PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Teror Ratu Iblis (3)


__ADS_3

"Kau!!! Apa yang kau lakukan kepadaku?!" teriak Raja sambil menunjuk ke arah Lili.


"Aku? Apa yang aku lakukan padamu?! Tentu saja mengunjungimu, ayah mertua. Oh tidak, Yang Mulia Raja."


"Hahahaha! Mengunjungiku?! Konyol! Kau pikir aku bodoh! Mengunjungiku di alam mimpi, kau semakin berani!" bentak Raja.


"Humph, aku tak seberani raja yang meminjam tangan seseorang untuk dijadikan pisau pembunuh." sindir Lili.


"Brengsek!" umpat Raja sambil mengeluarkan jurus di tangannya.


Lili yang melihat Raja mengeluarkan jurus di tangannya, langsung melakukan gerakan mengunci. Raja mulai melancarkan serangannya ke arah Lili, namun terhalang oleh perisai Lili. Serangan yang dilancarkan oleh Raja langsung terpental di udara. Raja pun mundur beberapa langkah akibat serangannya. Perlahan-lahan perisai yang melindungi Lili, menghilang.


"Ada apa Yang Mulia?! Bukankah kau sangat kuat?! Bahkan seranganmu, tidak mampu menggores pelindungku?!" ejek Lili.


"Tsk, jangan sombong kau! Terima ini! Sihir ilusi!" teriak Raja sambil melakukan gerakan memutar tangan di udara dengan merapalkan mantra di mulutnya.


Lili yang melihat Raja mulai menyerangnya dengan sihir ilusi, ia hanya menyeringai. Serangan itu tepat mengenai dirinya. Raja melihat tubuh Lili yang sedang berdiri di depannya,tak bergerak sedikitpun dengan kedua matanya yang terpejam. Raja merasa bahwa serangan sihir ilusinya tepat mengenai dirinya. Ia yakin bahwa Lili sekarang sedang bertarung dengan ilusinya sendiri.


"Heh, kau pikir kau siapa?! Butuh seratus tahun untukmu, mengalahkan aku!" ejek Raja dengan nada sombong.


"Kau benar Yang Mulia. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah gadis biasa. Tapi, tidak butuh waktu seratus tahun lamanya untukku membunuhmu!" teriak Lili sambil membuka kedua matanya.


"Apa?! Bagaimana mungkin?!"


"Raja, apa kau lupa... kau sekarang ada di mana? Siapa pemimpin tempat ini?!" ejek Lili dengan ekspresi dingin di wajahnya.


Betapa terkejutnya raja mendengar Lili mengatakan hal itu. Raja pun mulai mengamati sekitarnya. Ia melihat di sekitarnya hanyalah sebuah tempat yang sangat gelap gulita. Namun, ia bisa melihat dirinya sendiri yang mengeluarkan cahaya.


"Ini... tempat ini. Jangan-jangan tempat ini adalah alam mimpi?!" gumam raja.


"Kau benar raja. Ini adalah alam mimpimu. Seperti inilah alam mimpimu. Kupikir alam mimpimu indah, ternyata tak seindah istanamu." sindir Lili.


"Cih, kau menghinaku?! Jika kau berani, temui aku di alam nyata?!"


"Hahaha, kau pikir aku adalah masih gadis yang polos, seperti dulu?! Raja, kau terlalu naif!"


"Apa maksudmu?!"


"Tak usah berbelit-belit. Orang tua sepertimu, sudah waktunya untuk istirahat."


"Dasar perempuan j*lang! Seharusnya dari awal, aku membunuhmu! Meminta Feng menyerap dan menyegel setengah dari kekuatanmu, itu sama saja memberimu kehidupan lebih lama!" terang raja.


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh raja (mantan ayah mertuanya.), Lili sangat terkejut mendengarnya. Ia tak pernah menyangka bahwa orang yang telah menyegel kekuatannya adalah mantan suaminya sendiri. Orang yang seharusnya menjaga dan melindungi dirinya, malah menusuknya dari belakang. Hatinya sangat sakit mendengar kenyataan ini.


"Jadi, selama ini..."

__ADS_1


"Ya. Aku yang memerintahkannya untuk melakukan hal ini. Agar kelak dimasa depan, kau tidak bisa mengancam nyawa keluarga kerajaan dan kerajaanku sendiri! Kau tahu Lili, kau adalah aib yang harus disingkirkan! Kau adalah pembawa malapetaka di negara ini. Tidak! Kau juga pembawa malapetaka pada kedua anakku! Salah satunya adalah Feng!"


