Permata Hitam Diatas Bukit

Permata Hitam Diatas Bukit
Gamiroku


__ADS_3

Setelah kepergian Asuri yang meninggalkan bekas luka dihatinya, Goidam mulai membangun kehidupannya dengan menikahi Putri kerajaan lain, Ratu keduanya bernama Selima. Dia mengandung bayi kembar, namun Yola mengutuk kedua anak itu, alhasil keduanya terlahir cacat.


Karna ambisi untuk memiliki anak yang sempurna Goidam pun menceraikan Selima dan menikahi Putri lainnya yang bernama Shira. Nasibnya pun sama seperti Selima, Shira melahirkan anak yang cacat.


Tak sampai disitu, Goidam bahkan menikahi sepuluh wanita sekaligus, berharap mereka melahirkan anak yang sempurna. Akan tetapi, ke sepuluh wanita itu melahirkan anak yang cacat.


"Mengapa semua ini tidak berhasil" ucap Goidam kepada Yola.


"Aku tidak tau Yang Mulia"


"Aku sudah lelah"


"Mungkin jika anda menikahi Sasha, Yang Mulia akan mendapatkan anak yang sempurna"


Karna tak ada pilihan lain, akhirnya Goidam menikahi Sasha. Setahun setelah mereka menikah, Sasha melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Tama Ichi.


Tama lahir normal, begitu pun dengan anak kedua mereka yang diberi nama Tara Nima.


Mereka dibesarkan dengan penuh kasih sayang, karna baru kali ini anak-anaknya terlahir dengan keadaan normal, tidak cacat seperti sebelumnya.


Lalu bagaimana dengan anak anak Goidam yang lahir cacat? Mereka dibunuh dan dimasukkan ke lubang kematian, lubang yang sama dengan Asuri.


Setiap tahunnya, Goidam selalu merayakan hari kelahiran Tama dan Tara. Perayaan tersebut tak main-main, mereka mengundang para Raja dari seluruh negri. Dan membagikan kekayaan kerajaan kepada para raja yang menghadiri perayaan tersebut.


"Ini sudah ke sepuluh kalinya" gumam Yume sambil menatap seorang lelaki yang tengah duduk diatas bukit.


Matanya berwarna merah gelap dan biru terang, dia terlihat sangat tampan. Anak yang 'cacat' kini terlihat lebih sempurna dari apa yang diharapkan. Bukan fisiknya yang sempurna, namun hatinya.


Meskipun sering mendapat caci maki karna kondisi tubuhnya, Gamiroku masih sering tersenyum dan tertawa.


Dia mengikat rambutnya dan membiarkan poninya menutup sebelah matanya yang berwarna biru terang.


"Hey, kau sedang melihat apa?" tanya bocah laki-laki yang baru datang.


"Mereka melakukannya lagi, Wiki"


"Aku pernah dengar disana ada banyak makanan yang enak" ucap Wiki.


"Mhmm...Ya, aku ingin kesana dan melihatnya" balas Gamiroku.


"Roa pernah kesana bersama Tira dan Hanbi" Wiki ikut duduk di samping Gamiroku.


"Benarkah?"


"Yahmm..... Daripada terus menatap istana Silvercast, bagaimana kalau kita bermain di pasar?"


"Tidak ada yang mau bermain denganku Wiki"


"Apa kau bercanda? Aku menawarimu untuk bermain! Ayo!" Wiki menarik lengan baju Gamiroku, alhasil kedua bocah tersebut berlari menuruni bukit menuju pasar Koikidan.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia seakan dunia ini hanya dipenuhi dengan hal-hal yang manis. Hiruk-pikuk pasar Koikidan membuat mereka berdua kesulitan mencari temannya yang lain.


"Hei lihat! Itu Roa dan Hanbi!" pekik Wiki, dia menarik baju Gamiroku sekencangnya dan membawa tubuhnya berlari diantara kerumunan itu.

__ADS_1


"T-Tunggu! Wiki! Kau terlalu cepat! Aku akan terjatuh!" teriak Gamiroku, benar saja, kakinya tak sengaja menendang batu dan terjatuh sangat keras.


