Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Siluman Singa


__ADS_3





Gamiroku pun terbangun dari mimpinya dan kebingungan ketika melihat dinding disekitarnya berlumut nan gelap. Dia baru menyadari kalau dia sedang tertidur diatas benda kenyal nan hangat yaitu paha Sohana.


"Aku dimana?" tanya Gamiroku, seketika dia beranjak dengan tergesa-gesa karna gugup.


"Kamu tadi pingsan" jawab Sohana, dia ikut beranjak dan mengintip keluar gua.


"Huh? Pingsan?"


"Ya, ayo kita keluar sebelum mereka kembali" Sohana memegang tangan Gamiroku kemudian membawanya berlari.


"Kita mau kemana?" tanya Gamiroku tergesa-gesa.


"Desa koikidan!" balasnya.


"Tama, Tara, sebaiknya kalian makan dulu" ucap Yola diambang pintu kamar.


"Yola, kami baru saja makan satu jam yang lalu" ketus Tara.


"Lebih baik kau berikan itu kepada mereka yang membutuhkan makanan" timpal Tama.


"Tapi...."


"Semenjak perang ini dimulai, banyak warga kita yang kelaparan kau tau? Mereka yang terkena imbasnya! Padahal mereka tidak tau apapun!" dengus Tara kesal sembari menunjuk keluar jendela.


"Tuan Putri, asalkan anda tau, Yang Mulia Raja ingin memperluas wilayah kita—"


"Ya aku tau dan sangat paham" potong Tama, lalu Yola pun mengalah dan pergi membawa nampan nasi yang penuh makanan.


Dia berjalan ke sebuah tempat di sisi lain kerajaan yang gelap, dia begitu hati-hati ketika memasuki ruangan itu. Yola lantas menaruh nampan dibawah lantai dan meninggalkannya begitu saja. "Kau takkan pernah bisa menemukannya" lirih seseorang yang terbaring di tempat tersebut.


"Tenang saja, aku pasti akan menemukannya" ucap Yola membelakangi sosok itu.


Di tengah hutan, para Prajurit Silvercast menbangun tenda kuat yang melindungi Raja serta jendral besar mereka, Gyosana. Sedangkan mereka tidur tanpa atap, sebagian pula ada yang berjaga semalaman tanpa tidur.

__ADS_1


Bagi mereka, hidup adalah tentang bagaimana mereka melayani rajanya. Karena sedari kecil mereka memang sudah berada di istana untuk melayani Pemimpin yang bahkan tak menghargai pelayannya.


"Strategi yang kau buat sepertinya sudah berhasil merebut beberapa bagian kerajaan Rhombus" ucap Goidam.


"Iya Yang Mulia, ini berkat anda yang melatih saya" jawab Gyosana, mereka berdua tengah berdiskusi.


"Ah, aku masih ingat saat kau hendak mencuri mahkota yang dipakai olehku" Goidam terkekeh-kekeh.


"Itu hal yang sangat memalukan" sahut Gyosana.


"Kau sangat berani Gyo, kau punya potensi besar" ujarnya.


"Terimakasih Yang Mulia. Tidak pernah ada yang mengatakan hal itu padaku, malahan orang tuaku tega menjualku dan adikku ke neraka itu" tukas Gyosana, matanya menatap tajam ke peta yang sedang di pegangnya.


"Kau punya adik?" tanya Goidam terkejut.


"Ya, namanya adalah Sohana. Dia mungkin sudah tiada"


"Baiklah, kita kembali ke pembahasan sebelumnya. Strategi ini dibutuhkan untuk merebut pusat kota Rhombus, prajurit yang kita tempatkan di bagian barat kerajaan Rhombus harusnya bisa mengatasi serangan Theo dan para bawahannya terhadap kerajaan kita." jelasnya panjang lebar sambil menunjuk peta yang dipegang Gyosana.


"Sohana.....apa kau masih bisa mendengarku?" batin Gyosana.


Theo membalas serangan Goidam menggunakan basoka, dia langsung menyerang pusat kota Silvercast, yaitu kota Horizon. Sehingga kerusakan yang diakibatkan dari peperangan ini terus bertambah setiap waktunya.


Sementara itu, para wanita di paksa bekerja untuk melayani para prajurit, tak jarang juga ada yang mengalami pelecehan seksual. Namun mereka hanya bisa pasrah menerima keadaan. Ditambah lagi banyak wabah penyakit yang terjadi akibat benda asing yang mencemari air serta udara.


