
Dalam situasi apa pun, jangan biarkan emosimu mengalahkan kecerdasanmu, karena salah satu hal yang menyedihkan ketika kamu terlalu baik pada seseorang, dia akan berpikir kamu cukup bodoh untuk dimanfaatkan.
Dalam perjalanan menuju Resort yang sudah disewa pihak Perusahaan, Embun dan Arsenpun sebenarnya mendengar gerutuan dan umpatan dari Nevika kepada Bagas, namun hal itu sama sekali tidak membuat Embun melunak, bahkan dia malah bertos ria dengan Arsen karena setidaknya rasa kesal mereka sedikit terbalaskan saat ini.
Tak sampai disitu saja, dalam pembagian kamar pun Embun yang akan mengaturnya, karena Arsen dan Embun ikut serta dalam acara Gathering itu, dia diberikan wewenang kusus oleh atasannya sebagai panitia pengurus, sehingga Embun bebas mau mengatur mereka sesuai kemauannya.
"Baiklah.. untuk pembagian kamar kalian sudah aku catat dalam kertas, saya sengaja memilihkan untuk kalian kamar suite class, agar kalian semua merasa nyaman dalam acara Kantor kali ini." Embun memberikan pengarahan saat mereka sudah memasuki Resort yang sangat indah itu.
"Yeay, Embun memang terbaik." Teriak mereka semua sambil bersorak-sorai karena bisa merasakan room suite class.
"Tapi, satu kamar dipakai untuk empat orang dan nama kalian sudah saya bagi menjadi beberapa kelompok masing-masing." Ucap Embun yang berhasil membuat Bagas protes seketika.
"Embun, tapi tahun kemarin kita bebas mau satu kamar dengan siapa, lagipun kalau satu kamar empat orang sumpek tau nggak!" Bagas merasa keberatan, karena misinya pasti akan terhambat karenanya.
"Itu kenapa tahun ini saya pilihkan room suite class untuk kalian, dan untuk ukuran suite class tidak akan sumpek kalau hanya dihuni empat orang, karena saya sudah memeriksanya, kalian tetap akan merasa nyaman menginap didalamnya." Tegas Embun kembali.
Embun tidak akan membiarkan Bagas bisa bersenang-senang dengan bebas, setelah menggangap dirinya sebagai pembantu.
"Tapi Embun, kita juga perlu privasi." Bagas tetap belum bisa terima, jiwa premannya mulai terusik saat Embun tidak lagi menjadi sosok penurut terhadapnya.
"Bagas, ini Gathering untuk acara Kantor, bukan untuk acara honeymoon, mengerti kamu?" Embun tidak perduli, karena memang yang protes juga hanya Bagas seorang, yang lainnya terlihat santai-santai aja pikirnya.
"Trus kalau tidur berempat itu bagaimana?" Andai Bagas tetap bisa satu kamar dengan Nevika mungkin dia tetap bisa terima walau tidur berempat.
"Memang apa masalahnya, dalam satu kelompok itu wanita dengan wanita dan pria dengan pria, jadi kalian masih bisa bebas dong, ranjang suite class itu lebar sekali, bahkan tersedia sofa ukuran besar juga didalamnya, jadi kalian tidak akan kekurangan tempat tidur." Dia sengaja mengurangi sewa kamar biasa, agar bisa menyewa room suite class.
"Kenapa banyak sekali aturannya, tahun kemarin kita bebas mau satu kamar sama siapa dan nggak harus empat orang didalamnya." Sampai dititik terakhirpun Bagas masih tetap unjuk rasa.
Dan semakin Bagas ngotot, Embun bukannya melunak, dia bahkan semakin meneguhkan pendiriannya dan mengabaikan Bagas walau sudah berwajah masam.
"Tidak ada pilihan untuk tahun ini, atau kamu mau aku sewakan khusus tapi kamar single dan terasingkan dengan yang lainnya dilantai bawah tanah, ada kok kalau mau?" Semakin Bagas marah, maka senyum Embun semakin terlihat melebar.
"Kenapa single?" Jika tidak single mungkin dia akan mempertimbangkan dna bisa dia gunakan dengan Nevika.
"Karena hanya itu yang tersisa, tapi tidak ada kamar mandi dalam, tidak ada AC, bahkan tidak menjamin jika ada serangga masuk didalamnya, karena itu biasanya dipakai untuk Gudang." Jelas Embun dengan perkataan panjang lebar, jika seperti itu keadaannya sudah bisa dipastikan kalau Nevika pasti tidak akan mau tinggal didalamnya, walaupun hanya berdua saja dengan Bagas.