Alih-alih meminta maaf Wiki dan Roa malah tertawa terbahak-bahak tatkala melihat pakaian yang dikenakan Gamiroku sobek.


"Argh..." rintihnya, dia mencoba bangkit dan membersihkan sebagian wajahnya yang kotor.


Anak laki-laki tersebut meneteskan air matanya ketika melihat baju kesayangannya sobek disana sini. Tidak ada yang peduli pada kondisi anak itu, alhasil dia harus pulang dengan baju yang lusuh.


Gamiroku tertunduk sepanjang jalan seraya meneteskan air matanya. "Apa yang harus aku katakan kepada Ibu nanti?" batinnya.


Dia ingin mengeluh, namun siapa yang akan mendengarkan keluhannya? Dia lelah, namun masih mencoba bertahan pada kondisinya saat ini.


Sejujurnya, Gamiroku sangat ingin melihat kemewahan istana Silvercast. Dia sudah jemu menatapnya dari atas bukit.


Sesampainya di gubuk tua yang hampir roboh, dia menyebutnya sebagai 'rumah'. Ada seorang wanita paruh baya tengah bersiap pergi ke pasar.


Akan tetapi, anak itu tak punya keberanian untuk menghampiri sang Ibu, dia merasa bersalah karna telah merusak pakaian yang dibuatkan oleh Ibunya.


Bukannya langsung pulang, Gamiroku malah berlari ke air terjun, disana ia kembali merenung di tepi sungai sambil menikmati semilir angin yang menyegarkan.


Dia menatap tangan kanannya yang terluka akibat benturan keras, lalu dia menatap tangan kiri yang sejatinya tak pernah ia miliki. Perlahan butiran bening itu kembali menetes.


"Hei, Gami!" ucap Wiki, sontak Gamiroku menyeka semua air matanya.


"Maaf soal yang tadi yah" timpal Roa.


"Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau kita membeli pakaian baru untukmu?" tanya Wiki.


"Ya"


Tanpa curiga, Gamiroku mengikuti kedua temannya kembali ke pasar. Lantas mereka berdua berhenti di sebuah toko pakaian.


"Ayo ambil satu, kami sudah membayarnya" ujar Roa.


"Terimakasih teman-teman" balas Gamiroku sembari tersenyum, dia mulai memilih baju mana yang akan ia pakai. Roa dan Wiki berdeham, mereka berdua saling menatap.


"Um, Roa ingin membeli sesuatu, kami akan kembali setelahnya, tunggu ya!!" kata Wiki sambil tertawa dan berlari, disusul Roa.


"Mereka baik sekali..." gumam Gamiroku, lantas ia membawa pergi satu baju yang menurutnya bagus.


"PENCURI!!" teriak si penjaga toko, sontak semua orang menatap bocah tersebut yang tampak kebingungan.


"Aku tidak mencuri, teman-temanku sudah membayarnya..." jawabnya.


"PEMBOHONG! AYO KITA PUKULI SAJA DIA!" teriak para warga.


Mendengar suara keributan, Yume pun menjadi penasaran dan mencari asal suara itu. Betapa terkejutnya ia tatkala melihat tubuh Gamiroku diikat di sebuah tiang bambu dengan penuh memar dan luka.


"Tunggu!!!!!" Yume berlari menghampiri anaknya secepat mungkin.


"Kau kenapa hm??" tanya Yume lirih.


"A-aku bukan pencuri bu...." ujar Gamiroku, mulutnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Hei! Menyingkirlah! Pencuri ini harus di hakimi!" teriak salah seorang warga.


"Memangnya apa yang ia curi?" tanya Yume.


"Dia mencuri daganganku!" jawab Penjaga toko seraya menunjuk baju yang ada di samping Gamiroku.


"Apa yang aku bilang soal mencuri Gami?" tanya Yume penuh penekanan, sebelumnya, Gamiroku pernah dituduh mencuri perhiasan, alhasil Yume yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan anak angkatnya itu.


