
"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya putra mahkota Feng sambil memegang tangan kiri Lili.
"Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir." jawab Lili sambil menarik tangannya.
"Pelayan! Tolong ambilkan putri garpu yang baru. Sekalian bersihkan garpu yang jatuh di bawah meja."
"Baik Yang Mulia Putra mahkota."
"Ehm."
Salah satu pelayan memberikan garpu yang baru kepada Lili, dan pelayan lain langsung mengambil dan membawa garpu yang berada di bawah meja ke dapur untuk dibersihkan.
"Ayahanda, apa maksudmu kakak berada dalam pengasingan? Bukankah dia berpamitan untuk melakukan kultivasi tertutup?"
Raja yang mendengar pertanyaan anaknya sendiri segera meliriknya dengan sinis. Putra mahkota Feng yang menyadari akan kesalahannya, langsung tertunduk lesu.
"Lili, kau tidak makan? Apa makanan yang disajikan diatas meja ini, kau tidak menyukainya?" tanya Raja kepada Lili yang masih belum menyentuh makanannya.
"Tidak Yang Mulia. Aku sangat menyukainya."
"Lalu kenapa kau belum makan satu sendok pun?"
Lili bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan yang dilontarkan oleh raja yang sekaligus menjadi mertuanya itu.
"Maaf Yang Mulia, apa aku boleh izin keluar istana sebentar?"
"Tidak boleh!" teriak putra mahkota Feng.
"Aku tidak bertanya kepadamu."
"Tidak boleh ya tidak boleh!"
__ADS_1
Melihat kedua pasangan yang baru saja menikah dan bertengkar dihadapannya, membuat raja semakin kesal. Ia ingin marah, namun tangannya di genggam oleh permaisuri. Raja menoleh ke arah permaisuri yang tersenyum kepadanya. Menyadari bahwa istrinya sedang menahan dia untuk marah, raja pun menghela nafas.
"Kalian berdua, hentikan!"
Mendengar raja menegur mereka berdua, keduanya pun terdiam. Namun, keduanya saling bertukar pandang dengan wajah penuh amarah yang tak tertahankan.
"Lili, kenapa kau ingin keluar dari istana ini? Katakan apa alasanmu?" tanya raja dengan nada tegas.
"Aku rindu rumah, terutama keluargaku Yang Mulia."
"Humph bohong!"
"Aku tidak bohong!"
"Cukup!"
Keduanya pun terdiam.
"Terima kasih Yang Mulia."
"Emm. Baiklah kalian lanjutkan sarapannya. Aku akan pergi dulu." ucap raja sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh permaisuri dibelakangnya.
Pandangan Lili teralihkan melihat raja dan permaisuri berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Usia keduanya tidaklah muda lagi, namun melihat keromantisan mereka membuat Lili merasa sedikit iri. Ia membayangkan dirinya berjalan bergandengan tangan dengan pria yang sangat ia cintai, begitu juga sebaliknya. Andai saja ia berada pada posisi seperti permaisuri, dicintai oleh raja satu-satunya tanpa ada selir satupun di istana, tentu dirinya akan sangat bahagia. Tapi, jelas ia tidak seberuntung permaisuri. Ia terpaksa menikah dengan orang lain yang sudah ditentukan, tanpa menanyakan persetujuan darinya. Seolah ia tak bisa menentukan pilihannya sendiri. Di ruang makan itu hanya tersisa keduanya yang saling tak berbicara satu sama lain. Suasana di ruang makan itu menjadi hening. Merasa suasananya menjadi dingin sedingin es, Lili segera beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi meninggalkan ruang makan itu tanpa berpamitan kepada suaminya sendiri. Merasa dirinya diabaikan oleh Lili, putra mahkota Feng memukul meja makan dengan keras. Mendengar putra mahkota Feng memukul meja sangat keras, membuat para pelayan yang masih berdiri di sana kaget gemetaran. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mulai meninggalkan ruangan. Langkah kakinya terhenti dan ia berbalik menatap para pelayan yang masih berdiri di sana.
"Kalian semua, bereskan tempat ini!"
"Baik Yang Mulia.'
