
Matahari sudah tenggelam, kini Gamiroku dan Sohana tengah beristirahat untuk menyambut hari baru. Gadis kecil tersebut menggunakan sayapnya sebagai selimut untuknya dan juga untuk Gamiroku.
Dia senantiasa menatap wajah bocah laki-laki yang ada di hadapannya, entah kenapa hal itu membuatnya merasa lebih tenang. Namun Sohana bisa merasakan kutukan yang kuat dalam tubuh Gamiroku.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Gamiroku tanpa membuka kedua matanya.
"Tidak, aku hanya sedang merencanakan sesuatu" jawabnya gelagapan.
"Kau menyelimutiku dengan sayapmu, untuk itu aku sangat berterimakasih"
"A-ah iya, tak masalah. Aku hanya mencoba untuk menjadi teman yang baik" mendengar ucapannya, Gamiroku pun membalikkan tubuhnya berlawanan dengan Sohana.
Dia melakukan itu agar Sohana tidak melihat air matanya lagi, ia menjadi sedikit malu ketika mendengar perkataan Sohana tentang lukisannya tadi sore.
Perlahan air matanya mulai menetes, mengingat ia tak memiliki teman sejati yang benar-benar peduli padanya. Sekarang Gamiroku menyadari satu hal, tak ada yang lebih peduli padanya selain sang Ibu. Lantas dia tersenyum seraya menyeka semua air matanya dan berharap kalau ia akan bertemu dengan sang Ibu dalam mimpi.
Keesokan harinya, wanita tersebut membuka pintu dan memperbolehkan Gamiroku untuk pulang.
"Aku tidak punya tempat tinggal..." ucap Gamiroku.
"Hm sudah aku duga—Eh maksudku, kau boleh tinggal disini asalkan kau membantu kami" balas wanita itu.
"Tidak, lebih baik aku pergi saja dari sini! Tempat ini tak lebih baik dari sebuah kandang **** yang kotor nan menjijikkan!" celetuknya, sontak ucapan Gamiroku membuat wanita berambut pendek itu naik pitam sehingga menyeretnya keluar.
Dia melempar tubuh kurus bocah laki-laki tersebut hingga menghantam tanah dengan sangat keras.
"Aurgh..." dia mengaduh kesakitan.
"Kau sangat lancang!!" bentaknya.
"Baru sehari aku disini dan itu membuatku sangat muak!" lirih Gamiroku seraya mencoba untuk bangkit.
"Apa yang kau mengerti! Kau masih anak-anak!"
"Aku mengerti semuanya. Kau menjual anak-anak yang ada disini kan?!" bocah tersebut terkekeh.
Sohana hanya bisa menyimak percakapan itu dari ambang pintu, dia terdiam, namun pikirannya sibuk mencari cara agar ia bisa membawa kabur Gamiroku bersamanya.
Tiba-tiba tubuh mungilnya di tendang begitu keras sampai kepalanya membentur tanah.
"Sohana!" pekiknya, dia masih berusaha untuk berdiri.
__ADS_1
"Kau pasti memberitau sesuatu kepadanya bukan?" pria tersebut lantas menjambak rambut Sohana hingga ia mengerang kesakitan.
"Lepaskan temanku!" teriak Gamiroku geram.
"Memang benarkan?" tanya Sohana, dia menatapnya sejenak.
"Kau unggas payah menjengkelkan!" pria tersebut membenturkan kepala Sohana ke tanah cukup keras sampai gadis kecil itu tak sadarkan diri.
"SOHANA!!!" teriak Gamiroku.
"Inilah yang akan terjadi jika kalian mencoba untuk kabur dari tempat ini!" pria yang bernama Calter tersebut berteriak di hadapan anak-anak yang tengah ketakutan.
"Jangan takut! Dia hanya menggertak saja!" timpal Gamiroku, kemudian leher belakangnya di injak hingga dia jatuh pingsan.
Sontak mereka semakin ketakutan dan mengurungkan niat untuk kabur dari tempat perdagangan manusia tersebut.
Alhasil kedua bocah itu dibawa ke sebuah tempat yang jauh nan menyeramkan. Mereka disiksa tanpa ampun sampai babak belur dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
"Gamiroku.....Bangun nak...." Yume berdiri tegap di hadapan tubuh sang putra tercinta.
Tubuh mungilnya di ikat di sebuah pohon besar, tangan lembut sang Ibunda membelai-belai pipi Gamiroku yang tergores benda tajam.
"Ibu...." lirih Gamiroku, dia memimpikan sosok yang selama ini ia rindukan.
