PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kembalinya Musuh Lama (6)


__ADS_3

Dari luar terdengar suara pintu kamar diketuk. Lili yang sedang asyik mandi mulai berhenti. Ia mengambil handuk yang berada tepat di sebelahnya dan memakainya. Ia keluar dari dalam bathtub. Percikan air mengalir dari seluruh tubuhnya. Ia berjalan keluar kamar mandi. Melihat Lili keluar dari kamar mandi, Buto menghela nafas. Ia merasa lega.


"Sepertinya aku harus mencari tempat persembunyian yang lebih baik dari ini. Ini tugas yang lebih berat daripada menyamar dan mengintai musuh." keluh Buto


"Yang Mulia." kata Lili sambil membukakan pintu kamarnya.


Mendengar Lili menyebut kata "Yang Mulia" , jantung Buto berdegup kencang. Ia merasa ada hawa dingin yang merambat disekujur tubuhnya. Bukan karena takut keberadaannya diketahui oleh Lili, melainkan takut keberadaannya diketahui Tuannya. Ia tidak bisa membayangkan ekspresi menakutkan diwajah Tuannya saat akan menghukum dirinya.


"Yang Mulia, kenapa kau ada disini?" tanya Lili sambil membukakan pintu.


"Kenapa lama sekali?!"


"Maaf, tadi barusan aku selesai mandi. Maafkan aku Yang Mulia."


"Mandi?!"


"Iya. Apa ada yang salah Yang Mulia?"


"Tidak. Aku kesini mencari Anjingku yang hilang. Sepertinya dia mulai liar dan tidak patuh. Aku harus menghukumnya nanti!"


"Eh?! Anjing?!"


"Ouh tidak, Yang Mulia sudah mulai mengumpatku dan akan menghukumku. Buto, tamatlah riwayatmu!" batin Buto dengan wajah muram.


"Yang Mulia, memangnya anjingmu kabur?"


"Tidak. Hanya jalan-jalan saja. Siapa tau dia melanggar batasannya.Sepertinya dia merindukan hukuman dariku!" ancam Evil sambil menatap ke arah pintu kamar mandi.


Buto yang menyadari tatapan mematikan dari Sang Raja Iblis, tidak bisa berkutik. Mereka saling berkomunikasi melalui telepati suara.


"Mohon ampun Yang Mulia. Aku...aku tidak melakukan apa-apa." terang Buto


"Lalu kenapa kau bersembunyi di tempat itu?!"


"Itu...aku...Yang Mulia, aku mengaku. Aku tidak melihat Lili mandi. Sungguh, Aku tidak berbohong."


"Jangan banyak alasan! Pergi dan cari tempat persembunyian lain!"


"Baik, Yang Mulia." kata Buto. Ia pun menghilang dari persembunyiannya.


"Yang Mulia, apa ada yang salah?"


"Ya!"

__ADS_1


"Apa itu?!"


"Mau sampai kapan kau membiarkan aku berdiri di didepan pintu kamarmu?!"


"Ah...maaf Yang Mulia. Silahkan masuk."


"Astaga Lili, kenapa kau menjadi pelupa sekarang." batin Lili sambil menggelengkan kepalanya.


Evil pun masuk ke dalam kamar Lili, Lili pun menutup dan mengunci kamarnya kembali. Evil berjalan pelan sambil mengamati seisi ruangan. Ia menjelajahi seisi ruang kamar tersebut. Mulai dari ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan terakhir kamar tidur. Ia melihat seisi ruangan tersebut tertata sangat rapi dan bersih. Ia pun berjalan ke arah jendela kamar yang masih terbuka. Jubah hitamnya mengembang diudara tertiup angin. Rambutnya yang lurus ikut menari tertiup angin. Ia menutup dan mengunci jendela kamar itu dengan kedua tangannya, lalu menoleh kebelakang.


"Ini sudah malam, kenapa jendela kamar masih dibiarkan terbuka?"


"Aku butuh udara segar."


"Apa disini kurang nyaman?"


"Tidak. Lagipula bisa menatap langit malam yang indah." Kata Lili sambil berjalan mendekati Evil yang masih berdiri didekat jendela.


"Apa kau suka memandangi langit?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Langit dimalam hari berbeda dengan langit dipagi hari maupun disore hari."


