Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Pertarungan


__ADS_3

"Kak, entah kenapa aku merasa ada yang aneh dari sikap Yola" ucap Tara kepada sang Kakak.


"Aku juga, dia bertingkah aneh seolah sedang menyembunyikan sesuatu." sahutnya.


"Semenjak Ayah pamit untuk ikut berperang, kerajaan ini dibawah kekuasaan perdana menteri Yola" ujar Tara.


"Iya kau benar" sahut sang Kakak.


Mereka berdua berjalan di lorong istana, dari kejauhan Yola tampak membawa sesuatu di tangannya. Dia berjalan melewati penjagaan yang ketat menuju sebuah tempat.


Kejadian itu tak sengaja dilihat oleh Tara dan Tama yang kebetulan lewat, sontak mereka pun penasaran dengan apa yang di lakukan oleh perdana menteri mereka.


"Kak, ayo ikuti dia" bisik Tara pada Tama.


"Oke"


Perlahan mereka berjalan mengikuti langkah Yola, namun mereka di hadang oleh para penjaga yang berada disana. "Maaf anda tidak boleh masuk"


"Kenapa? Aku adalah Pangeran Tama!" bentaknya.


"Tidak boleh, hanya Raja dan para menterinya saja yang di ijinkan memasuki sisi Istana ini" jawab penjaga tua tersebut.


"Oh? Iyakah? Raja kalian sangat menyayangiku dan adikku, jika aku melaporkan sikap kalian ini maka kalian akan dihukum!" ujar Tama emosi.


"Anu...Baiklah, kalian boleh masuk" jawabnya.


Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua memasuki lorong sisi istana yang gelap, hanya ada sedikit pencahayaan dari jendela-jendela yang terletak cukup tinggi.


Mereka tak mengetahui kalau tempat yang baru saja mereka masuki itu adalah penjara bawah tanah yang di juluki sebagai Sisi Istana. Karena banyak tahanan yang mati mengenaskan serta tulang belulang dari tahanan sebelumnya.


"Kak aku takut...." lirih Tara, ia memegang tangan sang Kakak dengan sangat erat.


"Tempat apa ini....?" gumamnya, dia memicingkan mata seraya memegangi sebuah obor yang menyala ditangannya.


Kemudian Tara menjerit karna melihat sesuatu yang sangat mengerikan, itu ialah mayat dari si pengkhianat yang mengadu domba dan mengambil kesempatan dari adanya peperangan yang terjadi.


Tubuhnya di penuhi belatung, sebagian kulitnya mengelupas sebab terbakar. Serta keadaan wajah yang sudah tidak sempurna lagi.


"Aku takut kak, lebih baik kita pergi saja dari sini!! Selain itu disini sangat bau Kak! Aku tidak tahan!" bisiknya gemetaran.


"Tidak, kita harus menemukan Yola terlebih dulu" jawab Tama tegas, kemudian dia kembali mengambil langkah menuju pintu paling ujung.

__ADS_1


Setelah sampai di depan pintu berkarat itu, Tama tak sengaja mendengar percakapan Yola bersama seseorang. Keadaan saat itu gelap gulita sehingga Tama tak bisa melihat jelas sosok yang tengah berbicara dengan Yola.


Meski begitu, Tama bisa mendengar semuanya.


"Walaupun kau tidak memberitaukan dimana keberadaan Anak pertama Yang Mulia Raja, toh aku bisa menemukannya menggunakan bola ajaib milikku" / "Mengapa kau sangat membencinya, dia hanya seorang anak yang kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya" / "Dia adalah bencana bagi kerajaan ini dan juga bagi keluargaku!"


Lalu terdengar suara cambuk beberapa kali dan jeritan parau dari sosok itu.


"Ada apa kak?" tanya Tara, dia menarik bahu sang Kakak agar berhadapan.


"Kau tidak dengar itu?" tanya Tama.


"Mendengar apa?"


"Kita punya Kakak dan Ayah menyembunyikan hal itu dari kita" ucap Tama penuh penekanan lantas pergi tergesa-gesa diikuti sang adik di sampingnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Tara, dia kebingungan ketika melihat sikap Tama berubah begitu cepat, bahkan tatapannya pun menjadi sangat tajam.


"Aku akan menyusul Ayah, tunggu aku di istana" ucap Tama datar.


