Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Anak yang cacat


__ADS_3

Suara tangisan bayi terdengar sampai ke seluruh penjuru kerajaan, kabar gembira ini bahkan telah sampai ke kerajaan-kerajaan tetangga. Bayi tersebut lahir dengan satu tangan dan wajah yang cacat, kedua pupil matanya memiliki warna yang berbeda. Sang Ibu memutuskan untuk merahasiakan kecacatan sang putra dari Ayahnya karna ia tau suaminya tidak akan bisa menerima keadaan anak pertamanya itu.


Bersamaan dengan lahirnya putra raja yang pertama, bencana-bencana alam pun mulai terjadi di wilayah kerajaan Silvercast.


Seperti hujan badai, banjir bandang, gempa bumi, dan kebakaran hutan menerjang semua kawasan besar di Silvercast. Warga desa yang masih mempercayai mitos tentang kutukan, mulai menyalahkan kelahiran anak raja yang konon membawa sebuah kutukan untuk warga desa.


Mereka beramai-ramai mendatangi sang Raja yang bernama Goidam untuk menyuarakan aspirasi mereka.


"Wahai raja yang mulia! Tidakkah kau melihat kerusakan-kerusakan yang kami alami? Rumah kami hancur, dagangan kami terbawa angin, pasar yang selama ini menjadi tempat untuk mencari uang sudah hancur! Dan kami yakin kalau ini adalah kutukan yang di bawa anak itu!" teriak seorang pedagang muda.


"Itu semua tidak ada hubungannya dengan kelahiran anakku! Bencana alam ini hanya kebetulan saja, bukankah kalian sudah sering mengalami hal ini?!" jawab Goidam dari atas balkon istanannya.


"Apakah Yang mulia yakin ini hanya bencana alam saja?"


"Ya"


"Tidak mungkin bencana alam terjadi secara bersamaan! Sebuah kutukan memang telah tertulis di buku takdir! Anak itu harus di buang! Jika tidak, kerajaanmu akan mengalami banyak kehancuran" ucap seorang penyihir tua di belakang sang Raja, sontak Goidam pun menoleh dengan tatapan yang tajam, dia menatap penyihir tersebut.


"Kau hanya menyiram bensin ke api yang sudah menyala, Yola" balas Goidam.


"Itu benar Yang Mulia....Semua ramalanku selalu tepat" jawabnya.


"Aku memang tidak pernah meragukan semua ramalanmu, hanya saja, ini anak pertamaku...."


"Kau begitu percaya diri, kau belum melihat bagaimana rupa anakmu...Yang Mulia" ucap Yola.


"Apa maksudmu?"


"Istrimu mungkin menyembunyikan kebenaran tentang anak yang kau banggakan itu"


"Aku tidak mengerti"


"Cepatlah, temui istrimu dan lihat anakmu" penyihir itu menyeringai.


Goidam menatap kerumunan rakyatnya dan berkata "Aku akan mempertimbangkan saran kalian, sekarang pulanglah dan tunggu keputusanku" dia menunduk lantas pergi menuju kamar dari Ratu Asuri.


Sang Raja berjalan dengan gagah, jubah yang ia kenakan pun melambai-lambai terbawa hembusan angin. Kini ia tengah berdiri di depan pintu kamar Ratu Asuri, dia ragu untuk membuka pintu kamarnya mengingat ucapan Yola, si penyihir.


"Huuuufftt......" dia menghela nafas lalu membuka pintu berwarna keemasan yang besar itu.


"Ada apa suamiku?" tanya Ratu Asuri yang terduduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Dimana anak kita?" Raja tersebut melangkah mendekati istri dan anaknya.


"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"


"Aku hanya memastikan kalau Ratu Asuri tidak menyembunyikan apapun dari Rajanya" ucap Goidam dengan satu alis terangkat.


"Menyembunyikan apa?" tanya Asuri, sontak dia langsung menutupi tubuh sang putra.


Goidam yang mulai mencurigai istrinya itu langsung mengambil bayi yang ada di samping Asuri dan betapa terkejutnya pria tersebut tatkala mendapati kedua pupil anaknya yang berbeda warna, yaitu merah dan biru.


Matanya membelalak saat melihat kondisi anaknya yang tidak sempurna. Dia merasa telah dikhianati oleh ratunya, kemudian dia membuat keputusan besar untuk membuang anak tersebut ke perbatasan wilayah antara kerajaan Silvercast dan kerajaan Rhombus.


"Mengapa kau lakukan ini kepadaku Asuri? Apa aku pernah mengkhianatimu? Kau adalah satu-satunya ratuku! Aku tidak pernah menikah lagi hanya untukmu!" bentak Goidam, perlahan air matanya terjatuh.


"Aku minta maaf rajaku...." lirih Asuri.