"Kok bisa sama?!"


"Karena berada diatas, hahaha."


"Ahaha...masuk akal juga."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau suka memandangi langit dimalam hari? Apa kau juga suka naik diatas atap hanya untuk melihat bintang jatuh?"


"Tepat sekali." kata Lili sambil membuka kembali jendela kamarnya yang tadi dikunci oleh Evil.


"Eh?"


"Siapa yang tidak menyukai memandang langit di malam hari. Meskipun ia gelap, coba kau lihat, ada bulan dan lautan bintang yang selalu setia memancarkan cahayanya." kata Lili sambil menunjuk ke arah langit yang dipenuhi lautan bintang.


Mendengar perkataan Lili, Evil menoleh dan menatap ke arah langit. Saat ini, langit dipenuhi lautan bintang, seperti sebuah sungai bintang yang mengalir. Bagi Evil, malam ini sangat berbeda dari malam sebelumnya. Bukan karena keindahan pemandangan di atas langit, tetapi membangkitkan sebuah memori kenangan yang telah lama terkubur dalam benak Evil. Kenangan akan kejadian yang terjadi pada malam itu yang telah mengubah hidupnya. Kejadian dimana ia melewatkan malam dengan seorang wanita yang tidak mencintainya dan memilih untuk pergi menghilang dari kehidupannya. Melihat Evil sedang melamun, Lili pun menepuk pelan bahu kiri Evil. Evil pun tersadar dari lamunannya.


"Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya. Ini sudah larut, sudah waktunya untukmu beristirahat. Besok kau memulai pelajaran pertamamu disekolah barumu. Aku akan pergi."


"Tapi Yang Mulia, kau belum makan malam kan?"


"Ya."


"Kalau begitu kau tunggu sebentar disini. Aku akan memasak untuk makan malam. Kita makan sama-sama ya?!"


"Boleh. Jika kau tak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Kapan lagi aku bisa mempunyai kesempatan makan malam bersama Raja Iblis sepertimu." kata Lili sambil tersenyum ke arah Evil dan berjalan menuju dapur.


Melihat Lili meninggalkannya sendirian di kamar tidurnya, Evil pun berbalik menatap ke arah luar jendela yang masih terbuka.


"Ada berita apa?"


Tiba-tiba Buto muncul dan sudah berada tepat di belakang Evil. Ia memberi hormat kepada Evil sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Evil kepadanya.


"Menjawab Yang Mulia. Hari ini ada seorang murid gadis yang terluka karena dikeroyok oleh teman-temannya. Tidak tau apa motifnya mereka saling bertarung satu sama lain. Karena gadis itu pingsan akibat terkena jarum perak dibahu kanannya, nona Lili menolongnya dan membawa gadis itu ke kamarnya. Dan Blackie, membuat penawar racun untuk diberikan pada gadis itu."


"Blackie?"


"Iya, Yang Mulia...Blackie. Dia sendiri yang membuat penawar racun itu."


"Siapa nama gadis itu?"


"Aku mendengar percakapan nona Lili dengannya. Gadis itu mengatakan bahwa namanya adalah Krisan."


"Krisan? Segera cari informasi tentang gadis itu secepat mungkin dan segera beritahukan hal ini kepadaku."


"Baik Yang Mulia."


"Kau boleh pergi. Ingat, tetap awasi dan lindungi Lili secara diam-diam. Dan kau, carilah tempat persembunyian yang lebih baik. Jika tidak..."


"Ouh tidak...Yang Mulia benar-benar marah padaku. Buto...buto...kau sudah menggali lubang kuburmu sendiri." batin Buto


"Dimengerti, Yang Mulia. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


" Bagus kalau kau sudah mengerti. Cepat pergi, tunggu apa lagi!"


"Baik, Yang Mulia." jawab Buto sambil memberi hormat. Ia pun menghilang dari hadapan Evil.


"Yang Mulia."

__ADS_1


"Apa lagi, bukankah aku sudah bilang padamu untuk segera pergi!" bentak Evil sambil menoleh ke belakang.


Betapa kagetnya Evil melihat Lili sedang berdiri sambil membawakan semangkuk sup diatas nampan yang ia pegang. Mangkuk itu pun jatuh ke lantai dan pecah.


__ADS_2