
Tama dan Tara ternyata di bawa oleh Calter ke perkemahan di tengah hutan, pria itu hendak mengambil ginjal Tama dan akan menjual Tara kepada bosnya.
Akan tetapi, Yola berhasil menemukan keberadaan cucu-cucunya tersebut. Yola merupakan perdana menteri di kerajaan Silvercast, diam-diam ia mengerahkan pasukan khusus milik kerajaan Silvercast untuk menemukan kedua cucunya.
"Ratu Sasha, dia tidak terlihat sedih saat kehilangan anaknya" bisik Shira.
"Diamlah Ratu Shira! Atau Raja akan menarikmu ke ruang persidangan!" ketus Selima yang tengah memeluk kedua lututnya.
"Untuk apa dia menyeretku ke ruang persidangan?"
"Argh!!! Diamlah!" bentak Selima frustasi.
"Sifatmu berbanding terbalik dengan mendiang Ratu Asuri" celetuk Shira yang diabaikan Selima.
Mereka menempuh perjalanan menuju tempat Calter selama beberapa hari, dalam perjalanan ini hanya Sasha yang tak ikut karna alasan menjaga istana Silvercast. Namun pada kenyataannya dia sedang menikmati kemegahan istana mewahnya.
"Apa benar ini tempatnya, Yola?" tanya Goidam sambil menatap sebuah rumah yang menghitam dan penuh lumut.
"Ya, aku tidak pernah salah Yang Mulia" Yola turun dari keretanya.
Dia mengangkat dua jarinya dan menggerakkannya ke depan. Sontak para prajurit yang dilapisi baju baja langsung mengepung salah satu rumah yang di duga markas Calter dan Istrinya.
"Kalian sudah di kepung, bawa keluar Putri Tara dan Pangeran Tama!" teriak Yola, tetapi tak ada satu pun yang menjawabnya.
"Kemah ini sepertinya sudah ditinggalkan" gumam Selima seraya menganalisis perkemahan tersebut.
"Ihh tanahnya kotor dan licin, aku tak mau turun" ucap Shira manja.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Goidam, dia menghampiri Selima.
"Kemah ini sudah ditinggalkan oleh pemiliknya" wanita itu menatap sebuah sumur tua yang ada dihadapannya.
"Ini Liontin Putri Tara!" pekik Selima.
"Sialan! Siapapun pelakunya pasti akan aku bunuh!!!" teriak Goidam geram sambil menyabet kalung Liontin yang ada di tangan istrinya.
Sementara itu, di pedalaman hutan yang sangat jauh dari istana Sang Ayah, Gamiroku diajarkan beberapa teknik bela diri dan seni pedang. Tak hanya itu, Danma pun mengajarkan cara membuat ramuan obat mengingat banyak penyakit yang sering dialami para warga akhir-akhir ini.
"Kenapa aku harus belajar membuat obat-obatan?" tanya Gamiroku, dia jenuh karna harus mempelajari setumpuk buku besar setiap harinya.
__ADS_1
"Karna kelak kemampuanmu akan sangat dibutuhkan" sahut Danma.
"Aku ingin bermain, aku bosan" keluhnya seraya membuka-buka lembaran buku besar itu.
"Tidak, kau harus tetap disana!" kata Danma, walaupun hatinya ingin bermain, namun bocah tersebut menuruti perintah Danma dan tetap duduk manis di mejanya.
Tara dan Tama di sembunyikan di gudang bawah tanah, melewati kamar Sohana yang penuh lukisan diantaranya lukisan Gamiroku. Tadinya, mereka akan pergi ke pentagon untuk menemui bos besarnya disana.
Akan tetapi, ketika Goidam dan pasukannya tiba, Calter juga istrinya segera pergi meninggalkan perkemahan bersama anak-anak lain yang akan dijual. Ia mengurungkan niatnya untuk menjual Tara kepada bos besarnya karna kedatangan Goidam yang tak ia duga sebelumnya.
"Tara!! Tama!!" teriak Selima, dia menginjakkan kaki ke dalam kamar Sohana.
"Apa sudah ketemu?" tanya Yola, dia pun ikut memasuki kamar itu, lantas menatap setiap lukisan yang ada disana, tapi dia terpaku pada lukisan Gamiroku.
"Belum, tapi aku rasa mereka ada disini" jawab Selima.
"Sepertinya aku mengenal anak ini" gumam Yola sambil mengerutkan dahinya.
