Permisi, Cinta!!!

Permisi, Cinta!!!
apel


__ADS_3

"gimana dengan novi?" tanya ivan


"gimana apanya?" tanyaku balik


"ya gimana perkembangan hubungan kalian? Sudah jadian apa belum?" tanya nya lagi


"belum van, aku ragu dan belum berani mengutarakan perasaanku" ucapku


"apa yang kau ragukan gil? Menang ganteng doang, nyali gak ada"


"aku gak tau harus memulai dari mana"


"ntah GR atau apa, sesungguhnya aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku"


"ya kalo kamu yakin, tembak dong" ujar ivan


"enak banget kamu ngebacot, aku takut ditolak" ucapku minder


"katanya yakin, berarti belum yakin kalo masih takut. Gimana sih,cupuuuu!!!" ivan meledekku


"gimana caranya van? Ajarin dong" rengekku


"sinikan dulu rokokmu, pesankan aku dulu es dan makanan" pinta ivan


"siap bosssss" akupun ibarat kerbau yang dicolok hidungnya, menuruti perintah


Aku memesan es dan makanan untuk kami.


"gimana van?" dengan semangat aku bertanya ke ivan


"ajak di tempat yang syahdu, ajak ngobrol. Sekiranya momennya pas, utarakan perasaanmu" ivan mengajariku


"aku takut ditolak van"


"ditolak? Ya kejar lagi lah" jawabnya songong


"cinta itu tidak mengenal rasa malu gil. Bahkan cinta bisa menghilangkan rasa malu" imbuhnya lagi


"oke, besok kucoba" ucapku percaya diri


"mau tambah makan apa lagi bos? Atau minum?" aku bersemangat menawarkan makanan dan minuman ke ivan


"ahhh lebay. Cinta bisa menghilangkan malu tapi membuat kita bodoh" ujar ivan


Di warung kopi malam itu terasa dingin, dan kami sampai larut malam membahas tentang novi. Ivan mengajarkan banyak cara tentang bagaimana mengungkapkan perasaan. Hingga akhirnya kami pulang.


Keesokan harinya,


Mentari membangunkanku dari jendela kamarku. "Sudah siang rupaanya, aku belum sempat mengucapkan selamat dan semangat pagi untuk novi" gumamku dalam hati


Kubuat kopi pagi, dan kunikmati rokokku. Seperti itulah kebiasaanku dipagi hari. Yang sedikit berubah dan menambah kebiasaan adalah hadirnya novi.


Sambil kunikmati kopi, kupikirkan bagaimana caranya mengungkapkan cinta ke novi. Ada ragu, bimbang, takut, malu dan sejenisnya menghantui


Kuambil handphonku, hendak kuputar lagu untuk menemani pagiku yang indah. Ternyata ada pesan masuk


"selamat pagi gil, hati - hati ya berangkat kuliahnya, semangaaaat. Aku berangkat kerja dulu" ternyata pesan dari novi.


Rasanya melayang hati ini, novi mengirimku pesan terlebih dulu. Sepertinya dia pun menyukaiku.


"pagi juga nov, semangat juga kerjanya" balasku


Aku mendatangi ibuku yang sedang di dapur memasak


"bu, dulu bapak pas ngungkapin perasaannya ke ibu gimana?" tanyaku malu - malu


"kenapa gil kok tiba - tiba tanya begitu? Kamu mau nembak si novi?" jawab ibu sambil tersenyum


"enggak bu, cuman nanya saja" elakku


"kalo memang iya, ibu setuju" ucap ibu

__ADS_1


"bapakmu itu orangnya gak romantis, ibu pun gak diajak pacaran" imbuh ibu


"lalu kenapa kalian menikah?" tanyaku bingung


"bapak bilang, bapak ngajak menikah" "ya ibu pinta ke bapak, bilang langsung ke orang tuaku" jelas ibu


"terus bapak mau?" tanyaku penasaran


"ya buktinya sekarang kita ada di sini" jelas ibu


"pria sejati banget" pujiku


"kalo kamu, jangan dulu menikah. Selesaikan dulu kuliahmu, dan cari kerja" ibu menasihatiku


"ya bu" sambil menanggukkan


Pagi itu aku mendapat banyak wejangan dari ibu.


