
Mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh adiknya, Pangeran Sirzechs hanya diam sambil membalikkan badannya, memunggungi adiknya, Feng.
"Bantu dia membersihkan badannya dan segera bawa ke tempatku!" perintah Pangeran Sirzechs kepada pengawal yang berjaga di sana.
"Baik Yang Mulia!"
Pangeran Sirzechs segera pergi meninggalkan tempat itu. Melihat kakaknya pergi meninggalkannya, Feng hanya bisa menghela nafas.
"Ternyata benar. Dia yang telah melepaskan segelnya." gumam Feng.
Tak lama kemudian, pintu kamar Lili diketuk oleh seseorang dari luar. Dengan sedikit tertatih-tatih, Lili pun berjalan menuju ke arah pintu. Ia pun membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
Betapa terkejutnya Lili melihat Pangeran Sirzechs berada di depan pintu kamarnya dengan mantan suaminya, Raja Feng. Lili melihat wajah mantan suaminya terlihat sangat muram. Melihat pandangan Lili tertuju kepada Feng (adiknya), Pangeran Sirzechs hanya berdehem.
"Ehem!"
Lili pun sontak kaget mendengar Pangeran Sirzechs berdehem.
"Ah, maaf. Silahkan masuk Yang Mulia!" ucap Lili sambil mempersilakan Pangeran Sirzechs untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Yang Mulia?!" gumam Pangeran Sirzechs.
Lili pun tak menghiraukannya. Melihat Lili tidak menghiraukannya, Pangeran Sirzechs pun hanya menghela nafasnya. Ia pun segera masuk ke dalam kamar Lili dan diikuti oleh Feng dibelakangnya. Pangeran Sirzechs menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Pandangan tertuju kepada Lili, dan kemudian beralih ke arah Feng, adiknya.
"Lili, sesuai dengan janjiku padamu. Ku bawakan kau seseorang yang ingin kau temui. Bagaimana? Apa kau senang bertemu dengannya?!"
"Terima kasih Yang Mulia. Maaf telah merepotkanmu."
Mendengar ucapan rasa terima kasih dari Lili, pangeran Sirzechs hanya diam saja dan membalasnya dengan senyum dingin. Bukan ucapan itu yang ingin ia dengarkan. Ia hanya ingin mendengar jawaban darinya, bagaimana tentang perasaannya saat ia bertemu dengan mantan suaminya. Sayangnya, Lili tak memberi jawaban.
"Baiklah, aku akan pergi meninggalkan kalian berdua. Feng, jaga sikapmu!"
"Aku mengerti. Terima kasih kak."
Pangeran Sirzechs pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Lili. Melihat Pangeran Sirzechs pergi meninggalkannya mereka berdua, Lili pun mengalihkan pandangannya kearah Feng, mantan suaminya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Syukurlah."
__ADS_1
"Ya."
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu?"
"Katakan!"
"Apa bener, kau yang telah menyegel kekuatanku?"
"Ya."
"Lalu, siapa yang membuka segelnya? Apa itu juga kau?!"
"Tidak. Itu bukan aku."
"Lalu siapa?! Kau pikir aku bodoh?! Kau pikir aku tidak tahu?!"
"Kalau kau sudah tahu, mengapa kau bertanya?!"
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Itu saja!"
"Aku sudah mengatakannya. Memang aku yang telah menyegel kekuatanmu. Tapi yang melepas dan menghancurkan segel itu, bukan aku!"
"Lantas siapa orangnya, jika itu bukan kau?!"
"Dia orang yang selama ini dekat denganmu!"
"Ya!"
"Maksudmu..."
"Ka... akhhhhhh!!!" jerit Feng kesakitan saat tubuhnya ditarik oleh sebuah tangan raksasa bayangan, keluar dari dalam kamar Lili.
