
"Mau minum Yang Mulia?" tanya Sasha seraya memberikan segelas anggur yang telah di campurkan obat tidur.
"Terimakasih" tanpa curiga, ia pun meminumnya, kemudian Goidam tertidur cukup lama karna minuman yang ia teguk. Sementara itu Sasha menyeringai kearah sang Ibu yang baru saja datang membawa nampan.
"Kerja bagus anakku, Ibu pastikan kau yang akan menjadi Ratunya setelah Asuri" ucap Yola, dia menaruh nampan itu ke meja samping ranjang.
"Apa yang akan ibu lakukan?" tanya Sasha, dia beranjak mendekati ibunya.
"Tidak ada, aku hanya memastikan kalau kau yang akan jadi ratunya...." wanita tersebut menyeringai, dia membaca sebuah mantra yang akan membuat Goidam menuruti perintahnya.
Jauh di luar istana, tubuh mungilnya di penuhi semut-semut kecil yang ingin memakan setiap bagian tubuhnya. Dia menangis, namun tidak mengeluarkan suara.
Darah terus mengalir dari bagian dada Gamiroku, tombak itu masih menancap disana. Tak ada siapapun yang menyadari kehadirannya, mereka berlalu lalang mendaki bukit menuju desa Koikidan.
Tetapi, seorang pedagang wanita melihat sebuah tombak yang ternyata menancap di dada seorang bayi mungil. Tentu saja pemandangan tersebut membuatnya prihatin, lantas dia mencabut tombak itu dan berniat untuk menguburkan Gamiroku yang tengah menangis.
Wanita itu sama sekali tidak mengetahui kalau bayi yang ia gendong masih bernyawa, karna kondisi tubuh Gami yang diselimuti kain sampai menutupi wajahnya.
Namun ketika dia membuka kain-kain itu, barulah dia menyadarinya.
"Astaga, dia masih hidup.... Aku harus membawanya ke tabib" gumam Wanita tersebut.
Lantas dia bergegas seraya membawa tubuh Gamiroku di kedua tangannya, dia berjalan melewati kerumunan yang tengah sibuk tawar-menawar, sesampainya di rumah tabib itu. Betapa terkejutnya ia tatkala melihat luka bekas tombak itu menghilang seakan tak pernah terjadi.
"Apa yang ingin di periksakan Yume?" tanya tabib itu.
"Ah tidak.... tadi anak ini tertusuk tombak di bagian dadanya" Ujar Yume, lantas dia memperlihatkan dada Gamiroku.
"Tidak ada luka sedikit pun disini, apa kau yakin? Aku rasa kau mengigau lagi Yume" ucapnya.
"Tidak bibi, aku tidak mengigau, aku menemukan bayi ini tertusuk di bukit Kaenhi" jelasnya.
"Yasudah, kau pergilah dari sini atau keberuntunganku akan hilang... syuh syuh!!" tabib itu mengusir Yume dengan cara mendorong tubuhnya keluar.
"Aww!!" dia mengaduh.
"Dasar penyihir tua!" makinya dalam hati.
"Untung saja bayi ini tidak terjatuh, huft.... aku bingung harus aku apakan anak ini?? Aku sendiri saja masih kesulitan mencari makan..." gumamnya sembari berjalan menuju pasar.
__ADS_1
Asuri berjalan melewati lorong istana, dia bersiap untuk kembali ke kerajaan kedua orang tuanya. Dia tak sengaja mendengar percakapan para prajurit yang menjaga gerbang istana.
"Ya aku sudah menusuk bayi itu di bagian dadanya"
"Aku kasihan kepada Ratu Asuri, dia tlah kehilangan anak dan suaminya"
"Yang Mulia Raja memang keterlaluan, dia tak segan untuk membunuh anaknya sendiri"
"Andai saja aku tidak menusuk bayi itu, padahal kubiarkan dia hidup saja agar nanti bisa membalaskan dendam Ibunya"
"Memangnya kau membunuh anak itu dimana?"
"Bukit Kaenhi. Sebenarnya Raja tidak membuang bayi itu ke perbatasan, prajurit yang ada disana hanya untuk mengecoh musuh yang bisa saja mengambil keuntungan dari kejadian ini"
Matanya membelalak tatkala mendengar percakapan itu, tangannya bergetar hebat, dia bersembunyi di balik pilar kerajaan sambil menutup mulutnya sendiri.
"Apakah yang mereka katakan itu benar??" batinnya.
