Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Bencana Alam, terjadi lagi


__ADS_3



"Aku bukan pencuri....." bocah itu mulai kehilangan kesadarannya dan terjatuh ke pelukan sang Ibu.


"Ibu tau Gami....Ibu tau...." Yume tersenyum sambil mengusap punggung kecil Gamiroku.


Wanita tersebut pun membawa tubuh anak angkatnya di pundaknya, melewati pepohonan rindang dan banyak gundukan tanah yang hampir membuatnya terjatuh.


Sedangkan di dalam istana, Selima tengah duduk seraya menatap lukisan Asuri yang merupakan Kakak kandungnya. Dia tak henti-hentinya menangis, pernikahan ini, sebenarnya Selima sudah di jodohkan dengan pangeran lain.


Namun Goidam memaksa kedua orang tua Selima dengan alasan untuk memperkuat tali persaudaraan antara dua kerajaan, apa yang bisa diperbuat olehnya? Dia hanya bisa menerima takdir.


Kematian kakaknya tentu membuat Selima sangat bersedih hati, apalagi ketika mendengar cerita tentang 'pengkhianatan Kakaknya kepada sang Raja'.


"Bolehkan aku masuk?" tanya Shira diambang pintu.


"Silahkan" Selima tersenyum dan berdiri penuh hormat.


"Maaf aku lancang, tapi bukankah ini kamar mendiang Ratu Asuri?" jari jemari Shira yang lentik menelusuri dinding kamarnya.


"Ya..." jawab Selima.


"Kenapa kau memilih kamar ini, sedangkan masih banyak kamar yang bagus lainnya? Selain itu, kenangan mendiang kakakmu akan terus membuatmu sedih" ujar Shira.


Shira merupakan Ratu yang hobi bergosip, tidak seperti Ratu lain, kepribadian Shira lebih terbuka. Berbanding terbalik dengan Selima yang memiliki hobi melamun dan menenun. Kepribadian Selima pun sulit ditebak, terkadang dia ceria, terkadang dia murung.


"Kenangan kakakku akan terus hidup dalam diriku—meskipun aku tidak tinggal di kamar ini. Aku memilih tidur disini karna aku suka pemandangannya, terlebih lagi aku bisa menenun tanpa di ganggu siapapun" balas Selima.


"Hm....Aku dengar-dengar Ratu Asuri melahirkan anak cacat seperti kita, tetapi kenapa Ratu Sasha melahirkan anak yang normal. Menurutmu bagaimana? Apakah ada dalang dibalik semua ini?" ujar Shira penasaran.


Perkataan Shira membuat Selima berpikir keras, jika dipertimbangkan, semua ini mungkin akan masuk akal. Pikirnya.


"Aku tidak tau, mungkin karna kita kurang beruntung" balas Selima ketus.


"Aku dengar juga anak mendiang Ratu Asuri masih hidup. Ada seseorang yang menyelamatkannya dari kematian, tapi sampai saat ini semua argumen itu masih belum pasti"


Lama kelamaan Selima kesal karna terus mendengar nama Kakaknya disebut, lantas menyuruh Shira untuk keluar dari kamarnya, seharusnya saat ini, Selima sudah menenun kain, bukannya malah bergosip seperti sekarang.


"Keluar! Kau telah menganggu ketenanganku Shira!"


"Eheheheh....Kaburrr" Shira pun berlari secepatnya tatkala melihat Selima yang sudah naik pitam.


Kemudian wanita tersebut mencoba mengatur nafasnya yang membara seraya menatap keluar jendela. Perlahan dia berjalan ke balkon kamarnya, ketika ia menginjakkan kakinya, semilir angin mulai menerbangkan rambutnya yang panjang.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Kak...." batin Selima, air matanya mulai menetes.


Tak lama setelahnya, terdengar suara cekikikan anak kecil. Sontak Selima pun menoleh dan mencari asal suara tersebut. Dia berjalan menghampiri sebuah vas bunga yang besar, dibaliknya, ada seorang gadis kecil yang bersembunyi.


"Ssttt, aku sedang bersembunyi dari Ibuku" bisik Tara.


"Memangnya kenapa dengan Ibumu hm?" Selima berjongkok untuk menyetarakan tubuhnya.


"Ibu menyuruhku untuk mandi, tapi aku tidak mau Bu.....airnya sangat dingin" Tara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluarkan bunyi 'Brrrrr'.


"Lalu dimana Kakakmu?"


"Beberapa saat yang lalu, Ibu sudah menangkap Kak Tama dan saat ini Ibu sedang mencariku"


"Tara!!" teriak Sasha.


"Ah itu Ibu..." Tara mulai berlari kebelakang punggung Selima.


"Tara berhenti bersembunyi!" Sasha melipat kedua tangannya di dada, dia berdiri di depan Selima.


"Jangan menghalangiku! Selima!" Sasha hendak meraih tubuh Tara, namun Selima memegangnya terlebih dulu.


