Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Desa di dalam gua


__ADS_3

Gamiroku dibawa ke sebuah tempat dengan banyak rumah di dalam gua? Pemandangannya sangat indah karena banyak batu kristal berwarna-warni yang kelap-kelip diatas dinding gua.Selain itu, mata airnya pun sangat jernih, mengalir deras dari hulu ke hilir.


Namun, di balik keindahan gua tersebut, terselip sebuah cerita menarik tentang siluman salamander yang mendiami gua itu.


Konon katanya, ada seorang gadis kecil yang bermain di dalam gua tersebut sampai tersesat dan akhirnya menghilang. Semenjak ia menghilang, sering terlihat penampakkan siluman Salamander yang di percayai sebagai wujud gadis itu setelah bergabung bersama iblis penghuni gua.


Selain itu, dia sering menculik orang-orang yang berjalan melewati pintu masuk gua. Dalam keadaan tak sadarkan diri, mereka membangun sebuah tempat untuk tinggal disana.


Disisi lain, Sohana terbangun dengan tubuh terikat, matanya menatap sekitar, lalu tangannya tak sengaja memegang sesuatu yang asing, kenyal, lengket, dan berbau anyir.


"Apa ini? T-tunggu dulu! Aku dimana?!" pekiknya, dia mencoba melepaskan diri.


Kemudian Sohana melihat sebuah batu runcing yang tak jauh darinya, dengan perlahan, dia menggerakkan tubuhnya mendekati benda itu.


"Hampiiirr....sampai" dia mencoba mengambil batu itu menggunakan mulutnya, karena posisi tangan yang terikat di belakang tubuhnya.


Setelah mendapatkannya, Sohana mencoba merusak tali yang mengikatnya hingga akhirnya berhasil terlepas.


"Uh, sakit sekali" gumamnya sambil melakukan peregangan tangan dan kaki.


Dia tak sengaja melihat tiruannya berjalan bersama Gamiroku juga Lilac menuju satu rumah yang cukup besar. "Itu Gamiroku...Tapi kenapa aku melihat aura yang kuat darinya?" gumam Sohana, dia bersembunyi di bebatuan seraya membuntuti mereka.


"Mitos tentang kutukan itu akan aku buat menjadi fakta, dengan datangnya anak dari mendiang Ratu Asuri, maka kerajaan ini sudah diambang kehancuran" gumam seseorang, dia berjalan mondar-mandir di samping gorden.


"Bu, aku rasa sebentar lagi dia akan sampai ke sini. Apa Ibu yakin?" tanyanya.


"Aku tidak pernah se—yakin ini, Ibu harus balas dendam karena Goidam tlah menghancurkan keluarga dan kerajaanku. Oleh sebab itu, sekarang gilirannya untuk hancur" dia menyeringai.


Gamiroku terduduk di sebuah kursi batu, dia melakukan apa yang di katakan Sohana palsu, begitu pun Lilac. "Maukah kamu tinggal disini untuk menemaniku? Serahkan seluruh kehidupanmu padaku" jari-jemarinya mengelus wajah Gamiroku, sontak ia pun mengangguk pelan.


"Bagaimana caraku agar bisa menyerahkan seluruh kehidupanku?" tanya Gamiroku lirih.


"Pegang batu ini dan tusukkan ke Jantungmu" dia tersenyum seraya menyerahkan batu runcing nan tajam.


"Tidak Gami, jangan!" gumam Sohana yang tengah bersembunyi.


Lalu pria tersebut mengambil batu itu dan mengarahkannya tepat ke Jantung, sekejap benda itu langsung terlempar ke tanah. "Apa ini?!" tanyanya.


"Siapa yang melakukan ini semua!" pekiknya menyeramkan.

__ADS_1


Sontak Sohana kembali bersembunyi, dirinya tidak sadar kalau saat ini ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.


"Aku mendapatkanmu! Tangkap dia!" kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat, ia menengok kearah Sohana.


"Huh?! Apa?!" matanya membelalak tatkala tubuhnya terangkat dan di lemparlah ke hadapan Siluman Salamander itu.


"Gadis nakal, kenapa kau tidak diam saja dan biarkan aku mengisi kekosongan di dalam tubuh pria tampan ini!"


"Omong kosong! Lepaskan Gamiroku sekarang juga!" balas Sohana.


"Baiklah, aku akan melepaskan jiwa dan raganya" dia kembali menyeringai dan kembali menyuruh Gamiroku untuk menusukkan sebuah batu tajam ke Jantungnya.