"Hei Embun, jangan keterlaluan kamu!" Bagas terlihat melotot kearahnya.
"Jika masih ada yang protes bisa tidur saja di loby!" Tapi Embun dengan santainya melengos, padahal dulu jika berdebat Embun pasti menjadi pihak yang selalu mengalah karena tidak ingin kekasihnya marah.
"Baik Ketua!" Dan karyawan yang lain pun tidak pernah merasa keberatan oleh aturan yang diberikan Embun kepadanya.
"Semua bubar, masuk kamar masing-masing." Embun langsung membubarkan mereka semua, karena matahari juga sudah mulai terbenam saat itu.
"Siap Ketua!" Akhirnya mereka semua bubar dan menuju kamar mereka masing-masing dengan kelompoknya tanpa mau ambil perduli dengan Bagas yang masih berdiri mematung karena belum bisa terima.
"Arsen, ayo kita masuk ke kamar kita." Ajak Embun sambil menenteng ransel miliknya.
"Hei... kamu satu kamar dengan Arsen?" Saat mendengar perkataan itu, Bagas seolah kembali naik darah.
"Tentu saja, kami sama-sama ketua divisi, apa masalahnya?" Jawab Embun dengan santai, namun disaat seperti inilah hal yang memang dia tunggu-tunggu, apalagi karyawan yang lainnya sudah pergi, hanya ada mereka berempat disana.
"Ini tidak adil, ya kan Sayang." Ucap Bagas yang seolah meminta dukungan dengan Nevika, namun dia terlihat diam saja, karena sudah paham kalau memang keputusannya sudah mutlak dan tidak bisa lagi diubah.
"Kami pun ada empat orang didalamnya." Jawab Embun dengan tatapan yang masih terlihat tenang, walau dalam jauh didasar hati dia ingin sekali memaki pria ini.
"Tapi kenapa kamu satu kamar dengan Arsen!" Bagas merasa Embun memang sengaja memisahkan dirinya dengan Nevika.
__ADS_1
"Karena ketua Divisi hanya delapan, dan jadi dua ruangan, sedangkan yang perempuan diantara kami hanya ada dua, jadi pasti harus satu kamar dengan pria juga dong?" Embun sudah memikirkan hal ini sejak awal lagi.
"Enak saja, kenapa nggak yang lain saja yang satu kamar denganmu!"
Perseteruan diantara mereka seolah memanas, namun entah mengapa Arsen dan Nevika hanya terlihat menyimak saja.
"Kenapa rupanya kalau Arsen satu ruangan denganku, bahkan dia kekasihku sekarang bukan?" Embun bahkan tersenyum miring sambil menggandeng lengan Arsen.
"Nggak bisa!" Teriak Bagas kembali, jiwanya berontak, antara kesal dan tidak bisa menerima aturan ini.
"Kenapa lagi, kamu tidak terima karena kamu nggak bisa satu kamar dengan Nevika, atau karena alasan lain?" Tanya Embun kembali, kalau dengan alasan cemburu pun sepertinya tidak mungkin pikirnya, karena Bagas terlihat begitu cocok dengan Nevika.
"Tenang saja Bagas, aku tahu batasanku, walaupun kami satu kamar ada banyak tempat yang bisa dipergunakan untuk tidur terpisah, karena aku tidak sebejad yang kamu pikirkan, paham!" Sebelum Bagas mengatakan hal yang merusak gendang telinganya, Arsen langsung angkat bicara.
"Lagian kenapa kalau kita tidur satu ranjang, Bagas pun kalau punya kesempatan satu kamar dengan Nevika pasti tidur satu ranjang juga, bukan begitu Bagas?" Embun seolah menjadikan hal ini sebagai bahan ledekan, karena jika dipermainkan, Embun pun bisa menjadi seorang pemain.
"Embun? kamu ini ngomong apa?" Bagas mulai menaikkan kedua alisnya.
"Heleh, nggak usah pura-pura lugu, sudahlah kamar kamu ada diujung sana!" Lama kelamaan malas juga dia meladeni sifat Bagas yang memang tidak pernah mau mengalah, sedangkan badannya sudah lengket dan pengen segera membersihkan diri.