"Kenapa kau menyebut aku sebagai pembawa malapetaka bagi kedua anakmu?!"


"Kenapa? Kau tanya kenapa?! Hahaha, menurut ramalan, kau adalah pembawa bencana bagi negaraku! Dan itu benar! Kau membuat anak tiriku, tidak menghargai aku sebagai ayah sambungnya? Ditambah dengan Feng, yang ternyata diam-diam mencintaimu. Karena itu, ia sering membangkang perintahku sebagai seorang ayah!"


"Ramalan? Hanya sebuah ramalan yang belum tentu benar adanya, kau tega membinasakan keluargaku dalam semalam?! Tidak hanya sampai disitu, kau bahkan memerintahkan anak-anakmu untuk menekan kekuatanku?! Yang Mulia raja, kau sungguh biadab. Kau bahkan lebih hina daripada binatang buas!"


"Dasar brengsek! Matilah kau!" teriak Raja sambil mengeluarkan pedang miliknya dari dalam ruang pemiliknya.


Melihat hal itu, Lili hanya tersenyum. Tak mau kalah dengan raja, Lili juga mengeluarkan sebuah busur panah dari dalam ruang penyimpanan miliknya. Busur panah itu terbuat dari es yang sangat keras dan berwarna putih seperti batu kristal. Tidak hanya itu, di sekitar busur itu diselimuti aura hitam yang mengelilinginya. Tanpa basa-basi, Raja mulai menghunuskan pedangnya ke arah Lili, namun dengan cepat Lili menembakkan anak panah ke arahnya. Satu anak panah telah dilepaskan di udara dan tiba-tiba berubah menjadi ribuan anak panah. yang menghujani raja. Melihat di depannya ada ribuan anak panah yang datang kepadanya, dengan cepat raja menahan serangan ribuan anak panah itu dengan pedangnya.


Klang... Klang... Klang...


Suara gesekan antara anak panah dengan pedang, beradu di udara. Melihat Lili yang berada di bawah, sedang berdiri mengamati dirinya, raja mulai mengeluarkan belati kecil yang tersembunyi dari dalam jubahnya. Dilemparkannya ke arah Lili. Belati kecil itu terbang dan hampir mengenai Lili. Namun dengan cepat Lili menangkapnya dengan tangan kosong. Melihat Lili berhasil menangkap belati miliknya hanya dengan tangan kosong, membuat raja semakin marah. Ekspresi di wajahnya berubah menjadi hitam dan kebiruan. Menandakan ia sangat marah dengan Lili.


"Raja, apa kau sudah lupa dengan kata-kataku?!"


"Apa?! Apa maksudmu?!"


"Huff, ingatanmu sangat buruk, Yang Mulia! Akan aku ingatkan sekali lagi! Kau tahu... sejak kau memasukki alam mimpimu, kau sudah terjebak dalam ilusiku. "


"Apa?! Tidak mungkin!"


"Ada apa?! Takjub?! Bukan saatnya untuk merasa takjub. Terima serangan pembalasanku! ucap Lili sambil melakukan gerakan mengunci di udara.


Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang mengenai Raja, yang membuat raja terpental jauh. Raja pun batuk berdarah. Melihat dirinya batuk berdarah, membuat raja semakin marah. Ia melemparkan pedangnya ke atas udara dan ia mulai merapalkan mantra, sambil menutup kedua matanya. Pedangnya melayang dan berputar di udara menghasilkan aura yang sangat dahsyat. Tiba-tiba pedang itu melesat dengan cepat ke arah Lili. Lili yang melihat pedang itu melesat dengan cepat ke arahnya hanya tersenyum dan menjepit bilah pedang itu dengan kedua tangannya. Senyum dingin mengambang di wajahnya. Melihat Lili yang bisa menahan serangan pedangnya, Raja pun kaget.


"Yang Mulia raja, sudah aku katakan berkali-kali. Siapa pemilik tempat ini?!" teriak Lili sambil mengembalikan serangan balik pedang milik raja ke arahnya. Karena serangan balik yang dilancarkan oleh Lili secara tiba-tiba, membuat raja tak bersiap dan ia terkena serangan balik dari jurusnya sendiri. Pedang itu menancap tepat di jantungnya.


"Aaakkkhhhhhhh!!!" teriak Raja kesakitan.


Tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang memanggilnya. Ia pun berdiri dan melihat Feng duduk disampingnya dengan wajah cemas, dan Buto yang berdiri sedikit menjauh dari mereka.


