
Tok... Tok... Tok...
"Masuk."
"Putri."
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?!" tanya Lili yang sedang duduk di depan jendela kamarnya sambil memandang ke arah luar jendela kamarnya.
"Maaf putri. Aku sudah berusaha mencari informasi. Tapi tak ada satupun petunjuk yang didapatkan."
"Huff, sudahlah. Tidak apa-apa. Kau beristirahatlah di kamarmu. Kau pasti lelah."
"Lalu, bagaimana dengan putri? tanya Hana dengan ekspresi cemas di wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Kau tenang saja. Oh ya, dimana yang mulia pangeran?"
"Beliau ada di dalam kamar raja, putri."
"Untuk apa dia berada di sana?!"
"Aku tidak tahu putri."
"Ya sudahlah. Pergi dan istirahatlah."
"Baik. Terima kasih putri. Aku undur diri dulu." kata Hana sambil memberi hormat kepadanya.
Lili membalasanya dengan anggukan pelan. Hana segera pergi meninggalkan dirinya yang berada di dalam kamarnya sendirian. Melihat Hana menutup pintunya, Lili pun menghela nafas. Ia segera beranjak dari tempat duduknya. Ia berpikir, sangat sulit untuk menemukan petunjuk di dalam istana. Orang yang melakukan tindakan trik kotor semacam ini , sangatlah rapi. Ia harus segera keluar dari istana untuk mencari petunjuk lain. Segera ia memutuskan untuk keluar sendirian tanpa mengajak Hana bersamanya. Saat ia berjalan di koridor istana, tiba-tiba ia teringat tentang tentang perkataan Hana tentang suaminya. Segera Lili memutar arah dan berjalan menuju kamar raja. Tak lama kemudian, ia sampai di depan pintu kamar raja. Saat hendak mengetuk pintunya, ia tanpa sengaja mendengar percakapan seseorang yang berada di dalamnya.
Prok... Prok... Prok (suara tepuk tangan.)
"Hebat! Kau sangat hebat, Feng. Kerja yang bagus!"
Mendengar suara raja yang sedang memuji suaminya, membuat Lili sedikit tersentak.
__ADS_1
"Dengan begini, dia tidak akan menjadi ancaman bagiku, bagi kita dan bagi negara kita."
"Ayahanda, aku rasa... kau harus segera berhenti melakukan ini."
"Berhenti?! Untuk apa?! Tidakkah kau tahu, bahwa nasib kita semua sedang terancam?!" teriak Raja.
"Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan?!" batin Lili yang masih menguping pembicaraan mereka berdua.
"Ayahanda, aku rasa Lili adalah gadis yang baik. Tidak sepantasnya, ia diperlakukan seperti ini. Terlebih dia adalah istriku. Aku sangat mengenalnya lebih dari orang lain mengenal dia."
Mendengar Feng menyebut namanya di depan ayahanda yang seorang raja, membuat Lili semakin penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
"Heh, jangan bilang kalau kau mulai menyukainya?!"
"Ayahanda, seperti yang kau ketahui. Setelah aku melakukan jurus terlarang dan mengaktifkan segel itu kepadanya, hatiku sudah mati rasa ayah." terang Feng kepada ayahnya yang sedang duduk bersantai di atas ranjang kasurnya.
"Benarkah?! Apa kau yakin, hatimu sekarang sudah mati rasa?! Tidak bisa merasakan kekhawatiran, tidak bisa merasakan cinta dan segala bentuk emosi lainnya di dalam hatimu?!" tanya raja dengan ekspresi wajah yang serius.
"Apa ayahanda meragukan hal itu?!"
"Sudahlah ayahanda, jangan dibahas lagi. Lagipula, Kakak sudah tidak ada disini lagi. Jadi, tidak ada yang membuatmu menjadi sakit kepala."
"Kau benar. Aku sudah mengusirnya dari istana ini! Dia hanya akan mengacaukan semua rencanaku pada gadis itu. Huff, entah bagaimana kabarnya sekarang? Apa kau mengetahuinya?!"
"Tidak ayahanda. Ayahanda tenang saja. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk mencari tahu dimana kebenarannya sekarang?!"
"Ya."
