PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Musim Gugur dan Daun Maple Merah


__ADS_3

Mendengar perkataan sang adik, Pangeran Sirzechs hanya meliriknya sebentar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


"Cantik."


"Kau punya selera yang tidak terlalu buruk juga."


"Apa seleramu jauh lebih buruk daripada aku?!"


"Menurut kakak?!"


Mendengar pertanyaan adiknya, Pangeran Sirzechs menoleh ke belakang. Dilihatnya, adiknya sedang duduk di sofa besar yang berada di dalam kamarnya tak jauh dari tempat ia berdiri. Keduanya bertemu pandang.


"Ada udang di balik batu. Katakan apa maksudmu?!"


"Hahahaha... sejak kapan kakak bisa membuat lelucon seperti ini?!"


"..."


"Baik... baik. Kakak, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu dan aku harap kau menjawabnya dengan jujur."


"Katakan."


"Apa selirku sering datang kemari?!"


"Tidak. Baru kemarin, dan kau tahu sendiri bukan?"


"Benarkah?"


"Ya. Kalau kau tidak percaya, kenapa tidak kau tanyakan saja kepada selirmu sendiri?!"


"Tak semudah itu kak."


"Iya kah?"


"Ya."


"Itukan selirmu. Kau pasti membuatnya kesal."


"Tidak. Malah sebaliknya."


"Hah?"


"Dia menemuimu tanpa sepengetahuanku. Itu sangat menyebalkan."


"Kau cemburu?!"


"Tidak!"

__ADS_1


"Itu adalah urusan rumah tanggamu. Kau jangan bawa-bawa aku."


"Ya. Tapi..."


"Apalagi?!"


"Aku tidak pernah membawamu dalam urusanku. Hanya saja, aku merasa hal ini ada kaitannya dengan dirimu."


"Tentang apa?"


"Permaisuriku."


"Dia kan istrimu, apa hubungannya denganku?"


"Apa hubungannya? Kau tau betul apa hubunganmu dengannya?"


"Aku tidak mengerti apa maksudmu?"


"Kau jangan berpura-pura lagi kak. Bukankah kau lebih mengenal dia daripada aku? Singkatnya, kalian berdua sebelumnya sangat akrab, bukan?"


"Oh. Lagi-lagi, apa kau cemburu?"


"Aku hanya bertanya dan ingin memastikan saja. Bahwa apa yang aku katakan, benar atau tidak."


"Itu benar. Aku dan dia saling mengenal. Jauh sebelum kalian berdua bertunangan dan menikah."


"Dan kau mempunyai perasaan kepadanya?"


"Kau jawab saja kak! Kau mencintainya bukan?!"


"Feng, aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku banyak urusan sekarang. Kau lebih baik pulang dan tenangkan dirimu."


"Humph, kau membuatku hilang kesabaran!" kata Feng sambil beranjak dari tempat duduknya.


Mereka bertatapan satu sama lain.


"Feng, dari dulu kau tidak pernah berubah. Apa kau tidak sadar, bahwa sifatmu yang seperti inilah yang membuatnya pergi meninggalkanmu."


"Kau jangan mengguruiku kak!"


"Aku tidak mengguruimu. Aku hanya ingin memberitahumu. Lagipula, bukankah kau juga pernah bertemu dengannya di musim gugur dua ratus tahun lalu bukan? Apa kau masih ingat, apa yang pernah kau katakan kepadanya?!"


"Apa?!"


"Kau berkata kepadanya... "Minggir jelek! Kau merusak mataku!"


Mendengar kakaknya mengatakan hal yang sama persis di kehidupan masa lalunya, membuat Feng kaget bukan kepalang. Ia mencoba mengingat kembali kejadian dimana saat ia mengatakan hal itu kepada istrinya (permaisuri) di masa lalu.

__ADS_1


"Jangan bilang kau melupakan hal itu Feng."


"Aku penasaran, bagaimana kakak bisa tahu kalau aku pernah mengatakan hal seperti itu di masa lalu kepada Lili?!"


"Dia yang bercerita."


"Apa?!"


"Dia bercerita bahwa ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya sangatlah jelek di bawah pohon maple merah yang sangat besar di musim gugur. Tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa, orang itu tidak menyukainya karena telah merebut perhatian Raja dan Ratu saat itu. Dan ironisnya, yang mengatakan hal itu kepadanya adalah adik tiriku sendiri."


"Kau benar-benar sangat akrab dengannya kak. Sayangnya, kau terlambat selangkah kakak. Sekalipun aku tidak mengenal dia terlebih dahulu sepertimu, aku sudah mendapatkan dirinya. Tidakkah kau cemburu karena aku berhasil mendapatkan dirinya?"


