Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Kokoh tapi rapuh


__ADS_3

Suasana pagi hari di istana Silvercast terasa sangat berbeda setelah bencana alam mengguncang semua kawasan disana, saat ini Goidam sedang mencoba membangun beberapa gedung yang hancur dan sebagian dari bangunan itu sudah siap untuk di gunakan secara umum.


Sebagian dari jalan lintas kerajaan pun tertimbun tanah sehingga mereka harus membuat jalan baru atau membersihkan jalan lama dari tumpukkan tanah.


"Lapor Yang Mulia..." prajurit itu menunduk penuh hormat.


"Ya, ada apa?"


"Jendral perang kita di tewas karna terjatuh dari jurang, Perdana Menteri juga menemukan jasad seorang wanita di sampingnya. Beliau mengira kalau itu istri atau selirnya, Yang Mulia"


"Kalau begitu kita harus segera mencari Jendral perang yang baru" Goidam menutup lembaran bukunya dan beranjak pergi.


"Bu, tolong gendong aku" Tara mengacung-acungkan kedua tangannya kearah sang Ibu yang sedang memasang semua perhiasannya.


"Diam Tara!" bentak Sasha, sontak Tara langsung menangis karna ketakutan.


"Seharusnya kau memperlakukan Tara dengan lebih lembut Ratu Sasha" ucap Selima di ambang pintu.


"Dia anakku, aku berhak melakukan apapun padanya"


"Jika Raja melihat perlakuanmu padanya, sudah pasti kau yang akan di hukum Ratu Sasha" Selima berjalan menghampiri Tara untuk menggendongnya dan membawa gadis kecil tersebut pergi.


"Kalau begitu bawa dia pergi supaya dia tak mengangguku terus" ucap Sasha.


"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya" balas Selima ketus.


Gamiroku masih terikat di pohon yang besar, sudah hampir dua hari ia terdiam disana. Luka-luka nya pun kini sudah kembali menutup, sangking lamanya terikat tali itu sampai meninggalkan bekas garis lebam di tubuhnya.


Dia sudah sering berteriak untuk mencari pertolongan hingga pita suaranya hampir habis, namun tak ada yang datang satu pun. Bocah tersebut tidak mengetahui rumor yang tersebar tentang hutan tempat dimana ia terikat.


Konon katanya, hutan itu adalah hutan yang angker, ia terkenal dengan penampakkan sosok astral berpakaian seperti bangsawan dan suara-suara aneh lainnya, terkadang ada hantu anak kecil yang menampakkan diri.


Hutan Arang merupakan tempat dimana lubang kematian berada, tak ada seorang pun yang tau, hanya beberapa prajurit kerajaan dan orang yang berwenang saja yang mengetahuinya.


Asuri terkubur disana bersama anak-anak yang dibunuh oleh Goidam, dan Gamiroku terikat di pohon besar yang berada tak jauh dari lubang kematian tersebut.


"Tolooooong!!!" Gamiroku mencoba kembali berteriak dengan suara serak.


Lantas titik-titik cahaya menyerupai orbs mengelilinginya dan perlahan mulai berkumpul menyerupai tubuh manusia.


Mata Gamiroku membelalak tatkala melihat cahaya tersebut berubah wujud menjadi seorang wanita yang bahkan tak pernah ia temui sebelumnya, rambutnya keriting sama seperti Sohana. Wajahnya pun sangat cantik nan berseri. "Siapa?" tanya Gamiroku.

__ADS_1


"Aku datang kesini untuk membantumu anakku, bukankah kau sedang mencari pertolongan?" jawabnya.


"Kau hantu, bagaimana kau bisa membantuku? Oh ya satu lagi, aku bukan anakmu" celetuk Gamiroku polos.


"Namaku Asuri, mantan Ratu kerajaan Silvercast. Mulai hari ini, aku akan selalu berada di sisimu untuk menolongmu"


"Tidak usah, terdengar merepotkan, kau harus berulang kali melewati pintu antara dunia fana dan akhirat" ujarnya, seketika Asuri tersenyum manis.


"Tak apa jika kamu tidak mau, saat ini, orang-orang itu akan kembali untuk membawamu ke perkemahan di tengah hutan. Apa kau yakin tidak mau aku tolong?" tanya Asuri.


"Tentu saja tolong aku!" Gamiroku menendang-nendang tanah, jengkel.


"Tunggu sebentar..."