Kemudian bocah laki-laki tersebut membuka matanya, seluruh bagian tubuhnya terasa sangat ngilu. Lantas dia menatap sekitar yang gelap gulita. "Apa aku tertidur cukup lama?" gumamnya, lalu ia tertunduk seraya menatap tali tebal yang tengah mengikatnya.
"Sshh...." dia merintih kesakitan.
"Sohana? Sohana!!" panggilnya panik, dia melirik kesana-kemari mencari keberadaan teman barunya.
Srrkk....Srrrkk....
Suara semak-semak itu membuat Gamiroku terkejut sekaligus ketakutan, dia mencoba untuk melepaskan diri. Namun seberapa kuat ia mencoba malah membuatnya semakin kesakitan.
Perlahan dua ekor harimau mulai menampakkan dirinya, mereka berjalan mengelilingi tubuh bocah laki-laki tersebut dengan mulut yang penuh air liur.
Salah satu harimau tersebut menggeram dan bersiap untuk menggigit tubuh Gamiroku. Tatkala harimau itu melompat, tiba-tiba tubuhnya terlempar ke samping oleh angin yang sangat kuat.
"Sohana!" pekik Gamiroku, ia melihat Sohana sedang tertunduk dengan pakaian compang-camping dan rambut yang berantakan.
"Gamiroku" gadis itu menatapnya dengan mata yang sayu serta wajah yang penuh luka lebam.
__ADS_1
"Awas!" teriak Gamiroku memperingatkan.
Kedua harimau menggigit sayap Sohana sehingga dia menjerit kesakitan. Seketika ia mengepakkan sayapnya dan membawa kedua hewan tersebut ke angkasa dengan sangat cepat. Dia memutar tubuhnya tiga ratus delapan puluh derajat sehingga kedua makhluk buas itu melepas gigitannya dan terjatuh lalu mati.
Sebelah sayapnya terluka, seketika Sohana kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke sungai.
"Sohana!" pekik Gamiroku, dia masih mencoba untuk membuka ikatannya.
"Argh!! Sial!! Sialan!!" makinya kesal, kini dia hanya bisa menatap kedua kakinya dengan putus asa sembari menunggu pertolongan dari orang lain.
Lama-kelamaan ia mengantuk, beberapa kali dia memejamkan matanya, namun kembali terbangun karna suara-suara makhluk malam. Sampai akhirnya bocah tersebut benar-benar tertidur karna kelelahan.
Jauh di istana yang megah nan mewah, Tama dan Tara sedang berbaring di ranjang yang nyaman sambil mendengarkan dongeng sebelum tidur dari Selima. Mereka terbilang sangat beruntung dibandingkan dengan anak lain.
Seolah kehidupannya hanya dipenuhi dengan hal yang menyenangkan. Goidam pun tak segan-segan untuk memanjakan kedua putra dan putrinya itu.
"Sasha, terimakasih karna telah memberikan kedua anak seperti Tama dan Tara" ucap Goidam kepada Sasha.
"Mereka adalah anak-anakmu"
"Ya, memang. Tapi kau Ibunya"
"Mmhhmm...."
"Semakin tua semakin terlihat cantik, itulah dirimu" ujar Goidam.
"Ya ya ya, ngomong-ngomong kenapa lukisan si pengkhianat itu masih kau pajang di kamar kita?" tanya Sasha seraya melepas perhiasannya.
"Khm....itu..."
"Jangan bilang kalau kau masih mencintainya, Goidam"
"Tidak, tentu saja tidak" balas Goidam berbohong.
"Aku memajang lukisannya untuk mengingat pengkhianatannya, kau terlalu posesif Ratu Sasha" Goidam terkekeh-kekeh, namun sebaliknya, Sasha tampak sangat kesal.
"Maka dari itu, buang lukisannya. Aku tak mau melihat lukisan si pengkhianat Asuri selalu tersenyum sepanjang waktu di kamar ini!" Sasha menatap tajam Goidam.
"Tapi Sasha..."
"Ini kamar kita! Bukan kamar Asuri! Kamar Asuri telah di tempati oleh adiknya atau kau berikan lukisan itu kepada Selima saja!" kata Sasha dengan nada tinggi, kemudian ia berbaring di samping suaminya.
__ADS_1
Sejujurnya, Goidam masih mencintai Asuri. Karna Asuri lah yang selalu ada untuknya suka maupun duka. Namun ia masih sulit untuk menyadarinya dan lebih memilih untuk menutup cinta itu rapat-rapat.