PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Kesedihan Ratu Iblis


__ADS_3

Boom... Boom... Boom


Suara ledakan mulai menggema ke seluruh bagian hutan, bahkan sampai terdengar dari atas langit.


"Uhuk... uhuk!"


"Ayah!"


"Suamiku!"


"Tsk, masih kuat melawan juga. Sayangnya, kau akan segera mati dengan tenang!"


"Ayah! Jangan! Jangan kau bunuh ayahku!" teriak Lexi histeris sambil menangis.


"Berisik! Aku akan membunuhmu bocah sialan!"


Lexi yang mendengar salah satu dari pria bertopeng itu yang hendak membunuh ayahnya, menjadi ketakutan. Namun, dengan sigap ibunya memeluknya ke dalam pelukannya.


"Ketua, kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus kedua orang itu." kata salah satu pria bertopeng yang lainnya.


"Jangan bersikap lunak terhadap anak kecil!"


"Tenang saja ketua."


"Brengsek! Menjauh dari anak dan istriku!"


"Hahaha, bahkan sudah mau mati saja masih bisa mengumpat! Rupanya kau sudah bosan hidup juga!"


"He... he... he... kau pikir kalian akan lolos dari tangan anak perempuanku!"


"Dia bilang apa barusan?!"


"Anak perempuannya ketua!"


"Ha ha ha... dasar bodoh! Anak perempuan itu sebentar lagi akan mengalami nasib yang sama dengan kalian!"


"Apa maksudmu mengatakan hal itu kepada putriku?!" teriak ibu Lili sambil menggendong Lexi.


"Apa maksudku?! Jadi kalian tidak tahu. Putri yang kalian bangga-banggakan itu, pelan-pelan akan menyusul kematian kalian! Kekuatannya mulai melemah dan tubuhnya tidak jauh berbeda dengan wanita lemah pada umumnya!"


"Brengsek! Beraninya kau menyentuh putriku!"


"Menyentuh putrimu?! Kau pikir kami bertiga mempunyai keberanian untuk menyentuh putrimu?! Menurutmu, siapa yang berani menyentuh putrimu saat ini?!"


Melihat ekspresi di balik topeng wajahnya, ayah Lili bisa menebak bahwa ketiga pria bertopeng itu hanyalah orang suruhan seseorang yang sangat ingin mencelakakan putrinya. Dan untuk dalang dibalik ini semua, jelas seseorang yang sangat dekat dengan anaknya, jika bukan suaminya sendiri.


"Heh, apa kalian tidak takut dituduh telah memfitnah keluarga kerajaan?!"


"Memfitnah?! Hahaha... dasar bodoh! Justru merekalah yang memerintahkan kami untuk membunuh kalian semua. Apa kalian ingin tahu kenapa?! Karena Lili ditakdirkan menjadi pembawa bencana! Dan pembawa bencana harus dibunuh hidup-hidup!"


"Tidak! Itu tidak mungkin!" teriak ayah Lili dengan wajah penuh amarah. Seluruh tubuhnya tertutupi aura merah menyala seperti api.


Mendengar hal itu, kedua orang tua Lili sangat kaget. Mereka tak menyangka bahwa putrinya telah menjadi target korban pembunuhan keluarga istana. Dan, merekalah yang mengantarkan putri mereka secara sukarela.


"Lexi, pergilah ke istana dan temui kakakmu!"


"Bagaimana dengan ayah dan ibu?!"


"Ayah dan ibu baik-baik saja. Kau tak perlu khawatirkan kami berdua. Sekarang pergilah bersama iblis hitam. Kau tidak perlu khawatir. Dia bukan binatang biasa. Dia adalah elang iblis yang sudah dilatih khusus oleh kakakmu, Lili."

__ADS_1


"Lalu, kenapa kakak memberikannya kepada ayah??"