"Hosh.....hosh....aku lelah, berhenti sebentar!" teriak Gamiroku yang sudah kelelahan.


"Jangan banyak mengeluh!" sahut Sohana seraya terus membawa Gamiroku berlari, akhirnya pria itu pun tersungkur ke tanah karna kakinya sudah tak kuat berjalan.


"Ah kau ini lemah sekali" celetuk Sohana terbata-bata.


"Aku tidak lemah, aku hanya lelah" balasnya.


"Mendengar keluhanmu membuatku haus"


"Menurutmu apakah ada danau di tengah hutan gelap seperti ini?" tanya Gamiroku.


"Entahlah, ayo kita cari desa terdekat saja" Sohana mulai kembali melangkahkan kakinya.


"Heh! Bagaimana kita mencari desa itu! Lagipula kakiku sudah tidak kuat lagi!!!" rengek Gamiroku.

__ADS_1


"Silahkan saja mengeluh, tidak akan ada yang berubah hanya dengan duduk dan diam" sahutnya yang sudah berada jauh di depan Gamiroku. Alhasil, ia pun terpaksa mengikuti langkah demi langkah yang dibuat Sohana.


Mereka berkelana menyusuri pedalaman hutan mencari sebuah tempat yang bisa dipakai untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan, Sohana tampak bersemangat, berbanding terbalik dengan Gamiroku yang banyak mengeluh karna ia sudah letih.


"Malam ini sangat panjang ketika aku berada jauh dari rumah bersamanya" batin Gamiroku.


"Malam yang sangat panjang ini akan menjadi saksi bisu antara aku dan dia, selain itu, jauh dari rumah adalah hal yang bagus untukku" batin Sohana.


Mereka sama-sama menatap langit yang gelap tanpa bintang sambil terus berjalan berdampingan. Situasi berubah kian mencekam tatkala seekor singa muncul dari dalam semak-semak.


"Diam dan jangan bergerak" bisiknya kepada Gamiroku.


"Oke"


Singa itu mengelilingi tubuh mereka berdua dengan air liur yang menetes dari mulutnya, hewan itu tampak lain, matanya berwarna merah menyala dan tubuhnya pun lebih besar dari kebanyakan singa lainnya.


"Siluman" gumam Sohana, dia bisa melihat aura yang dikeluarkan singa yang tengah kelaparan itu.


Sohana terus memutar otaknya untuk menghindari serangan mematikan dari hewan buas itu, dia terlihat kelimpungan karna tidak ada cara lain selain membunuhnya.


Ketika dia lengah, singa yang kelaparan langsung melukai tubuh Sohana menggunakan cakarnya yang tajam hingga ia terkulai lemas.


"Sohana!" pekik Gamiroku, dia menyerang singa itu secara acak, alhasil ia mendapatkan beberapa luka cakar di sekujur tubuhnya.


"Selama ini, apa yang aku pelajari? Danma memberikan begitu banyak teknik bela diri yang bisa kupakai, namun mengapa aku tidak bisa mengingatnya?!!!" batin Gamiroku.


Lalu Singa tersebut kembali menyerang Gamiroku sampai tubuhnya terpental cukup jauh, kepalanya terbentur batang pohon dan tak sadarkan diri.


...----------------...


"Hei, apa yang aku bilang soal menyerah?" tanya Yume dalam mimpinya.


"Ibu.....aku sangat merindukanmu"


"Sejak kapan kau menjadi lemah? Setau Ibu, kau adalah anak yang kuat dan tegar"


"Maafkan aku ibu, aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku ingin disini, bersama ibu untuk selamanya"


"Bodoh, kau tidak bisa melakukannya, tempatmu bukan disini, mereka yang lemah tidak mengenal lelah, mereka yang kuat memegang teguh tekat. Kau harus menjadi kuat dan tidak mengenal lelah, perjuanganmu akan di kenang untuk selamanya Gamiroku. Takdir telah memilihmu"


"Apa maksud ibu? Ucapan Ibu sama seperti wanita itu"

__ADS_1


"Kau belum cukup mengerti, meskipun umurmu sudah matang, namun sikapmu masih kekanakan. Lihatlah Sohana, dia banyak mengalami penderitaan dan masih bisa tersenyum seperti apa yang Ibu ajarkan padamu"


"Bangun!! Selamatkan dia! Jangan kembali lagi kesini! Dan jadilah pemimpin yang bisa membawa perubahan!" ucap Yume, tubuhnya menghilang secara perlahan seperti dedaunan yang tertiup angin.


__ADS_2