
"Ayahanda, kau salah paham. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya hanya pada pandangan pertama?"
"Sirzechs, apa kau tahu siapa aku?!"
"Ya. Aku tahu. Kau adalah raja. Kau bukan ayah kandungku."
"Lancang!" teriak raja sambil memukul meja dengan keras.
"Sayang, tenanglah." kata permaisuri sambil memegang lengan raja.
"Aku sudah kenyang." jawab Sirzechs sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Raja menghela nafas dan berbalik menatap permaisuri.
"Kau lihat anak itu?! Semakin hari semakin kurang ajar!"
Setelah mengatakan hal itu, raja pergi meninggalkan tempat itu dengan kesal. Tinggallah permaisuri dan putra mahkota disana.
"Ibu, kau tidak kembali ke kamarmu? Sepertinya kau lelah. Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku bisa kembali sendiri."
"Apa kau yakin."
"Ya."
Permaisuri pergi meninggalkan tempat itu sendirian. Putra mahkota yang melihatnya pergi sendirian tak tega. Ia pun menyusul ibunya dan mengantarnya menuju ke kamarnya.
"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, aku bisa kembali sendiri?"
"Tidak apa-apa Bu. Aku akan mengantarmu dan memastikan, kau bisa beristirahat dengan tenang."
"Baiklah."
Keduanya pergi meninggalkan tempat itu. Angin berhembus meniup dedaunan yang berjatuhan di udara.
Kediaman Lili
"Bagaimana perjamuannya di istana? Apa kau membuat ulah yang memalukan?" tanya Tuan Lee kepada anaknya sambil menyeruput secangkir teh hangat.
"Tidak. Perjamuannya lancar. Hanya..."
"Hanya apa? tanya ibu penasaran.
"Raja bertanya kepadaku, apakah aku bersedia untuk menikah dengan salah satu anaknya."
"Apa?!" teriak Tuan Lee dan istrinya secara bersamaan.
"Apa kau serius?!"
"Tentu saja ayah, aku serius."
"Lalu, kau menjawab apa?"
"Aku berkata, bahwa aku butuh waktu untuk memikirkan hal ini."
"Lili, sekalipun kau mengatakan hal itu... titah raja tak bisa kita tolak. Jika menolaknya, kau tahu sendiri apa konsekuensinya menolak perintah raja."
"Aku tahu ayah. Aku tahu. Tapi..."
"Lili, ibu tahu ini sangat berat untukmu. Tapi hal ini memang tak bisa kita bantah sejak zaman dulu. Kita ini rakyat biasa. Raja berhak mengambil apa saja, karena ini adalah negerinya. Daerah kekuasaannya. Mau tidak mau, kita harus menerimanya."
"Jadi, aku tidak bisa menolak pernikahan ini?"
Dengan berat hati, kedua orang tuanya menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Lili, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Apa itu ayah?"
__ADS_1
"Bagaimana caramu bisa masuk dan keluar dari hutan kematian itu dengan selamat?"
"Ayah, kau penasaran seperti raja."
"Apa raja juga menanyakan hal ini kepadamu?"
"Iya."
"Lalu?"
"Aku tidak menjawabnya. Dan beliau malah ingin menikahkan aku dengan salah satu anaknya."
"Jadi begitu rupanya."
"Apa yang terjadi suamiku?"
"Lili, aku rasa... raja mulai penasaran denganmu."
"Penasaran soal apa ayah? Apa karena aku bisa masuk dan keluar dari hutan kematian itu?"
"Ya. Mungkin, bukan itu saja. Ada hal yang menarik perhatiannya."
"Apa itu, ayah?"
"Ya suamiku, apa itu? Lagipula, anak kita ini tidak jauh berbeda dengan anak yang lain. Apa yang membuat raja menjadi tertarik dengan anak gadis kita?"
"Itu, aku tidak bisa memastikannya. Hanya saja, ayah berpesan kepadamu. Berhati-hatilah saat kau menggunakan kekuatanmu. Jangan sampai orang lain mengetahuinya."
"Jadi, ayah sudah tahu?"
"Kami sudah mengetahuinya sejak kau lahir ke dunia ini. Aku harap, kau tidak terbebani akan hal ini. Maaf, jika sebagai orang tua... kami menyembunyikan hal ini darimu."
"Ayah, ibu, kalian tidak perlu meminta maaf. Aku tahu, kalian melakukan hal ini pasti ada alasannya bukan?!"
"Terima kasih kau sudah mau mengerti kami."