"Karena di dalam istana, ia tidak diperbolehkan membawa bintang iblisnya. Karena itu, ia mempercayakan burung elang hitam itu kepada ayahmu untuk dirawat. Sekarang cepat pergi dengannya. Ingat jaga dirimu. Tetap hidup dan temani kakakmu, agar dia tidak kesepian."


"Baik ibu. Aku akan berjanji."


"Iblis hitam, segera bawa Lexi ke istana untuk bertemu dengan Lili. Dan sampaikan tentang kejadian ini kepadanya."


Burung elang hitam itu hanya mengangguk pelan. Dengan cepat, Lexi menaikki punggung elang hitam raksasa itu dan terbang meninggalkan kedua orang tuanya dengan kecepatan tinggi.


"Ayah, ibu! Jaga diri kalian masing-masing!" teriaknya dari atas langit.


"Apa yang kalian berdua tunggu! Segera bunuh bocah tengik sialan itu!" teriak pria bertopeng itu yang dipanggil oleh kedua bawahannya dengan sebutan ketua.


"Humph! Mau kemana kalian berdua?! Aku bahkan belum memberikan kalian kenangan sebagai hadiah perpisahan dari kami berdua!"


"Kau pergi dan tangkap anak itu! Lalu bunuh dia! Wanita ini biar aku yang menghadapinya!"


"Baik!"


Baru beberapa langkah, tiba-tiba dari dalam tanah keluarlah ribuan duri-duri berwarna hitam yang mencoba menghentikan langkah pria bertopeng itu untuk mengejar Lexi.


"Heh, mau kemana. Aku akan menghadapi kalian berdua!"


"Kau pikir, duri-duri ini akan menghentikan kami berdua?! Mari cepat, kita selesaikan ini!"


"Terima serangan kami, hiyaaatt!" teriak kedua pria bertopeng itu sambil melancarkan serangannya kepada ibu Lili.


Melihat pertarungan antara istrinya dengan kedua pria bertopeng itu, membuat ayah Lili menjadi sangat bersemangat untuk membunuh ketua dari pria bertopeng itu.


"Mari kita akhiri pertarungan kita juga!" kata ketua dari pria bertopeng itu sambil berlari menyerang ke arah ayah Lili.


Boom! (suara ledakan keras dari dalam hutan.)


...****************...


Di sisi lain, Lexi yang ditemani iblis hitam terbang menuju ke istana. Selama perjalanan, ia terus menangis sesenggukan.


"Tuan muda, kau tidak perlu menangis. Sebentar lagi kita akan sampai di istana." ucap iblis hitam itu kepada Lexi.


Lexi pun kaget mendengar ada seekor binatang yang bisa berbicara.


"Kau... kau bisa berbicara?!"


"Tentu saja. Karena aku bukan binatang biasa. Aku telah dilatih oleh kakakmu."


"Wah, bisakah kau menceritakannya kepadaku... bagaimana kau bisa bertemu dengan kakakku?!"


"Ceritanya panjang tuan muda. Lihat! Itu istana kakakmu."


Lexi pun kagum melihat pemandangan istana tempat tinggal kakaknya yang sangat megah dari atas langit.


"Wah, inikah istana tempat kakakku tinggal?!"


"Tentu saja tuan muda."


Tiba-tiba iblis hitam merasakan ada aura membunuh yang mendekat kearahnya. Ia segera menggunakan kekuatannya untuk membuat pelindung di sekitar tubuhnya. Sebuah cahaya yang sangat terang, keluar dari dalam tubuhnya dan membentuk sebuah lingkaran yang melindungi dirinya dan Lexi. Lexi yang menyaksikan kehebatan dari elang raksasa hitam ini, tak bisa berhenti mengaguminya.


"Iblis hitam, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau membuat pelindung di seluruh tubuhmu?!"

__ADS_1


"Tuan muda kau bisa melihat ada seseorang yang mengikuti kita di belakang."


