Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Malapetaka


__ADS_3

Di tengah perjalanan, kereta kuda yang mereka naiki tergelincir ke samping jurang, sontak Yume melempar tubuh Gamiroku sekuat tenaga ke tepian sebelum kereta itu benar-benar jatuh.


"Terus berjalan Gami.....maka kau akan tetap hidup....!!!" teriak Yume di iringi isak tangis dan senyum yang mengharukan, kemudian benda itu terjatuh bersama Yume dan seorang pria di dalamnya.


"Tidaakkk!!!!!! Ibu!!!!" teriak Gamiroku, dia hanya bisa menangis sambil menatap jurang yang tak memiliki dasar tersebut.


"Tidak......" dia tertunduk, air matanya tak henti mengalir dari kedua matanya yang indah.


Seketika hujan mereda dan gempa pun berhenti, meninggalkan kenangan yang buruk bagi kerajaan Silvercast. Orang-orang yang kehilangan keluarga mereka menangis tersendu-sedu di samping bangunan yang telah hancur.


Begitu juga dengan Gamiroku, Yume adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Sekarang semua kenangan yang ditinggalkan sang Ibu akan selalu tersimpan di dalam hatinya.


Perlahan dia beranjak dengan kaki yang gemetaran dan tatapan yang kosong, bocah itu masih syok dengan apa yang di alaminya. Dia berjalan tanpa arah mendaki gunung menyebrangi hutan menuju perbatasan.


Matanya menjadi sembab karna terus menangis, berhari-hari dia berjalan tanpa arah, mendaki bukit, menyebrangi sungai, tanpa makanan dan minuman hingga tubuhnya menjadi kurus.


Pada suatu saat, Gamiroku berjalan menuju sebuah daerah di tengah hutan.


Daerah itu hanya dihuni oleh beberapa orang saja, kebanyakan mayoritas anak-anak. Kemudian salah satu penghuni tersebut melihat Gamiroku berjalan kearahnya dengan pakaian yang lusuh dan wajah yang kelelahan.


"Hei kau lihat itu?" tanya seorang wanita sambil menyeringai.


"Ya, dia sangat cocok" jawab pria yang ada di sebelahnya.


Mereka berdua menghampiri Gamiroku, lantas menawarinya untuk bermalam di rumah mereka. "Kamu pasti lelah, bagaimana kalau bermalam di rumah kami saja? Oh ya siapa namamu?" tanya wanita itu.


"Gami....Gamiroku" jawabnya lirih.


"Nah, Gamiroku. Hari mulai gelap, kau harus segera masuk sebelum ada hewan buas yang akan memakanmu" pria tersebut membawa Gamiroku ke rumahnya dengan tergesa-gesa.


Mereka menyadari adanya keanehan pada tubuh Gamiroku, di keningnya ada dua benjolan, juga matanya yang berbeda warna. Lantas mereka membawanya ke sebuah ruangan yang temaram.


"Kamarmu disini ya" ucap wanita itu, kemudian dia menutup pintunya rapat-rapat dan menguncinya dari luar.


Bocah tersebut hanya terdiam, perlahan dia duduk dan kembali menangis tanpa suara. Terdengar suara rintihan dari kegelapan di depannya, segera Gamiroku menyadari hal itu lantas menyeka semua air matanya sambil berdiri.


"Siapa?" tanya Gamiroku ragu.


"Jangan dekati aku! Aku monster!" jawab sosok tersebut, suaranya sangat imut nan lembut.


"Aku tidak tau kau monster atau bukan, disini gelap. Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas" ujar Gamiroku.


"Jika kamu melihatku, apa kau akan takut?"


"Aku tidak tau"

__ADS_1


"Menjauhlah dariku! Jangan mengangguku!" bentaknya, sontak Gamiroku yang penasaran pun mencoba mendekati sosok tersebut.


"Kubilang jangan mendekat!" dia terus memperingatkan, namun Gamiroku terus mendekat.


Dia memicingkan matanya, lalu dia melihat sebuah sayap yang besar nan kokoh tengah menyembunyikan tubuh mungilnya. "Aku bilang jangan mendekat!" dia berteriak dan membalikkan tubuhnya.


Mata Gamiroku membulat sempurna, sosok itu ternyata adalah seorang gadis bersayap elang, rambutnya keriting dan kuku tangannya sedikit panjang.


"K-kau...." lirih Gamiroku.


"Sudah ku bilang aku ini monster" gadis itu menunduk dengan mata yang sayu.


Perlahan Gamiroku kembali duduk seraya menyenderkan tubuhnya ke dinding, dia menatap langit-langit rumah tersebut. Air matanya kembali mengalir, ia masih belum melupakan kejadian itu.


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya.