Hati Lili kaget dan hancur seketika mendengar pembicaraan suaminya dan ayah mertuanya di dalam kamar. Seolah percaya tidak percaya, orang yang selama ini ia cari-cari karena telah menyegel kekuatannya di dalam istana, adalah suaminya sendiri. Sungguh tak disangka, bahwa pelakunya adalah suaminya sendiri. Lili tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua. Ia tidak punya bukti. Tidak ada bukti, sama saja dengan kebohongan besar. Yang bisa mengantarkannya ke dalam hukuman yang berujung pada kematiannya. Pelan-pelan Lili melangkahkan kakinya mundur ke belakang menuruni anak tangga disana. Tanpa sadar Lili merasa kedua kakinya bertabrakan dan mengakibatkan kakinya tergelincir dan hampir jatuh di atas lantai. Namun, ia mampu menyeimbangkan tubuhnya, hingga tidak sampai tubuhnya terjatuh di atas lantai. Sayangnya, salah satu pot yang berada di sisi anak tangga itu jatuh dan pecah, karena disenggol oleh kaki Lili.
Prangggg!!!
Mendengar ada suara keributan di luar, Raja dan Feng segara berlari ke luar kamar untuk memeriksanya. Saat pintu kamar dibuka, raja dan Feng melihat Lili sedang membersihkan pot yang telah ia jatuhkan. Melihat ayah mertua dan suaminya, sedang melihat ke arahnya, Lili tetap berusaha terlihat tenang, agar tidak ketahuan jika ia sedang melakukan kesalahan. Yaitu, secara sengaja mendengar percakapan mereka berdua di dalam kamar ayah mertuanya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan disini?!" tanya Feng sambil berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku dengar, kau sedang berada di dalam kamar ayah mertua. Jadi aku datang kemari. Dan, aku secara tidak sengaja melewati tempat ini dan menjatuhkan pot yang ada disini. Aku minta maaf Yang Mulia raja, telah merusakkan potmu."
"Tidak masalah. Hanya sebuah pot saja. Aku bisa meminta orang untuk menggantikannya yang baru."
"Terima kasih Yang Mulia."
"Ahahaha, ketika tidak ada seseorang di sini. Kau boleh memanggilku dengan sebutan raja keempat. Tapi, menurutku itu terlalu panjang."
"Ayahanda, hanya sebuah nama saja. Kenapa kau meributkannya?!"
"Diam!"
Melihat raja yang menyuruh Feng untuk diam, Lili yang melihatnya hanya bisa tersenyum manis. Diam-diam tanpa sepengetahuan Lili, Feng meliriknya. Ia melihat Lili sedang menertawakannya.
"Apa yang kau tertawakan?!" tanya Feng kepada Lili yang sedari tadi diam-diam sedang menahan tawanya.
"Tidak ada."
"Ahahaha, Feng jangan terlalu kasar-kasar pada Lili."
"Tsk. Menyusahkan saja!" umpat Feng sambil membalikkan badannya ke arah Lain.
Ia segera pergi meninggalkan Lili yang masih berdiri dengan baju yang sangat kotor. Melihat Feng pergi meninggalkan dirinya, Lili hanya bisa meliriknya. Hatinya sangat sakit, saat ia mendengar Feng membentaknya dengan kata-kata kasar. Selama ini, ia tidak pernah menyakiti Feng. Malahan Feng yang menyakiti hatinya. Menyegel kekuatannya di dalam istana. Bahkan Lili belum membuat perhitungan dengannya. Melihat ekspresi sedih di wajah Lili, raja mulai mencoba untuk menghiburnya.
"Lili jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Sikap Feng memang seperti itu. Aku harap kau mau memaafkannya." kata raja kepada Lili yang berdiri di depannya.
"Yang Mulia tenang saja. Aku tidak akan memasukkannya ke dalam hati. Kalau begitu, ananda mohon izin undur diri untuk beristirahat di dalam kamar."
"Bagus. Ya, kau boleh pergi."
Lili memberi hormat dan segera meninggalkan tempat itu. Di luar ia masih terlihat tersenyum seolah tak ada raut kesedihan di wajahnya. Namun, siapa sangka jika dibalik wajahnya yang penuh dengan senyuman hangat, menyimpan duka yang mendalam. Rasa sakit, benci, kecewa, campur menjadi satu di dalam hatinya. Bergejolak tak tentu arah. Ingin rasanya ia berteriak, melepaskan semua beban yang ada. Tapi dia tidak bisa. Ia bagaikan burung yang berada di dalam sangkar emas. Terkurung di dalam istana, tanpa kekuatan sihir miliknya. Bukankah itu sama saja dengan membunuhnya secara pelan-pelan. Lili berusaha untuk berpikir positif kepada suaminya, tapi hatinya menolak. Mengingat kejadian dimana ia tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?!