PERMAISURI RAJA IBLIS

PERMAISURI RAJA IBLIS
Maple Cintaku


__ADS_3

"Tidak."


"Heh? serius?"


"Ya. Ada masalah?"


"Tidak ada nona. Cuman, aku merasa... mana mungkin nona yang secantik ini tidak memiliki kekasih?!"


"Nyatanya seperti itu. Lagipula terikat itu tidaklah menyenangkan."


"Kenapa nona berkata seperti itu?!"


"Menyatukan dua isi kepala yang berbeda tidaklah mudah. Terlebih jika kita terikat tanpa ada ikatan cinta. Tidaklah itu sulit untuk dijalani?!"


"Memang benar. Tapi, aku pernah mendengar dari orang-orang yang berkata bahwa cinta itu tumbuh dari sebuah kebiasaan."


"Begitu ya. Apa kau pernah mengalaminya sendiri?"


"Hehe... tidak nona."


"Hmm, aku kira kau sudah mengalaminya sendiri. Kalau hanya berdasarkan kata orang, tidak semua orang bisa mengalami hal yang seperti itu.


"Bukankah cinta dan benci juga garis yang sangat tipis. Tidak ada bedanya nona. Sekalipun kau dan dia tidak ada ikatan cinta, hal itu sedikit demi sedikit akan tumbuh seiring waktu."


"Jika berjodoh. Semua akan terjadi."


"Kalau tidak berjodoh, anggap saja dia hanya seseorang yang lewat di kehidupan kita yang mengajarkan kita banyak hal sebelum bertemu dengan cinta sejati kita yang sesungguhnya."


Angin berhembus menyebabkan ranting pohon maple bergerak bergesekan satu sama lain. Salah satu daun maple jatuh dari ranting dan tertiup angin lalu mendarat tepat di bahu kiri Lili. Ia menoleh dan mengambilnya. Daun maple yang berwarna merah yang sangat indah.


"Seiring waktu berjalan, perasaan cinta itu akan hilang layaknya daun-daun yang berguguran ini. Lihat, meski dia gugur tapi ia tetap indah untuk dilihat bukan. Kau tahu apa maksudnya?"


Hana menggelengkan kepalanya.


"Perasaan cinta itu bisa tumbuh dan hilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Namun, kenangan akan selalu membekas di dalam hati setiap orang. Entah kenangan manis atau pahit. Sekeras apapun kau berusaha menghancurkan kenangan itu, mengubur kenangan itu. Ia akan datang kembali untuk menghantuimu."


"Hiii... seperti hantu saja nona."

__ADS_1


"Memang. Hahaha!"


Keduanya tertawaan sepanjang jalan. Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan putra mahkota dan putri Cariz yang berjalan di sebelahnya sambil menggandeng lengan putra mahkota. Dibelakang mereka ada dua pengawal, yaitu Darkie dan Buto. Mereka berdua bertugas mengawal putra mahkota kemana pun ia pergi. Jika melihat dua pengawal ini, sangat menyedihkan. Terlihat mereka berdua seperti menjadi obat nyamuk di antara Putra mahkota dan Putri Cariz. Lili pun menghentikan langkahnya diikuti Hana yang berdiri di sampingnya. Begitu juga Putra mahkota melakukan hal yang sama. Kini, keduanya saling berhadapan satu sama lain.


"Salam Yang Mulia Putra mahkota." kata Lili sambil membungkukkan badannya sedikit.


Melihat Lili membungkukkan badannya, Hana pun mengikutinya. Ia juga membungkuk memberi hormat kepada Putra mahkota.


"Bangunlah."


Keduanya pun berdiri tegak.


"Terima kasih Yang Mulia Putra mahkota." kata Lili.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Putri Cariz dengan nada kasar.


"Jalan-jalan." jawab Lili dengan nada yang santai.


"Siapa yang menyuruhmu jalan-jalan ke tempat ini?! Apa kau tahu tempat ini milik siapa?!"


"Tahu. Ini tempat umum. Siapa saja boleh datang kemari sekedar jalan-jalan atau bersantai bersama keluarga atau kekasihnya. Apa ada yang salah?!"


"Tapi, aku tidak melihat sebuah papan yang bertuliskan bahwa tempat ini adalah milik Yang Mulia Putra mahkota. Jadi, tempat ini milik umum. Siapa saja bisa datang kemari, bukan begitu Yang Mulia?Maaf Yang Mulia Putra mahkota, apa benar yang aku katakan ini?!"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lili kepadanya, Putra mahkota Feng hanya menatapnya dengan pandangan tidak senang. Ia kemudian mengambil langkah terlebih dahulu.


