
Sekian lama dia merenung di atas bukit, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Tapi tiba-tiba banyak orang yang berteriak di pusat kota hingga teriakkanya terdengar oleh Gamiroku.
Matanya membelalak tatkala melihat ribuan anak panah yang menghujani kerajaan Rhombus, serangan mendadak yang dilakukan pihak kerajaan Silvercast membuat persahabatan antar kerajaan itu hancur dan juga membunuh banyak orang yang tak bersalah.
"Danma!" pekik Gamiroku, dia langsung berlari secepatnya kembali ke rumah.
Keringat bercucuran dari dahi sampai ke lehernya, tempat yang bertahun-tahun menjadi perlindungan sekaligus persembunyianya kini telah hangus terbakar.
Api memantul dari kedua pupil matanya yang indah, Gamiroku hanya bisa menyaksikan kejadian itu sambil berdiri di balik pohon mengingat banyak prajurit yang tengah membakar rumah dari jerami dan kayu itu.
Serangan yang sama pun kembali di lakukan oleh pihak kerajaan Silvercast dibawah perintah Jendral Gyosana. Maksud dari penyerangan tersebut adalah untuk memperluas wilayah kerajaan Silvercast.
Banyak orang yang menderita selama penyerangan berlangsung, banyak orang pula yang kehilangan orang tua, suami, dan anak mereka. Namun di sisi lain, Kerajaan Silvercast sedang sibuk merayakan kematian orang-orang, mereka tertawa diatas penderitaan orang lain dan tidur nyenyak bersama tangisan para rakyat Rhombus yang kehilangan orang tersayang.
"Mereka jahat sekali......." lirih Gamiroku, dia bersembunyi di hutan Arang seraya menggenggam kalung Liontin milik mendiang ratu Asuri.
Hari semakin gelap, akan tetapi peyerangan masih di lakukan terhadap kerajaan Rhombus, selain itu, mereka juga membakar beberapa hutan dan rumah yang akan menghalangi pergerakan mereka.
"Wilayah selatan Silvercast sudah kembali ke tangan kita Jendral" ucap seorang prajurit.
"Bagus, kita harus terus mendesak raja Theo agar dia menyerahkan seluruh wilayah Rhombus" jawab Gyosana sambil tertawa puas.
"BAGAIMANA MEREKA BISA MENYERANG KERAJAAN KITA? BUKANKAH GOIDAM SUDAH MENANDATANGANI SURAT PERDAMAIAN? BISA-BISANYA MEREKA MENGKHIANATI KITA!" teriak Theo frustasi, dia melaksanakan rapat mendadak yang dihadiri para petinggi dan para menteri Rhombus.
"Sudah aku bilang sebelumnya mereka tidak bisa dipercaya Raja" ucap Perdana Menteri yang bernama Yamanaka.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan kerajaan kita?" tanya Theo.
"Kita harus membuat stategi baru" jawab Ueshita, Jendral perang Rhombus.
"Selama itu, kita harus mengevakuasi para warga ke tempat yang aman" timpal Yamanaka.
"Kalau begitu kerahkan semua prajurit yang ada untuk mengevakuasi para warga!" ucap Theo yang sudah membuat keputusan.
Keadaan semakin kacau nan rumit ketika Gyosana meluluhlantakkan kawasan yang menjadi primadona di kerajaan Rhombus, yaitu Kota Gorudo.
"Kenapa takdir selalu tak berpihak padaku? aku sudah kehilangan segalanya. Setiap kali aku mendapatkan cinta, setelahnya hanya akan ada kepahitan" ucapnya sambil menyenderkan kepala ke batang pohon, pikirannya melayang-layang jauh ke angkasa.
"Kenapa......" pria tersebut mulai meneteskan air matanya, di langit malam yang seharusnya penuh bintang kini tampak berbeda dengan ribuan panah yang meluncur menewaskan siapa saja yang tak bersalah.
"Itu karna kau pahlawan sejati, Anakku" ucap Asuri yang tengah menatap langit.
"Aku bukan pahlawan dan aku tak mau jadi pahlawan" jawab Gamiroku.
__ADS_1
"Kau yakin? Kau sudah diajari banyak hal bukan? Kenapa kau tidak menggunakannya untuk hal yang bermanfaat?" Asuri menatapnya dengan tubuh yang transparan nan bersinar.
"Entahlah, aku tidak yakin apa aku bisa" celetuknya.
"Khm.....dasar. Seharusnya kau bersyukur"
"Untuk apa?"
"Ya....setidaknya masih ada keluargamu yang hidup"
"Siapa?"
