PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Trust and Betrayal


__ADS_3

"Kenapa? Apa kau tidak bersedia?!"


"Ayahanda, kenapa kau menyuruhku melakukan hal seperti itu? Apa alasanmu yang sebenarnya?! Apa hanya karena sebuah ramalan yang belum tentu ada benarnya, lantas kau melakukan tindakan tercela ini?! Itu tidak masuk akal!"


"Diam!!!"


"Tapi ayah..."


"Cukup! Katakan saja kepadaku, apakah kau bersedia melakukannya?! Jangan bilang kalau kau juga terjerat sama seperti kakakmu?!"


"Apa maksud ayahanda mengatakan hal itu kepada adik? Apa kau mencoba untuk membanding-bandingkan aku dengannya?!"


Tiba-tiba Pangeran Sirzechs keluar dari persembunyiannya dan menampakkan dirinya. Putra mahkota Feng terkejut melihat kehadiran kakaknya yang secara tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Sangat berbeda dengan ekspresi sang ayah, yang kelihatan sangat tenang dan biasa saja.


"Kakak, sejak kapan kau ada disini?!" tanya Putra mahkota Feng kepada kakaknya yang sedang berjalan menghampirinya.


"Itu tidak penting. Yang paling penting sekarang, apa kau bersedia melakukan perintah ayahanda?" tanya Pangeran Sirzechs sambil menatap tajam ke arah Feng, adik tirinya.


"Bukan urusanmu menanyakan ketersediaan adikmu itu!" sela Raja.


"Humph, kau memang sangat pilih kasih terhadapku."


Plakkkk!!!!


"Lancang!"


Suara tamparan yang sangat keras diterima oleh Pangeran Sirzechs dari ayah tirinya. Bagi Pangeran Sirzechs, ras sakit itu tak sebanding dengan apa yang pernah ia terima saat masih kecil. Jadi bagi dia, tamparan itu hanyalah sebuah gigitan nyamuk.


"Ayahanda, tenanglah."


"Tenang katamu?! Sirzechs, tidakkah kau malu pada dirimu! Terutama almarhum ayahmu?! Dia pasti sangat menyesal telah memiliki anak pembangkang sepertimu!"


"Pembangkang, ya?! Sangat bagus. Sebutan yang sangat bagus Raja."


"Apa kau bilang?!"


"Aku bilang raja. Apa ada yang salah dengan sebutan ini? Lagipula, kau bukan ayah kandungku. Selama ini jika bukan karena ibuku yang menyuruhku untuk memanggilmu dengan sebutan ayahanda, aku hanya akan memanggilmu dengan panggilan raja."


"Kakak, tolong berhenti berdebat dengan ayahanda!"


"Humph, kau memang benar anak kandung dari ayahanda. Jadi wajar saja, jika kau membela ayah kandungmu sendiri!"


"Bukan begitu maksudku, kak?!"

__ADS_1


"Cukup! Aku tidak mau mendengar pertengkaran apapun dari kalian berdua! Termasuk kau Sirzechs!"


"Aku? Kenapa denganku raja? Apa aku melakukan hal yang salah?!"


"Ya. Kau menguping pembicaraan kami."


"Lalu? Apa raja ingin menghukumku... hanya karena menguping pembicaraan kalian berdua?!"


"Kau...!!!"


"Yang Mulia, aku selalu menghormatimu seperti aku menghormati ayah kandungku sendiri. Saat aku masih kecil, kau memperlakukan aku sangat berbeda dengan bagaimana kau memperlakukan adik. Tapi aku tak pernah mengeluh apalagi protes kepadamu. Tapi sekarang, kau melakukan tindakan yang jauh diluar dugaan."


"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu kepadaku?!'


"Ayahanda... tidak. Yang Mulia Raja, kau mengatur pernikahan ini hanya untuk mencelakakan orang lain, bagaimana menurutmu?!"


"Aku menyelematkan semua orang termasuk negeri ini. Apanya yang mencelakakan orang lain?!"


"Kau pikir, aku tidak mendengar percakapan kalian berdua?!"


"Baguslah jika kau mendengarnya."


"Apa maksudmu ayahanda?"


"Bukankah sudah jelas. Semakin banyak orang yang mengetahuinya, semakin besar peluangnya untuk bocor sampai keluar. Jadi sebelum hal itu terjadi... Ctak!" tegas Raja sambil menjentikkan jarinya.


"Apa ayahanda ingin menangkapku?!"


"Menurutmu?!" kata Raja sambil melambaikan tangannya, seolah memberi perintah kepada dua pengawal pribadinya untuk menangkap anak tirinya itu.


