Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Hukuman Mati!


__ADS_3

Asuri berjalan dengan borgol di leher serta tangannya, keadaannya semakin buruk setelah para Menteri memutuskan kalau ia bersalah. Semua orang yang awalnya menyukai dan memuji Asuri kini sangat membencinya.


Sementara itu Goidam dan para pengawalnya membawa Sasha ke rumah tabib tersebut, mereka melewati bukit Kaenhi, namun tidak ada yang menyadari hilangnya jasad Gamiroku, terkecuali Yola. Wanita paruh baya itu terus menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Gamiroku.


"Ada apa Yola?" tanya Goidam.


"Tidak ada Yang Mulia...." dia tertunduk.


Sesampainya di desa Koikidan, mereka berpapasan dengan Yume yang tengah mengendong Gamiroku.


"Tunggu" ucap Yola, sontak mereka pun berhenti.


"Ada apa?" tanya Goidam yang kebingungan.


"Kita harus cepat" sambungnya.


Yola memperhatikan punggung Yume yang semakin menjauh, dia memicingkan matanya agar penglihatannya lebih jelas. Kain yang digunakan Gamiroku adalah kain khas keluarga kerajaan Silvercast.


Namun, karna faktor usia yang membuat penglihatan Yola terbatas, akhirnya dia membuang kecurigaan itu.


"Jalan" ucapnya, seketika kereta kuda tersebut kembali maju menuju rumah tabib.


"Astaga sayuranku!" pekik Yume, dia berlari ke atas bukit Kaenhi untuk mengambil keranjang sayurnya.


Sebenarnya Yume adalah wanita yang pelupa, bahkan terkadang dia lupa dimana rumahnya berada.


Setibanya di bukit Kaenhi, matanya membelalak tatkala melihat semua sayurannya terlindas kereta yang di tumpangi Goidam. Keranjangnya pun turut terlindas hingga rusak dan tak bisa digunakan lagi.


Sontak dia menangis terisak sambil mengumpulkan sebagian sayur yang masih layak dimakan. "Kenapa nasibku begitu malang....." gumamnya, dia menyeka sebagian air matanya.


Kemudian dia memasukkan sayur-sayur itu ke keranjang yang sudah penyok. "Ini tidak bisa dijual.....Jika seperti ini, bagaimana aku bisa mendapat uang untuk makan?" dia terduduk, perlahan air matanya terus berjatuhan membasahi wajah Gamiroku.


"Tabib tolong rawat Sasha!!" ucap Goidam.


"Baik Yang Mulia...." tabib yang bernama Meva tersebut langsung membawa Sasha kedalam rumahnya.


"Yang Mulia.... biar aku yang menunggu Sasha disini. Yang Mulia harus kembali ke kerajaan" ujar Yola diambang pintu.

__ADS_1


"Baiklah, lagipula aku harus menghukum seseorang atas kejadian ini" katanya dengan suara yang berat.


Mereka pun kembali ke kerajaan, lagi-lagi mereka harus melewati bukit Kaenhi yang sudah berdiri sebelum kerajaan Silvercast dibangun.


Sejujurnya, Goidam tidak pernah tau kalau Yola memiliki seorang putri, yaitu Sasha. Dia mengira gadis itu hanyalah seorang rakyat biasa yang mencoba melindungi Rajanya tanpa ada niatan apapun.


Oleh sebab itu, dia terlihat lebih peduli seakan dia menyukainya, namun pada kenyataannya, Goidam masih menyimpan sebuah rasa untuk Asuri.


Tahta yang selama ini ia duduki merupakan tahta yang berhasil direbut oleh putri dari kerajaan Pentagon. Dulunya, Goidam hanya seorang pengangguran yang kebetulan diangkat menjadi seorang prajurit dan akhirnya menikahi Tuan Putri Pentagon, Asuri.


Roda-roda itu berputar hingga membuat debu-debu berterbangan, kereta Goidam melewati tubuh Yume yang terduduk lemas sambil menatap dagangannya. Sontak Yume terbatuk-batuk karna debu yang dibawanya.


Sekilas Goidam menatap Gamiroku yang tersenyum kearahnya, lalu kembali melaju dengan kereta kudanya. Deg! Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. "Ada apa ini...." gumamnya seraya memegangi dadanya.


Setelah pria itu sampai ke istananya, dia memanggil para menteri untuk membahas kasus Asuri. "Panggil semua menteri ke ruang persidangan, aku akan kesana beberapa menit lagi" perintahnya, menteri tersebut pun mengangguk kemudian pergi dari hadapan Rajanya.


Matanya yang sayu menatap batang-batang besi yang menahannya saat ini, gaun yang ia kenakan pun menjadi lusuh dan kotor.


Lantas dia berbalik dan menatap lubang kecil yang menjadi lubang udara sekaligus tempat cahaya masuk.


Pikirannya kembali memutar ingatan lampau, dimana ia dan Goidam bertemu untuk pertama kalinya. Bukit Kaenhi, adalah saksi bisu atas pertemuan Asuri dengan Goidam. Tepatnya dibawah pohon yang berdiri kokoh di puncaknya.


