
"tok...tok...tok..."
"assalamu'alaikum" kuketuk pintu rumah om pras
"ehhh gil, sudah datang? " jawab novi sembari membukakan pintu.
Aku tertegun melihat novi hari itu, dia amat sangat anggun, cantik, indah, tak bisa kubandingkan dengan apapun itu.
"ohh iya nov,sudah siap?" jawabku grogi
"sudah nih, mau langsung berangkat?" tanyanya
"boleh deh" jawabku
Aku mencoba berdamai dengan perasaanku, mencoba menepiskan rasa grogi ini.
"omm nek, novi kekuar dulu ya" novi berpamitan dengan om pras dan neneknya
"ya, hati-hati ya. Jangan pulang malam" jawab om pras dan mendatangi kami
"ya om"
"pamit om mau ngajak keluar novi dulu" pamitku
"ya" jawabnya singkat dengan senyum simpulnya
Beberapa saat tidak ada sepatah katapun dari mulutku dan novi. Entah apa yang novi rasakan, yang jelas kurasakan masih seperti biasanya. Hanya grogi.
Ingin hati ini mengajaknya berbicara, tapi apa daya mulut dan psikisku tak kuasa.
Aku mencoba menetralisir semuanya. Kuberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"mau kemana kita nov?" tanyaku polos
"ya mana aku tau gil, kan kamu yang tau dengan daerah di sini" jawabnya santai
"ohhh iya ya" sambungku malu - malu
Kami tertawa kecil bersama
Karena bingung, akhirnya kuajak dia ke taman sore itu. Kupesan minuman dan makanan, lalu kunikmati sore itu. Sore yang tak biasanya, yang belum permah aku merasakannya.
"kamu sering ke sini gil?" tanyanya memecah keheningan
"ya, aku biasa menghabiskan sore di sini sepulang kuliah dengan teman-temanku"
"lusa kamu sudah mulai kerja ya nov?" lanjutku bertanya
"iya gil" jawabnya dengan senyum tipis di
"semoga betah deh kerja di sini,doain ya gil" lanjutnya
"ohhh iya nov, semoga betah dan sukses" jawabku
Kami berdua mengobrol kesana kemari. Seiring menghilangnya rasa grogiku. Novi orangnya ternyata santai, asyik diajak ngobrol dan bercanda.
Handphone ku berdering, ternyata ivan menelponku.
"halo, gimana van?"
"lagi di mana gil?"tanya nya
__ADS_1
"aku sedang di luar"
"yaudah nanti malam aja, keluar sama novi ya? Ciyeeeeee" ledeknya
"iyaaa udah ntar aja" lalu kumatikan telponku
"si ivan iseng aja" ucapku
"ohhh temenmu itu ya? Yang tempo hari ke rumah sama kamu?" tanya novi
"iya, biasa anaknya iseng" lanjutku
Tak terasa matahari pun mulai menghilang, gelap mulai datang, sudah saatnya kami pulang. Mengiringi rasa hati yang girang, entah apa yang membuat jiwa ini melayang - layang. Aku mulai terpesona dengannya.
"makasih ya gil?" ucap
"apa?" aku tidak mendengarnya karena malam itu sangat ramai sekali kendaraan lalu lalang di
"makasih gil" ulangnya lagi
"makasih untuk apa nov?" aku terheran
"makasih untuk hari ini" balasnya
"aku yang seharusnya berterima kasih nov, sudah mau kuajak jalan"
Apa novi merasakn gejolak yang sama denganku ya? Aku merasa GR.
"kapan - kapan bisa gak kita jalan lagi?" ajakku
"boleh gil, diatur aja.hehehe"
Setiba di rumah om pras, om pras dan nenek sudah menanti kami di depan teras.
"walaikumsalam, gakpapa gil. Gak terlalu malam ini"
"gimana nov? Jalan - jalan kemana aja sama agil?" tanya nenek
"di taman aja nek" jawabnya
"masuk dulu nak agil" ucap nenek
"makasih nek, mau langsung pulang aja" jawabku
"om, nov, pamit yaaaa. Assalamualaikum"
"walaikumsalam" jawab mereka kompak
Di rumah,setelah mandi langsung kuseduh kopi dan kuhisap rokok dalam - dalam. Sambil tersenyum - senyum mengingat momen yang baru saja terjadi tadi sore. Paras novi membayang dalam benak. Sedang asyik menikmati bayangan novi, lagi dan lagi ada yang datang mengagetkan. Ya, benar saja. Si Ivan datang,langsung meneguk kopi yang ada di hadapanku.
