
"Kenapa? Apa kau tidak senang, kalau aku masih hidup?"
"Tidak. Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Aku senang kau sudah kembali. Aku senang melihatmu masih hidup. Tapi, kenapa kau berada di dalam tubuh seorang gadis?"
"Kau salah."
"Salah? Apanya yang salah?"
"Aku sudah meninggal selama puluhan tahun."
Bagai disambar petir di siang bolong, permaisuri kaget bukan main. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Tidak. Tidak mungkin. Kau... kau pasti berbohong!!!"
"Kapan aku pernah membohongimu?"
"..."
"Apa kau tidak ingin memberitahukan sesuatu kepadaku, setelah apa yang telah terjadi di tahun-tahun ini?"
"..."
"Aku rasa tidak perlu."
"Maaf. Maafkan aku. Aku..."
Mendengar permaisuri meminta maaf kepadanya, pria itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Sudahlah. Kedatanganku kemari hanya ingin bertanya satu hal padamu."
"Silahkan."
"Dimana anakku?"
"Sejak kau pergi dan tidak pernah kembali, ia lebih suka berkeliaran di luar daripada di istana."
"Begitu ya."
"Iya. Dia... dia juga enggan untuk menerima gelar sebagai putra mahkota."
"Maksudmu... dia menolaknya?"
"Ya."
"Apa alasannya?"
"Itu, aku tidak tahu."
"Aku juga ingin minta maaf kepadamu."
"Kenapa?"
"Selama bertahun-tahun, kau pasti sangat menderita membesarkan anak kita seorang diri. Maafkan aku. Maafkan aku tidak bisa menemanimu."
"Kau tidak salah. Lagipula, semua orang sudah mencarimu kemana saja. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukan keberadaanmu." kata permaisuri sambil menyentuh pipi mantan suaminya dengan lembut."
"Kau benar. Kau juga sudah memiliki seseorang yang menggantikan aku." kata mantan suaminya sambil melepaskan tangan permaisuri yang masih menempel di pipinya.
"Apa kau cemburu?"
"Menurutmu?"
"Ini, bukan keinginanku. Ini karena desakan dari orangtuaku. Mereka tidak ingin melihatku dan anakku menderita."
"Apa kau sekarang merasa bahagia?"
"Eh?"
__ADS_1
"Waktuku tidak banyak. Setelah ini, aku akan menghilang selamanya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."
"Kumohon, jangan menghilang dulu. Setidaknya, kau harus bertemu dengan anakmu. Anak kita."
"Maaf, aku tidak bisa permaisuri."
"Apa? Apa yang kau katakan barusan?!"
"Permaisuri. Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Kenapa kau memanggilku seperti itu?!"
"Kenapa?! Bukankah kau sudah tahu statusmu yang sekarang. Kau bukanlah seorang putri. Tapi kau seorang ratu. Permaisuri. Istri dari raja yang sekarang, yang lain adalah adikku sendiri."
"Sudah kukatakan! Bukan seperti itu! Kau salah paham! Aku melakukan ini karena terpaksa!"
"Apa kau dulu menikah denganku juga karena terpaksa?!"
"Tentu saja tidak. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu."
"Jika kau mencintaiku, lalu kenapa kau tidak mau menunggu kepulanganku? Bukankah kau sudah berjanji, kau akan menungguku pulang? Apa kau melupakan janjimu sendiri?"
Tiba-tiba kenangan masa lalu, saat permaisuri masih muda dan masih menyandang gelar putri, sekaligus status sebagai istri dari mantan suaminya, yang tak lain adalah seorang pangeran. Sebuah janji yang dia ucapkan saat mengantar kepergian suaminya karena tugas yang diberikan oleh ayah mertuanya, yang dulunya menjabat sebagai raja.
...~20 Tahun Lalu ~...
"Apa kau akan menungguku pulang?"
"Tentu. Aku akan menunggu kepulanganmu. Aku janji. Aku tidak akan berpaling darimu. Kita akan membesarkan anak ini bersama-sama." ucap putri Katie sambil menggendong bayinya yang tidur terlelap di dalam gendongannya.
