Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Menyala dalam kegelapan


__ADS_3

Hari menjelang malam, namun mereka masih belum menemukan desa. Hingga akhirnya menyerah dan bermalam di sebuah gua nan gelap.


"Biar aku periksa lukamu" ucap Sohana lembut, dia berusaha membuka pakaian Gamiroku.


"Eehhh!! Apa yang kau lakukan!? Hentikan!" pria itu memberontak.


"Aku hanya ingin memeriksa lukamu Gami, jadi berhentilah bersikap seperti anak kecil!" bentak Sohana.


"Apa kau tidak waras?! Tentu saja aku tidak mau memperlihatkan bagian tubuhku yang di dalam!" celetuknya.


"Diam" dia memelototi Gamiroku yang memegang erat pakaian bagian dadanya sambil menggeleng.


Sementara itu Lilac menyimak mereka dari luar gua bersama sang Anak yang tertidur pulas dibawah sinar rembulan.


Seberapa keras usaha Gamiroku untuk mempertahankan harga dirinya kian hancur ketika Sohana berhasil menarik tali yang mengikat pakaiannya hingga terlepas.


"TIDAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!!!!!" jeritnya, dia berusaha untuk menutupi bagian dadanya.


"Apa—Lukanya menghilang begitu saja?" tanya Sohana sambil menatap tubuh Gamiroku.


"Sudah kubilang tidak ada!!!" teriaknya, sontak pipi Gamiroku pun memerah tomat.


"Hehehe" Sohana tersenyum geli.


"Mengapa kau sangat keras kepala hah?!"


"Aku hanya ingin meminta maaf soal ucapanku padamu..." dia menggosok kedua tangannya di dada dengan mata berbinar.


"I-iya aku sudah memafkanmu, tapi tolong berbalik, a-a-aku ingin memakai bajuku...." balasnya.


"Baiklah" gadis tersebut pun menuruti permintaannya, namun diam-diam ia mencuri pandang.


"Tapi kan Gami—" Sohana berbalik saat Gamiroku tengah berdiri dan hendak memakai pakaiannya, sontak ia pun terkejut.


"Aaarrgh!! Tak bisakah kau berbalik dan tunggu aku beberapa saat!!!" Gamiroku menyembunyikan rona pipinya.


"Bagaimana bisa lukamu sembuh begitu cepat?" gadis itu mencoba mencari topik pembicaraan agar bisa melihat ekspresi Gamiroku yang menurutnya imut.


"Entahlah! Berbalik atau aku yang akan membuatmu berbalik!" dia mulai mengancam Sohana.


"Eh, kau mengancamku ya? Silahkan saja" tantangnya.


"Kumohon berbalik saja..." lirihnya sambil tersenyum.


"Jawab aku dulu" Sohana terkekeh.


"Baiklah kalau begitu, silahkan lihat aku telanjang maka kau—maksudku kesucian matamu akan hilang" celetuknya, keadaan mulai berbalik, sekarang malah pipi Sohana yang memerah.


Jantungnya berdebar kuat tatkala Gamiroku mulai memakai pakaiannya, tak kuasa melihat pemandangan yang tak layak itu pun, akhirnya Sohana berbalik dan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Dasar" gumam Gamiroku sambil berdeham.

__ADS_1


"Apa perempuan selalu seperti itu?" tanya Gamiroku setelah selesai memakai bajunya.


"Maksudmu apa?" tanya Sohana membelakangi.


"Kau berbicara dan menatapku saat aku dalam keadaan setengah berbusana, sebenarnya kau ingin melihatnya kan?" dia mulai menggoda gadis tersebut.


"Melihat apa?!" tanyanya, dia pun berbalik dan menatap mata pria itu lekat-lekat.


"Sstttt...." sontak Gamiroku menempelkan jari telunjuknya ke bibir lembut milik Sohana.


"Aku bisa menunjukkannya jika kau diam dan tidak berisik, selain itu kau harus berbicara selembut sutra kepadaku" bisiknya tepat di telinga gadis itu.


"Jantungku....." batin Sohana, sontak dia kembali membelakangi Gamiroku seraya memegang dadanya.


Seketika hanya ada keheningan diantara mereka dan suara api unggun yang membakar ranting pohon.


"Nah, sekarang aku mau tidur. Apa kau mau tidur di sampingku?" ucapan Gamiroku membuat Sohana terkejut.


"Tidak, aku akan tidur disini saja" jawab Sohana sambil memeluk kedua lututnya.


"Oke"


Gadis berambut ikal itu terduduk sembari memandangi api di depannya semalaman. Sesekali ia memejamkan matanya dan kembali terbuka tatkala mendengar suara aneh jauh di dalam gua yang panjang nan besar.


