
"Kak, apa kau tidak melihat banyak orang yang menderita gara-gara Ayah?" tanya Tara sembari menopang dagu.
"Ayah melakukan hal yang benar Tara, beliau memperluas kerajaan kita. Itu hal yang biasa dilakukan oleh seorang Raja bukan?" balas Tama.
"Tapi aku merasa tak tega, apalagi banyak istri yang kehilangan suami serta anak mereka"
"Tara, aku beritau sesuatu padamu. Jika kau terus hidup dengan rasa kasihan kepada orang lain, lebih baik kau hidup tanpa hati saja" ujar Tama sambil tertawa.
"Hidup bukanlah lelucon yang harus ditertawakan Kak! jikalau aku hidup tanpa hati maka selamanya aku tidak bisa merasakan kehangatan cinta" ucap Tara.
"Itu sebabnya kau dilahirkan sebagai seorang wanita"
"Ngomong-ngomong siluman elang itu bagaimana nasibnya ya?" tanya Tara.
"Maksudmu?"
"Ya, Yola memotong sayapnya, apakah dia masih bisa terbang?"
"Tentu tidak, kau pikir burung bisa terbang tanpa sayap?"
"Maksudku, mungkin dia sangat tersiksa. Aku bisa merasakan pisau itu mengiris kulitku, Kak" ucapnya, kemudian Tara berjalan ke bingkai jendela menghampiri Sang Kakak.
"Hm...Entahlah"
"Apa Kakak bisa melihat penderitaan mereka?" tanya Tara sembari menatap deretan rumah warga yang terbakar api dan orang-orang yang sibuk memadamkan api.
"Tidak, tapi aku bisa mendengar jeritan mereka yang sangat menderita" jawab Tama, dia mulai sadar dengan apa yang dilakukan sang Ayah beserta para prajuritnya.
"Aku ingin perang ini segera berakhir" lirih Tara, mereka menatap satu titik yaitu bukit Kaenhi yang menjadi pemisah antara desa Koikidan dan kerajaan Silvercast.
"Aku juga" gumam Tama seraya mengusap pangkal rambut adik kesayangannya tersebut.
Langit yang seharusnya bercahaya ditemani bintang-bintang yang bersinar berubah menjadi gelap, bahkan bulan pun enggan menampakkan dirinya. Tak ada kebahagiaan selain kesedihan dari mereka yang terdampak penyerangan ini, teriakkan orang-orang yang tak berdosa bergema malam itu, mengutuk para penguasa yang Egois.
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Gamiroku sangat ingin mengetahui hidupnya yang terdahulu, namun melihat peperangan yang terjadi, dia semakin bertekad untuk membantu kerajaan Rhombus menghadapi semuanya.
"Kau melihatnya bukan?" tanya Sohana.
"Melihat apa?" tanya Gamiroku, sontak dia menoleh.
"Air mata mereka" jawab Sohana, kemudian pria tersebut kembali menatap kobaran api yang semakin membesar jauh di depannya.
__ADS_1
"Aku ingin membantu mereka, Sohana. Tapi tidak sekarang"
"Kenapa kau mau menolong mereka?"
"Karna disini lah aku dibesarkan dan mereka adalah saudara-saudaraku"
"Jika kamu benar-benar mau membantu mereka, lakukanlah, jangan menunggu suatu hal yang lain" ujarnya.
"Pertama-tama, aku harus menyembuhkanmu dulu. Setelah itu aku akan membantu mereka"
"Kenapa kau sangat peduli padaku, Gami?"
"Sebab kau adalah satu-satunya yang aku punya saat ini" jawabnya, Sohana pun tersenyum bahagia.
"Siluman akan sembuh dengan cepat Gami, bahkan kau tidak perlu menunggu sangat lama" jawab Sohana, dia mencoba untuk duduk.
"Kita harus segera pergi dari sini!" pria itu dengan cepat beranjak tatkala melihat para prajurit kembali menyerang Kota Goduro menggunakan senjata dan panah.
"Ada apa Gami?" tanya Sohana kebingungan.
"Cepat, naik ke punggungku!"
"Tapi..."
Belum puas atas hancurnya Kerajaan Rhombus, Jendral Gyosana kembali melumpuhkan desa lain sampai semuanya habis tak tersisa. Tak lama setelah perginya Gamiroku dari kota Gorudo, Gyosana meledakkan sebagian daerah yang menjadi jantung Rhombus.
Untungnya, Yamanaka telah mengevakuasi para warga yang selamat dan Ueshita sedang sibuk mempersiapkan strategi bersama sang Raja untuk melawan para penjajah itu.