"Tidak! Aku tidak akan pernah memaafkanmu Asuri! Anak ini. Aku akan membuangnya! Dia adalah aib bagi kerajaan Silvercast! Bagi keluarga kita!" Goidam beranjak membawa anak tersebut pergi.


"Tidak!! Anakku!!!" teriaknya, kondisi tubuh Asuri yang baru saja melahirkan membuat wanita itu tidak bisa berjalan ataupun berdiri.


Tetes demi tetes air mata berjatuhan membasahi wajah cantik Asuri, dia terus berteriak agar suaminya tidak membuang bayi yang baru lahir itu.


"Ini percuma....Anakku...." lirihnya, lantas seorang pelayan yang berusia sudah lanjut menghampiri Asuri.


"Aku tidak bisa berbuat banyak Ratu, mungkin ini sudah takdir" jawab Danma.


"Atau mungkin ada seseorang yang sengaja menaruh kutukan pada jabang bayimu Ratu" sambung Danma.


"Siapa yang tega melakukannya wahai Danma?" tanya Asuri.


"Seseorang dengan ilmu yang kuat...."


Yola, si penyihir tengah berdiri di balik tirai, dia menatap kerumunan warga yang masih memadati taman istana. Kuku jarinya yang panjang nan kotor menutup tirai mewah yang menjuntai, lalu dia berjalan di koridor istana sembari menunggu Goidam.


"Ibu" bisik seseorang.


"Hm?" Yola menoleh.


"Apa aku sudah boleh keluar?"


"Sebentar lagi, ketika Raja menuntut cerai Ratunya. Maka kau akan ada diantaranya, Sasha" dia kembali menyeringai menunjukkan deretan giginya yang putih, begitu pun gadis yang berdiri dalam kegelapan.

__ADS_1


"Pulanglah, Ibu akan memanggilmu nanti" ucap Yola, kemudian gadis misterius itu menunduk dan menghilang entah kemana.


Raja Goidam kembali berdiri di balkon istanannya, dia menunjukkan ekspresi wajah yang tegas. Dengan lantang dia berkata "Jika kalian ingin anak ini dibuang, maka aku akan membuangnya! Maka kerajaan Silvercast akan terhindar dari mara bahaya" ucapannya di balas teriakkan antusias dari para warga.


"Danma.... tolong kau rawat anakku, jika suatu saat nanti aku sudah tiada..." lirih Asuri kepada Danma.


"Apa maksud anda Ratu?" tanya Danma kebingungan.


"Gamiroku.... dia harus memakai nama itu"


"Gamiroku? Bukankah dia adalah hakim dan pejuang hebat yang membawa kerajaan Silvercast pada titik keemasan seperti saat ini?" tanya Danma.


"Ya, aku ingin anakku bisa membawa keadilan ke kerajaan ini"


"Tapi bagaimana bisa aku mengambil Gamiroku?"


"Semua anak yang tidak di harapkan akan di buang ke air terjun di perbatasan kerajaan Rhombus...... aku ingin kau mengambil Gamiroku dan merawatnya jauh dari kerajaan ini, lalu membawanya kembali suatu saat nanti" ujar Asuri.


"Aku akan mengusahakannya Ratu....."


"Ambillah ini dan pergi dari sini Danma....." Asuri memberikan sekantong emas kepada wanita paruh baya tersebut.


"Baiklah Ratu" Danma menunduk dan pergi dari hadapan Asuri yang tengah menangis tersedu-sedu.


Gamiroku dibungkus kain tebal dan dibawa keluar istana menggunakan kereta kuda, butuh waktu berhari-hari untuk mencapai air terjun di perbatasan.


Kabar gembira itu kini seolah menghilang begitu saja, Goidam bertingkah seperti sedia kala. Semenjak Gamiroku di kirim menuju perbatasan, hanya ada kesedihan di wajah Asuri.


Sepanjang hari dia selalu berdiam di kamarnya, entah apa yang ada di pikirannya, namun gelar ratu tercantik lepas begitu saja darinya.


"Asuri" ucap Goidam diambang pintu.


"Apa kau sudah puas membuang darah dagingmu sendiri?" tanya Asuri, dia menatapnya dengan mata yang sayu.


"Aku bahkan ragu kalau dia adalah anakku" pria tersebut berjalan kearah Asuri dan berdiri di samping ranjangnya.


"Sekarang kau meragukan kesetiaanku, Goidam?"


"Ya, anakku tidak mungkin cacat seperti dia!" teriak Goidam.


"Dia itu spesial Goidam! Tidak semua anak cacat sepertinya harus di kucilkan! Dia masih bayi! Meskipun bayiku punya kekurangan, tak apa jika dia tidak menjadi penerus kerajaan ini, toh nanti akan ada penggantinya!" ujar Asuri penuh penekanan.

__ADS_1


"Iya dan penggantinya tidak akan berasal darimu lagi. Aku akan mencari penggantimu Asuri" ucapnya lantas pergi meninggalkan Ratunya yang tercengang.


__ADS_2