Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Akhir


__ADS_3

Theo mempersiapkan pasukannya setelah sekian lama membangun kerajaannya yang hancur, dia hendak menyerang Silvercast bersama bala tentara yang amat banyak.


Tentara yang bergabung ternyata adalah sebagian orang yang kehilangan keluarganya karena peperangan yang dipimpin Gyosana, mereka sudah bersiap dengan memasang bom di beberapa titik.


Seperti yang di lakukan Goidam, Theo menyerang secara tiba-tiba dan tidak memberi sinyal apapun kepada kerajaan Silvercast.


Setelah bom di aktifkan, mereka meledak secara bersamaan hingga mengguncang kediaman sang Raja.


"Ayah!" teriak Tama di ambang pintu, mereka bergegas mengevakuasi keluarganya.


Namun di antara kekacauan itu, Tara masih terjebak di kamarnya sebab sebagian atap kamarnya roboh. Ia kebingungan, frustasi, dan putus asa.


"Tembak!" teriak Theo, bola api itu meluncur ke istana Silvercast.


Suara dentuman yang keras pun terdengar disusul suara tembakan yang menggema. Mereka semua ketakutan malam ini, berteriak dan berlari dengan putus asa.


Persiapan yang belum matang membuat Goidam kebingungan sekaligus panik, terlebih dulu dia mengamankan penerusnya, yaitu Tama, bahkan dia tak ingat putrinya, Tara, sebab tergesa-gesa.


Di lain tempat, seseorang sedang berdiri di depan cermin besar, dia menatap wajahnya sendiri sambil tersenyum. "Ini saat yang tepat untuk menghancurkannya" gumamnya.


"Raja dari Kerajaan Rhombus benar-benar telah membantu rencana kita" sahut Roa.


"Kau benar anakku" Shira menyeringai puas.


"Lalu kenapa Gamiroku masih belum datang kesini?" tanya Roa.


"Itu karena dia sudah tiada"


"Apa?! Bagaimana ibu tau?"


"Kau bodoh atau dungu? Jika dia masih hidup, maka bola kristalku akan menyala, namun jika dia mati, maka bola kristalku akan retak"


"Lalu bagaimana dengan Yola yang menahan nenek?"


"Ck, Yola tidak cukup kuat dariku, Ibu akan membuat Silvercast hancur total, sebeljm itu, kau harus membebaskan nenekmu"


"Baik" Roa memberi hormat dan pergi bergegas.


Di tengah kekacauan, Roa menyelinap masuk ke istana Silvercast, ia berjalan ke sisi gelap untuk membebaskan Neneknya. Secara bersamaan, Gyosana pun masuk ke istana dengan arah yang berlawanan dari Roa.


Dia berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan Tara, dari banyaknya orang, hanya Gyosana yang menyadari bahwa Tara tidak ada. Dia hanya yakin satu hal, yakni, gadis itu terjebak di reruntuhan istana.

__ADS_1


"Tuan Putri!" teriak Gyosana, dia berusaha melewati kepingan tembok dan serpihan kaca.


"Tuan Putri!" dia terus mencari, akan tetapi tidak ada jawaban darinya. Sampai di sebuah ruangan, Tara di temukan tak sadarkan diri dengan luka gores di tangannya.


"Tuan putri!" dia berusaha menerobos sebagian tembok kayu yang terbakar. Akhirnya dia berhasil meskipun sedikit kepayahan.


"Putri! Bangun! Buka matamu!" Gyosana mendekap Tara, dia berusaha membuatnya sadar, namun semua usaha yang ia lakukan tampaknya sia-sia.


"Buka matamu.....Tara....." dia mulai terisak.


"Aku menyesal....! Aku menyesal Tara! Seharusnya aku tidak membohongi diriku sendiri! Rasa takut dan batasan tahta diantara kita membuatku selalu terbelenggu!"


"Aku—suka—padamu......" dia memeluknya lebih erat.


"Aku juga" sahut Tara lirih.


"Kau...." mereka saling bertatapan sejenak.


"Aku selalu takut kalau kau tidak mencintaiku Gyo"


"Maafkan aku Tara, seorang Jendral perang sepertiku tidak bisa jatuh cinta kepada seorang Putri Raja. Tapi sekarang rasanya semua itu terdengar konyol"


"Hm, kita harus segera keluar dari sini" Tara mencoba bangkit.


Sementara itu, Sohana masih belum berhenti menangis, ia terisak sambil terus memanggil nama Gamiroku. Tubuhnya mengalami lecet dan memar karna tali yang mengikatnya.


Dia menatap makhluk tiruannya yang sudah berubah kembali ke wujud aslinya. "Kenapa kau melakukan ini?" isaknya.