"Ayahmu" jawabnya, kemudian dia tertunduk seolah menyesal telah mengatakan hal itu kepada Gamiroku.
"Jangan bilang kau adalah Ibu kandungku" Gamiroku terkekeh sembari memeluk kedua lututnya.
"Kau sudah tau ya"
"Aku tak percaya, tapi aku akan mencari tau dan membuktikannya" balasnya, lantas dia beranjak dan berjalan menjauh dari sang Ibu.
"Buktikan pada Ayahmu kalau kau pantas hidup, anakku" ucap Asuri lirih lalu menghilang ditelan kegelapan.
Dia melangkah tanpa ragu mendekati kekacauan yang terjadi di Kota Gorudo, di tengah-tengah perjalanannya, dia menemukan seseorang yang terluka parah. Gadis tersebut mengerang kesakitan, sontak Gamiroku langsung menghampirinya, berniat untuk membantu.
"Kau tak apa?" tanyanya, dia membalikkan tubuh gadis itu dan betapa terkejutnya ia tatkala menemukan teman masa kecilnya terluka.
"Sohana!! Kau kenapa?!!! Dimana kedua sayapmu hah?!" tanya Gamiroku.
"Dia memotong sayapku...."
"Dia siapa?!"
"Penyihir itu"
"Siapa?!
"Yo—la" ujarnya sebelum ia tak sadarkan diri.
"Sohana! Sohana?!" pria itu menepuk-tepuk pipi Sohana namun ia tak kunjung sadarkan diri, akhirnya Gamiroku membawa tubuh Sohana di punggungnya, dengan susah payah dia berjalan ke Kota Gorudo.
Disana banyak orang yang berteriak frustasi ketika melihat rumah mereka hangus terbakar. Tak sedikit pula yang meninggal karna tertusuk anak panah di sekujur tubuhnya.
"Tidaakkk!!! Suamiku!!! Aaaarrghhh!!!" teriak seorang wanita paruh baya sambil menangis tersendu-sedu.
__ADS_1
"Aku hanya harus mencari tempat yang aman" gumamnya, dia terus berjalan tanpa memperdulikan sekitar.
"Gami.....Biarkan saja aku mati" ucap Sohana terbata-bata.
"Tidak bisa, aku tidak mau kehilangan orang yang kusayang lagi!" jawab Gamiroku lantang.
Mendengar kata 'orang yang kusayang' perlahan bibir Sohana membentuk sudut, dia tersenyum seraya meneteskan air mata.
Gamiroku membawa Sohana ke sebuah rumah di ujung kota, berbekal ilmu dari Danma, dia mulai meracik beberapa ramuan untuk menyembuhkan luka Sohana.
"Mungkin ini sedikit sakit, tahan ya" ucap Gamiroku pada Sohana.
Kemudian dia menempelkan ramuan itu tepat di luka bekas sayapnya, sontak Sohana yang tak kuasa menahan rasa sakit menjerit keras.
"Sakit!!" pekik Sohana.
"Kubilang tahan, rasa sakit ini hanya akan bertahan beberapa detik saja" ujar Gamiroku.
"Tidak!! Sakitnya masih terasa!!" balas Sohana.
"Jika masih terasa, itu artinya obat ini masih bekerja"
"Aku sudah tidak tahan lagi!!! Lepaskan!! Lepaskan!!" teriak Sohana.
"Tenang atau lukamu akan terasa lebih sakit" ucap Gamiroku, sontak Sohana pun terdiam karna dia memang merasa lebih kesakitan ketika ia bergerak.
Setelah melewati pengobatan yang cukup panjang, akhirnya Sohana tertidur dengan posisi menelungkup.
Sedari tadi, Gamiroku hanya melamun di ambang pintu sembari menyaksikan kehancuran yang terjadi di kota tersebut.
Orang-orang menangis dan berteriak, akan tetapi tak ada yang mempedulikan. Pria itu kembali teringat tentang kecelakaan yang merenggut nyawa Yume.
Meskipun tampak tenang, sebenarnya Gamiroku terus memikirkan hal yang membuatnya tak bisa tidur. Bahkan sebagian hal itu membuatnya menangis.
"Siapa Ayahku?" gumamnya.
"Jika aku kembali apakah Ayah akan senang atau sebaliknya?" Pria tersebut membolak-balikkan liontin yang berupa permata hitam milik sang Ibu.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Yola kepada Gyosana.
"Belum"
"Menurutmu apa dia akan kesini dengan sendirinya?"
__ADS_1
"Ya, dia pasti akan mencari tau Ayah kandungnya"
"Kalau begitu, aku tak sabar menanti kehadirannya" Yola menyeringai dan tertawa terbahak-bahak di kamarnya.