Lili pun kaget bukan main, melihat kejadian tak terduga di depan matanya. Mantan suaminya (Feng) ditarik keluar dari dalam kamarnya oleh sebuah tangan raksasa bayangan. Lili pun spontan mengejarnya, namun apalah daya. Pintu kamarnya langsung tertutup dengan sangat keras dan terkunci dari luar. Lili mengedor pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Ia pun segera menoleh ke arah jendela dan segera berlari menuju jendela. Begitu ia menyentuh kaca jendela, sesuatu menyengat di tangannya. Lili pun melihat kembali kaca jendela yang terlihat biasa saja. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Ia pun kembali mencoba untuk menyentuhnya kembali, namun ia masih merasakan ada sesuatu yang kembali menyengat tangannya.
Tiba-tiba dari balik kaca jendelanya, ia melihat pengawal dari Pangeran Sirzechs membawa dan menyeret tubuh mantan suaminya (Feng) di atas tanah. Ia melihat seluruh tubuh mantan suaminya (Feng), penuh dengan luka dan memar. Pria yang dulunya sangat tampan, dengan tubuh kekar dan pakaian mewah seorang raja. Kini terlihat seperti pria lusuh yang sangat menyedihkan. Ekspresi muram terlihat di wajah lusunya. Betapa terkejutnya Lili melihat Pangeran Sirzechs, pria yang selama ini ia anggap sebagai teman, berpenampilan sangat mengerikan. Ia menggunakan pakaian serba hitam dengan jubah hitamnya, tersenyum dingin ke arahnya. Jantung Lili saat itu berdegup kencang melihat dirinya di tatap tajam dan mengerikan oleh sahabatnya sendiri. Ia tak menyangka akan ada hari, dimana ia ditatap tajam dan mengerikan oleh sahabatnya sendiri. Seolah ia telah melakukan kesalahan yang telah menyakitinya.
Tak lama kemudian, Pangeran Sirzechs mengalihkan pandangannya ke arah adik tirinya, Feng. Ekspresi wajahnya terlihat sangat menyeramkan daripada ekspresi saat ia menatap Lili. Dibalik sorot mata yang tajam itu, tersembunyi kebencian yang luar biasa. Tiba-tiba pangeran Sirzechs mengeluarkan pedang yang terselip di pinggangnya. Itu adalah pedang Demon Fire dengan simbol api di atas sarung pedangnya dan nama Demon Fire yang terukir di atasnya. Pedang berwarna silver itu menyentuh dagu Feng dan mengangkatnya secara perlahan. Wajah Feng penuh dengan lumuran darah di setiap sisinya. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan di tenggorokannya.
"Sirzechs, hentikan! Sirzechs!!!" teriak Lili dari balik kaca jendela kamarnya.
Mendengar suara teriakan Lili, Pangeran Sirzechs hanya hanya meliriknya sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Feng, adik tirinya. Angin meniup daun-daun yang berguguran dan menerbangkannya di atas langit. Suasana saat itu terasa semakin mencekam. Sambil menelan ludah, Feng memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.
"Apa yang ingin kau lakukan, kak?!"
__ADS_1
"Membunuhmu!"
"Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Sirzechs, hentikan! Lepaskan aku!" teriak Lili sambil berusaha menyentuh kaca jendelanya kembali berkali-kali, namun semuanya sia-sia.
Semakin ia menyentuh kaca jendela kamar, semakin ia merasakan kedua tangannya tersengat energi yang tak kasat mata. Sebuah penghalang yang tak kasat mata, telah dipasang oleh pangeran Sirzechs, agar Lili tidak bisa melarikan diri dari kamarnya. Lili berusaha untuk menghancurkan penghalang yang tak kasat mata itu, namun justru malah melukai kedua tangannya. Kedua tangannya terluka dan penuh dengan darah.
Tes! (suara darah yang mengalir dan jatuh di atas lantai.)
Pangeran Sirzechs yang mencium bau darah Lili, hanya tersenyum dingin.Ia menatap tajam ke arah adik tirinya. Sorot matanya kini terlihat memancarkan aura kebencian di dalamnya. Feng yang melihat tatapan kebencian di kedua mata kakaknya, hanya bisa bergidik ketakutan sambil menelan ludahnya.
"Sirzechs, lepaskan aku! Aku mohon, jangan sakiti dia! Sirzechs!!!" teriak Lili sambil memukul kaca jendela kamarnya dengan sihir yang tersisa di dalam dirinya. Darah semakin mengalir deras, mewarnai kaca jendela itu.