"Kayu ini....." Selima menarik sebuah kayu yang di curigainya, benar saja, tatkala benda itu ditarik, sebuah pintu pun muncul di baliknya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Selima langsung membuka pintu dan menemukan kedua bocah tersebut terkapar tak berdaya.
Para prajurit pun membawa Tara dan Tama kembali ke istana Silvercast, mereka mengalami luka lecet dan lebam , namun tak separah Gamiroku.
Sepanjang perjalanan pula, Yola sibuk memikirkan lukisan yang dibuat Sohana untuk Gamiroku. Samar-samar dia mengingat wajah anak tersebut, tetapi ia masih belum mengingatnya.
...----------------...
Hari terus berganti, selama sebelas tahun lebih, Gamiroku mempelajari segala tentang obat-obatan dan seni bela diri serta seni pedang. Semakin usianya bertambah, Danma semakin tak kuasa untuk menahan tubuhnya lebih lama lagi. Kesehatannya pun semakin memburuk, walaupun Danma adalah seorang penyihir, akan tetapi ia tak mampu mengendalikan usianya seperti Yola.
Penyihir yang bisa melakukan pembatasan Usia yakni penyihir yang sudah melakukan perjanjian dengan para iblis sebelumnya. Danma tak pernah melakukan hal itu karna nantinya para iblis akan mengambil jiwa orang yang telah melakukan perjanjian dengannya.
"Gami.....aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting bagimu" ucap Danma terbata-bata.
"Apa itu?"
"Ratu Silvercast....Asuri....adalah Ibumu dan Raja Silvercast adalah Ayahmu.. "
"Tidak! Itu tidak mungkin! Ibuku adalah Yume! Hanya Yume!!" balas Gamiroku ketus.
__ADS_1
"Apakah Yume pernah mengatakan sesuatu tentang asal-usulmu?" tanya Danma.
"Itu...." Gamiroku mengusap-usap dagu sambil mencoba mengingatnya.
("Meskipun aku bukan ibumu, anggap saja aku seperti itu yah.....Gamiroku" )
Deg! Tiba-tiba bocah itu mengerang kesakitan tatkala semua ingatan tentang hidupnya kembali muncul. Dia yang awalnya tak mengingat apapun kini memiliki semua ingatannya.
("anakku tidak mungkin cacat seperti dia!")
("Kau tega membuang darah dagingmu sendiri?")
("Kau telah mengkhianatiku!")
Ingatan kehidupannya membuat Gamiroku tak kuasa menahan beban yang ada di kepalanya, alhasil ia tertunduk seraya mengerang kesakitan.
Sementara itu, Danma hanya bisa menatap anak dari Ratu kesayangannya tersebut.
Tangisan Asuri, senyuman Asuri, pria yang menancapkan tombak di hatinya begitu dalam, dia mengingat semua kejadian di hari kelahirannya. Namun Gamiroku masih belum bisa menerima semuanya.
"Aku bukan anak raja maupun ratu....Ibuku adalah Yume dan tak ada lagi selain dia!!" teriaknya, kemudian dia berlari meninggalkan Danma dan berlari keluar Hutan.
Butiran bening itu mengalir deras dari matanya, saat ini, Gamiroku tengah terduduk di tepi bukit sambil menatap indahnya kerajaan Rhombus.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, ingatan itu palsu kan? Ibuku adalah Yume kan? Jika bukan—Jika aku benar anak pemimpin Silvercast. Mengapa mereka membuangku? Mengapa mereka mencoba membunuhku? Sebenarnya siapa aku? Tapi di ingatan itu, Ibu mencoba melindungiku.......lalu siapa dia yang ingin menyingkirkanku?" batinnya.
Matanya menatap jauh ke depan, tubuhnya yang renta tertutupi sebuah pakaian bangsawan. "Dia masih hidup" ucapnya.
"Apa maksudmu Ibu?" tanya Sasha.
"Anak itu masih hidup, apa kau tidak merasakannya Sasha?" Yola berbalik menghampiri anaknya yang sedang menyisir rambut.
"Aku tidak peduli, lagipula Asuri sudah mati sejak lama" celetuk Sasha.
"Di hari penculikkan kedua cucuku, Ibu menemukan lukisannya, begitu mirip dengan anaknya Asuri." ujar Yola.
"Bukan berarti dia masih hidup Ibu"
"Entahlah, tapi ibu merasakan kutukan yang kuat akan menghampiri kerajaan ini. Setelah dua kali tertimpa sebuah bencana yang besar, kemungkinan bencana itu akan kembali lagi" dia memicingkan matanya dan menatap bukit Kaenhi.
__ADS_1