
Sementara ini Arsen memilih mengikuti apa yang diinginkan oleh Nevika dan Ayahnya, bukan karena takut, apalagi masih menyayangi Nevika, namun saat ini dia hanya ingin melihat Nevika sehat dulu kembali, baru dia bisa melanjutkan langkah berikutnya.
Hampir semalaman Arsen sama sekali tidak tidur, dia terus saja diceramahi oleh Papanya Nevika, bahkan disuruh menemani putrinya sampai pagi menjelang.
"Nevika, aku mau pulang dulu, aku belum mandi." Ucap Arsen saat matahari mulai meninggi.
"Nggak boleh, mandi disini kan bisa." Larang Nevika yang memang takut jika ditinggal Arsen pergi.
"Aku tidak bawa baju ganti." Padahal Arsen hanya ingin lepas saja dari Nevika, namun dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Nevika, disaat kondisinya belum stabil.
" Nggak mau, jangan pergi!"
Nevika sama sekali tidak membiarkan Arsen jauh dari dirinya walau hanya sebentar saja, bahkan tadi malam dia dipaksa untuk merentangkan lengannya, untuk dijadikan bantal tidur Nevika sampai pagi.
Kalau itu atas dasar cinta, pasti lain ceritanya namun saat ini Arsen benar-benar merasa lelah, bahkan tangannya seolah kebas dan mati rasa.
"Permisi, kami akan melakukan pemeriksaan rutin pagi ini." Sapa Dokter Nevika yang datang dengan beberapa perawat disana untuk melakukan kunjungan.
Yes!
"Silahkan Dokter." Arsen langsung bangkit dan akhirnya terlepas dari kekangan Nevika, dan Nevika tidak akan punya alasan untuk menolaknya.
"Keadaan nona Nevika sudah membaik, sidah mulai stabil, hanya perlu banyak istirahat saja dan kalau sudah merasa kuat, sudah boleh pulang." Ucap Dokter itu setelah melakukan pemeriksaan beberapa saat.
Akhirnya, aku bisa lepas!
"Terima kasih Dokter." Arsen akhirnya bisa tersenyum bahagia, dia tidak akan merasa terbebani lagi dengan keadaan Nevika saat ini.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi, ingat utamakan kesehatan jangan keegoisan." Dokter itu masih mengingat, bagaimana cerita awal mula Nevika akhirnya dilarikan kerumah sakit.
Heh?
Arsen sedikit menahan tawa saat mendengar ucapan dari Dokter tersebut yang jelas-jelas menyindir Nevika.
"Nevika, aku lapar, boleh aku pesan makanan diluar dulu?" Tidak ada alasan untuk dia tetap bertahan ditempat ini, karena hatinya kini sudah berada ditempat lain.
"Nanti tunggu Papa datang dulu." Cegah Nevika dengan manjanya, karena dia tidak mau ditinggal sendirian.
"Papamu sedang dalam perjalanan kemari, aku hanya pesan makanan saja, dari kemarin aku belum makan Nevika, apa kamu ingin membuatku mati kelaparan?"
Kalau Arsen menunggu kedatangan Papanya Nevika, sudah pasti dia tidak akan bisa pergi dari sana, karena sudah pasti akan mendapatkan ceramah yang seolah mampu membuat telinganya terasa sakit.
"Ckk... ya sudah, tapi makannya disini aja ya, aku juga mau ikut mencicipinya." Ucap Nevika yang sebenarnya hanya tidak ingin ditinggal terlalu lama saja.
Terserah kau saja, yang penting aku bisa pergi dulu!
"Ya sudah, aku pergi dulu ya." Arsen berusaha tetap tersenyum dengan manis, walau hatinya sudah terasa 'sepet', bahkan kedua matanya pun sudah memerah karena kurang tidur.
"Jangan lama-lama, okey?"
