Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Monster


__ADS_3

"Aku merasa sangat bersalah, lalu aku harus bagaimana Lilac?" tanya Sohana kepada siluman singa yang bernama Lilac itu.


"Kau harus meminta maaf, karena anakku berkata kalau pria itu terus mengejekmu hingga ia marah dan berakhir dengan pembunuhan" ujar Lilac.


"Kalau aku jadi dia, pasti aku juga akan membunuhnya, soalnya anakku terluka gara-gara ulahnya" sambung Lilac. Sohana hanya terdiam tak berkutik, dia merasa sangat bersalah karena berkata hal yang membuat Gamiroku sakit hati.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Sohana frustasi.


"Jelas kau harus meminta maaf"


"Aku tidak tau dimana dia sekarang"


"Tak apa, aku akan mengantarmu. Naiklah ke punggungku" ujar Lilac.


"Apa boleh?" tanyanya ragu.


"Tentu saja, kau sudah membantu untuk menemukan anakku"


"Baiklah" gadis tersebut menaiki punggung Lilac perlahan, kemudian Lilac berlari diikuti sang anak di belakangnya.


Di dalam kerajaan Silvercast tanpa sang Raja, kekacauan setelah bencana pun mulai terjadi, mereka saling menyalahkan atas kejadian malang yang menimpa mereka.


Banyak bangunan roboh dan hancur tak tersisa, para menteri pun terlihat tak acuh terhadap nasib warganya. Petinggi yang berkuasa malah tertawa dan memperbudak mereka yang t'lah kehilangan segalanya dengan dalih tak ada lagi yang bisa di perbuat selain bekerja untuk mendapatkan makanan.


Keadaannya jauh berbanding terbalik di kerajaan Rhombus, petinggi disana menginjak-injak warganya dan mengharuskan mereka untuk membangun kembali kantor pemerintahan yang rusak. Sedangkan banyak rumah warga yang tidak diperbaiki dan di telantarkan begitu saja.


Setelah bencana terjadi, peperangan pun dihentikan untuk sementara. Selain itu, Goidam masih terjebak di gua kecil mengingat tanah longsor yang mengurung mereka selama seharian penuh.


"Cepat gali!!" perintah Gyosana, sontak para prajurit pun menggali menggunakan tangan mereka karna tidak ada sekop atau alat lainnya.


"Tenang Yang Mulia, sebentar lagi kita akan keluar dari gua ini" ucap Gyosana untuk menenangkan Raja yang sudah kehabisan oksigen.


"Berapa lama lagi?" tanyanya.


"Sebentar lagi Yang Mulia" jawab Gyosana.


"Kita harus cepat pergi ke Silvercast, seperti yang sudah lalu, pasti akan ada banyak kerusakan yang mungkin tidak bisa kita atasi lagi" jelas Goidam.


"Baiklah, aku akan menggali sekuat tenagaku" ujarnya, lantas ia ikut menggali hingga membuat lubang kecil kemudian mereka terus menggali dan akhirnya bisa keluar dengan selamat.


Sesampainya diluar, Goidam langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Akhirnya...."


"Yang Mulia, kita harus cepat bergegas ke Silvercast"

__ADS_1


"Hm baiklah, siapkan kuda kita" perintahnya.


"Tapi Raja, kuda kita sudah tak tersisa lagi dan kereta kita hancur" jawab salah seorang prajurit.


"Kalau begitu kita jalan saja! Semakin cepat semakin baik" Goidam berjalan mendahului disusul Gyosana dan prajurit lainnya.


Beberapa meter dari keberadaan sang Ayah, Gamiroku sedang menyenderkan tubuhnya, dia merasa sangat lelah sampai mengantuk. Amarahnya tak kunjung padam hingga dia memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Dia masih bertanya-tanya mengapa sebuah tanduk bisa tumbuh di dahinya? Dan ketika tumbuh, amarah yang besar tiba-tiba menguasainya.


Selain itu, Gamiroku merasa aneh pada dirinya sendiri. Seperti ada sesuatu yang besar bersembunyi di dalam tubuhnya.


Semilir angin membuatnya mengantuk dan akhirnya tertidur pulas di bawah pohon yang rindang.


"Hei, kenapa kau malah terbakar api kemarahanmu?!" tanya Asuri dalam mimpinya.


"Kau seharusnya bisa menahan diri dan tidak membiarkan kutukan itu semakin kuat"


"Ibu kecewa padamu Gami" timpal Yume.


Sontak Gamiroku langsung terbangun dari mimpinya. "Persetan dengan menahan diri" dia menengadahkan kepalanya dan menatap langit yang kekuning-kuningan.