"Kakak!" pekik sang adik, ia berusaha mengejar kuda yang di kendarai Tama, namun usaha itu gagal karena kuda hitam itu berlari sangat cepat.


"Lalu siapa aku sebenarnya?" tanya Gamiroku lirih kepada Ayahnya.


"Kau adalah anak cacat yang tidak pernah di harapkan orang banyak termasuk aku!" jawab Goidam membuat Gamiroku semakin sakit hati.


"Yang Mulia, aku rasa kau terlalu keras padanya" bisik Gyosana yang di bantah olehnya.


"Biarkan saja, lagipula aku akan membunuhnya setelah ini" celetuk Goidam.


"Kenapa? Membunuhku? Itu hal yang tak masuk akal, mengapa orang tua mau membunuh darah dagingnya sendiri—Kecuali anak itu tidak diinginkan......" ujarnya, dia beranjak dan menatap sang Ayah tajam.


"Lebih baik kau akhiri saja hidupmu, saat ini kau tidak berguna untuk siapapun dan kau malah merusak sesuatu yang sudah aku bangun susah payah!"


"Apa pantas seorang Ayah mengatakan hal itu pada anaknya sendiri? Ah maaf, maksudku apa benar aku anakmu?" tanya Gamiroku.


"Dasar bodoh, tentu saja bukan!"


"Kalau begitu, kau hanyalah orang asing yang kebetulan lewat" dia menyeringai.


"Tidak usah banyak bicara! Cepat panah dia" ucap Goidam kepada para prajuritnya.

__ADS_1


Lalu beratus anak panah itu meluncur ke arahnya, akan tetapi usaha itu gagal karena Gamiroku membuat arah panah jadi berlawanan menggunakan badai yang ia buat. Kemudian semua panah berbalik menyerang pasukan Goidam sampai semuanya habis tak tersisa.


Sang Ayah pun ternganga melihat semua bawahannya mati, kecuali dia dan Jendral besar Gyosana. "Aku akui kemampuanmu memang hebat" ia berdecak kagum.


"Dan hanya Monster yang bisa melakukan itu semua! Bagaimana bisa kau membunuh beribu orang yang tak bersalah ini?! Hanya karna dendam-mu padaku kau membunuh mereka?" tanyanya.


"Aku memang monster, aku bahkan tidak bisa mengendalikan hawa nafsuku" jawab Gamiroku tanpa ragu.


"Kalau begitu ijinkan aku untuk membunuhnya dengan tanganku sendiri Yang Mulia" ucap Gyosana menawarkan diri.


"Baiklah, buktikan hasil latihanmu selama ini padaku" bisik Goidam yang dibalas anggukan oleh Gyosana.


"Persiapkan dirimu" tukasnya sambil menatap Gamiroku, begitu pun sebaliknya.


Gyosana mulai berlari sambil menghunuskan pedangnya ke depan, dia menyerang Gamiroku di titik-titik tertentu, namun anak yang tak diharapkan itu bisa menghindari serangannya bahkan tak melawan sama sekali.


"Apa yang ingin kau buktikan dengan menyerangku huh?" tanya Gamiroku di sela-sela pertarungannya.


"Aku akan membunuhmu!" teriak Gyosana.


"Begitu ya? Lalu apa yang akan kau dapatkan setelah aku mati?"


"Itu—" sontak Gyosana berhenti menyerang dan melamun sejenak.


"Apapun yang aku mau!" bentaknya, ia melanjutkan serangan bertubi-tubi kepada lawannya.


"Oh ya, siapa namamu tadi?" tanya Gamiroku, dengan santainya ia menghindar kesana kemari seraya mengobrol.


"Gyosana!" jawabnya.


("Aku punya Kakak, namanya Gyosana") ucapan Sohana dahulu kala kembali terngiang di kepalanya, lantas ia berhenti dan terdiam cukup lama. Pada saat itu lah pedang Gyosana berhasil menembus dada Gamiroku tepat di bekas luka tombaknya.


"Kerja bagus" ucap Goidam di tempatnya.


"Ternyata kau tidak sekuat kelihatannya" Gyosana tertawa puas melihat penderitaan Gamiroku.


"Sohana—mencarimu" ujarnya terbata-bata.


"Apa katamu?" ia sedikit terperanjat.


"Percaya padaku, dia sangat menyayangimu—uhuk!" Gamiroku pun terbatuk dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


__ADS_2