PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
200 Tahun (Roh Misterius dan Kekuatan Misterius 3)


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, dan Lili masih belum keluar dari Hutan Kematian itu. Sejumlah orang semakin memadatti area di depan hutan kematian itu, tak terkecuali keluarga kerajaan. Mereka semua tidak sabar menanti seorang gadis kecil yang penuh percaya diri bisa menaklukkan hutan itu. Ada yang menunggu keluarnya dia dengan selamat, ada yang berharap dia mati di dalam hutan tersebut. Kedua orang tua Lili semakin was-was kepada anak sulungnya. Sudah tiga hari, tak satupun dari mereka yang melihat Lili keluar dengan selamat. Secara bergantian, mereka menunggu Lili di depan hutan itu. Tak terkecuali adik laki-lakinya. Ia bahkan rela tidur di hutan bersama kedua orang tuanya, untuk menunggu kepulangan kakaknya.


"Ibu, kapan kakak pulang?"


"Kita tunggu dan berdo'a, semoga kakakmu cepat kembali dengan selamat."


"Ibu, aku merasa kasihan kepada ayah."


"Kenapa?"


"Bagaimana jika kakak tidak keluar dengan selamat? Apa..."


"Hussttt, jangan berpikiran sembarangan!"


"Maaf ibu."


Tiba-tiba angin bertiup kencang. Seluruh pohon-pohon di sekitar bergoyang dan mengeluarkan suara gaduh. Langit yang cerah, tiba-tiba tertutup oleh ribuan awan hitam. Ribuan burung-burung terbang ke atas langit, seolah mereka merasakan kehadiran kekuatan yang sangat menakutkan. Bahkan Raja merasakan ada sebuah kekuatan yang sangat besar sedang menuju ke arahnya. Melihat ekspresi di wajah ayahnya yang sedang mengkerut, putra mahkota mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk hutan kematian itu. Tak ada yang aneh di sana. Hanya saja sebuah seberkas cahaya yang sangat menyilaukan keluar dari sana. Cahaya silau itu datang dan semakin mendekat, melepaskan cahayanya ke arah mereka. Semua orang menutupi kedua matanya secara perlahan dengan tangan mereka, karena cahayanya sangat menyilaukan. Dibalik cahaya yang menyilaukan yang keluar dari hutan kematian itu, ada sesosok bayangan yang sedang berjalan di tengah cahaya silau tersebut. Perlahan cahaya silau itu mulai meredup. Betapa kagetnya kedua orang tua Lili melihat anak sulungnya keluar dari hutan itu dengan selamat tanpa luka sedikitpun di tubuhnya. Namun, ada yang berbeda dari Lili. Tatapan dari kedua matanya sangat jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Tatapan mata itu seperti tatapan mata orang lain. Tatapan yang penuh dengan kebencian, dendam dan siap membunuh siapapun yang mencoba menghalanginya. Dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya, jelas memperlihatkan bahwa dirinya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Itu karena tubuh Lili sedang dirasukki oleh roh pria yang ia temui di hutan kematian itu. Aura kharismatik yang terpancar dari setiap langkahnya ditambah dengan tatapan dari kedua matanya, melukiskan bahwa jika itu bukan Lili, melainkan sosok pria, maka itu akan menjadi daya tarik bagi kaum wanita. Bahkan tak terkecuali keluarga kerajaan, khususnya permaisuri. Pandangannya fokus tertuju pada Lili yang sedang berjalan ke arahnya. Raja yang duduk di sebelah permaisuri merasa ada hal yang janggal pada diri Lili. Namun, ia tidak menemui hal apakah itu. Dengan senyum dingin di wajahnya, Lili berjalan menuju ke arah Raja dan permaisuri. Namun, langkah kakinya terhenti dan ia menoleh ke arah kedua orang tuanya. Melihat kedua orang tuanya yang menahan haru, melihat anaknya kembali dengan selamat, Lili membalas mereka dengan senyuman dan berbalik berjalan ke arah mereka.


Tanpa sadar, baik ayah ibu dan adiknya memeluk dirinya secara bersamaan. Lili pun tersenyum dan membalas memeluk mereka.


"Ayah ibu, aku sudah pulang."


"Syukurlah, kau sudah kembali nak." kata ibu sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Kakak, kau kemana saja? Apa saja yang kau lakukan? Kami semua mengkhawatirkanmu."


"Aku melakukan hal yang banyak di hutan itu. Apa kau mau mendengarkan ceritaku?"


"Mau... mau." jawab Lexi dengan manja.


Lili pun mengelus kepala adiknya dengan lembut.


"Lili, syukurlah kau kembali dengan selamat."


"Terima kasih ayah. Ayah, kenapa kau sedikit kurusan?!"


"Itu karena ayah memikirkanmu, kak?"


"Hehehe."


Mendengar hal itu, ayahnya hanya tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari Raja. Lili pun menoleh dan dilihatnya Raja dan permaisuri duduk berdampingan. Tatapan matanya yang semula hangat di depan keluarganya, kini berubah menjadi tajam dan kejam. Kedua matanya seolah memerah seperti api yang membara. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang tubuh Lili.