Dua pengawal itu mengerti dan segera menyergap pangeran Sirzechs. Namun dengan cepat, pangeran Sirzechs menghindar dari mereka. Mereka bertiga adu kekuatan dan kecepatan di dalam kamar putra mahkota Feng. Melihat kelincahan dan kemampuan anak tirinya itu, membuat raja mengeluarkan jarum perak yang ia sembunyikan di balik jubah mewahnya. Ia menembakkan jarum itu tepat disaat Pangeran Sirzechs sedang melawan kedua pengawal pribadi itu. Jarum itu tepat mengenai dada pangeran Sirzechs. Seketika itu, pangeran Sirzechs terjatuh. Ia berusaha untuk bangun, namun sia-sia. Jarum perak itu ternyata mengandung racun.


"Kakak!" teriak putra mahkota Feng sambil berlari ke arah kakaknya.


Ia berusaha membantu kakaknya untuk duduk, namun ditolak oleh pangeran Sirzechs.


"Pergi!"


"Kakak..."


"Apa kau tak mendengar perintah kakakmu, Feng?! Dia menyuruhmu untuk pergi?! Mengapa kau masih disana?!"


"Tapi ayah, tidakkah kau terlalu berlebihan kepada kakak?!"

__ADS_1


"Berlebihan katamu?! Itu salahnya sendiri! Menyelinap dan menguping pembicaraan orang lain, menurutmu itu salahku?! Apa kau juga ingin meniru jejak kakakmu, menjadi anak durhaka?!"


"Ayah..."


"Feng, jangan membantah lagi. Uhuk... uhuk...uhuk..." kata Pangeran Sirzechs sambil terbatuk-batuk.


"Bawa Pangeran ke ruang bawah tanah. Cambuk dia dengan cambuk api seratus kali. Dan kurung dia di dalam penjara istana. Jangan biarkan dia keluar, sampai hari pernikahan putra mahkota tiba!!!"


"Apa?!" teriak Pangeran Sirzechs dan Putra mahkota Feng secara bersamaan.


"Ayahanda, ananda memohon kepada ayahanda untuk mempertimbangkan hukuman ini. Kasihan kakak, terlebih ibunda. Ananda takut jika ibunda mengetahuinya..."


"Diam! Aku tidak butuh nasehatmu! Pengawal cepat bawa dia! Aku tidak mau melihat anak tak tau diri itu!"


"Baik Yang Mulia!"


Kedua pengawal itu, langsung membawa Pangeran Sirzechs ke ruang bawah tanah untuk diberi hukuman, sesuai perintah Raja. Namun, sebelum keluar dari pintu kamar adik tirinya, Pangeran Sirzechs berbalik menatap ayah tirinya. Ia berkata kepada ayah tirinya yang masih berdiri di sana dengan keangkuhannya yang terlihat jelas di wajahnya.


"Ayahanda, terima kasih atas hukuman yang telah kau berikan kepadaku. Aku akan mengingatnya. Tapi, jika kau berani menyentuh wanitaku... aku tidak akan segan untuk menggulingkan kerajaan ini! Dan itu juga berlaku kepadamu, Feng... adikku tersayang!" ancam Pangeran Sirzechs dengan tatapan yang sangat tajam.


Setelah selesai mengatakan hal itu, Pangeran Sirzechs langsung dibawa dua pengawal itu pergi dari tempat itu. Terdengar suara pintu tertutup dengan sendirinya.


"Tsk, dasar anak durhaka! Hanya demi wanita


seperti itu, dia berani menentangku. Feng!"


"Iya Ayah."


"Bagaimana dengan tugas yang aku perintahkan padamu sebelumnya?! Apa kau menyetujuinya?!"


Melihat anak kandungnya satu-satunya tidak menjawab pertanyaannya, membuat Raja merasa cemas. Ia takut, jika anaknya termakan oleh rayuan gadis itu. Atau ia merasa takut untuk menyinggung kakak tirinya, karena sikap pilih kasihnya kepada mereka berdua. Raja merasa berada dalam suasana hati yang kacau. Dengan tegas ia bertanya sekali lagi kepada Feng, putra satu-satunya.


"Kenapa kau diam saja Feng? Jangan bilang kau juga seperti kakakmu yang dengan mudah jatuh dalam pesona wanita. Sampai berani menentang perintah ayahnya sendiri?!"


"Aku tidak lemah seperti kakak, ayahanda."


"Lalu, apa jawabanmu sekarang?!"


Kedua orang itu bertukar pandang dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya putra mahkota Feng dengan suara beratnya, mulai angkat bicara.


"Aku... aku menerima perintah ayahanda." jawab Putra mahkota Feng sambil memberi hormat kepada ayahnya.


Mendengar jawaban putra mahkota Feng, senyum puas terlintas di wajah Raja. Ia sangat senang, anaknya menerima tugas yang ia berikan kepadanya.

__ADS_1


"Aku akan membuktikan sendiri perkataanmu! Jika kau berani mengkhianatiku, kau akan bernasib sama seperti kakak tirimu! Apa kau mengerti?!"


"Ananda mengerti, ayahanda." jawab Putra mahkota Feng sambil mengepalkan tangan kanannya.


__ADS_2