"Ayahanda, apa yang sedang terjadi?! Aku mendengar suara teriakan dari dalam kamarmu. Makanya aku datang kemari dengan ditemani Buto. Apa kau bermimpi buruk?!" tanya Feng dengan nada cemas.


"Mimpi? Ternyata ini mimpi?!" batin raja.


"Feng, kau harus segera menemukan Lili. Dan segera bunuh dia!" teriak Raja sambil mencengkram kedua bahu anaknya.


"Apa maksudmu ayahanda? Bukankah selama ini kita sudah melakukan pencarian dan tak ada satupun dari orang kita yang menemukan dirinya?!"


"Kau salah! Dia masih hidup. Bahkan... bahkan dia ingin membunuh ayah?!"


"Ayahanda, tenangkan dirimu dulu. Buto, tolong kau panggil dokter kerajaan kemari. Suruh ia untuk memeriksa kondisi Yang Mulia."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia."


Buto segera pamit undur diri meninggalkan mereka berdua.


"Ayahanda, apa kau yakin Lili ingin membunuhmu?!"


"Tentu saja. Aku melihatnya dia mengembalikan seranganku kepadanya. Tidak hanya itu, ia juga menguasai sihir ilusi."


"Ayahanda, itu hanya mimpi. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya."


"Mimpi? Aku pikir itu memang mimpi! Tapi sekarang aku yakin, bahwa itu bukan mimpi. Dia pasti datang kembali dan membunuh ayahmu ini! Feng, jangan bilang kalau kau ingin membiarkan dia membunuh ayahmu sendiri!"


"Ayahanda, kau pasti lelah. Aku akan memgambilkanmu air minum dulu." ucap Feng sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Feng! Aku tahu kalau kau ingin menghindar dari masalah ini. Aku tahu kalau dia adalah mantan istrimu!"


"Dia bukan mantan istriku, ayahanda! Dia adalah istriku, permaisuriku sampai kapanpun!"


"Jika memang begitu, lalu kenapa dia tidak kembali padamu?! Malah bermain kucing-kucingan dengan ayah mertuanya?! Berniat untuk membunuh ayah mertuanya sendiri?!"


"Ayahanda, seharusnya kau introspeksi dirimu sendiri."


"Lancang! Seperti inikah sikapmu kepada ayahmu yang telah membesarkanmu?!"


"Maaf ayahanda, aku tidak pernah bermaksud untuk menentangmu."


"Huff, sudahlah. Hari penobatanmu sebagai raja semakin dekat. Aku sudah menyiapkan pengganti istrimu itu."


"Apa?!"


"Setelah penobatanmu selesai, aku akan menikahkan kau dengan teman masa kecilmu, putri Cariz. Aku pikir dia sangat cocok untuk menggantikan posisi Lili sebagai istrimu."


"Ayahanda, kau tidak bisa melakukan hal ini kepadaku. Kau bahkan tidak menanyakan apakah aku setuju atau tidak?!"


"Jangan mengeluh! Lagipula kalian sudah lama mengenal bukan? Jadi tidak akan ada masalah. Lagipula, dia pernah membatalkan pernikahannya dengan kakak tirimu, apa lagi yang kau khawatirkan?! Aku bisa menjamin, kalau dia masih perawan."


Mendengar hal itu, putra mahkota Feng berbalik dan meninggalkan ayahandanya. Tak lupa ia memberi hormat sebelum melangkah pergi. Melihat anaknya tidak mengatakan sepatah katapun, raja mulai menegurnya.


"Feng, aku anggap diammu adalah setuju."


Putra mahkota Feng yang mendengar ucapan ayahhandanya, hanya mengabaikannya dan pergi meninggalkannya sendirian di kamar. Melihat anaknya pergi meninggalkan dirinya, raja memukul kasurnya.


"Brengsek! Lihat saja, aku pasti akan segera menemukan kau! Kau masih terlalu muda untuk mengalahkan aku, menantuku tersayang." ucap raja sambil menatap tajam ke arah vas bunga mawar yang berada di dekatnya.


Bunga-bunga mawar itu terlihat masih segar dan tercium aroma wanginya. Namun, terbakar oleh percikan api yang tiba-tiba muncul membakar bunga mawar yang ada didalam vas itu. Percikan api itu berasal dari kekuatan sihir raja yang terpancar dari tatapan kedua matanya yang mengeluarkan kilatan api di sekitar area kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2