"Ayah, ibu, kalian jujur saja. Aku, kelak aku akan menyeret kalian ke istana untuk menerima hukuman karena kekuatanku ini?"
"Tapi ayah..."
"Lili, dengarkan kata ayahmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Bagi kami, kau dan adikmu itu jauh lebih penting dibandingkan dengan keselamatan kami. Jadi kau tidak perlu berpikir yang macam-macam lagi ya."
"Baiklah jika itu keinginan kalian. Aku kembali ke kamarku dulu."
Kedua orang tuanya mengangguk secara bersamaan.
Di dalam kamar Lili
Tok... tok... tok...
Terdengar suara orang mengetuk jendela kamar dari luar. Lili yang masih terjaga segera bangun dan turun dari kasurnya. Ia berjalan mengendap-endap menuju jendela. Perlahan ia membuka korden jendela, mengintip siapa yang tengah malam mengetuk jendela kamarnya. Saat korden jendelanya dibuka, betapa kagetnya Lili melihat wajah pangeran Sirzechs yang mengejutkan dirinya di balik jendela kamarnya. Spontan Lili langsung menutup korden jendela kamarnya sambil menghela nafas. Mencoba menenangkan dirinya. Selang beberapa saat, Lili membuka jendela kamarnya dan melompatlah masuk pangeran Sirzechs dari balik jendela. Melihat pangeran Sirzechs melompat masuk ke dalam jendela kamarnya, Lili tak mampu berkata-kata. Rasa kagetnya belum mereda. Melihat Lili syok melihat kedatangannya yang mengejutkan dirinya, pangeran Sirzechs mencoba memanggil namanya namun Lili masih tak bergeming. Sehingga membuat pangeran Sirzechs menepuk lembut bahunya, barulah Lili tersadar dari lamunannya.
"Ah. Ternyata itu kau. Ada apa kau malam-malam begini datang kemari? Sungguh tidak sopan jika dilihat orang lain. Terlebih penjaga istana yang berpatroli dan tanpa sengaja memergokki seorang pangeran menyusup ke dalam kamar seorang gadis dari rakyat jelata. Kira-kira, apa tanggapan keluarga kerajaan mengenai berita ini?!"
Mendengar perkataan Lili yang ada benarnya, pangeran Sirzechs menutup jendela kamar Lili dan menguncinya dari dalam dengan sihirnya. Tidak hanya itu, ia juga memasang pelindung di sekitar kamar Lili agar tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka berdua. Melihat tingkah laku pangeran Sirzechs yang seenaknya sendiri, Lili sengaja memukul bahu pangeran Sirzechs.
"Apa maksudmu dengan mengunci jendela kamarku dari dalam dan memasang penghalang di sini? Untuk apa? Apa yang ingin kau lakukan?!"
"Untuk apa? Menurutmu, jika seorang pria dan seorang wanita berada di dalam kamar, berduaan, kira-kira apa yang akan mereka lakukan?!"
"Tentu saja mengobrol seperti kita berdua sat ini, bukan?!"
"Hahaha, lucu! Apa kau tidak takut kalau aku melakukan hal jahat kepadamu?!" goda pangeran Sirzechs sambil mengambil beberapa helai rambut Lili yang sedang tergerai dan memainkannya tepat di depannya.
"Memangnya kau berani melakukan hal itu kepadaku?!" tanya Lili sambil meraih tangan pangeran Sirzechs yang sedang memainkan rambutnya.
"Kenapa tidak berani?! Aku pria normal. Apa tidak ada yang memberitahumu, jangan coba-coba bermain api dengan seorang pria?!" goda pangeran Sirzechs sambil menangkap kembali tangan Lili dengan tangan satunya.
Merasa cengkeraman tangan kiri pangeran Sirzechs kuat, Lili berusaha menarik keluar tangannya. Sayangnya, tenaganya jauh dibandingkan dengan pangeran Sirzechs.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!"
Pangeran Sirzechs langsung melepaskan tangan Lili. Lili pun menarik tangannya dan melihat ada bekas berwarna merah di pergelangan tangannya. Itu adalah bekas cengkraman kuat tangan kiri pangeran Sirzechs. Melihat tangan Lili ada bekas merah akibat cengkeramannya, pangeran Sirzechs mendehem.
"Ehem, maaf aku tak sengaja. Besok, aku akan membawakan obat dari istana untukmu. Kau tidak perlu khawatir. Obat itu mujarab dan aku jamin tidak akan meninggalkan bekas."
"Terima kasih. Tidak perlu. Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Benarkah?"
"Yang Mulia, ada apa gerangan tengah malam begini... kau bertamu di rumahku?"