Lexi pun menoleh dan melihat ada seorang pria bertopeng itu yang mengejarnya. Tidak hanya mengejarnya, pria bertopeng itu juga melancarkan serangannya ke arah mereka. Ia menyemburkan kobaran api dari kedua tangannya. Dengan lincah dan gerakan cepatnya, burung elang hitam raksasa itu menghindari setiap serangannya yang ditujukan kepadanya dirinya. Namun tak satupun serangannya yang mengenai burung elang hitam raksasa itu.


"Cih, binatang ini sangat berbeda dengan binatang lainnya!"


"Iblis hitam, dia mengejar kita!" teriak Lexi dengan wajah ketakutan.


"Tuan tenang saja. Dia tidak akan bisa melukaiku. Tuan, pegang erat-erat kita akan segera mendarat!"


Lexi pun berpegangan sangat erat pada bulu-bulu badan elang itu. Ia bisa merasakan kekuatan terbang dengan kecepatan penuh dari elang hitam raksasa milik kakaknya itu. Lexi hampir terbang terbawa tekanan kekuatan sayap burung itu. Namun ia berhasil menaikki punggung burung millik kakaknya itu.


"Tak kusangka, tuan muda sangat kuat?!"


"Ayah ibuku mengatakan, aku harus hidup untuk kakakku. Karena itu, apapun yang terjadi aku akan berusaha sekuat tenagaku sampai bertemu dengan kakakku!"


"Semangat yang hebat."


Saat iblis hitam itu hendak mendarat ke dalam istana, tiba-tiba ia terbentur sesuatu yang tak kasat mata. Itu adalah pelindung istana.


"Ada apa iblis hitam?!"


"Istana ini ternyata telah dilindungi oleh pelindung tak kasat mata. Kita tidak bisa menerobos masuk ke dalamnya!"


"Apa?!"


"Ha ha ha... rupanya kalian tidak bisa masuk karena terhalang oleh pelindung tak kasat mata ini." ejek pria bertopeng itu.


"Jika aku tidak bisa masuk kau pun tidak bisa masuk!" bentak Lexi sambil berdiri di atas punggung iblis hitam.


"Kau bocah tengik! Berani sekali menghinaku, rasakan ini!" hardik pria bertopeng itu sambil melayangkan kobaran api yang berbentuk sebuah pusaran angin yang keluar dari kedua tangannya.


Melihat hal itu Lexi sangat ketakutan. Tapi ia tak gentar. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawan pria bertopeng itu.


Boooommmm!


Lili yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun akibat suara ledakan yang sangat keras dari luar. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju jendela kamarnya. Ia segera membuka jendela kamarnya dan melihat ke arah langit. Betapa terkejutnya ia melihat adiknya Lexi yang masih kecil sedang bertarung dengan Pria berjubah hitam dengan mengenakan topeng itu.


"Lexi!" teriak Lili dengan ekspresi khawatir diwajahnya.


Saat Lili hendak melompat turun dari jendela kamarnya, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari belakang. Lili pun menoleh ke belakang dan dilihatnya Feng sedang menahan dirinya.


"Lepaskan aku!"


"Kau mau kemana?!"


"Tentu saja untuk menyelamatkan adikku! Jangan mencoba untuk menghalangiku!" bentak Lili.


"Dasar bodoh! Kekuatanmu sedang disegel sekarang. Ditambah pelindung istana telah diaktifkan. Kau hanya akan mati konyol!" bentak Feng sambil mencengkram tangan Lili.


Lili merasakan rasa sakit akibat cengkaraman kuat suaminya.


"Aku memang bodoh. Tapi aku tidak bisa berdiam diri, melihat adikku berjuang mati-matian melawan lawan yang kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan miliknya!" bentak Lili sambil menghempaskan genggaman tangan suaminya.


Ia segera melompat keluar jendela dan terbang ke atas. Namun, bukannya bisa terbang ke atas, ia malah jatuh kebawah."


"Aakkhhh!"


"Lili!" teriak Feng yang pada akhirnya harus melompat untuk menyelamatkan istrinya yang jatuh dari jendela kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2