Putra mahkota Feng akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan menuju kamarnya. Melihat pintu kamarnya dikunci dari dalam, putra mahkota Feng mendekatkan tangan kanannya di gagang pintu. Cahaya berwarna merah keluar menyelimuti tangannya. Dalam hitungan beberapa detik, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia melihat Lili yang berdiri menghadap ke luar jendela. Segera ia masuk kedalam dan menguncinya. Lili yang mendengar suara seseorang yang masuk dan mengunci kamarnya, tidak menoleh sedikitpun. Seolah dari awal, dia sudah tahu siapa yang datang dan berhasil masuk ke kamarnya dengan pintunyang terkunci dari dalam. Putra mahkota Feng berjalan menghampiri Lili. Ia memeluk Lili dari belakang sambil mengecup lembut lehernya. Pandangan matanya teralihkan kepada Lili yang masih memandang ke luar jendela. Putra mahkota Feng melihat bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari atas jendela. Ia sangat penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya.
"Sayang, apa yang kau lihat sedari tadi?" tanya putra mahkota Feng sambil memeluk erat tubuh Lili.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah melihatnya barusan?"
"Ya. Tapi, tidak ada apa-apa diluar jendela."
"Aku lelah." ucap Lili sambil melepaskan pelukan putra mahkota Feng.
Melihat Lili melepaskan pelukannya dan mulai berjalan meninggalkannya, putra mahkota Feng tidak tinggal diam. Ia menginjak bagian bawah gaun yang Lili kenakan dengan salah satu kakinya. Lili hampir terjatuh, karena bagian bawah gaunnya terinjak oleh kaki suaminya. Untungnya ia bisa menstabilkan tubuhnya sehingga ia tidak bisa terjatuh. Lili menoleh ke belakang dan dilihatnya suaminya sedang menginjak bagian bawah gaunnya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sengaja?!" bentak Lili kepada suaminya dengan wajah penuh amarah.
"Sayang, aku tidak sengaja. Mana mungkin aku menginginkan kau terjatuh." goda Putra mahkota Feng kepada Lili yang masih memasang ekspresi marah di wajahnya.
Putra mahkota Feng berjalan mendekati Lili. Terlihat perbandingan tinggi badan yang sangat jauh berbeda. Putra mahkota Feng segera membungkukkan tubuhnya sedikit ke bawah. Ia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Lili, istrinya. Dahinya sengaja ia sandarkan tepat di depan dahi istrinya. Keduanya terlihat sangat dekat dengan posisi canggung seperti ini. Perlahan-lahan putra mahkota Feng menjauhkan sedikit wajahnya dan mencium bibir Lili. Lili pun kaget mendapatkan serangan mendadak dari suaminya. Putra mahkota Feng segera melepaskan ciumannya. Ia takut tidak bisa menahan dirinya, setelah berciuman dengan Lili.
"Jika kau ingin pulang kerumah, untuk apa harus meminta izin kepada ayahanda? Aku bisa mengantarkanmu untuk mengunjungi mereka. Jadi kau tidak perlu mengatakan hal itu lagi di depan ayahhanda. Aku adalah suamimu. Apa kau mengerti sekarang?!"
"Apa dimatamu, aku adalah istrimu?!"
"Apa maksudmu?!"
"Sudahlah. Tidak perlu dijelaskan. Aku sudah mengerti." tegas Lili sambil membalikkan badannya.
Melihat sikap acuh tak acuh istrinya kepada dirinya, putra mahkota Feng menarik tangan istrinya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku belum selesai bicara. Katakan dengan jelas apa maksudmu mengatakan hal itu kepadaku?!"
"Bukankah sudah jelas, kau tidak menyukaiku sejak kita dijodohkan oleh ayahandamu, Yang Mulia Raja. Dan kau dengan Putri Cariz sudah sangat dekat sejak kalian masih kecil dan tumbuh bersama. Bahkan, semua orang mengatakan bahwa putri Cariz adalah calon istri masa depan putra mahkota. Dia sangat serasi jika berdampingan denganmu. Itu bukanlah sebuah rahasia umum lagi! Sedangkan aku, aku hanyalah orang ketiga yang hadir di dalam kehidupan kalian."
"Jadi, apa kau sekarang cemburu?"
Degggg
__ADS_1