"Aku hanya—tidak mau kesepian, tapi percuma saja, aku tidak bisa mengambil jiwanya"


"Apa bisa kau membawanya kembali padaku?"


"Memangnya apa pentingnya dia bagimu?"


"Dia adalah temanku, satu-satunya temanku, yang tidak memandangku sebelah mata. Jika dia tiada maka akupun akan sekarat...."


"Agar kau tidak sekarat, aku memberimu dua pilihan, pertama, kau bisa pergi dari gua ini dengan selamat kalau kau memberikan tubuhnya padaku—"


"Atau kedua, kau akan menggantikan posisinya. Bagaimana?" dia menyeringai.


"Baiklah, aku akan menggantikan posisinya" jawab Sohana tanpa ragu.

__ADS_1


"Wow, tampaknya ikatan kalian begitu kuat. Aku bahkan belum pernah melihat hal semacam ini, padahal kau belum terlalu mengenalnya, iya kan?"


"Ya"


"Ck, Kalau begitu aku akan membuatnya kembali, tapi kau harus menusukkan batu ini terlebih dulu seperti yang di lakukan oleh temanmu"


"Lepaskan tali ini dulu" balas Sohana.


"Baiklah, kau tidak sabar sekali" akhirnya dia membuka lilitan tali itu dan membiarkan Sohana mendekati Gamiroku.


Perlahan dia membelai wajah pria tersebut dengan gemetaran, dia mendekapnya cukup lama sambil membisikkan kata-kata yang tidak sempat ia katakan.


"Aku berterimakasih kepadamu karna telah mengobati lukaku, Gami. Sekarang saatnya aku menolongmu, bukan begitu?" bisiknya.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf, sebab aku sudah membohongimu, aku tidak sengaja membunuh kedua orang tuaku, mereka tidak menggunakanku sebagai alat uji coba, aku memang terlahir sebagai Siluman tanpa kutukan dari siapapun, mereka tidak menjualku Gami, sebaliknya mereka sangat menyayangiku. Kakakku, dia kabur ketika aku hampir melenyapkannya. Aku adalah monster, tapi terimakasih karena mau bersamaku selama ini" dia menyentuh dadanya seraya mengucapkan sesuatu yang tak di mengerti.


Lantas cahaya terang mengelilingi mereka berdua, makhluk itu terkejut dan hendak mencegah Sohana, namun tubuhnya terlempar kuat ke dinding gua hingga sebuah batu besar menimpa tubuhnya.


"Kau berhak untuk hidup Gami, maka dari itu, aku ingin menyerahkan hidupku yang berharga kepadamu" gadis tersebut memejamkan matanya, ketika cahaya menembus dadanya, dia terlihat menahan kesakitannya yang teramat.


"Siluman murni adalah dia yang mampu mengabdikan seluruh kehidupannya bagi bumi pertiwi dan umat manusia, namun aku rasa, aku hanyalah beban yang tak pantas hidup. Ibu, Ayah, aku menyayangi kalian berdua, maafkan aku...." batin Sohana.


Dia menengadah menatap indahnya kristal dan bebatuan yang berwarna di atas dinding gua seraya tersenyun seolah tlah berhasil mencapai sesuatu yang sangat berharga.


Setelah semua cahaya itu masuk ke tubuh Gamiroku, akhirnya Sohana terjatuh lemas.


"Aku dimana?" gumam Gamiroku, perlahan dia beranjak sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu.


"Sohana!" matanya membelalak tatkala melihat Sohana terbaring lemah di tanah.


"Akhirnya...." Sohana tersenyum sembari meneteskan air matanya.


"Apa yang sudah terjadi?! Siapa yang membuatmu jadi seperti ini?!" tanyanya.


"Temui Ayahmu.......gapai kebahagiaan itu dan hentikan kekacauan ini Gami" bisiknya, lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak Sohana....Aku tidak mau kehilanganmu!" Gamiroku memeluk Sohana erat, kini kondisi tubuhnya sudah normal, dia sudah memiliki bagian tubuhnya yang hilang, yaitu tangan kanannya.


Dia meneriakkan nama Sohana sekuat tenaga dan berteriak frustasi. "Aku tidak akan meninggalkanmu disini sendirian, Sohana" bisiknya lirih, alhasil dia menggendong tubuh gadis tersebut di kedua tangannya.


Dia menatap cahaya itu dengan mata yang tajam, ketika ia melangkah keluar gua, terdengar suara tembakkan yang menggema juga teriakkan orang-orang dan asap yang mengepul di udara.

__ADS_1


"Tidak, ini belum usai" gumam Gamiroku seraya berjalan dengan membawa tubuh gadisnya.


__ADS_2