PRAK! Salah satu guci itu terjatuh hingga membuat para prajurit terkejut, lantas mereka mencoba mencari tau. Perlahan Asuri menampakkan dirinya, sontak mereka lebih terkejut lagi.
"R-ratu!" pekik salah satu Prajurit.
"Aku bukan Ratumu lagi" balas Asuri.
"Apa benar yang kalian katakan barusan?" tanya Asuri, kedua prajurit itu saling bertatapan.
"Iya Tuan Putri..."
"Baiklah, terimakasih" ketus Asuri, dia kembali ke dalam istana untuk menemui Goidam.
Kedua tangannya mengangkat bagian bawah gaun yang ia kenakan, pasalnya Asuri selalu menginjak bagian itu dan sedikit menyulitkannya.
Dibukalah pintu kamar Sang Raja yang tertutup rapat, betapa terkejutnya Asuri tatkala melihat Sasha memeluk Goidam dalam tidurnya.
"Baru saja kau melepasku, sekarang kau sudah memiliki pengganti diriku, Goidam" batinnya.
Dia mengepalkan kedua tangannya, pemandangan itu sangat melukai hati Asuri. Ia pun tak tau harus berbuat apa lagi untuk menutupi perasaan cemburunya.
Wanita itu mengambil sebuah pisau yang menancap di atas buah apel milik sang Raja, ia berjalan perlahan seraya mencoba mengunci sasarannya.
Sadar ada yang aneh, Sasha pun terbangun, refleks tubuhnya melindungi tubuh Sang Raja. Asuri yang kalap terlanjur menusuk tubuh Sasha beberapa kali hingga gadis itu berteriak kencang karna kesakitan.
"Ada apa ini?!" tanya para penjaga dan menteri yang mendengar jeritan Sasha.
__ADS_1
"Astaga, apa yang anda lakukan!" teriak Yola, dia berlari untuk melindungi putri semata wayangnya.
Setelah sadar apa yang dilakukannya, Asuri pun terduduk lemas. Semua orang menatapnya dengan tajam. "Dia mau membunuh Yang Mulia Raja..." lirih Sasha, seketika semua orang terkejut.
"Aku mencoba melindunginya... namun malah aku yang tertusuk..." sambung gadis itu.
"Prajurit, bawa dia ke sel bawah tanah—Tidak, bawa saja dia ke sel tahanan khusus" ucap seorang menteri. Kemudian mereka membawa Asuri menuju sebuah tempat yang gelap dan jauh di bawah tanah.
"Ada apa ini?" tanya Goidam, tampaknya obat yang dia minum telah hilang efek sampingnya.
"Sasha!" pekik Goidam, dia langsung memeluk tubuh Sasha dan membelai wajahnya.
"Dia kenapa?!" teriak Goidam, para menteri pun hanya bisa terdiam membisu.
"JAWAB AKU!"
"Asuri berencana untuk membunuhmu, namun Sasha mencoba menghalanginya dan inilah yang terjadi, Yang Mulia" ucap Yola.
"KENAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA?! BAWA DIA KE TABIB!" teriaknya.
"Tabib kita ada di sebrang bukit Kaenhi, beliau pulang karna suaminya baru saja meninggal Yang Mulia"
"KALAU BEGITU KENAPA KALIAN MASIH DISINI? BAWA SASHA KESANA DAN OBATI!" perintah Goidam, sontak semuanya langsung mengangguk lantas membawa tubuh Sasha dengan sangat hati-hati.
"Apakah harganya tidak bisa kurang?" tanya Yume.
"Tidak Nyonya, roti ini harganya sebelas koin perak" jawab pedagang tersebut.
"Aku hanya punya dua koin perunggu saja, bagaimana? boleh kan?" tanya Yume.
"Roti ini harganya satu koin perunggu, kau mau?" tanyanya.
"Kau tidak waras ya! Roti ini hampir basi, kau mau aku sakit perut!" celetuk Yume.
"Kalau tidak punya uang jangan beli disini nyonya!" balasnya.
"Huh awas saja kalo aku punya banyak uang, akan kubeli semua benda yang ada di bumi ini!!!" gerutu Yume seraya menggendong Gami di tangannya.
"Aish, lagipula kenapa aku harus membawa anak ini? Padahal kubiarkan saja dia mati di bukit Kaenhi" celotehnya.
"Eh, tapi ada yang aneh dari anak ini.... Mengapa lukanya sembuh begitu cepat?" dia bergumam sambil menatap Gamiroku yang tengah tidur nyenyak.
"Ah, entahlah"
__ADS_1