
"Sebarkan rumor tentang manusia iblis ke seluruh penjuru wilayah" bisik Goidam pada Gyosana.
"Baik, akan saya laksanakan" kemudian ia berlari menjauh menuju pusat kota.
Tak lama waktu berselang, Sohana dan Lilac pun tiba ke lokasi dimana Gamiroku jatuh tak sadarkan diri. Saat mereka tiba, Goidam masih berdiri dan menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan pada Gamiroku!" teriak Sohana.
"Dia tidak pantas hidup di dunia ini" jawabnya.
"SIAPA KAU YANG BERANI MEMUTUSKAN?" Sohana berbalik menatapnya.
"Dia anakku, aku punya hak atas dirinya!" celetuk Goidam, kedua mata indah gadis itu pun membulat sempurna seakan tak menyangka.
"Kau....bukankah kau Raja Silvercast?!!" tanyanya.
"Ya"
"Dasar manusia tidak berakhlak!—Kau tidak tau betapa sulitnya hidup di dunia yang tak adil ini!"
"Memangnya aku perduli?"
"Seharusnya iya! Karena rakyatmu mengalami hal yang sama!"
"Persetan dengan rakyatku, mereka tak lebih dari seorang budak yang bisa aku manfaatkan" dia menyeringai.
"Itukah yang selalu di pikirkan seorang pemimpin?"
"Tidak juga. Kau terlalu banyak bicara nona cantik, lebih baik kau membiarkan aku mencicipi dirimu"
"Brengsek!" makinya jengkel.
"Andai aku punya kedua sayapku, maka aku akan menghancurkan keegoisannya itu!" batin Sohana.
"Sohana..." panggil Gamiroku terbata-bata, tangannya berusaha menggapai tubuh Sohana. Sontak gadis tersebut menatapnya dan perlahan Gamiroku menggeleng.
"Argh, baiklah. Aku akan pergi, tapi suatu hari nanti aku pasti akan membalasnya!" ancam Sohana, lantas dia menaruh tubuh Gamiroku keatas punggung Lilac dan kemudian melaju menuju desa terdekat untuk mengobati lukanya.
"Ayah!" teriak Tama, dia baru sampai bersama kudanya.
"Kenapa kau kesini?" pria itu terkejut.
"Kenapa pasukan Ayah banyak yang Mati?" tanya Tama, dia turun dari kudanya dan menghampiri sang Ayah.
"Kami baru saja berperang" jawabnya lirih.
"Ouh begitu, aku ingin bertanya satu hal"
"Apa?"
__ADS_1
"Mengapa Ayah merahasiakan anak pertama Ayah dariku dan Tara?"
"Apa maksudmu? Kamu adalah Anak pertama, Tama" Goidam berbohong.
"Benarkah? Lalu mengapa Ayah terlihat tidak nyaman? Biasanya ketika Ayah berbohong, maka Ayah akan mengusap-usap hidung"
"Ahahahaha....Sedetail itu kau mengetahui kebiasaanku?" tanya sang Ayah.
"Jangan mengalihkan pembicaraan" ketus Tama.
"Ah itu....."
"Lukisan seorang wanita yang selalu terpajang kamar Ayah adalah Ibu dari Kakakku kan?"
"Bagaimana bisa kau tau?" dia tersentak.
"Jawab saja"
"Baiklah, Ayah menyerah. Kakakmu adalah orang yang jahat dan Ibunya adalah pengkhianat kerajaan kita, dia merencanakan pembunuhan Ayah. Sekarang anak itu tlah menjadi iblis yang sering mendatangkan bencana ke wilayah kita" ujar Goidam.
"Lalu kenapa dia masih bisa berkeliaran di luar sini? Mengapa Ayah tidak langsung mengakhiri hidupnya? Kalau dia Jahat, maka dia akan merencanakan kematian Ayah dan menghancurkan keluarga kita. Selain itu, dia iblis!" ujar sang anak.
"Itu yang akan Ayah lakukan, namun sayangnya Kakakmu ahli dalam melarikan diri"
"Siapa namanya?"
"Gami—Gamiroku"
Sepanjang perjalanan, Sohana terus memegangi tubuh Gamiroku sambil menyemangatinya untuk terus bernafas. Tatkala sampai di suatu desa, dia langsung bertanya pada warga sekitar.
"Permisi, apakah ada tabib di daerah ini?" tanya Sohana, alih-alih menjawab, nenek tua tersebut berlari masuk kerumahnya dan menutup jendelanya rapat-rapat, begitu pun semua orang ketika melihat kedatangan mereka.