Dia tak sengaja menatap kedua mata yang menyala dalam kegelapan dan tiba-tiba Sohana berjalan kearahnya seolah sedang di gerakkan oleh sesuatu yang tak terlihat, meski ia mencoba untuk memanggil Gamiroku, akan tetapi suaranya tak kunjung keluar dan akhirnya dia menghilang di kegelapan.


...----------------...


"Selamat pagi" sapanya sambil tersenyum.


"Selamat pagi Sohana" jawabku, tapi dia tampak kebingungan ketika aku memanggil namanya.


"Siapa Sohana?" tanyanya.


"Itu kau"


"Oh ya haha, maaf aku lupa" jawabnya canggung.


"Apa kau baik-baik saja?" aku mengangkat sebelah alisku.


"Y-ya tentu saja, oh iya, Gamiroku, aku rasa kita harus berjalan lebih dalam ke gua ini"


"Kenapa? Apa yang membuatmu yakin kalo kita akan selamat ketika masuk lebih dalam ke sebuah gua yang gelap? Dan apa yang membuatmu yakin jika kita tidak akan dimakan hewan buas yang ada di dalam sana?" tanyaku.


"Mungkin ada sebuah desa di dalam sana"


"Kau bercanda ya?"


Tak lama kemudian datanglah Lilac bersama anaknya, dia terlihat seakan tidak mengenali Sohana. "Siapa dia?" tanya Lilac.


"Dia Sohana, apa kau tidak mengenalinya? Mengapa semua orang bertindak aneh hari ini" kataku.

__ADS_1


"Aku bukan manusia tapi siluman, jadi aku bisa melihat apa yang tidak kau lihat Gami" celetuk Lilac.


"Maksudmu?"


"Dia bukan Sohana"


"Apa maksudmu? Ini aku Sohana, tolong jangan membuat Gamiroku ragu kepadaku" Sohana tersenyum dan berusaha untuk mengelus kepala Lilac, tetapi setelah ia mengusap kepalanya, Lilac jadi bertingkah aneh dan tidak banyak bicara.


"Ini aneh, aku juga Siluman, kenapa aku tidak bisa melihat apa yang dia lihat?" gumamku.


"Jadi Ayo Gami, kita masuk ke dalam sana" dia memegang tanganku, seketika aku mulai kehilangan kesadaran dan mengikuti apa yang dia minta.


...----------------...


Sementara itu, Tama sedang menyiapkan rencana untuk menangkap sang Kakak yang menurutnya adalah ancaman bagi kesejahteraan keluarga maupun kerajaannya.


Dia berdiskusi bersama Gyosana untuk melenyapkan Kakaknya, namun Tara masih tidak mengetahui hal tersebut.


Gadis itu sibuk melamun di taman bunga miliknya sambil memberi makan kelinci peliharaannya.


"Aku mencintainya, tapi aku rasa dia tidak mencintaiku" gumamnya seraya mengelus bulu lembut Gyosan, kelinci peliharaannya.


Kemudian dia menatap jendela dimana Tama dan Gyosana tengah berdiskusi di dalamnya.


"Bahkan aku merindukannya, padahal dia selalu berlalu lalang melewati kamarku" Tara tersenyum ketir.


"Kau selalu melintas di hadapanku tanpa menatap wajahku, sampai kapan kau akan menerapkan kedisiplinanmu itu Gyo?—"


"Suatu saat nanti, mungkin kau akan menatap wajahku, sampai saat itu, aku akan tetap menunggumu, Gyosana" lantas dia memejamkan matanya dan merasakan semilir angin yang segar.


Seusai berdiskusi, Gyosana pun pergi berjalan dengan gagah, untuk pertama kalinya dia melewati taman bunga milik Sang Putri lalu melihat Tara sedang bernyanyi untuk kelincinya.


"Menerima takdir apa adanya......〜"


"Kemana takdir membawa kita pergi, disanalah rumah kita......〜" dia terdiam ketika menyadari ada seseorang yang sedang menikmati suaranya.


"Jendral..." gumam Tara, Gyosana pun berjalan menghampirinya dan mengelus hewan peliharaan milik Tara.


"Darimana cinta datang......〜" pria tersebut melanjutkan lirik lagu yang dinyanyikan Tara.


"Dari mata turun ke hati......〜" sambung Tara, ia pun terkekeh anggun.


"Aku pikir jendral hanya bisa membuat strategi perang, ternyata anda bisa bernyanyi juga" ucap Tara.


"Ah, tidak. Aku hanya pernah mendengar lagu itu" jawabnya.


"Darimana anda mendengarnya?"


"Saya pikir tidak usah di bahas Putri, kalau begitu, saya pergi dulu"


Gyosana pun pergi tergesa-gesa, setidaknya dia meninggalkan sedikit kenangan manis untuk seorang gadis yang diam-diam mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2