
Hari ini Goidam di sibukkan dengan laporan-laporan korban jiwa dan kerusakan yang di sebabkan oleh 'kutukan' atas kelahiran anaknya. Dia kelimpungan mencari cara supaya korban jiwa tidak bertambah dan kerusakan bisa di atasi.
Namun ketika dia mengingat uang kas kerajaan yang sudah menipis, Goidam mulai menaikkan harga pajak sehingga banyak warga yang mengeluh.
"Suruh para warga untuk membayar pajak lebih" ucap Goidam.
"Tapi Yang Mulia, penghasilan para rakyat hanya terbatas di lautan dan bertani, mereka tidak punya uang lebih. Tambang yang berada di selatan sudah di kuasai kerajaan lain, apa benar Yang Mulia yakin akan menaikkan harga pajak?" tanya Perdana Menteri.
"Ya, ini suratnya dan sebarkan kepada mereka" Goidam memberi selembar kain pengumuman, setelah perdana menteri dan yang lainnya pergi. Dia terduduk seraya memijat-mijat pelipisnya.
Ini sudah hari kedua semenjak Gamiroku dikirim ke perbatasan, Ratu Asuri terus menerus meratapi nasib anaknya, setiap malam dia tak bisa tidur nyenyak sampai lipatan hitam pun terlihat di matanya.
"Gamiroku...." lirihnya, dia menatap keluar jendela.
"Ratu, anda di panggil oleh Yang Mulia Raja menuju tempat persidangan" ucap seorang pelayan wanita.
Tanpa banyak bicara, Asuri berdiri dan berjalan dengan anggun menuju tempat persidangan..Gaun yang ia kenakan melambai-lambai tatkala Asuri melangkahkan kakinya.
Sesampainya di ruang persidangan, semua orang terkejut ketika melihat wajah Ratu Asuri yang semula cantik kini telah berubah, banyak kerutan di wajah Asuri karna stress berlebih yang sedang dialaminya.
"Ada apa dengan Ratu kita?" / "Pantas saja Raja mau menceraikannya" / "Dia terlihat sangat depresi... setelah kehilangan anaknya, sekarang dia akan kehilangan suaminya!" bisik orang-orang.
"Diam!" ucap Hakim, seketika suasana menjadi hening.
"Seperti yang telah kita ketahui Yang Mulia Raja telah menggugat cerai istrinya yaitu Ratu Asuri, setelah di pertimbangkan oleh para menteri dan hakim. Kami memutuskan untuk menyatakan bahwa hari ini dan saat ini juga, Ratu Asuri telah terlepas dari keluarga kerajaan Silvercast, selain itu, kami juga mencabut segala kekuasaan dan gelar yang dimiliki Asuri." ujar Hakim, dia mengetuk palu tiga kali.
Wanita itu hanya terdiam sambil merasakan sakit yang sangat teramat di hatinya, ingin rasanya dia menangis dan menjerit saat itu juga, namun siapa dia yang bisa melawan takdir?
"Ada yang ingin anda sampaikan untuk menutup sidang ini?" tanya Hakim.
"Ya" jawab Asuri seraya tertunduk.
"Silahkan..."
__ADS_1
Goidam menatap Asuri dari kursi kebesarannya, penyihir itu senantiasa berdiri di samping Goidam sembari menyaksikan penderitaan yang tengah dialami wanita tersebut.
"Selama ini aku selalu setia kepadamu Yang Mulia, aku tidak pernah berbuat macam-macam. Kita memang sahabat masa kecil, namun aku rasa kau belum benar-benar mengerti diriku. Kau berbuat seenaknya setelah menjadi Raja, kau memang tidak menikah lagi, tapi apa kabar dengan para gadis yang pernah kau gauli? Bahkan kau tidak mengakui mereka semua." ujar Asuri dengan nada yang gemetar.
"Kau selalu menuntutku untuk menjadi sempurna, aku rasa kau salah, pasangan seharusnya saling melengkapi, seperti magnet. Manusia yang kau buang adalah anak kita. Mau berapa kali aku katakan kalimat itu pun kau tetap takkan percaya padaku. Bisa saja bayi itu di kutuk oleh seseorang yang memiliki ilmu kuat seperti Yola" ucapnya.
"Maaf, apa kau menuduhku?" tanya Yola mulai angkat bicara.
"Tidak" jawab Asuri.
"Tapi kau menyebut seseorang dengan ilmu kuat sepertiku"
"Ya memang benar, kau adalah orang yang punya ilmu kuat. Bisa saja kan kau yang mengutuk putraku saat dia masih ada di kandunganku?" Asuri menatapnya dengan tajam, dia tidak mengalihkan pandangannya dari Yola.
"Sudah cukup Asuri! Dia cacat! Dan kau lah penyebabnya! Jangan menyalahkan orang lain! Cepat pergi dari sini! Atau aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari istanaku" bentak Goidam.