"Aku tidak sabar menantikan hal itu. Aku akan segera kembali setelah tugas yang ayahanda berikan kepadaku telah aku selesaikan."
"Ya."
Dengan penuh cinta, pangeran Nathan mengecup dahi istrinya dan memandang istrinya. Raut sedih terlihat jelas di wajahnya. Melihat ekspresi sedih di wajah suaminya, putri Katie meraih kerah baju suaminya dengan tangan kanannya, dan mencium bibirnya. Hal yang sama dirasakan oleh pangeran Nathan. Ia pun merangkul pinggang istrinya seolah tak ingin berpisah dengannya. Perlahan keduanya saling melepaskan ciumannya, dan saling menatap satu sama lain.
"Aku berangkat."
Pangeran Nathan berpamitan kepada istrinya dan segera terbang dengan kekuatannya. Ia terbang secepat kilat cahaya dan menghilang di balik awan.
Hutan Kematian
Pangeran Nathan dikepung oleh beberapa orang tak dikenal dengan menggunakan topeng hantu dengan pakaian dan jubah serba hitam yang mereka kenakan.
"Siapa kalian?!"
"Bukan urusanmu! Kami disini diperintahkan untuk membunuhmu!"
"Membunuhku?! Katakan siapa tuan kalian?! Apa alasannya membunuhku?!!!"
"Kau tanya saja pada Raja Neraka di sana!!"
Mereka pun terlibat dalam pertarungan yang sengit. Dengan kemampuan dan ketangkasan pangeran Nathan, ia berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka. Sayangnya, ia jatuh terkapar di tanah akibat serangan licik dari salah satu mereka. Ia terkena jarum beracun di dadanya yang ditembakkan tanpa ia sadari. Ia batuk berdarah dan mengeluarkan segumpal darah dari mulutnya. Sambil menahan rasa sakit akibat jarum beracun itu, ia memegang dadanya. Ia berusaha menarik keluar jarum itu yang masih menancap di dadanya dan mulai menekan titik akupuntur di dadanya agar racun dari jarum itu tidak menyebar ke bagian inti tubuhnya. Melihat hal itu, ketiga dari mereka yang masih hidup berjalan mendekati pangeran Nathan. Salah satu diantara mereka menendang pangeran Nathan yang sedang duduk bersila, berusaha menekan racun dalam dirinya, hingga jatuh terguling dan terkapar di atas tanah. Lalu dia menginjak tangan kanan pangeran Nathan dengan kaki kanannya. Sontak pangeran Nathan berteriak kesakitan sambil berusaha menarik tangannya yang masih diinjak oleh pria bertopeng itu.
"Tidak aku sangka... pangeran yang dulunya sangat terkenal akan kekuatannya yang menakutkan, ternyata mendapatkannya dengan jalan sesat!"
"Akhh... a... apa maksudmu?!"
"Naif sekali. Semua orang di negeri ini tahu, kalau kau... belajar ilmu sihir hitam!"
"Bohong! Itu fitnah!!!"
"Fitnah atau bukan, satu yang harus kau tahu. Bahwa hari ini kau harus mati!" teriak pria itu sambil menancapkan pedangnya tepat di dada pangeran Nathan.
Jlebbbbb!!!
Darah muncrat keluar. Pedang itu dipenuhi oleh darah. Pangeran Nathan langsung meninggal di tempat. Saat ia sekarat sebelum meninggal, samar-samar ia melihat dan mendengar percakapan ketiga pria itu.
"Tsk. Tidak kusangka dia benar-benar menjadi pangeran yang dibuang!" ledek pria kesatu sambil membuka topeng hantunya diikuti oleh kedua rekannya.
"Husstt. Kenapa kau bilang begitu?"
__ADS_1
"Kau buta ya?! Jelas-jelas raja yang memerintahkan kita untuk membunuh anak kandungnya sendiri!"
"Bahkan ayahnya sendiri lebih mementingkan harga dirinya ketimbang anaknya. Karena itu, ia menginginkan kematian anaknya. Hahaha... sangat ironis!"