"kamu gak pergi kuliah? " tanya ibu


"berangkat nanti bu, jadwalnya mundur jadi sore bu" terangku


Hari demi hari kulalui, saling berbalas pesan dengan novi. Sudah gila diri ini. Terkadang senyum sendiri, terkadang juga tak tenang jika tidak ada kabar dari novi.


"nov, nanti malam aku main ke rumah ya?" aku mengirim pesan untuknya


"boleh gil, kutunggu ya?" balasnya


Aku melaju ke rumah ivan


"van, temenin ke rumah novi yuk?" ajakku


"males ah, mau ngapain aku di sana?" tolak ivan


"ayo lah temenin, aku malu kalo sendiri" rengekku


"ahhh kamu yang mau ngapel, aku yang repot"


"ayolah van, kita kan teman" rayuku


"beres" sambil kuacungkan jempol


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum" aku mengetuk pintu


"walaikumsalam, ehh gil, van" jawab om pras membukakan pintu


"novi ada om?" tanyaku


"ada, mau ngapel kok ngajak temen gil... gil..." ledek om pras


"gak tau nih om si agil. Cowok lemah, cupu, penakut" timpal ivan


"nov... ada agil sama ivan nih" om pras memanggil novi


"ya om" jawab novi dari dalam rumah


"ehhh gil, van. Mau di dalam apa di teras aja?" ucap novi


"di teras aja nov" jawabku


"yudah duduklah dulu, bntar ya gil" novi masuk ke dalam rumah


Tidak lama berselang novi pun datang membawakan 2 gelas kopi dan cemilan.


"nahhh ini baru mantap" ucap ivan sambil menyerobot kopi


"ehhh sembarangan, belum disuruh" kutepuk tangam ivan


"hahaha gak papa gil, kan memang untuk diminum" ucap novi

__ADS_1


"tuhh gak papa kata pemiliknya juga" ketus ivan


"ya ada tata caranya" ucapku


"udah, gak papa gil slow aja" ucap novi membela ivan


"ehhh nov, gimana di tempat kerjamu? Ada ceweknya gak? Boleh dong dikenalin" ivan bertanya dengan gayanya


"ada beberapa van, tapi sudah menikah dan ada beberapa yang masih pacaran" terang novi


"gak ada yang jomblo?" tanya ivan lagi


"ada satu doang" ucap novi


"nah boleh tuh dikenalin ke aku" ivan mulai cengengesan


"boleh" jawab novi sambil mengulurkan tangan


"lah?" ivan terkaget


"iya cuman aku yang jomblo. Hahaha" balas novi tertawa


"ooo kamu masih jomblo? Sama dong kayak temanku" ucap ivan sambil menepuk - nepuk pundakku


Dan saat itu pula aku menatap novi dengan malu - malu. Begitupun novi.


Pandangan kami terjebak dalam gelombang yang sama


"ciyeeee yang samaan" ucap ivan mengagetkan kami


Aku dan novi pun salah tingkah


"ehh gil diminum kopinya, itu punya ivan udah hampir habis" novi menawarkan


"ohhh iya nov" jawabku sedikit grogi


Malam itu kami asik bercanda, dan waktu menunjukan pukul sembilan malam


"nov sudah malam, kami pamit dulu ya" ucapku


"iya gil, mau kupanggilin om pras?" tanya novi


"gausah nov, takut mengganggu istirahatnya"


"yaudah, kami pulang dulu nov, Assalamualaikum" tutupku berpamitan


"walaikumsalam, hati - hati gil"


Sesampai di rumah aku melamun dan tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. Senyumnya yang manis dan matanya yang tajam, mengoyak pertahanan hatiku.


"woeee ngelamun aja" ivan mengagetkan


"novi cantik ya van?" tanyaku


"banget, baik pula. Dan jomblo"


"tunggu apa lagi?" kata ivan


"jangan kelamaan gil, keburu diambil orang lain" sambung ivan


"santai, dia gak akan pernah pergi jika memang ditakdirkan untuk aku van" ucapku sok puitis


"terserahlah, ayok antar aku pulang dulu"


"gak tidur sini aja van?"


"gak ah, ayok. Aku udah ngantuk" ajaknya


"ahh ngerepotin saja kau" umpatku


"kamu yang mengajakku keluar, tanggung jawab dong" balasnya

__ADS_1


"yaaa deh iyaaa" aku mengalah dan mengantar ivan pulang


Malm ini sungguh indah.


__ADS_2