"Jendral baru kita sudah melakukan banyak perubahan terhadap Silvercast" ucap Yola.
"Aku akui kalau Gyosana memang hebat, sebelumnya, aku kira dia hanya seorang pencuri cilik yang licik" jawab Goidam seraya melipat kedua tangan di dada.
"Pilihanku selalu benar Yang Mulia" sahutnya sambil menyeringai.
"Dasar bodoh, sebentar lagi aku pasti akan menemukan anak Asuri dan aku akan memastikan untuk membunuhnya. Jika anak itu kubiarkan hidup, maka dia yang akan membunuhku!" batin Yola.
"Hosh.....hoshh....hosh...." nafasnya tersenggal-senggal, tubuhnya di penuhi keringat, akhirnya dia terjatuh sebelum mencapai tempat tujuannya.
"Gamiroku!!" pekik Sohana, tubuhnya terlempar beberapa sentimeter setelah dia terjatuh.
"Gami!!" Sohana menepuk bahunya beberapa kali, namun dia masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Suara pasukan berkuda semakin dekat, Sohana pun semakin panik, alhasil dia menyeret tubuh Gamiroku secepatnya masuk kedalam sebuah gua yang berlumut serta tertutupi tanaman rambat.
...----------------...
Aku melihatnya tersenyum padaku dengan tubuh dipenuhi cahaya menyilaukan, Wanita yang memberikan kalung liontinnya kepadaku, sekarang aku melihatnya lebih jelas, sangat cantik, dia menyanyikan sebuah lagu yang tak pernah aku dengar sebelumnya.
*A*pa ini? Aku tertidur diatas pahanya? Ya dan rasanya sangat nyaman.....
*Dia sibuk mengelus-elus pangkal rambutku, s*entuhannya pun sangat lembut, aku—tidak ingin dia berhenti melakukannya.
"*Kau tau sesuatu Gamiroku?" tanyany*a.
"Hm tidak..." jawabku.
"Kau hidup di dunia ini hanya sekali dan pasti akan ada banyak cobaan yang membuatmu kesusahan. Tapi jika kau menghadapinya dengan tenang seperti air, maka masalahnya akan cepat berlalu. Sedangkan jika kau menghadapinya seperti api, maka niscaya masalah itu akan membesar dan akan melahapmu"
"Kalau begitu aku ingin menjadi batu, diam dan tenang" sahutku.
"Tentu, jika kamu diam, maka semuanya pun akan stagnan atau sama sekali tidak berubah dan diam membeku"
"Sebenarnya siapa kau? Mengapa aku merasa nyaman ketika tanganmu menyentuh kulitku?" tanyaku sambil menengadah.
"Kamu akan tau nanti, sekarang yang terpenting adalah berjuang untuk menang. Tidak ada kemenangan yang diawali dari kemalasan. Seorang petarung sejati tentu telah melewati banyak sekali ujian yang membuatnya hampir mati"
"Tapi aku lemah dan terlalu awal untuk memulai semuanya" balasku.
"Tidak ada akhir jika tidak dimulai dari awal, kamu tidak lemah Nak, hanya saja malas mempertahankan semangatmu. Banyak orang diluaran sana yang memandang rendah wanita, banyak petinggi yang mulai egois. Bukankah kau sendiri sudah melihatnya?"
"Lalu aku harus melakukan apa?"
"Mereka menutup mata dan telinga ketika mendengar bahkan melihat penderitaan orang lain, sebaliknya, mereka akan membuka mulut ketika di hampiri kemalangan. Kau tau maksudku Nak?"
"Tidak, tidak sama sekali"
"Begini, mereka tidak peduli akan nasib rakyatnya, sedangkan rakyat terpaksa harus peduli kepada para petingginya. Dan jika para petingginya tertimpa musibah, maka mereka akan memmerintahkan rakyat untuk bergotong royong entah itu soal pajak atau pembangunan rumah baru untuk para petinggi juga tentunya" jelasnya.
"Kalau begitu, mereka sangat tidak adil!" celetukku.
"Tentu, dunia ini memang tidak adil. Orang baik selalu tersakiti dan orang jahat selalu menyakiti. Tapi tidak akan berlangsung untuk selamanya, pada akhirnya, orang baiklah yang akan menang. Terkadang kau harus membuka mata lebih lebar untuk melihat dunia ini Nak"
"Ouh seperti itu...."
__ADS_1
"Kamu sudah mendengar terlalu banyak, bangunlah, ada seseorang yang sedang menunggumu saat ini" ucapnya, kemudian perlahan dia menghilang meninggalkan butiran-butiran cahaya.