"Maaf Ratu, biar aku saja yang memandikan Tara" Selima tersenyum penuh kehangatan.


"Ini sudah ke sekian kalinya tanduk itu muncul" gumam Yume sambil memotong tanduk yang ada di kening Gamiroku.


Bocah tersebut masih belum menyadari tanduk yang muncul di dahinya, karna setiap kali tanduk itu muncul maka Gamiroku akan tertidur.


"Aku tidak tau siapa orang tuamu, yang jelas mereka telah menjadikanmu sebagai korban dari ilmu sihir..." ucap Yume, ia mengusap-usap kepala Gamiroku dengan lembut.


Keadaan tubuh Gamiroku yang penuh lebam serta luka membuat Yume meneteskan air matanya, bagaimana pun juga, Gami adalah anak yang kuat.


Ia tak pernah menyerah pada takdirnya, ia juga selalu menerima teman-temannya, padahal mereka selalu mengkhianati Gamiroku.


Apa boleh buat? Seorang anak yang selalu kesepian, tak punya orang tua, memang harus bertahan pada takdirnya.


Yume membiasakan Gamiroku untuk tidak menangis ketika ia merasa kesakitan, sebaliknya, Gamiroku harus tersenyum ketika ada yang menghina atau menyakitinya.


"Di padang rumput yang luas.....~" Yume mulai bernyanyi.


"Terdapat seorang anak....~"


"Melankolis......~"


"Menerima takdir apa adanya......~" wanita tersebut terus bersenandung sembari mengusap kepala Gamiroku yang tertidur diatas pahanya.

__ADS_1


"Kemana takdir membawa kita pergi, disanalah rumah kita......~"


Mendengar sang Ibu bernyanyi, Gamiroku pun terbangun sambil tersenyum dan menyimak nyanyian Ibunya.


"Kenapa Ibu berhenti bernyanyi?" tanya Gamiroku.


"Kau sudah bangun rupanya, dasar anak nakal" Yume terkekeh sambil menggelitik tubuh Gamiroku.


"Geli bu hahahaha" Gamiroku tertawa terbahak-bahak hingga lupa rasa sakitnya.


"Yasudah, Ibu akan menyiapkan makan siang. Kau belum makan kan?" tanya Yume.


"Iya Bu, lalu bagaimana dengan baju Gami?" tanyanya.


"Ibu sudah membeli yang baru, pakai saja" Yume tersenyum sambil beranjak pergi.


Kemudian Gamiroku menatap pakaian yang ia ambil dari pedagang di pasar, lantas dia memakainya dan kembali menghampiri sang Ibu.


"Apa Ibu sudah memaafkanku?" tanyanya ragu.


"Ibu sudah memaafkanmu" wanita tersebut tersenyum seraya mencium kening Gamiroku.


Situasi berubah kian mencekam tatkala tanahnya bergetar begitu hebat, Ibu dan anak itu kemudian berlari keluar rumahnya menuju tempat terbuka. Namun karna rumahnya berada diantara lereng gunung, mereka sulit menemukan tempat terbuka.


Tak hanya tanah yang bergetar, hujan pun ikut turun dengan lebatnya membuat lereng-lereng longsong hingga menimbun rumah mereka, mata bocah tersebut membelalak tatkala melihat rumah yang selama ini ia tinggali lenyap dimakan tanah.


"Gami Awas!" teriak Yume, longsoran tanah turun dan menutupi jalan mereka.


"Ibu aku takut!!" pekik Gamiroku, dia memeluk sang Ibu.


"Semuanya akan baik-baik saja..." balas Yume dengan nada gemetar, sejujurnya, wanita itu tengah kelimpungan mencari jalan agar ia dan anaknya bisa pergi ke pusat kota.


"Ayo jalan sini" mereka memilih jalan memutar untuk pergi ke pusat kota, gempa masih terjadi dan membuat mereka kesulitan berjalan, ditambah lagi hujan yang deras membuat pandangan mereka terbatas.


"Apa yang harus aku lakukan.... Ya Tuhan..." batin Yume.


Kemudian, sebuah kereta kuda meluncur kearah mereka. Sontak Yume yang melihat kereta itu langsung mencegatnya.


"Aku mohon biarkan aku dan anakku menumpang..." lirihnya, melihat kondisi tubuh Gamiroku yang babak belur, akhirnya pria tersebut mempersilahkan mereka berdua naik ke kereta kudanya.


"EVAKUASI SEMUA KELUARGA KERAJAAN!" teriak Goidam, seluruh pasukan dan keluarganya ikut panik karna guncangan yang menghancurkan sebagian kota itu.


"AYO CEPAT LINDUNGI TAMA DAN TARA!!" sambungnya, kemudian dia berlari membawa Sasha serta kedua anaknya dan yang lainnya keluar istana.


Gempa terjadi cukup lama hingga banyak kerusakan bahkan setengah bangunan di kota runtuh karna bencana alam tersebut. Selain kerusakan materi, korban jiwa pun mulai berjatuhan.

__ADS_1


__ADS_2