"Ada apa ini? Apa aku semenyeramkan itu?" tanya Lilac yang kebingungan.
"Bagaimana ini......." dia mulai frustasi sambil menatap Gamiroku.
Perlahan mereka kembali mencari bantuan disekitar desa tersebut, akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang berani menjawab dan kebanyakan dari mereka berlari masuk ke rumahnya masing-masing.
Sampai pada suatu berita tertulis dilengkapi sketsa wajah Gamiroku yang tertempel di batang pohon, gadis berambut ikal tersebut membacanya secara perlahan.
"Bahaya iblis menyerang Kerajaan Silvercast....dia sudah membunuh banyak orang serta mendatangkan banyak bencana..."
Sontak matanya berlinang, dia tak percaya ada orang yang tega menyebarkan berita bohong kepada semua orang.
"Ada apa?" tanya Lilac di belakangnya.
"Aku tau kenapa mereka semua menghindari kita, itu karena rumor buruk yang sudah tersebar tentang Gamiroku"
Mereka berdua melamun sejenak hingga teriakkan warga menyadarkan Lilac dan Sohana. "Usir mereka dari desa kita!" / "Tidak boleh ada iblis yang tinggal disini!" . Mereka membawa alat tajam dan obor di tangan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Sohana dengan nada gemetar.
"Ayo lari! Naik ke punggungku! Cepat!" bentak Lilac.
Tapi Sohana masih berdiri di tempatnya, kenangan buruk masa lalunya kembali menghantui Sohana. Dulu, ia pernah mengalami kejadian dimana warga desanya membakar rumah yang ia tempati bersama kedua orang tuanya hingga dia dan sang Kaka terpaksa di jual untuk membiayai kehidupan kedua orang tuanya yang egois.
"Huh...Apa ini?" gumamnya, semuanya seolah melambat dan dia masih bisa merasakan ketakutannya yang sudah lama memudar.
Sebuah genggaman tangan tiba-tiba membuatnya tersentak. "Ayo lari bersama" bisik Gamiroku sambil tersenyum hangat.
"Kenapa? kenapa kau menampakkan senyum bodoh itu setelah semua yang kau alami, Gami?" batin Sohana.
Kemudian dia berbalik dan berlari bersama Gamiroku juga Lilac, mereka berlari cukup jauh sampai menghilang di pegunungan.
"Jadi kau berhasil menusuknya tepat di dada?" tanya Yola kepada Gyosana.
"Iya dan Yang Mulia Raja masih ada disana"
"Ck, Raja terlalu mudah untuk aku kendalikan" gumamnya.
"Lalu bagaimana? Apakah anak itu mati?" sambung Yola.
"Saya tidak tau, tapi kemungkinan besar dia sudah mati"
"Hm,, kedua sayap ini membuat kekuatanku bertambah besar" ujar Yola membuat Gyosana bingung.
"Maksudnya, Perdana menteri?" tanyanya.
"Kau tidak usah memahami semuanya, kau hanya tinggal melaksanakan perintahku"
"Baiklah, saya akan pergi" lantas dia melangkah keluar.
Kemudian dia berpapasan dengan Tara di koridor istana, sontak Tara langsung memegang tangan Gyosana mengingat dia adalah jendral perang Silvercast.
Deg......deg.......deg.......deg
"Mengapa jantungku berdebar?" batin Tara, lalu dia terburu-buru untuk melepas pegangan tangannya.
"Ada apa Tuan Putri?" tanya Gyosana sopan.
"Kau berperang bersama Ayahku kan? Dimana dia sekarang?" balasnya gugup.
"Beliau dalam perjalanan pulang Tuan Putri, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu" dia membungkukkan badannya dan pergi dari hadapan gadis itu.
"Syukurlah Ayahku selamat.... dan dia masih sama seperti dulu" gumam Tara.
Sebenarnya, Tara menyukai Gyosana sudah sejak lama ketika pria tersebut melangkahkan kakinya secara tak sengaja ke kamar sang Putri.
Kala itu, dia mengira kalau Gyosana adalah pelayan barunya sehingga dia menyuruhnya untuk mengambilkan handuk mandi serta menyiapkan makanan untuknya. Setelah mengetahui semuanya, Tara menjadi sangat malu namun enggan untuk meminta maaf.
__ADS_1
Semenjak itulah dia menyukai Gyosana dan menyimpan perasaannya terlalu dalam, mengingat Gyosana adalah pria kaku yang terlalu disiplin.