"Tuan Putri, anda di panggil untuk menghadap Yang Mulia Raja" ucap salah seorang Prajurit sambil membuka pintu penjara.


Ia tertunduk seraya terus berjalan melewati lorong penjara yang minim pencahayaan, terkadang dia menatap tulang belulang yang berada dalam penjara.


Dia menengadahkan wajahnya menatap lukisan cantik Asuri, para pelayan membantunya untuk memakai jubah panjang kesayangannya. Dia mengangkat tangannya, lantas semua pelayan langsung pergi dari kamar Sang Raja.


"Aku tidak tau, apakah aku bisa menatapmu nanti, Asuri" gumamnya, kemudian ia beranjak.


"Aku ingin kau menatapku dan mengatakan kalau aku bisa melewati masa-masa sulit ini, Goidam" batin Asuri, dia terus berjalan menuju ruang persidangan.


Langkah kakinya yang berat terdengar sampai ke ruang persidangan, matanya yang berwarna kecoklatan menatap lurus kedepan. Dia tidak tau apakah bisa menatap Asuri atau tidak. Tapi, jika ia melakukannya, maka akan ada sebuah keraguan.


Semua orang yang ada disana memberi hormat kepada Goidam, begitu pun sebaliknya. Dia duduk di kursi kebesarannya, dia berusaha untuk menghindari kontak langsung dengan Asuri.


"Seperti yang telah kita ketahui, Asuri mencoba untuk melukai Raja kita. Kami, Para Menteri telah mendiskusikan hal ini, kasus ini merupakan kasus terberat yang pernah dilakukan oleh Asuri. Maka dari itu, hanya Raja yang bisa memberi hukuman kepadanya"

__ADS_1


Sontak Goidam terperangah, wanita tersebut menatapnya dengan mata yang sayu dan tatapan yang kosong.


"Tatap aku..." batin Asuri.


"Argh....aku tidak bisa menatapmu atau menghukummu Asuri...." batin Goidam.


"Sebagaimana yang kita ketahui, keputusan rakyat adalah keputusan Raja. Oleh karna itu, aku menyerahkan hukuman ini kepada rakyatku" ucapnya.


"Bunuh saja dia! Pengkhianat tak pantas hidup di kerajaan Silvercast!" sahut para rakyat yang hadir di persidangan.


"Itu benar Yang Mulia, bukankah ini merupakan peraturan kerajaan Silvercast? Pengkhianat harus di hukum mati?" tanya salah seorang Dewan.


Goidam menatap Asuri yang tersenyum kepadanya, kemudian dia kembali membuang pandangannya. Pria itu tak kuasa melihat air mata Asuri yang terus berjatuhan.


"Yang Mulia..." lirihnya.


"Bunuh saja aku. Aku memang tak pantas berada disini bahkan aku tak layak berada disisimu Yang Mulia" tukas Asuri dengan nada yang sedikit gemetar.


"Meskipun kau sendiri yang memintanya, aku tetap tidak bisa melakukannya Asuri..... Ini sangat sulit, mengertilah keadaanku saat ini." batin Goidam.


"Tatap Aku, Yoru" ucap Asuri, 'Yoru' adalah panggilan Asuri kepada Goidam sebelum ia menjadi Raja.


"Aku tau kau masih mencintaiku bukan? Makanya kau tidak berani menatapku"


"Tidak, tidak sama sekali. Aku menerima hukuman ini!" celetuk Goidam sambil menatap tajam Asuri.


"Astaga....apa yang baru saja aku katakan???" perkataan itu begitu saja terucap dari bibirnya, bahkan ia sendiri pun tak bisa menarik kembali perkataannya.


"Baiklah, sudah diputuskan. Hukuman mati untuk mantan Ratu Silvercast" hakim itu mengetuk palu tiga kali.


"Yeayyy!!!" sahut para warga.


Sementara itu, Goidam hanya bisa terdiam di singgasanannya sambil menatap kepergian Asuri. Berbanding terbalik, wanita tersebut tersenyum begitu manis pada orang yang ia cintai.


"Meski ini akan menyakitkan, walaupun aku berteriak dan meronta-ronta agar kau kembali padaku. Kau tetap akan menatap arah yang lain" Asuri menyeka air matanya.


"Aku hanyalah boneka yang dikendalikan oleh orang lain, aku tidak bisa mencegahmu pergi dariku. Tahta ini, aku tidak menginginkannya Asuri. Berbaliklah.... kembali padaku! Jangan tinggalkan aku!" batin Goidam, dia tertunduk, sesekali dia meneteskan air matanya.

__ADS_1


Eksekusinya berjalan begitu cepat, bahkan Raja sendiri pun tidak bisa menyaksikan saat-saat terakhirnya.Hukuman mati itu disaksikan banyak orang, mereka menghina Asuri dan melemparinya dengan tomat busuk sebelum kepalanya dipenggal.


"Aku mencintai seseorang yang pernah aku miliki dan ingin terus aku miliki sampai akhir hayatku, aku kira aku akan menutup mata disampingnya....Ternyata tidak, aku telah salah menilai takdir"


__ADS_2