"Makanya jangan sepelekan wanita kalau sudah marah." Arsen semapt berkata-kata sebelum dia mengikuti langkah Embun yang memilih pergi duluan.
"Apa sih kalian berdua ini?" Bagas kembali berteriak dan membuat Embun kembali menoleh kearahnya.
"Sudahlah, aku hanya ingin totalitas saja dalam sebuah permainan, kalau aturannya harus cuek ya cuek aja, bahkan anggap saja kita nggak kenal kalau perlu."
Embun langsung menarik lengan Arsen yang sedari tadi tersenyum kagum dengan wanita dihadapannya ini, karena Arsen fikir Embun itu orangnya terlalu lembut dan penurut, tapi ternyata kalau sudah kesal, dia bisa bertindak diluar dugaan.
Setelah mereka semua beres-beres tiba waktunya mereka menyantap hidangan makan malam. Dan kali ini giliran Arsen yang beraksi, dia sengaja menyiapkan meja spesial untuk dirinya dan Embun.
Meja mereka memang satu tempat dengan karyawan yang lainnya, namun hidangan dan juga hiasan di meja Arsen sangat mewah, bahkan posisi meja mereka tepat disisi tebing, sehingga bisa melihat gemerlapnya lampu malam seperti bukit bintang yang bertaburan dibawah sana, hanya berdua saja, karena mejanya cuma ada dua kursi.
Ketika rekan-rekan yang lain hanya menggunakan baju tidur dan baju rumahan biasa, Embun sengaja menggunakan dress simpel tapi terlihat sangat cantik ditubuh Embun yang memang proporsional.
"Masak sih, aku hanya memolesnya sedikit saja, aku berharap makan malam kali ini bisa sedikit lebih spesial, karena jarang-jarang kan kita makan diluar seperti ini?" Padahal Embun sengaja ingin menunjukkan kepada Bagas, bahwa dia memperlakukan Arsen lebih spesial.
"Terima kasih, kamu sudah memberikan yang terbaik untukku." Jawab Arsen sambil mengusap pipi tirus wanita itu.
"Untuk kita berdua juga dong."
"Tentu Sayang, ayo kita ke meja yang sudah aku siapkan spesial untuk kamu."
Arsen langsung membantu menarikkan kursi untuk Embun, dia benar-benar memperlakukan Embun begitu istimewa malam ini.
"Wow, cantik sekali meja kita, untuk malam ini nilai kamu sebagai cowok keren dan romantis sudah sembilan puluh sembilan persen deh." Celetuk Embun dengan segala pujiannya.
"Yang satu persennya lagi kemana?" Tanya Arsen kembali, dia terbiasa hidup perfect dalam segala hal jadi kalau masih ada yang kurang dia pasti langsung instripoksi diri.
"Ada, tapi jika kamu tersenyum." Celetuk Embun dengan singkatnya namun bisa membuat perubahan seketika.
"Ahehe... Kamu bisa aja Embun." Arsen sontak tersenyum karenanya, hanya dengan Embunlah Arsen banyak tertawa, karena Embun adalah sosok wanita yang selalu bisa menghiburnya tanpa banyak rengekan atau drama seperti wanita sebelumnya.
"Arsen, gimana kalau kita Dansa? agar kencan kita bisa sempurna?" Ajak Embun agar Bagas dan Nevika semakin terbakar api cemburu oleh ulah mereka berdua.
"Aku nggak bisa Dansa, lagian ditempat begini mana cocok berdansa?" Jawab Arsen yang memang ada baiknya.
Apa yang harus aku perbuat agar Bagas dan Nevika bisa melihat, kalau hubungan kami pun tak kalah mesra?
__ADS_1
"Aish... iya juga ya, trus apa dong?" Embun kembali berpikir keras untuk mencari cara lain.
"Makanlah dulu, biar kamu bisa berpikir." Ucap Arsen yang langsung menyuapkan satu potongan daging ke mulut Embun dengan perlahan.
"Hehe... terima kasih." Jawab Embun dengan malu-malu, namun dia bahagia, karena Arsen yang biasanya terkenal sebagai pria dingin kini mulai banyak tersenyum saat bersamanya.
"Aku memang bukan pria yang romantis, namun aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan kamu selama berhubungan denganku."
Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian, karena akhirnya Arsen bisa merasakan diperhatikan oleh pasangan selama ini.
