
Seratus tahun kemudian
Diatas batu es, Lili duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya. Selama seratus tahun ia berkultivasi tertutup di gua es dingin. Dinamakan gua es dingin karena es yang terdapat di dalam gua ini bersifat abadi, tidak bisa mencair. Kedua mata Lili yang masih terpejam perlahan terbuka. Ia merasa seluruh tubuhnya terasa ringan, meski kekuatan spiritualnya masih melemah. Ia menghela nafas dan melihat ke telapak tangan kanannya.
"Tidak peduli berapa ratus tahun lamanya, aku melakukan kultivasi. Kekuatanku tetap saja melemah. Apa karena seseorang yang menyegel kekuatanku ini, belum melepaskan mantra penyegelnya?!" gumam Lili.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju mulut gua. Seperti saat pertama kali ia memasukki mulut gua ini, terdapat pelindung yang tak kasat mata. Namun, ia berhasil menerobosnya keluar tanpa harus merusak pelindung mulut gua itu. Ia melihat sinar matahari terik dan kicauan burung-burung yang bertengger di atas dahan pohon. Ia melirik ke salah satu pohon besar yang di atasnya bertengger dua pasang ekor burung merpati yang sedang memadu kasih. Lili pun tersenyum dan mengalihkan pandangannya sembari berjalan menyusuri hutan untuk kembali ke istananya. Setelah satu jam lamanya ia berjalan menyusuri hutan, langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Betapa terkejutnya Lili saat ia melihat ke depan. Dilihatnya ribuan binatang buas dan Hana yang sedang berdiri menunggu kepulangannya. Entah dia harus marah atau terharu, ekspresi di wajahnya sangat warna warni melihat pemandangan yang ada di hadapannya sekarang. Ia tak pernah menyangka, akan ada orang yang menyambut kepulangannya.
"Kalian?! Apa yang kalian semua lakukan disini?!" tanya Lili dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.
"Tentu saja kami di sini menunggu kepulanganmu Ratu." jawab Hana dengan wajah tersenyum dan diikuti senyum dari ribuan binatang buas, sahabatnya.
Semuanya memberi hormat kepada Lili. Mendengar dan melihat ekspresi di wajah mereka semua, membuat Lili merasa terharu. Untuk kali ini, ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang telah lama hilang semenjak kejadian itu. Rasa kesepian yang melanda saat ia melakukan kultivasi tertutup selama seratus tahun lamanya, membuat ia menjadi semakin terbiasa dengan yang namanya kesepian. Namun, pada dasarnya, tidak ada seseorang di dunia ini yang menginginkan dirinya hidup dalam belenggu kesepian.
"Terima kasih. Terima kasih, kalian sudah setia menunggu kepulanganku."
"Sama-sama ratu."
"Ayo pulang." ucap Lili dengan nada suara bergetar.
"Iya." sahut Hana.
Lili pun tersenyum. Mereka semua berjalan bersama-sama, pergi meninggalkan tempat itu. Dan mereka semua berjalan bersama menuju ke arah istana ratu, sambil tertawa.
"Terima kasih Tuhan. Kau memberikan aku sebuah tempat dan sahabat yang selalu setia kepadaku. Tak peduli jalan apa yang aku pilih, aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Aku... tidak aka membiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaanku kali ini." batin Lili.
Tiga bulan telah berlalu, terdengar sebuah rumor yang beredar di kalangan masyarakat. Ada seorang wanita dengan makhluk iblis yang menemaninya sedang menculik seorang anak laki-laki yang yatim piatu di kota mereka. Dan sampai sekarang, tidak diketahui kabar dari anak laki-laki kecil itu. Rumor itu semakin berkembang menjadi besar, hingga tersebar keluar dari negara itu. Hingga sampai rumor itu telah di oleh seorang raja dari negara lain. Anehnya, raja ini sangat tertarik kepada rumor yang beredar luas dan berkembang sampai sekarang. Ia memerintahkan kepada salah satu pengawal rahasianya, untuk mencari tahu tentang wanita iblis ini.
"Kau sudah dengar rumor yang beredar di masyarakat?!" tanya seorang pria yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela dengan jubah hitam mewahnya dengan motif jahitan abstrak pada jubah hitamnya.
"Ya Yang Mulia. Hamba sudah mendengarnya." jawab seorang pengawal pria yang mengenakan topeng dan berpakaian serba hitam dengan masker wajah berwarna hitam yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Segera cari siapa wanita dengan makhluk iblis itu. Jika kau menemukannya, segera beritahu aku!"
"Baik Yang Mulia."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, pengawal pribadi itu segera pamit dan pergi meninggalkan tempat itu. Ia melesat seperti bayangan hitam.
...****************...
Di sisi lain, ayah mertua Lili sekaligus raja sedang terbaring lemah tak berdaya di atas kasurnya. Ia memerintahkan seorang pengawal bayangan untuk memanggil putra mahkota Feng, menghadap kepadanya. Tak lama kemudian, putra mahkota Feng datang di hadapannya sambil memberi hormat kepadanya.
"Salam ayahanda." ucap putra mahkota Feng sambil menundukkan sedikit badannya.
