku... aku tidak sedang bermimpi bukan?!" tanya Hana dengan nada sedikit ragu-ragu.


"Iya. Ini aku. Nonamu. Kau tidak sedang bermimpi, Hana." jawab Lili sambil tersenyum kepadanya.


"Nona... kau... kau sangat cantik. Kau, terlihat seperti seorang ratu sekarang." puji Hana dengan kedua mata berbinar-binar.


"Benarkah??!'

__ADS_1


"Ya."


"Ini hanyalah separuh dari kekuatanku yang. aku segel ke dalam busur panah itu."


"Apa?! Kenapa kau menyegel kekuatanmu sendiri nona?!"


"Hanya untuk berjaga-jaga. Siapa sangka aku akan mengambilnya kembali."


"Kenapa kau melakukan hal itu nona?! Ahh tidak Yang Mulia Ratu."


Mendengar Hana menyebut dirinya dengan sebutan ratu, Lili hanya tersenyum.


"Ratu, kenapa kau tersenyum?"


"Aku bukanlah seorang ratu. Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu?!"


"Karena kau pemilik istana ini. Tempat ini. Sudah seharusnya, aku memanggilmu dengan sebutan ratu. Apa itu salah?"


"Tidak. Itu bagus. Aku menyukainya. Terima kasih ya." ucap Lili sambil tersenyum manis kepadanya.


"Sama-sama ratu. Asalkan kau senang, aku juga ikut senang."


"Ratu, bolehkah aku bertanya kepadamu?!"


"Katakan."


"Sebenarnya, busur panah itu kemana? Kenapa aku tidak melihatnya setelah penampilanmu berubah?!"


"Hana, seperti yang kau ketahui. Banyak orang yang menginginkan kematianku. Kau tahu kenapa?!"


"Kenapa ratu?!"


"Karena kekuatanku jauh lebih hebat dari mereka semua. Kekuatanku... bahkan melebihi dari tetua sebelumnya."


Deg!


Betapa terkejutnya Hana mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Lili, ratunya. Bahwa kekuatannya melebihi tetua sebelumnya di negeri ini. Nona yang selama ini ia kenal, ternyata memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Yang mampu menghancurkan siapa saja yang mencoba untuk menghentikannya. Namun, ia melihat ekspresi di wajah Lili yang murung. Ia merasa ada sesuatu yang salah pada diri Lili, ratunya.


"Nona, kenapa kau murung?!"


"Sekalipun aku bisa mengambil kembali setengah kekuatan yang telah aku segel sendiri. Tapi tetap saja, aku merasa lemah. Karena setengah kekuatanku disegel oleh seseorang yang belum aku ketahui. Ini membuatku sangat susah untuk melindungi orang yang aku cintai. Terlebih, untuk melindungi diriku sendiri."

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2