"Salah. Bukan di rumah, melainkan dikamar. Dan aku tidak bertamu. Tapi, menyusup."
"Terserah kau saja."
"Hehehe. Aku datang kemari hanya ingin memberitahumu sesuatu. Besok pagi, utusan kerajaan akan kemari dan menyampaikan dekrit raja."
"Apa? Tidak mungkin. Raja sendiri yang memberiku waktu untuk memikirkan hal ini."
"Kau terlalu naif. Dia adalah raja. Dan kau termasuk keluarga, hanyalah rakyat biasa. Apa kau ingin menentang keinginan raja?!"
Mendengar pangeran Sirzechs mengatakan hal itu, Lili jadi teringat akan pesan kedua orang tuanya. Bahwa dirinya hanyalah rakyat biasa, yang tak akan bisa menolak keinginan dari seorang raja.
"Kenapa kau memberitahukan hal ini kepadaku?"
"Kenapa? Agar kau tak kaget dan bersiap-siap dengan kemungkinan yang ada. Kalau begitu aku pamit dulu."
"Tunggu! Kau... apa kau tidak merasa keberatan, ayahmu melakukan hal ini padamu?"
"Tidak. Bahkan aku sebagai anaknya pun tidak berani menentang perintanya."
"Bahkan jika itu adalah perintah untuk menikahi gadis dari rakyat jelata?!"
"Ya. Aku tidak bisa membantahnya."
"Begitu ya."
"Ya. Maaf mengganggu waktu tidurmu. Selamat malam."
Pangeran Sirzechs menggunakan sihirnya untuk menghancurkan penghalang yang ia buat, juga membuka jendela kamar yang telah ia kunci dari dalam dengan menggunakan sihirnya.
Keesokan paginya, utusan dari keluarga kerajaan datang mengejutkan keluarga Lili. Ia menyampaikan sebuah dekrit raja kepada keluarga tersebut.
Dekrit Raja
Hari ini, dengan rahmat dan karunia-Nya, aku dengan penuh suka cita, menikahkan putri sulung dari Tuan Lee, yang bernama Lili Lee dengan putra mahkotaku, Feng Lucifer. Dan mengingat usia, nona Lili masih sangat muda, maka pernikahan akan dilaksanakan saat ia menginjak usia dua puluh tahun. Demikian dekrit ini disampaikan."
Mendengar dekrit kerajaan selesai dibacakan, Lili mulai menjadi gusar. Bukan hanya Lili yang menjadi kaget dan gelisah, seseorang yang bersembunyi di atas pohon besar yang berada di sebelah rumah Lili, merasa kecewa. Ia tak puas dengan dekrit raja yang dibacakan. Sosok pria itu menghilang dengan cepat seperti kilatan cahaya. Betapa kagetnya Lili, mendengar bahwa pria yang akan ia nikahi kelak, adalah putra mahkota Feng Lucifer. Pria yang sangat berbeda dengan pangeran Sirzechs. Pria yang terkenal dingin dan kejam, namun sangat populer di kalangan gadis muda di seluruh negeri. Bukan karena sikap putra mahkota yang membuat Lili menjadi gusar. Tetapi, sahabat masa kecil putra mahkota, yang dengar-dengar akan menjadi tunangan putra mahkota di masa depan. Namun, takdir berkata lain. Ia bertunangan dengan gadis biasa dari kalangan rakyat jelata. Lili tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang termasuk putra mahkota dan sahabatnya. Lili merasa ia merebut tunangan orang lain. Ditengah-tengah gejolak hatinya, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Tolong disimpan dengan baik dekrit ini, nona Lili. Selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih Tuan." ucap Lili.
"Kami pergi dahulu."
"Iya. Terima kasih Tuan utusan istana. Kami sekeluarga berterima kasih kepada raja dan kerajaan." kata ayah sambil memberi hormat.
"Ya."
Utusan dari kerajaan beserta rombongannya pamit undur diri. Tinggallah Lill dan kedua orang tuanya termasuk adiknya.
"Kakak."
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ayah, ibu aku akan kembali ke kamar."
"Ya."
Melihat anak gadisnya memasang ekspresi raut wajah sedih, kedua orang tuanya tak tahu harus berkata apa kepadanya untuk menghiburnya. Lili pun berjalan menuju kamar dan mengunci pintu kamarnya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari belakang sedang memanggilnya. Lili pun menoleh kebelakang dan kaget melihat apa yang ia lihat. Seolah ia tak percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua matanya.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahanmu, Lili!