"Berapa lama aku tertidur? Ck" dia beranjak dan kembali mengambil langkah tanpa tujuan.


Tampangnya sangat menakutkan ditambah lagi kedua mata yang menyala serta tanduk dan pakaian yang cumpang-camping. Dia melirik kesana kemari melihat setiap jendela rumah dimana orang-orang mengintipnya dengan rasa takut.


"Hei! Siapa kau mengapa kau datang ke desa kami?!" tanya seorang pria yang diduga sebagai kepala desa.


"Aku?" tanyanya seraya menyeringai.


"Ya!"


"Aku seorang Monster yang ingin beristirahat disini." jawabnya.


"Monster? Kami tidak bisa menerima kehadiran seorang Monster! Lebih baik kau pergi saja dari sini! Syuh syuh!" teriaknya, dia membawa garpu jerami dan menodongkannya ke depan tubuh Gamiroku.


"Kenapa aku harus pergi kalau aku ingin beristirahat disini?" dia kembali menyeringai.


"K-kami tidak sudi memberimu tempat tinggal!" jawabnya terbata-bata ketika melihat mata Gamiroku yang menyala terang.


"Hm begitu ya" perlahan dia menarik langkahnya ke belakang.


Alih-alih pergi dari desa tersebut, Gamiroku malah mendatangkan bencana hingga meluluhlantakkan tempat itu. Dengan bangga dia berlari kesana kesini membawa angin besar yang menerbangkan semuanya sambil tertawa puas.

__ADS_1


Lantas memukul tanah menggunakan kakinya sampai gempa besar datang mengguncang desa tersebut. Seusainya, tak ada bangunan yang berdiri kokoh, semuanya hancur menimpa sang pemilik.


Goidam pun turut merasakan guncangan itu karena dia dan prajuritnya hendak mendatangi desa itu. "Apa kau merasakannya Gyosana?" tanyanya panik.


"Ya, sepertinya kita harus cepat mencari tempat perlindungan Yang Mulia" jawab Gyosana.


"Ya kau benar" balasnya, kemudian mereka mempercepat langkah masing-masing.


Setibanya disana, Goidam terkejut melihat tempat tersebut hancur, darah berceceran dimana-mana, banyak orang yang meninggal karena tertimpa bangunan.


"Apa?!" pekiknya, perlahan dia memasuki kawasan itu.


"Hati-hati Yang Mulia"


"Ya"


Dia menelusuri setiap sudut dan alangkah terkejutnya ia tatkala tak menemukan satu pun orang yang selamat.


"Kenapa ini bisa terjadi?" matanya membelalak.


"Sepertinya hanya di daerah ini saja Yang Mulia" tukas Gyosana.


Lalu dia berjongkok di samping sebuah balok kayu dan menatap sesosok yang sedang berdiri tegap jauh di depannya.


Sontak ia memicingkan matanya, sosok itu semakin mendekat diikuti badai besar di belakangnya. Bukannya lari, Goidam malah bergeming di tempatnya. Rasa penasaran rupanya telah mengalahkan rasa takutnya.


Gamiroku berhenti beberapa meter dari sang Ayah lantas menghentikan badainya. Dia menatap kalung liontin milik mendiang Ratu Asuri yang melingkar di leher Gamiroku.


"Kau!" ucapnya penuh penekanan sambil mengingat rupa anak pertamanya.


"Siapa kau? Sepertinya orang penting" tanya Gamiroku, dia menatap prajuritnya yang sudah memasang pertahanan untuk melindungi sang Raja.


"Pantas saja banyak bencana yang membuat kerajaanku hancur! Seharusnya aku yang membunuhmu langsung! Kau hanya mendatangkan bencana bagi kerajaanku!" teriaknya lantang.


"Membunuhku hah? Memangnya siapa kau?"


"Oh maaf? Kau belum mengenalku Ya? memang wajar sih, karena sejak lahir kau tidak punya siapa-siapa termasuk seorang Ibu! Kenapa? Karna Ibumu adalah pengkhianat! Dia adalah Ratu Asuri! Andai saja kau tidak terlahir cacat, maka saat ini kau sudah menjadi penggantiku!" jelasnya sambil menyeringai.


"Ayah...." lirih Gamiroku.


"Jangan panggil aku sebagai Ayahmu! Bahkan aku tidak sudi dipanggil Ayah olehmu!" celetuknya.


"Apa ini? Mengapa hatiku sangat sakit ketika mendengar ucapan itu dari Ayahku sendiri?" gumamnya, dia terduduk lemas sembari memegangi dadanya.

__ADS_1


__ADS_2