"Bukan terlambat selangkah. Jika seandainya ayahanda tidak menjodohkanmu dengan dia, apa kau yakin bisa mendapatkan dirinya dengan sifatmu yang seperti ini?!"


"Jadi maksud kakak, aku hanya beruntung karena aku dijodohkan dengan dia?"


"Ya. Kau terlalu meninggikan dirimu Feng. Tapi, seharusnya kau juga bersyukur. Bahkan wanita yang sudah dijodohkan denganku juga lebih memilih membatalkan pertunangannya denganku hanya demi mengejar pria sepertimu. Tidakkah kau seharusnya memperlakukan wanita itu dengan baik."


"Kakak, bilang saja kau iri denganku. Ada banyak wanita yang menyukaiku, sementara kau?"


"...."


"Tidak ada bukan?!"


"Terserah kau saja."


"Baiklah jika kakak tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku. Aku akan memeriksanya sendiri."


"Aku sudah mengatakan semua hal yang ingin kau tanyakan dengan jujur. Kau boleh percaya atau tidak kepadaku, itu hakmu."


"Terima kasih atas jamuannya kakak." kata Raja Iblis Feng berpamitan tanpa menoleh ke belakang. Ia pergi meninggalkan kakaknya, Pangeran Sirzechs.


Melihat adiknya pergi tanpa menoleh ke arahnya, Pangeran Sirzechs hanya bisa menghela nafas.


Dalam perjalanan pulang, di dalam kereta kuda yang sedang berjalan, Raja Iblis Feng memikirkan kata-kata kakaknya. Kata-kata yang sama persis dengan apa yang pernah ia katakan kepada permaisurinya. Tiba-tiba angin berhembus meniup korden kereta dan membawa masuk sebuah daun maple merah yang sangat indah. Raja Iblis Feng melirik ke arah jendela kereta yang kordennya terbuka oleh tiupan angin. Ia melihat ribuan pohon maple berwarna merah berjejeran di sepanjang jalan yang ia lalui. Daunnya banyak yang berguguran di atas tanah dan tertiup angin. Terdengar suara berisik di bawah roda kereta. Ternyata tanah yang ia lalui dipenuhi ribuan daun maple merah yang berjatuhan di atas tanah, dan sesekali tertiup angin. Pemandangan yang sangat indah ini membuat dirinya teringat akan masa lalunya saat ia masih muda.


"Yang Mulia, sekarang adalah musim gugur. Apa Yang Mulia ingin jalan-jalan?" tanya Darkie yang berada di luar kereta yang sedang bertugas mengawalnya dari samping.


"Tidak. Kembali ke Istana saja."


"Baik."


Tanpa sepengetahuan Raja Iblis Feng dan para pengawalnya, kereta mereka berpapasan dengan Lili yang sedang berjalan sendirian. Penampilan Lili sangatlah berbeda dari sebelumnya. Ia memakai gaun berwarna hitam dengan model potongan gaun yang sisi kanan dan kirinya memperlihatkan paha mulusnya. Ia juga memakai cadar berwarna hitam dengan rambut panjang tergerai lurus. Bahkan Raja Iblis Feng tidak menyadari jika ia berpapasan dengan Lili yang berjalan di samping keretanya saat korden itu tertiup angin. Selang beberapa saat, ia menyadari bahwa ia berpapasan dengan orang yang ia kenal. Dengan cepat Raja Iblis Feng menyuruh pengawalnya untuk menghentikan kereta kudanya. Dengan cepat ia segera turun dari kereta kudanya. Dilihatnya tidak ada siapapun di belakang keretanya.


"Yang Mulia, ada apa?!"


"Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja. Ayo pergi!"

__ADS_1


"Baik."


Raja Iblis Feng naik ke atas kereta kuda dan mereka mulai melanjutkan perjalanannya menuju Istana. Di sisi lain, keluarlah Lili yang tadi bersembunyi di salah satu pohon maple merah. Ia melihat kereta kuda itu berjalan menjauh dan sangat jauh darinya. Melihat pemandangan ribuan daun maple merah berguguran di atas tanah dengan kereta kuda yang berjalan menjauh darinya, membuat Lili teringat akan kenangan masa lalu di musim gugur. Kenangan akan pertemuan pertamanya dengan mantan suaminya di tempat ini. Di musim gugur, di bawah ribuan pohon maple merah, disinilah awal mula pertemuannya dengan sang Raja Iblis Feng dimulai. Pertemuan yang menjadi awal dari kehancuran hidupnya.


__ADS_2