"Bisa saja dia cacat karnamu Goidam" balas Asuri, mereka saling bertatapan tajam.
"KAU MERAGUKAN KEMAMPUANKU HAH?" Goidam beranjak dari singgasanannya dan berjalan kearah Asuri.
"Akan aku buktikan kalau anakku kelak akan sempurna! Lebih sempurna dari siapapun yang pernah ada!" teriak Goidam.
"Ambisimu untuk memiliki anak yang sempurna hanya akan membuatmu terluka, Goidam" ucapnya, lalu dia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang persidangan.
"Aku akan membuktikannya padamu, Asuri" gumamnya.
Dari kejadian ini, jelas ada seseorang yang sangat diuntungkan. Tidak ada yang tau bagaimana caranya mengubah nasib Asuri dan Goidam. Yang jelas, dia memiliki sihir kuat hingga mampu mengubah takdir keduanya.
Diam-diam Danma memperhatikan pasukan Goidam yang mengawal Gamiroku menuju perbatasan. Dia menunggu momentum untuk menyerang para pasukan itu dengan sihir tersembunyi yang di milikinya.
Danma dikenal sebagai seorang pelayan yang sangat setia kepada Asuri selama bertahun-tahun, tidak ada yang menyangka kalau Danma memiliki ilmu sihir, begitu pun Asuri. Karna wanita paruh baya tersebut tidak pernah menggunakan sihirnya untuk apapun.
Lelah membuntuti dan mengawasi, akhirnya Danma menggunakan sihir yang bisa membuat orang tertidur pulas.
"Sebentar lagi, maka aku akan mendapatkanmu Gami" gumamnya, setelah semua pasukan tertidur, dia mulai melancarkan aksinya.
Dia berlari mendekati kereta kuda itu, perlahan dia mengintip kedalamnya, namun dia tidak menemukan apapun selain gulungan kain.
__ADS_1
"Sial aku tertipu!" pekiknya, sontak prajurit-prajurit itu menangkap Danma dan membawanya kembali ke kerajaan Silvercast.
Tanpa sepengetahuan Danma dan Asuri, Goidam menyuruh para prajurit untuk membawa Gamiroku ke bukit suci yang berada di wilayah Silvercast bagian utara, prajurit yang pergi ke perbatasan hanya untuk mengelabui Danma.
Sebelumnya, Goidam diberitau Yola yang ternyata berhasil menguping percakapan antara Danma dan Asuri. Pria itu tentu tidak mau kutukan kembali ke kerajaannya, jadi dia memutuskan untuk membunuh Gamiroku di bukit gunung Kaenhi.
Yola juga telah memberi jimat kepada para prajurit yang pergi ke perbatasan, jimat tersebut membuat mereka kebal terhadap sihir manapun, jika kena pun mereka hanya akan terpengaruh beberapa saat saja.
"Yang Mulia, kami sudah melaksanakan perintahmu" ucap seorang prajurit.
"Kerja bagus, setelah itu aku akan mengurus Danma" ucap Goidam, dia berdiri di depan lukisan Asuri yang tengah tersenyum cantik dengan gaun kekaisarannya.
Prajurit tersebut menunduk dan segera pergi dari kamar Goidam. "Aku tidak tau, sebenarnya siapa yang harus di salahkan dari kejadian ini Asuri. Aku juga tidak tau mengapa hati ini selalu sakit ketika melihatmu menangis" gumamnya.
"Antara tahta dan cinta, keduanya sama-sama memiliki arti bagi kehidupanku. Aku sangat mencintaimu, namun kekecewaanku jauh lebih besar daripada cintaku" jari-jemarinya membelai wajah lukisan Ratu Asuri tersebut.
"Yang Mulia" ucap seorang gadis di ambang pintu.
"Apa kau tidak tau tata krama?" Goidam membalikkan tubuhnya, gadis tersebut tersenyum menampakkan deretan gigi yang putih nan rapih.
"Siapa kau? Mengapa aku baru melihatmu?" tanya pria itu terpukau.
"Namaku Sasha, aku adalah pelayan baru di istana ini" ucapnya.
"Pelayan? Kau sangat cantik, mengapa bisa kau menjadi pelayan hm?" Goidam mendekatinya dan menatapnya sejenak.
"Itulah takdirku Yang Mulia" balas Sasha, dia bersikap 'genit' kepada Rajanya.
"Tubuhmu sangat indah"
"Apa Yang Mulia mau mencobanya?"
"Apa boleh?" tanya Goidam.
"Tentu saja, aku tidak bisa menolak keinginan Raja yang agung....." ucapnya. Goidam menyentuh bahu Sasha dan mendorongnya ke tembok.
"Baguslah, sihir Ibu sudah mulai bekerja padanya....." batin Sasha
__ADS_1