
Seketika Gamiroku tersadar, ia kebingungan karna Sohana dan Singa itu sudah menghilang entah kemana dan matahari pun sudah menampakkan wajahnya.
Matanya membelalak tatkala melihat seluruh isi hutan sudah habis terbakar api.
"Api ini merembet begitu cepat" gumamnya seraya terpana.
Perlahan ia berjalan melewati beberapa ranting kayu yang berserakan di tanah, sesekali ia meringis kesakitan karna punggungnya terbentur cukup keras ke tanah. Matanya menatap sekeliling, ia tak menemukan apapun selain bercak darah yang mengarah ke suatu tempat.
Dia pikir itu adalah bercak darah milik Sohana mengingat gadis tersebut tercakar, alhasil dia pun berjalan mengikuti jejak itu hingga sampai di depan seekor anak singa yang sedang terluka.
Karena peduli sekaligus prihatin dengan keadaan anak singa yang kurus kering itu, Gamiroku pun mencoba membuka rantai yang mengikat kedua kakinya menggunakan tangan kosong.
"Hei! Siapa kau!" bentak Calter, dia menghampiri Gamiroku dengan membawa sebilah pedang ditangannya.
Wajahnya terlihat sangat familiar bagi Gamiroku, sontak ia pun mengepalkan tangannya dan hatinya sangat ingin membalas dendam, gara-gara Calter, ia terpaksa harus berpisah dengan Sohana sekian lama.
"Kau" Calter menatapnya tajam.
Kemudian Gamiroku berdiri perlahan dan berdiri di hadapannya sambil menahan amarahnya yang perlahan sudah mencapai batas.
"Aku tidak percaya kita akan bertemu setelah waktu yang lama" pria tua tersebut tertawa puas.
"Mana unggas yang menjijikkan itu?" celetuknya, tetapi Gamiroku hanya terdiam dan mencoba mengatur amarahnya yang sebentar lagi akan meledak.
"Cih, kupikir kau sudah mati di makan hewan buas, tapi nyatanya kau masih hidup dan berdiri di depanku. Apa masih ingat betapa sakitnya pukulanku hm? Mau merasakannya lagi?" tanya Calter, dia mendekatkan wajahnya ke Gamiroku.
"Tadinya aku mematok harga yang mahal untukmu hanya karena warna mata yang berbeda, namun setelah aku pikirkan, hargamu tak lebih dari seekor hewan ternak yang penyakitan! Hahahaha!" dia tertawa terbahak-bahak.
Gamiroku lantas memejamkan kedua matanya seraya mengerutkan dahinya, tanduk yang sekian lama di potong agar tidak kembali tumbuh dan menimbulkan bencana, sekarang malah tumbuh dengan cepat.
"Ditambah lagi kau tidak punya kemampuan atau bakat apapun!" Calter masih menghinanya menggunakan kata-kata yang sangat melukai perasaan Gamiroku sambil tertawa keras.
__ADS_1
"Hentikan" ucapnya penuh penekanan, namun Calter terus berbicara membelakangi Gamiroku.
Seperti api yang menyulut bensin, akhirnya Gamiroku meledak-ledak, ia tak segan untuk memukul seluruh tubuh Calter dengan satu tangannya yang tersisa. Tatapan matanya menyala-nyala, pada saat itulah Gamiroku di kuasai oleh amarahnya hingga tak mengingat setiap hal yang ia lakukan.
"KAU SUDAH MEMISAHKAN AKU DENGAN SAHABATKU, LALU KAU MENGIKATKU DI BATANG POHON SETELAH KAU MEMUKULIKU!" teriaknya, dia menduduki perut Calter yang terbaring tak berdaya di tanah.
"Bagaimana bisa kau menyebut seorang unggas yang baru kau temui sebagai sahabatmu?" Calter masih mengejek sesudah menerima banyak pukulan mentah darinya.
"MATI SAJA KAU! ORANG SEPERTIMU TAK PANTAS HIDUP!!" teriak Gamiroku sekencang-kencangnya, dia mencekik leher Calter sampai ia kehabisan nafas dan akhirnya meninggal.
"Apa yang telah kamu lakukan, Gami?" tanya Sohana dengan nada gemetar, dia datang bersama Siluman Singa yang mencoba membunuh Gamiroku.
"Berisik!" bentaknya, saat ini Gamiroku masih dikuasai oleh amarahnya dan sangat sulit untuk mengendalikan hal itu.