"Aku tidak mencuri bu, Wiki dan Roa, mereka—" belum selesai bocah itu berbicara, Yume sudah menggampar wajahnya begitu keras hingga dia menangis tersendu-sedu.


"Aku akan membayar pakaian yang ia curi, berapa harganya?" tanya Yume sembari tertunduk.


"Seratus tiga puluh lima koin perak" jawabnya, sontak Yume terkejut, mau tak mau, dia harus membayar kenalakan yang bahkan tidak dilakukan oleh Gamiroku.


"Baiklah, maaf...." Yume menunduk berkali-kali setelah memberikan sekantung koin perak kepada penjaga toko tersebut.


"Iya Nyonya, lain kali kau harus memberitau anakmu kalau mencuri itu tidak baik"


"Maaf...."


Para warga pun melepas ikatan Gamiroku dan membiarkannya pergi membawa benda yang ia curi.


Yume memutuskan untuk membereskan dagangannya hari ini karna ia terlanjur malu, sepanjang jalan pulang, ia hanya tertunduk seraya meratapi nasibnya.


Mereka berjalan melewati pepohonan menuju rumah, sementara itu Gamiroku berjalan tertatih-tatih karna kakinya menginjak benda tajam dan berdarah.


"Bu..." panggil Gamiroku, namun sang Ibu tak menjawab panggilannya dan terus melangkah.


"Wiki dan Roa bilang mereka akan membelikan baju baru untukku, mereka membohongiku dan membiarkanku dituduh jadi pencuri" jelas Gamiroku, sang Ibu tetap terdiam seribu bahasa.


"Perhiasan itu pun bukan aku pencurinya, tapi Hanbi, dia bilang akan menghadiahkan perhiasan itu pada Ibunya. Lalu dia menyuruhku untuk mengambil benda berkilau itu" Sambungnya.


"Bu....Aku bukan pencuri, karna aku tau mencuri itu tidak baik"


"Lalau kenapa kau masih melakukannya?" tanya Yume, dia berhenti ditempatnya.


"Bukan Aku bu...aku bukan pencuri" jawabnya.


"Gamiroku, nama itu aku ambil dari nama seorang hakim dan pejuang yang terkenal dari Silvercast. Namun mengapa sifatmu begitu berlawanan dengannya hah?!" Yume mencengkram keras kedua bahu Gamiroku.


"Jangan menangis! Anak laki-laki tidak boleh menangis!" teriak Yume ketika melihat Gamiroku mulai terisak-isak.


"Apakah anak laki-laki harus tetap tersenyum meskipun ribuan anak panah menusuk jantungnya, Bu?" lirihnya.


"Gami selalu berusaha untuk tersenyum walaupun Gami sangat ingin menangis Bu..... Roa dan Wiki sengaja menjebakku agar aku dimarahi lagi!" lirihnya frustasi, kemudian dua benjolan muncul di keningnya, seketika Yume terdiam.


"AKU—SELALU DIAM KETIKA ORANG MERENDAHKANKU. AKU SELALU MENDAPAT PUKULAN SETIAP KALI AKU MEMBUAT KENAKALAN YANG TIDAK AKU PERBUAT! MENGAPA?! MENGAPA BU?! JAWAB AKU!!!" sebuah tanduk seperti kerbau pun muncul dari dua benjolan itu.


Matanya yang berwarna merah gelap mulai berubah menjadi merah terang.


"SEBERAPA BANYAK AKU MENGATAKAN KALAU AKU BUKAN PENCURI, SEBERAPA BANYAK ITU PULA IBU TIDAK PERCAYA PADAKU!" dia berteriak sambil menangis tak karuan.


"Tubuhku terluka, begitu pun hatiku Bu. Setidaknya, jika ibu percaya padaku, hatiku mungkin tidak akan sesakit ini....." Gamiroku menatapnya dengan nata yang sayu, kini Yume hanya bisa mendengarkan semua keluhan anaknya yang selama ini selalu ia sembunyikan.

__ADS_1


__ADS_2