Lalu tali yang menjeratnya terputus begitu mudah. Tubuh mungilnya tak kuasa menahan rasa sakit akibat jeratan itu, alhasil ia tak bisa berjalan karna darah belum sepenuhnya mengalir ke seluruh tubuh Gamiroku.


"Pakai ini...." Asuri memakaikan sebuah kalung liontin yang selalu ia pakai setiap waktu.


"Untuk apa semua ini? Aku tidak perlu menerima barang hantu" celotehnya.


"Simpan saja, kelak kau akan membutuhkannya" ucap Asuri kemudian dia menghilang di terpa angin, lantas Gamiroku terjatuh pingsan karna dehidrasi.


"Ayo kesana!" teriak komandan pasukan yang mencari Danma.


Wanita tersebut kelimpungan mencari tempat persembunyian, akhirnya ia berlari kearah hutan Arang untuk bersembunyi disana.


"Kemana dia?!" tanya prajurit-prajurit itu setelah kehilangan jejak.


"Kearah sana!"


Perlahan Danma membaca sebuah mantra yang berhasil mengubahnya menjadi seorang gadis cantik. Para prajurit Silvercast sama sekali tak menyadari kalau yang ada di hadapan mereka saat ini adalah nenek tua bukan seorang gadis muda.


"Hai cantik, apa kau melihat seorang nenek yang keriputan berlari kearah sini?" tanya prajurit tersebut.


"SIAPA YANG KAU SEBUT KERIPUTAN HMM?" batin Danma.


"Ah, tidak tuan" jawab Danma malu-malu.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih" mereka pun pergi berlalu.


"Untung saja mereka mudah di bodohi....huft..." Danma melanjutkan langkahnya ke dalam hutan seraya menyibak poninya. Dia kembali ke wujud aslinya.

__ADS_1


Danma masih merasa bersalah karna sampai saat ini ia tak bisa menemukan Gamiroku, kabar tentang kematian Asuri pun membuatnya turut berduka cita. Ia tak menyangka akan kehilangan Ratu kesayangannya begitu cepat.


Kakinya terus melangkah hingga sampai ke depan pohon besar tersebut, untung saja Danma melihat ke sisi lain dan menemukan Gamiroku sedang tergeletak tak sadarkan diri.


"Astaga.....ada orang rupanya" Danma menghampiri tubuh mungil Gamiroku sambil mengecek keadaannya.


Liontin kalung itu kemudian menjulur keluar dari pakaiannya. "Permata hitam? Ini seperti kalung yang sering digunakan Ratu Asuri....Apakah dia..." Danma mengerutkan dahinya.


"Gamiroku..." lirih Danma, air matanya berlinang.


"Oh....Ya Tuhan....anak ini ternyata masih hidup..." wanita tua tersebut menangis di samping Gamiroku.


"Air...." lirih bocah itu lemas.


"Baiklah, aku akan membawamu" lalu Danma mengangkat Gamiroku di punggungnya.


"Sasha, dimana Tama?" tanya Goidam panik.


"Aku tidak tau, palingan dia memanjat pohon sakura lagi" jawab Sasha seakan tak peduli.


"Dia tidak ada disana Sasha!"


"Aku tidak tau"


"SEHARUSNYA KAU BISA MENJAGA PUTRA KITA DENGAN BAIK!" bentak Goidam, emosinya kian tak terkontrol karna Sasha selalu mementingkan dirinya sendiri ketimbang kedua anaknya.


"Terserah" ketusnya.


"Dasar..argh!" Goidam beranjak meninggalkan istrinya dengan kesal.


Ia mengerahkan semua prajuritnya untuk mencari Tama dan Tara, mereka berdua menghilang setelah diajak keluar mengelilingi istana oleh Selima.


"Apa benar kau tidak melihatnya lagi Selima?" tanya Goidam kepada Selima yang tengah khawatir.


"Iya Yang Mulia" jawab Selima lirih.


Mereka kelimpungan mencari kedua bocah itu, hingga fajar tenggelam pun mereka masih belum bisa menemukan Tama dan Tara.


Tampaknya, seseorang telah menculik dan membawa kedua bocah tersebut ke perkemahan di tengah hutan tanpa sepengetahuan Goidam.


Sekokoh apapun sebuah perisai tetap akan rapuh jika tidak di gunakan dengan baik, mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan keamanan di wilayah Silvercast saat ini. Sebab banyak pengkhianat yang merusak titah Raja.

__ADS_1


__ADS_2