"Jika aku menjadi raja, tentu aku akan melakukan hal yang sama. Sangat memalukan mempunyai anak yang belajar ilmu sesat!"
"Kau benar! Ayo kita tinggalkan tempat ini dan segera melapor!"
"Ya!"
Ketiga orang itu dalam sekejap menghilang dari tempat itu. Perlahan pangeran Nathan menutup matanya. Dalam hati ia berkata "Ayah, apa salahku?"
Petir mulai bergemuruh di atas langit. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan deras. Hutan itu menjadi sunyi sepi. Air hujan menyapu darah yang membasahi tubuh pria itu. Hujan semakin deras menyapu darah yang mengalir dari tubuh ribuan mayat yang tergeletak di hutan tak bernama ini.
...^^^***^^^...
"Bertahun-tahun lamanya, roh dan ragaku terjebak di hutan itu. Tak ada satupun orang yang berani melintas di sekitar hutan itu. Hingga akhirnya tersebar bahwa berita tentang hilangnya aku menyebar ke seluruh negeri."
"Jadi maksudmu... tidak... tidak mungkin. Ayahanda tidak mungkin melakukan ini padamu. Kau pasti salah paham."
"Diam!!!"
"Eh?"
"Yang kau lihat sebenarnya adalah topeng luarnya saja. Dia tak pernah mengganggapku sebagai anaknya. Kau tahu kenapa? Karena aku... aku adalah anak yang tak berguna dimatanya!!!."
"Apa?!"
"Aku selalu berpikir, akan ada hari dimana ayah akan menoleh ke arahku dan menggandeng tanganku. Mengajariku banyak hal yang tak pernah aku tahu. Tapi semua hanyalah anganku belaka. Seberapa kerasnya aku belajar di sekolah, seberapa hebatnya aku dimata orang lain. Dimata ayahku, aku hanyalah seekor semut yang pantas diinjak!!!"
"Suamiku... aku rasa kau..."
"Cukup! Jangan mendekat!!! Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana rasanya diabaikan. bagaimana rasanya berjuang tapi semua terasa sia-sia hanya karena satu hal."
"Apa itu?"
"Benci!"
"Benci?"
"Ya. Jika bukan karena ayah yang membenciku, aku tidak akan berakhir mengenaskan! Dan istriku, anakku... mereka tidak akan meninggalkan aku seperti ini! Menjelang ajalku datang, tak ada seorangpun yang menemaniku. Bagiku itu sangat menyakitkan daripada kesepian.
"Suamiku, aku minta maaf. Aku..."
"Sudahlah. Kita berdua bukan lagi sepasang suami istri. Kau sudah menikah dan hidup bahagia dengan pria lain. Aku harap, kau bisa menjaga anak kita. Itu sudah lebih dari cukup untukku."
"Lalu dimanakah jasadmu sekarang?"
"Humph. Kau tidak perlu tahu dimana jasadku dimakamkan. Aku datang kemari hanya untuk menyampaikan kebenaran tentang kematianku. Dan aku punya satu permohonan."
"Apa?"
"Lindungi gadis ini dan keluarganya. Jika bukan karena gadis ini, jiwaku selamanya akan terjebak dan terkurung di sana."
"Baik. Aku akan mengabulkannya."
"Terima kasih dan maaf untuk semuanya, Yang Mulia permaisuri."
Mendengar hal itu, hati permaisuri seperti dicabik-cabik. Rasa sakit mulai ia rasakan berkecamuk di dalam hatinya. Ia merasa menjadi seorang istri yang tega menyakiti suaminya. Ia merasa bahwa dia adalah wanita kejam, yang tidak mempunyai perasaan. Saat hendak meminta maaf kepada mantan suaminya, ia melihat bahwa Lili sudah tergelak pingsan di hadapannya. Ia pun berusaha untuk membangunkan Lili. Perlahan Lili membuka kedua matanya. Ia melihat permaisuri tersenyum kepadanya. Ia berusaha untuk duduk.
"Permaisuri."
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu permaisuri?"
"Mmm... ya. Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Terima kasih sudah mempertemukan kami."
__ADS_1
"Yang Mulia, kau..."