"Minggir jelek! Kau merusak mataku!"


Betapa terkejutnya Lili mendengar kata-kata kasar yang diucapkan oleh Putra mahkota Feng terhadapnya. Mendengar tuannya di hina seperti itu, Hana merasa tidak terima. Ia ingin memukulnya meskipun dia adalah Putra mahkota sekalipun. Hana hendak melangkah satu langkah ke depan, namun ditahan oleh tangan kanan Lili. Hana segera mengerti. Ia pun mundur satu langkah ke belakang. Lili pun minggir ke tepi diikuti oleh Hana. Melihat keadaan itu, Putra mahkota berteriak kepada ketiga orang yang berada di belakangnya.


"Ayo pergi!" ajak Putra mahkota.


Ketika orang itu langsung berjalan mengikuti Putra mahkota yang terlebih dahulu berjalan di depannya. Tiba-tiba langkah kaki Putri Cariz terhenti tepat di samping Lili. Ia pun menoleh ke arah Lili. Keduanya bertemu pandang satu sama lain. Dengan angkuhnya, Putri Cariz mengoloknya.


"Humph, kau pikir kau siapa?! Jangan memandang tinggi dirimu hanya karena kau berhasil keluar dari hutan kematian itu dengan selamat! Kau pikir putra mahkota akan tertarik denganmu! Ingat! Dia hanya dijodohkan denganmu oleh Raja, bukan karena dia ingin menikahimu!"


"Memangnya kenapa? Apa kau cemburu karena dia dijodohkan denganku, tidak denganmu? Atau... apa kau tidak laku?!"

__ADS_1


"Lancang!" teriak Putri Cariz sambil melayangkan tamparan ke arah Lili namun ia tahan karena mendengar namanya dipanggil oleh Putra mahkota Feng.


"Cariz! Apa yang kau lakukan di sana?!"


"Cih, kau beruntung hari ini! Tapi tidak akan ada keberuntungan lain kali!'


Putri Cariz dengan marah mengibaskan gaunnya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Dari kejauhan, Lili melihat putra mahkota Feng melihatnya dengan pandangan tidak senang. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Lili seolah-olah tidak peduli. Bayangan punggung mereka perlahan hilang dari kejauhan. Tanpa sengaja, Hana melirik Lili dengan wajah muram.


"Nona, ada apa? Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Tapi kenapa wajahmu sangat muram, nona?"


"Hanya perasaanmu saja. Dari dulu wajahku jelek. Jadi apanya yang terlihat berbeda?"


"Tidak. Kata siapa nona jelek?! Nona itu sangat cantik, manis, baik hati. Yang mengatakan nona itu jelek, dianya saja yang buta!'


"Jangan bicara sembarangan! Bagaimana jika kata-katamu itu sampai terdengar oleh orang lain? Itu tidak hanya akan membuatmu mendapatkan masalah. Tapi juga aku."


"Maafkan aku nona."


"Tidak apa-apa. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi. Kenapa kau bisa mengatakan hal itu?!"


"Karena dimataku, nona adalah tipe wanita yang sangat langka.'


"Hah? Apa maksudmu?"


"Nona, bagi sebagian orang yang membencimu... kau terlihat jahat, kejam, sesat. Tak peduli kebaikan kecil apapun yang telah kau berikan kepada mereka, kau akan tetap jelek dan jahat dimata mereka. Tapi bagi sebagaian orang yang menyukaimu, mencintaimu, kau sangat istimewa. Tak peduli seluruh dunia membencimu, mereka akan tetap berdiri di sampingmu. Menemanimu selamanya."


"Alangkah baiknya jika aku menemukan orang seperti itu. Setidaknya ia tak pernah berpaling dariku sekalipun seluruh dunia berpaling dan mengasingkan diriku."


"Kau memilikinya nona."


"Ya. Terima kasih sudah setia menemaniku."


"Sama-sama nona. Aku berharap kau akan menemukan pria yang kau cari."

__ADS_1


Mendengar Hana mengatakan hal yang bersifat sentimentil itu, Lili memeluknya dengan lembut. Begitu juga dengan Hana yang memeluk tuannya dengan lembut. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya dari kejauhan. Suara yang sangat tidak asing di telinganya


"LIli!"


__ADS_2