"Suamiku!" pekik seorang wanita paruh baya yang membawa banyak anak.
"Apa yang kamu lakukan pada suamiku hah!" dia menjerit di depan wajah Gamiroku seraya meneteskan air mata.
"Aku mencoba menjadi orang yang baik dengan mengadopsi dan berhenti memperjual belikan anak-anak yang malang...." lirih istrinya Calter, dia tak kuasa menahan tangisnya.
"Dan sekarang, lihat betapa mudahnya kau merenggut kebahagiaanku...! Dasar penjahat!" dia kembali menghampiri jasad suaminya dan berusaha untuk menenangkan para anak angkatnya.
"Dasar monster! Kau monster Gamiroku! Kau bukan teman atau sahabatku lagi!" ucap Sohana lantang, lantas pergi menjauh.
Jleb! Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Sohana menancap terlalu dalam, matanya membelalak mendengar tangisan yang memilukan dari keluarga Calter dan juga ucapan dari sahabatnya.
"Apa yang telah aku lakukan...." batinnya.
"Kau siluman menjijikkan!!!! Pergi dari sini!!!" teriak wanita paruh baya tersebut, lalu dia melempari tubuh Gamiroku dengan batu kerikil bersama anak-anaknya.
Tanpa sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan keluarga itu. Dia baru menyadari ada sesuatu yang mengganjal di dahinya, ketika di pegang, ternyata itu adalah sebuah tanduk kerbau yang menempel di kepalanya. "Apa aku monster?" tanyanya, dia menatap langit, tatapannya menjadi sangat kosong.
__ADS_1
"Aku monster.....Aku....Tidak ada yang mau menerima kehadiran monster seperti diriku" gumamnya sambil berjalan tanpa arah.
Tiba-tiba tanah berguncang, hujan yang lebat membuat peperangan tertunda, di beberapa wilayah bahkan terjadi longsor yang menimbun permukiman warga.
Setiap kali tanduk itu tumbuh, maka akan ada sebuah bencana yang akan menimpa tempat dimana dia pernah singgah dan tinggal di dalamnya. Kutukan itulah yang diberikan Yola saat ia memberi mantra pada jabang bayi mendiang Ratu Asuri dahulu kala.
Tak hanya Silvercast yang merasakan kutukan itu, kini Rhombus pun ikut terkena dampaknya. Keluarga kedua kerajaan itu langsung mengevakuasi anggota kerajaan ke tempat yang aman.
"Ini sudah yang ketiga kalinya, berarti anak itu masih hidup" gumam Yola sembari berlari mengikuti jalur yang sudah di sediakan.
"Kakak!" pekik Tara, sontak Tama pun menggenggam tangan adiknya agar tidak terjatuh mengingat gempa yang terjadi cukup kencang nan merusak.
"Ayo ikuti Ibu Selima!" ucap Tama, kemudian mereka pun mengikuti Selima ke pengungsian anggota terpenting kerajaan.
"Apa yang terjadi" Sohana menatap pepohonan yang bergoyang dan sebagian roboh akibat longsor.
Sementara itu, Gamiroku tertunduk menatap tanah, tubuhnya tidak basah sama sekali, padahal hujan yang turun sangat lebat dan membanjiri daerah tanpa serapan air.
"Apakah aku monster?" dia terus bertanya pada rumput yang ada di depannya.
"Dia bilang aku monster, jika dia berkata demikian, berarti aku benar-benar seorang monster....." dia mulai meneteskan air mata dan tertawa di saat yang bersamaan.
Kerusakan berat pun mulai terjadi, bahkan tenda yang di pasang sekuat mungkin pun terbang tertiup angin, mereka hanya bisa meratapi apa yang terjadi.
"Yang dikatakannya benar, aku tak lebih baik dari seekor ternak, Sohana juga benar, aku adalah seorang Monster....Dimana tempat yang bisa menerimaku—tidak! Tidak ada tempat dimana aku bisa pulang! Tak ada lagi tempat untuk mengadu ataupun mengeluh...." dia menghapus semua air mata yang membasahi wajahnya dan mulai beranjak.
Seketika gempa pun terhenti, namun hujan masih berlangsung disertai petir dan angin ****** beliung.
"Kalau dia bilang aku monster, maka aku akan menjadi monster" ucapnya, dia kembali berjalan dengan tatapan kosong dan tanduk yang runcing.
"Apa yang telah kau lakukan" gumamnya, dia berdiri diatas bukit sambil memperhatikan kota-kota besar yang hancur.
__ADS_1