"Kau lihat dan kau dengar itu?! Dia yang kau sakiti, malah berjuang mati-matian untuk menyelamatkanmu! Dia menyuruhku untuk berhenti! Sayangnya, aku tidak ingin berhenti!"
"Bunuh aku! Itu yang kau inginkan bukan?! Cih, aku tahu kau marah padaku. Karena aku telah merebut wanitamu! Kakak, bukankah jika kau membunuhku, kau bisa memilikinya?! Menjadikan dia sebagai istrimu?! Tapi, kau tidak akan pernah bisa menjadi rumah untuknya!"
"Brengsek!" hardik Pangeran Sirzechs sambil menendang adiknya dengan kaki kanannya, hingga jatuh tersungkur di atas tanah.
Lili yang melihatnya sangat terkejut dan tidak pernah menyangka. Sirzechs yang ia kenal sebagai pria yang lemah lembut, ternyata jauh lebih kejam dan kasar daripada Feng. Tidak hanya menendangnya berkali-kali, Pangeran Sirzechs juga menusuk jantung Feng (adik tirinya) dengan pedang di tangannya.
Jlebbb!
Bilah pedang berwarna silver yang dipegang oleh pangeran Sirzechs, telah menancap, tepat di jantung Feng. Membuat Feng muntah darah. Melihat Pangeran Sirzechs menusuk jantung Feng (mantan suaminya), Lili pun berteriak histeris. Kekuatan sihir yang tersisa di dalam dirinya, meledak dan menghancurkan penghalang yang terpasang di kaca jendela kamarnya.
Prang! (suara pecahan kaca jendela kamar Lili yang pecah dan berhamburan di atas tanah.)
Lili pun berlari menuju keduanya, dengan kedua kaki telanjang yang penuh darah akibat terkena pecahan kaca jendela kamarnya. Lili segera memeluk Feng (mantan suaminya) yang sudah terkapar di atas tanah. Melihat Lili datang dan memeluk Feng, Pangeran Sirzechs menarik kembali pedangnya yang masih tertancap di jantung Feng. Darah mengalir dan menetes dari bilah pedangnya. Ada rasa kekecewaan yang luar biasa, di balik ekspresi wajahnya yang dingin. Ia melihat Lili menangis sambil memeluk erat tubuh Feng (adik tirinya) yang sudah tak bernyawa.
Karena tak kuasa melihat pemandangan ini, Pangeran Sirzechs segera melemparkan pedang di tangan kanannya ke atas tanah.
Klang!
Pangeran Sirzechs segera menarik tangan kanan Lili secara paksa, agar ia melepaskan pelukannya. Karena tak ada tenaga untuk melawan, Lili pun akhirnya melepaskan pelukannya. Pergelangan tangan kanannya terlihat merah dan memar, akibat cengkraman kuat Pangeran Sirzechs.
"Kenapa kau menangisi pria macam dia?! Apa kau lupa, bagaimana ia memperlakukanmu dulu?!"
"Hiks... hiks... aku tidak pernah lupa."
"Lalu apa? Kau masih mencintainya?!"
"Aku... aku hanya kecewa kepadamu! Kenapa, kenapa kau melakukan ini? Kenapa?!!" teriak Lili dengan penuh amarah dan tangisan di wajahnya.
Melihat Lili marah dan menangis, ekspresi wajah pangeran Sirzechs seketika itu langsung berubah. Yang tadinya dingin, berubah menjadi sedih. Dengan ragu-ragu, pangeran Sirzechs mengulurkan tangannya ke arah Lili.
__ADS_1
"Aku membencimu! Aku membencimu, Sirzechs!" ucap Lili sambil berlinang air mata.
Bagai disambar petir di siang bolong. Hatinya sangat hancur, mendengar wanita yang selama ini ia cintai, ternyata membencinya. Tangan yang ia ulurkan kepada Lili, berharap Lili akan menyambutnya dengan lembut. Kini hanya gemetaran saat mendengar bahwa Lili membencinya.