"Tidaaakkk!!! Sial! Sial! Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri!!!" batin Gamiroku.


Seketika ujung runcing batu itu menembus Jantungnya, lantas ia menjerit kesakitan dan memuntahkan darah. Gamiroku akhirnya terkulai lemas tak sadarkan diri. Sedangkan Sohana hanya menangis dan berharap semuanya tak nyata.


...----------------...


"Huh.....Aku dimana?" pria itu terbangun di bawah pohon yang rindang, semilir angin menerbangkan dedaunan kearahnya.


"Kamu lihat taman yang indah ini?" tanya Asuri yang mengenakan baju putih menjuntai.


"Kamu sudah tau ya?" tangan lembut sang Ibu mengusap kepalanya.


"Ayah tidak menginginkanku Bu" ia terisak.


"Dia sangat menginginkanmu, percayalah pada Ibu. Dulu, Ayah sangat menantikan kelahiranmu, namun seseorang yang jahat telah mengutukmu ketika masih dalam kandungan" jelasnya.


"Siapakah gerangan yang berbuat jahat padaku?" tanya Gamiroku.


"Dia tidak menginginkan kau lahir, sebab dia serakah akan tahta dan harta"


"Kenapa di dunia ini selalu ada orang yang jahat dan serakah, Bu?"


"Manusia tidak pernah merasa cukup atas apa yang mereka dapat, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapat kebahagiaan yang semu. Oleh karena itu, serakah dan jahat akan selalu ada pada orang-orang yang tidak pernah bersyukur, Gami" Asuri tersenyum hangat.


"Kalau begitu, aku ingin disini saja bersama Ibu untuk selamanya" ucapnya, dia masih memeluk sang Ibu sambil menangis.


"Ibu akan senang kalau kamu disini, tapi, Mereka akan tetap meneteskan air mata untukmu Gami, Ayahmu juga akan tetap menindas rakyatnya, begitu pun dengan adik-adikmu"

__ADS_1


"Aku punya adik?" Gamiroku melepas pelukannya dan menyeka semua air matanya.


"Ya, adikmu banyak sekali Gami. Hanya saja, sebagian dari mereka terlahir sama sepertimu. Maka dari itu, Ayahmu membunuh mereka semua dan hasilnya Ibu tidak kesepian disini" ujar Asuri.


"Kalau begitu, aku tidak punya adik?"


"Kau punya dua, dia perempuan dan laki-laki"


"Apa mereka jahat?"


"Menurutmu? Apakah kau menyayangi Ayah dan adik-adikmu?" tanya Asuri.


"Tentu saja, bagaimana pun juga, mereka adalah keluargaku, hubungan batin antara keluarga takkan terputus begitu saja"


"Benar, apa kamu merindukan temanmu?"


"Maksud Ibu, Sohana?"


"Iya, mungkin saat ini dia sedang menangisimu Gami"


"Aku ingin tetap disini." Jawab Gamiroku tegas.


"Baiklah, tetap disini dan lihat penderitaan mereka yang kamu tinggalkan" balasnya.


"Aku tidak peduli Bu. Disini bagian tubuhku lengkap! Dan disini semuanya sudah disediakan!"


"Lihat kamu, sekarang kamu mulai egois Gami" Asuri berjalan menuju sungai yang mengalir deras.


Kemudian pria itu mengikuti langkah sang Ibu, dia terkejut ketika melihat Sohana menangis tersendu-sedu. "Kamu masih mau membiarkan gadis itu menangis?" tanya Asuri.


Dia terdiam, namun batinnya berdebat, antara tinggal atau pergi. Dia memilih tinggal, tapi jika melihat air mata Sohana mengalir deras, ia ingin pergi dan merangkulnya.


"Ayo ikut Ibu, Ibu akan menunjukkan tempatmu untuk tinggal" mereka berjalan ke sebuah istana indah di padang rumput yang luas.


...----------------...


"Kenapa aku tidak bisa mengambil Jiwa pemuda ini?!" ucapnya geram, dia menaruh tubuh Gamiroku di sebuah batu panjang menyerupai ranjang.


Dia mencoba mengucapkan beberapa mantra, namun semuanya tidak bekerja. Sementara itu, Sohana kembali diikat lebih kuat pada sebuah batu.

__ADS_1


"Gamiroku..." Sohana terus mengucapkan nama itu dalam isak tangisnya, memohon agar ia kembali. Matanya yang sembab menatap tubuh Gamiroku yang bersimbah darah nan kaku.


__ADS_2