"Bangunlah." sahut raja sambil memberikan isyarat tangannya.
"Ada apa gerangan ayahanda memanggilku untuk datang kemari?!"
"Apa kau sudah dengar rumor yang telah beredar di masyarakat?! Uhuk... uhuk..."
"Ya. Aku sudah mendengarnya ayahhanda."
"Apa kau sudah menemukan orang itu?!"
"Belum ayahhanda. Tapi, ayahanda tidak perlu khawatir. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini."
"Humph. Aku harap begitu. Feng, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu, terlepas dari rumor yang beredar."
"Aku ingin saat penobatanmu nanti, kau sudah menemukan calon pengganti istrimu!"
Jedeerrrrr (suara petir menyambar di langit.)
Betapa terkejutnya putra mahkota Feng yang mendengar perkataan ayahandanya yang memintanya untuk segera menemukan calon pengganti istrinya.
"Ayahanda, apa itu penting?!" tanya putra mahkota Feng dengan nada ragu.
"Tentu saja. Calon raja yang akan segera dinobatkan untuk menjadi raja, harus memiliki permaisuri untuk mendampinginya. Lagipula, keberadaan mantan istrimu itu tidak diketahui sampai sekarang. Jadi untuk apa kau masih bersikeras mencarinya sampai sekarang?!"
"Karena dia adalah permaisuriku, selamanya. Hanya dia satu-satunya yang berkualifikasi untuk menjadi permaisuriku. Yang mendampingiku seumur hidupku, selamanya."
"Hahaha... kau terlalu naif anakku."
__ADS_1
"Apa maksudmu ayahanda?!"
"Bagaimana jika dia tahu, kalau orang yang menyegel kekuatannya adalah suaminya sendiri? Apa kau pikir, dia akan mau kembali disisimu?!" tanya raja dengan eskpresi wajah menyeringai.
Mendengar ayahhanda mengatakan hal itu, putra mahkota Feng mengepalkan kedua tangannya. Jelas terlihat ia sedang menahan amarahnya.
"Feng, aku akan bertanya kepadamu. Apa kau benar-benar telah menyegel kekuatannya?!"
"Tentu saja. Apa ayahanda sedang meragukanku?!"
"Tidak. Aku hanya merasa wanita yang bersama dengan makhluk iblis ini... ah sudahlah. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin itu dia!"
"Tapi bagaimana jika itu memang benar dia ayahanda?! Apa yang akan kau lakukan?!"
"Bunuh dia!"
Jedeerrrrr!!! (Suara petir bergemuruh di langit.)
"Apa?! Ayahanda, apa kau serius dengan apa yang telah kau katakan ini?!"
"Tentu saja. Apa aku tidak terlihat serius?!"
"Ayahanda sadarlah akan perbuatanmu. Kau memintaku untuk menyegel kekuatannya, aku sudah melaksanakan perintahmu. Tapi, jika membunuhnya..."
"Kenapa? Apa kau sekarang menjadi pria yang sentimentil?! Lembek hanya karena cinta?! Apa kau ingin menjadi seperti kakak tirimu, demi cinta ia rela meninggalkan segalanya. Dan sampai sekarang keberadaannya tidak diketahui?! Apa kau ingin mengikuti jejaknya?! Uhuk... uhuk... uhuk..." bentak raja sambil terbatuk-batuk.
"Maafkan ananda, ayahanda. Tapi, Ananda merasa tindakan ayahhanda telah melewati batas. Apa insiden tentang kematian seluruh keluarganya adalah perbuatanmu?!" tanya putra mahkota Feng dengan ekspresi wajah serius.
"Menurutmu?!"
"Ayahanda kau..."
Putra mahkota Feng tidak melanjutkan perkataannya. Ia sangat terpukul dan kecewa dengan tingkah laku ayahandanya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasa kekecewaan begitu sangat besar kepada sosok pria yang selama ini menjadi panutannya.
"Kenapa? Kau kecewa denganku sekarang?! Feng, aku tidak peduli kau kecewa denganku atau tidak. Aku melakukan ini demi kelangsungan kerajaan kita, terutama hidup keluarga kita. Kau harus tahu itu! Lakukan tugasmu! Aku ingin melihat di hari penobatanmu, kau harus sudah memiliki calon permaisuri. Jangan kecewakan aku! Pergilah!" terang raja sambil memberi isyarat melambaikan tangannya.
__ADS_1
Putra mahkota Feng memberi hormat dan pergi meninggalkannya. Saat ia menutup pintu kamar ayahnya, ada perasaan kecewa yang teramat besar di dalam hatinya. Selama ini, ia menjadi anak yang sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Ia selalu menyayangi ayahnya. Dan satu-satunya sosok seorang ayah sekaligus pria yang sangat ia idolakan sebagai seorang anak. Tapi siapa sangka, jika ayahnya telah menyakiti dirinya. Membuatnya merasakan kekecewaan yang sangat besar. Putra mahkota Feng mengepalkan kedua tangannya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan penuh amarah dan kecewa dalam dirinya.
"Ayahanda, aku sangat kecewa denganmu!" batin Feng.