PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Calon istriku hanya kau!


__ADS_3

Mendengar Raja mengatakan hal itu, semua orang yang berada di dalam istana terkejut bukan main. Tak terkecuali Pangeran Sirzechs sendiri. Tanpa keraguan, ia beranjak dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada Ayah tirinya itu.


"Mohon ampun, Ayahanda. Ananda merasa ini terlalu terburu-buru. Apakah ayahhanda sudah mempertanyakan ketersediaan Putri Cariz mengenai pernikahan yang tiba-tiba ini?"


"Tidak perlu."


"Mengapa ayahhanda? Ananda ingin mendengar alasannya."


"Tidak ada alasan! Aku sudah cukup melihat kalian bertiga tumbuh bersama sejak kecil. Jadi, untuk apa kau mepertanyakan tentang keputusanku ini?!"


"Tapi ayahhanda..."


"Cukup! Aku juga akan memberitahu hal ini kepada kalian semua. Bahwa pernikahan putra mahkota Feng dengan Lili, akan diadakan dua bulan mendatang. Dan untuk pernikahan Pangeran Sirzechs dan Putri Cariz, akan diadakan dua minggu setelah hari pernikahan putra mahkota dan Lili. Aku harap kalian semua menerima keputusanku ini."


"Apa? Dua bulan lagi?! Kenapa mendadak seperti ini?!" batin Lili.


"Sebenarnya, apa yang dipikirkan oleh ayahanda. Membuat pernikahan secara tiba-tiba dan terkesan sangat terburu-buru. Sebenarnya, ada apa?" pikir Pangeran Sirzechs.


"Maaf Yang Mulia ayahanda. Tidakkah ini terlalu terburu-buru?" tanya putra mahkota Feng.


"Kau meragukan keputusanku sebagai raja?!"


"Aku tidak berani."


"Cukup! Aku sudah lelah. Maaf jika aku tidak bisa mengantarkan para tamu sampai ke depan."


"Tidak apa-apa Yang Mulia. Yang Mulia beristirahatlah. Kami sekeluarga pamit undur diri." Kata Tuan Lee, ayah kandung Lili sambil membungkukkan badannya sedikit diikuti oleh ketiga orang di belakangnya (istri, Lili dan Lexi).


"Pergilah!"


"Terima kasih Yang Mulia." jawab seluruh tamu yang hadir di aula pertemuan hari ini.


Raja membalasanya hanya dengan anggukan pelan. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan aula pertemuan. Beberapa menit kemudian, para


tamu perlahan meninggalkan aula pertemuan itu, tak terkecuali Lili. Ia berjalan paling belakang mengikuti kedua orang tuanya sambil menggandeng adik kesayangannya. Tiba-tiba ada suara yang sangat familiar memanggil namanya. Ia pun menoleh dan melihat Pangeran Sirzechs berjalan mendekatinya.


"Apa kau akan pulang?"

__ADS_1


"Iya, Yang Mulia."


"Aku..."


sebelum melanjutkan perkataannya, pangeran Sirzechs melirik ke arah adik laki-laki Lili. Merasa dirinya ditatap oleh seorang Pangeran kerajaan, membuat Lexi bergidik ketakutan. Ia memegang lengan kanan kakaknya sambil bersembunyi di belakang punggung kakaknya. Melihat adiknya bersembunyi dibelakang punggungnya, Lili berbalik menatap Pangeran Sirzechs.


"Jika ada hal yang ingin Yang Mulia Pangeran sampaikan kepadaku, datanglah di tempat biasa. Aku akan menunggumu."


"Datang ke tempatmu? Maksudmu... rumahmu?"


"Bukankah kau sudah tahu dengan jelas jawabannya. Maaf Yang Mulia, aku pamit dulu." jawab Lili sambil berbalik dan pergi meninggalkan Pangeran Sirzechs yang masih mematung.


"Apa maksudnya? Apa jangan-jangan?" gumam Pangeran Sirzechs.


Pangeran Sirzechs tiba-tiba teringat bahwa, ia tak pernah masuk ke dalam rumah Lili melalui pintu. Melainkan masuk lewat jendela kamarnya. Akankah ia melakukan hal itu lagi. Sementara ia tahu, bahwa Lili akan segera menikah dengan adik tirinya. Dan pernikahan itu akan segera diadakan dua bulan mendatang dari sekarang. Dibalik kerisauan hatinya, tiba-tiba seekor kupu-kupu perak terbang mengitari dirinya dan mendarat tepat di bahu kanan Pangeran Sirzechs. Kupu-kupu perak itu mengepakkan kedua sayapnya secara perlahan. Pangeran Sirzechs bisa mendengar samar-samar pesan suara yang dibawa oleh kupu-kupu perak itu. Pesan itu hanya bisa ia dengar sendiri.


"Aku akan menunggumu Yang Mulia. Mengetuk jendela kamarku setiap malam. Dan siap mendengarkan curahan hatimu dibawah langit berbintang. Pria kesepian."