"Kendalikan dirimu, Yang Mulia. Apa kau lupa, kau sedang berada di tubuh siapa?" kata Lili yang berdiri tepat di belakang tubuhnya sendiri.


"Aku mengerti. Maaf." jawab roh pria yang berada di tubuh Lili dengan pelan.


Lili bisa memahami bagaimana perasaan roh pria itu. Melihat istri yang sangat dicintainya duduk berdampingan dengan pria lain. Yang lebih menyakitkan, ia tak melihat putranya sama sekali saat ini. Perasaan rindu yang terpendam selama bertahun-tahun lamanya, harus berakhir dengan pemandangan yang sangat menyedihkan di depannya. Saat ini yang bersemayam di dalam tubuh Lili dan mengendalikan tubuhnya adalah roh pria itu. Jadi mereka berkomunikasi dengan menggunakan telepati. Lili hanya bisa menghela nafas dan berharap agar roh itu tidak bertingkah yang aneh dari biasanya. Karena itu akan menimbulkan kecurigaan pada semua orang. Lili pun berjalan ke arah Raja dan permaisuri dan memberi hormat kepada keduanya.

__ADS_1


"Salam Yang Mulia Raja dan permaisuri, semoga panjang umur selalu." kata Lili sambil perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah permaisuri.


Melihat dirinya ditatap oleh seorang gadis kecil yang lebih muda dari kedua anaknya, membuat ia menjadi salah tingkah. Ia merasa tatapan dari gadis yang berdiri di depannya sekarang, sangat familiar. Tapi entah dimana ia pernah melihatnya. Melihat Lili menatap tajam ke arah permaisuri, Raja pun mendehem. Ia merasa bahwa istrinya menjadi salah tingkah hanya karena tatapan seorang gadis kecil.


"Lili, selamat atas keberhasilanmu. Kau sudah membuktikan bahwa dirimu mampu menaklukkan hutan kematian ini. Hutan yang menjadi momok di negeri ini. Bisakah kau menceritakan kepadaku bahkan kepada kita semua yang hadir disini, seperti apa hutan kematian itu? Hutan yang sangat terkenal memakan orang. Ketika seseorang masuk ke dalamnya, ia tidak akan pernah kembali hidup. Jika beruntung, ia akan kembali dengan selamat. Dan kau sudah membuktikan hal itu. Sungguh sebuah pencapaian yang harus dihargai."


"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia. Mohon ampun Yang Mulia, menurut hamba, hutan kematian ini tak jauh berbeda dengan hutan yang lain."


"Hahaha... kau sangat berbeda dengan gadis yang seumuran denganmu."


"Maksud Yang Mulia?!"


"Lebih tepatnya kau seperti..."


Belum sempat melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba jantung Raja berdegup kencang. Kedua matanya terbelak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia melihat Lili yang sedang berdiri di depannya, bukanlah Lili yang dia kenal. Sosok gadis kecil yang ia lihat sebelumnya saat hendak memasukki hutan kematian itu, sangat berbeda dengan sosok yang berdiri di depannya. Memang yang berdiri di depannya saat ini adalah Lili, tapi yang berada di dalam tubuhnya Lili, bukanlah Lili, melainkan orang lain. Melihat Raja menatapnya dengan ekspresi wajahnya yang terkejut dengan keringat yang membasahi dahinya, Lili pun tersenyum dingin kearahnya. Melihat senyum dingin mengambang di wajahnya, tiba-tiba Raja melihat dengan sangat jelas bahwa yang berdiri di depannya bukan sosok gadis kecil melainkan sosok pria yang sudah lama ia kenal. Pria itu tersenyum dingin kepadanya, seolah sedang mengejeknya. Tiba-tiba ia mendengar permaisuri menyebut nama seseorang yang ia kenal. Raja pun menoleh ke arah permaisuri, dan dilihat istrinya memasang ekspresi tidak percaya sekaligus haru di wajahnya. Kedua mata istrinya sedang berkaca-kaca dan pecahlah air matanya dan membasahi kedua pipinya yang seputih salju.


"Sano!" kata Permaisuri dengan nada lirih


Mendengar nama itu, Raja pun berbalik menatap Lili. Betapa kagetnya ia melihat Sano sedang berdiri di depannya, bukan Lili. Saudara beda ibu yang sudah lama menghilang, akhirnya ia bisa melihatnya kembali di dalam tubuh gadis kecil. Ia masih terlihat sama seperti dulu. Bertubuh tinggi besar dan masih berwajah tampan, dengan penampilannya yang mewah namun terkesan elegan.


"Sudah lama tidak berjumpa, kakak Sano?" tanya Raja sambil menyeringai.


Entah ini kebetulan atau halusinasi, tanpa sadar, Raja memanggil Lili dengan sebutan yang berbeda dan membuat semua orang tercengang mendengarnya. Nama yang sudah lama tak terdengar kabarnya, akhirnya semua orang mendengarnya kembali dari mulut sang Raja.

__ADS_1


__ADS_2