"Aku tidak pernah berharap lebih dalam suatu hubungan, sebenarnya aku hanya ingin memahami dan dipahami, dan yang pasti juga bisa menyayangi dan disayangi, namun terkadang manusia sering berekspetasi berlebihan, sering merasa tak cukup dengan apa yang sudah digariskan."
Embun pun merasakan hal yang sama, dirinya merasa begitu dimuliakan oleh seorang pasangan, bukan hanya karena ada maunya.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, dan percaya saja, bahwa jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri, karena yang baik nanti akan mendapatkan yang baik pula." Saat Arsen melihat pandangan Embun yang terlihat kosong, dia langsung menggengam kedua tangan Embun, untuk sekedar menguatkan dirinya, karena saat ini dia tahu betul kemana arah lamunan Embun.
"Hmm.. Kamu terbaik deh, tapi aku mau ke kamar mandi sebentar, boleh?" Dia tidam mau ada air mata yang jatuh disana, jadi dia memilih pergi ke kamar mandi saja.
"Tentu saja, jangan lama-lama ya?"
Ceileh, udah kayak pangeran bucin aja dia, aku cuma ke Toilet Paduka Raja, bukan ke Alas Sorban sana, tapi ya sudahlah, aku suka model beginian.
"Okey." Jawab Embun yang tanpa sadar langsung mencubit pipi Bagas, karena merasa gemas sekali dengannya.
Dan hal itu tak luput dari pandangan Nevika, dia merasa tidak terima karena Arsen seolah memperlakukan Embun dengan spesial sedangkan Bagas tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.
"Arsen, bisa kita bicara sebentar?"
Tanpa Arsen duga, tiba-tiba Nevika sudah berada dibelakang tubuhnya sendirian tanpa adanya Bagas yang biasanya selalu berkepit dengan dirinya.
"Eh.. Nevika? ada apa?" Tanya Bagas dengan tatapan penuh tanya.
"Aku mau ngomong sesuatu denganmu, tapi tidak disini." Ucapnya dengan memasang wajah sok imut agar Arsen terpengaruh.
"Katakan saja, aku belum selesai makan malam sama Embun." Jawab Arsen yang mencoba menahan diri dan tidak menjadi pria lemah didepan Nevika.
"Tapi aku ingin bicara sama kamu penting, kita turun kebawah ya?" Ajaknya kembali, seolah memang ada sesutau yang mendesak karenanya.
"Nggak bisa, tapi kalau kamu tetap memaksaku, kita tunggu Embun kembali dari Toilet dulu." Jawabnya dengan lugas.
"Arsen, aku hanya ingin bicara berdua saja denganmu?" Bahkan Nevika sudah dongkol, karena biasanya dia selalu terlihat istimewa didepan Arsen
"Tapi saat ini kekasihku bukan kamu, melainkan Embun, jadi aku tidak akan pergi tanpa persetujuan dari Embun."
"Arsen, apa kamu lupa siapa aku?" Umpat Nevika yang mulai mengeluarkan rayuannya.
"Nevika, itu kenapa dalam hidup ini kita diberi akal dan fikiran dari yang Maha Kuasa, dengan posisi kepala kita ada diatas dan kaki kita ada dibawah, karena sebelum melakukan hal apapun, kita perlu berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak." Pesan itu benar-benar terdengar menohok bagi Nevika.
"Tapi aku---"
"Kembalilah ketempat dudukmu, karena saat ini tempat duduk itu milik Embun." Walau dengan kata-kata halus, namun Arsen sudah memilih untuk menolaknya.
"Arsen?"
"Aku harus menjaga hati Embun didepan semuanya, karena saat ini dialah prioritasku, bukan lagi kamu." Arsen sengaja melakukan hal ini, untuk sekedar memberikan nasehat kepada Nevika, andai dia bisa mengerti dan memahami.
Degh!
__ADS_1
Nevika seolah mendapatkan tamparan keras dari ucapan Arsen kali ini, dia sungguh tidak menyangka, jika pria yang dulunya mau melakukan hal apapun demi dia tapi baru beberapa hari permainan ini dimulai, seolah dia sudah banyak berubah.
Dalam hidup ini, kamu bisa bersembunyi dari kesalahan yang kamu perbuat, namun tidak dari penyesalanmu. Kamu bisa saja bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu. Maka gunakan akal sehatmu dan jangan hanya mengedepankan ego dan nafsumu semata.