Suara yang sangat familiar baginya. Lembut seperti kapas, sejuk seperti angin sepoi-sepoi. Namun, diakhir pesan itu, ada satu kalimat yang membuat Pangeran Sirzechs merasa gemas kepada Lili. Ingin sekali ia menelan mulut manisnya itu dengan bibirnya. Pria kesepian. Itulah kalimat yang sangat menggelitik sekaligus menyindir dirinya. Sebegitu miriskah dirinya sampai-sampai, ia harus disindir oleh wanita yang sangat ia cintai. Dimata Lili, apakah dia benar-benar terlihat seperti pria kesepian yang haus kasih sayang? Sungguh ironis sekali jika dimata Lili, dia benar-benar pria seperti itu. Setelah pesan tersampaikan kupu-kupu perak itu terbang meninggalkan Pangeran Sirzechs yang masih berdiri disana sambil tersenyum sendiri. Ia melihat kupu-kupu itu terbang menjauh darinya.


"Hahhh... ingin sekali aku membalas pesannya. Tapi, bagaimana caranya? Hmm... aku akan coba menanyakannya. Siapa tahu, dia mau memberitahukan bagaimana caranya membalas pesan melalui kupu-kupu perak itu." gumam Pangeran Sirzechs.


"Entahlah. Sejak kapan kau ada disini?"


"Barusan. Apa yang sedang kau lakukan, kak?" tanya putra mahkota Feng


"Tidak ada. Hanya memikirkan tentang pernikahan yang diatur oleh ayahanda secara tiba-tiba."


"Kau tidak menyukainya."


"Tentu saja. Kau tahu sendiri kan, aku adalah anak laki-lakinya yang paling sulit diatur. Sangat berbeda denganmu."


"Aku rasa kau bukan tidak menyukai pengaturan pernikahan ini. Tapi, tentang pasanganmu bukan?"


Mendengar adik tirinya mengatakan suatu hal yang sangat menusuk hatinya. Sesuatu yang sangat benar adanya. Namun, ia mencoba untuk mengelak darinya. Ia baru menyadari, bahwa adik tirinya bisa membaca isi hatinya. Tidak. Bukan karena adik tirinya bisa membaca isi hatinya. Tapi tanpa ia sadari, bahwa dirinya telah menunjukkan kepada seluruh dunia, bahwa ia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepada calon istri adik tirinya, yang kelak akan menjadi adik iparnya suatu hari nanti.


Malam hari

__ADS_1


Dibawah sinar rembulan yang terang, dihiasi bintang-bintang yang bertaburan. Diam-diam Pangeran Sirzechs bersembunyi di balik semak belukar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, seperti seorang perampok yang hendak menjarah rumah orang kaya. Dirasa, tidak ada seseorang yang mengikutinya, ia melompat ke atas pohon dan mendarat tepat di dahan pohon yang besar. Pohon itu sangat dekat dengan kamar Lili. Ia pun melompat dan mendarat tepat di balkon kamar Lili. Betapa terkejutnya Pangeran Sirzechs melihat Lili yang sedang berdiri tepat dihadapannya, mengenakan gaun tidur yang sedikit terbuka, dengan rambut panjang yang tergerai begitu saja. Rupanya, ia sengaja menunggu kedatangan Pangeran Sirzechs.


"Kau... apa aku sedikit terlambat dari biasanya?"


"Tidak. Kau malah lebih awal dari biasanya. Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?"


Sebelum menjawab pertanyaan Lili, Pangeran Sirzechs menoleh ke kanan dan kiri. Mengamati seluruh area di sekitarnya. Melihat tingkah laku Pangeran Sirzechs yang sangat waspada, Lili pun mengerti.


"Yang Mulia, masuklah. Aku mengerti kekhawatiranmu."


"Terima kasih." kata Pangeran Sirzechs sambil mengikuti masuk di belakang Lili.


Pangeran Sirzechs sangat mengagumi kepekaan yang dimiliki oleh Lili. Ia sangat mengerti dirinya, lebih dari siapapun. Setelah memastikan Pangeran Sirzechs masuk ke dalam kamarnya, Lili pun menutup pintu jendela kamarnya dan menguncinya.


"Jendela kamarmu sangat unik ya? Seperti pintu yang digeser."


"Bukankah kau sudah pernah melihatnya."


"Aku tidak terlalu memperhatikan."


"Yang Mulia, sebenernya apa yang ingin kau katakan kepadaku?"


"Tidak perlu terburu-buru begitu. Apa kau tidak ingin melihatku?"


"Bukan begitu. Ini sudah sangat larut. Aku takut..."


"Lili, kenapa kau menyetujuinya?"


"Menyetujui apa?"


"Menyetujui pernikahan ini."


"Pangeran sendiri, juga menyetujuinya bukan?!"


"Aku akan menerima dan menyetujui pernikahan ini, jika..."


"Jika apa?"

__ADS_1


"Jika yang menjadi calon istriku adalah kau!"


__ADS_2