"srupuuuutttt...... "
"enak sekali kopimu malam ini gil, beda dari biasanya" "bagaimana tadi nyorenya? Asik dong? " tanya nya sambil cengengesan
"apaan sih van, itu minum aja udah kopinya. Gausah kepo" jawabku kesal karena dia mengganggu
"cerita dong gimana kalian tadi?"
"apa yang mau diceritain, ya sama seperti biasanya" jawabku
"seperti biasanya? Mana ada seperti biasanya gil, kamu aja baru ini jalan sama cewek" ledeknya
__ADS_1
"alaaahhh cerewet kau" umpatku
"ehhh van, aku harus gimana lagi ya? " tanyaku
"gimana apanya? Kalo suka ya ungkapin aja beres" jawabnya dengan sangat santai
"aku gak tau harus mulai dari mana"
"ahhh cupu" ledeknya.
Kuberanikan diri untuk meLayangkan pesan singkat untuk novi.
"sekali lagi makasih ya nov, sudah mau kuajak jalan" pesanku kukirimkan
"sama - sama gil" jawabnya singkat
"yaudah, selamat malam dan selamat tidur ya nov" ucapku
"good night gil" singkatnya
Detik demi detik terlewati, hingga dingin angin malam mulai menusuk kalbu. Tak seperti biasanya, akhir - akhir ini benakku berbeda dengan malam - malam sebelumnya. Parasnya selalu menghantui. Aku benar - benar sudah jatuh cinta.
Hari - hari pun menjadi berwarna, semangat itu selalu ada. Dia mampu membuatku tersenyum dan tertawa sendiri tanpa sebab. Tuhan, aku suka caramu merubah duniaku.
Pagi itu, kunikmati kopi hangat yang penuh harap.
"kamu dekat dengan keponakan pras ya gil?" tiba - tiba ibuku sudah duduk di sebelahku dengan pertanyaan demikian yang membuatku malu
"ehh buk, kata siapa? Ada - ada aja ibu ini" jawabku mengelak
"beberapa hari yang lalu kamu jalan dengan dia kan?" tanyanya lagi dengan menepuk pundakku
"dia cantik, sepertinya anak baik. Siapa namanya?" lanjut ibuku bertanya
"Novi bu" jawabku singkat sambil menyeruput kopi
"ohhh novi, bapaknya temen bapakmu" lanjutnya
"hahhh apa bu?" jawabku kaget
"iya, dulu bapakmu berteman baik dengan bapaknya si novi"
"kalo kamu suka dengannya, kejarlah" lanjutnya sambil tersenyum
"ada - ada saja ibu ini, kami hanya berteman bu" elakku dengan malu - malu
"gil, kamu itu anak ibu. Ibu merawat kamu sedari kecil. Jadi ibu tau kamu" "anak ibu sudah besar, sudah mulai jatuh cinta" lanjutnya
Aku hanya tersenyum malu.
"kamu dekat dengan anaknya yanto gil?" tanya bapakku yang keluar dari dalam rumah menyusul aku dan ibu di teras.
"gimana menurut bapak?" jawabku balik bertanya
"bapak kenal dekat dengan yanto, itu pilihanmu mau dekat dengan siapapun. Bapak dan ibu hanya bisa mensuport kamu" "satu pesan bapak, jangan pernah main - main dengan cinta. Kamu harus siap dan berkorban dengan segala situasi. Mempermainkan wanita itu hanya pria lemah. Pria sejati menjunjung tinggi wanitanya" ucap bapak menasihatiku
"iya pak" balasku tegas
Pagi itu obrolan kami sangat hangat. Mereka menceritakan banyak hal tentang kedekatan bapakku dan om yanto. Mereka menasihatiku banyak hal tentang cinta. Karena memang mereka tau aku belum pernah jatuh cinta.
Aku menjalani hari - hariku kini penuh dengan semangat dan penuh harap. Semua karena novi dan tentang novi.
__ADS_1
Kutekatkan dalam hati kecilku, "aku harus mendapatkannya" gumamku dalam hati.
Kini setiap hari aku sering berbalas pesan singkat kepada novi. Kini aku juga yakin, dia memiliki perasaan yang sama denganku. Semoga.....