"Entahlah, rasanya menyakitkan" jawab Gamiroku.


"Apa kamu tidak takut kepadaku?"


"Untuk apa?" Gamiroku menatapnya sejenak.


"Orang-orang yang bertemu denganku biasanya akan langsung lari atau pingsan. Aku adalah salah satu korban ilmu sihir orang tuaku" ujarnya, ia ikut menyenderkan tubuhnya di samping Gamiroku.


"Tidak ada yang menakutkan selain kehilangan orang yang kita sayangi. Aku kehilangan Ibuku dan rasanya sangat menyakitkan...." balas Gamiroku.


"Siapa namamu?" tanya Gamiroku.


"Sohana.....Namamu?"


"Gamiroku"


"Matamu.....mengapa warnanya berbeda? Dan kenapa kau hanya memiliki satu tangan?" tanya Sohana, dia memperhatikan wajah Gamiroku lekat-lekat.


"Ibuku bilang, aku adalah anak yang istimewa...."


"Wah enaknya, andai saja ada yang mengatakan itu kepadaku..... Pasti ibumu sangat menyayangimu kan?"


"Tentu saja"


"Aku selalu berharap mempunyai orang tua yang menyayangiku, tapi sepertinya hal itu takkan terwujud kan?" Sohana tertawa kecil sambil meneteskan air mata.


"Memangnya kemana orang tuamu?" tanya Gamiroku.


"Mereka menjualku ke tempat ini"

__ADS_1


"Apa?!"


"Kau belum tau ya? Anak-anak yang ada disini akan di jual kepada orang-orang kaya, biasanya mereka disuruh untuk melakukan pekerjaan orang dewasa" jelas Sohana.


"Jadi anak-anak yang diluar itu...." Gamiroku mengintip keluar jendela.


"Ya, anak-anak itu akan di jual, yang punya tubuh lemah akan disingkirkan untuk di siksa" jawabnya.


"Mereka tidak punya hati!" ucap Gamiroku geram tatkala melihat anak-anak yang sedang di cambuk. Sohana beranjak dan menyalakan lilin.


Ketika ruangan menjadi terang, Gamiroku bisa melihat lukisan yang dibuat oleh Sohana. Lukisan itu menunjukkan sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan.


Namun dalam lukisan tersebut, ada seorang anak yang sendirian, ia tengah memeluk kedua lututnya, matanya sayu, tapi bibirnya tersenyum bahagia.


"Yang ini aku lho" Sohana menunjuk lukisan anak yang kesepian itu dengan bangga.


"Kenapa bibirnya tersenyum?" tanya Gamiroku.


"Iya, orang lain tak boleh melihat kesedihanku, selain diriku sendiri. Mereka hanya ingin tau tapi tak peduli" ujarnya.


"Mumpung kau ada disini, aku akan melukismu juga" sambung Sohana, dia melompat-lompat kegirangan.


"Kau melukisku? Bagaimana caranya?"


"Aku mencabut satu helai bulu sayapku, lalu aku akan mulai dengan cat ini, tarik garis matanya kesini dan kesana" jawabnya.


Sohana mengobrol dengan Gamiroku sembari menggambarnya, dia menggunakan beberapa cat yang sudah tak digunakan lagi. Kemudian mereka melukis seluruh ruangan dengan antusias.


Anak-anak yang di cambuk tadi kemudian di masukkan ke dalam kereta kuda dan dikirimkan ke pusat kota. Perdagangan manusia masih terjadi di wilayah kerajaan Rhombus juga Silvercast.


Raut wajah mereka begitu menyedihkan, seolah tak ada hal yang mampu membuat mereka bahagia. Dunia ini begitu kejam, bahkan masa kanak-kanak mereka pun direnggut begitu saja.


Apalagi sebagian anak perempuan jadi korban pelecehan seksual dan pemuas nafsu bagi para berandalan. Hal ini sering terjadi di kerajaan Silvercast yang katanya menjunjung tinggi hak wanita, namun pada kenyataannya masih banyak wanita yang menjadi korban pemerkosaan.


"Aku berencana untuk melarikan diri dan mencari Kakakku" ucap Sohana, wajahnya di penuhi cat.


"Kau punya Kakak?" tanya Gamiroku yang tengah mengoleskan cat di dinding.


"Ya, kakakku laki-laki dan namanya Gyosana. Beberapa bulan yang lalu, kakakku di jual entah pada siapa"


"Kenapa kau masih disini?"


"Siapa yang mau membeli kutukan sepertiku? Kakakku normal, makanya dia laku terjual"


"Lalu apa rencanamu?"

__ADS_1


"Aku akan keluar setelah aku selesai membuat lubang di atap" Sohana menunjuk atap yang sedikit berlubang sambil menyeringai.


__ADS_2