"Hmm." Arsen langsung membawa ponselnya dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah beberapa saat berlalu, Arsen kembali kerumah sakit dengan membawa dua paperbag yang berisi makanan dan juga cemilan, namun Arsen tidak kembali ke ruangan Nevika, dia memilih duduk di ruang tunggu dengan mata yang terus mengawasi arah pintu masuk, karena sedang menunggu kedatangan seseorang.
Tak lama kemudian, terlihat pasangan suami istri yang tak lagi muda itu berjalan masuk menuju ke arah ruang dimana Nevika dirawat.
"Akhirnya, mereka datang juga, aku harus segera pergi dari sini, sebelum negara api menyerang." Arsen langsung bergegas pergi untuk bersembunyi terlebih dahulu sebelum kabur meloloskan diri.
__ADS_1
Saat kedua orang tua Nevika sudah ia pastikan masuk kedalam ruangan putri mereka itu, Arsen pergi menuju ruangan perawat yang menjaga ruangan khusus VIP.
"Permisi Sus, boleh minta tolong?" Arsen tidak mau berbohong, dia tetap membelikan makanan yang disukai Nevika, tapi hanya dia titipkan saja.
"Kenapa Mas, ada yang bisa kami bantu?" Jawab Perawat itu dengan ramah,apalagi mereka tahu kalau Arsen menunggu di ruang VIP.
"Tolong berikan makanan ini ke ruangan VIP, atas nama Nevika dan satu lagi ini buat Suster." Arsen menyerahkan dua paperbag berisi makanan itu ke meja perawat.
"Tapi pasien itu tidak boleh makan makanan dari luar rumah sakit loh mas?" Ucap Perawat itu yang sedikit memberi peringatan.
"Ini permintaannya Suster, lagian tadi keadaannya sudah sehat dan kata Dokter nanti dia juga sudah boleh pulang, tapi kalau memang tetap tidak boleh, berikan saja kepada kedua orang tuanya, mereka pasti ada didalam." Ucap Arsen yang memang tidak mau memaksakan.
"Ya sudah." Jawab Suster itu, karena menurut pengalamannya memang banyak pasien yang merasa jenuh dengan masakan dari rumah sakit.
"Terima kasih banyak ya Sus, maaf merepotkan." Arsen menggangukkan kepalanya sebagai tanda ucapan terima kasih.
"Baik Mas, terima kasih juga buat makanannya."
Akhirnya Arsen bisa tersenyum dengan lega, hilang sudah rasa kantuknya, karena dia ingin segera menemui Embun sekarang juga.
Dia tidak perduli lagi dengan Nevika, mau marah, mau ngamuk juga terserah, karena dia sudah memastikan ada kedua orang tuanya yang akan menjaga dia disampingnya saat ini.
"Nggak usah pulang ke Apartement dulu deh, langsung kerumah Embun saja, nanti numpang mandi disana aja, lebih enak dirumah Embun." Celetuk Arsen sambil mencari Taksi.
Kalau Embun sedang berdua dengan Arsen dia selalu memperlakukan Arsen layaknya suami sendiri, jadi walaupun Apartement Arsen lebih mewah, tapi kenyamanan itu dia dapatkan dari rumah Embun.
Karena sejatinya rumah itu terasa nyaman bukan karena bangunannya, tapi karena orang yang ada didalamnya.
Dan saat dia sudah sampai dihalaman rumah Embun, kedua tangannya langsung terkepal dengan sempurna karena dia tahu betul mobil siapa yang terparkir didepan rumah Embun, bahkan berjajar dengan mobil dirinya yang kemarin dibawa pulang oleh Embun.
"Dia lagi, dia lagi!"
"Embun!" Teriak Arsen arah pintu masuk, karena memang sudah terbuka sejak tadi.
"Arsen?" Embun ingin berjalan mendekatinya, namun langsung dicegah oleh Bagas yang sedari tadi sedang merayu dan membujuk Embun agar kembali bersamanya.
Begitu Bagas mendengar Embun masuk rumah sakit gara-gara stres karena diputus oleh Arsen,dia langsung mendatangi Embun dengan harapan bisa kembali mengambil hati Embun kembali hanya untuknya.
"Ngapain lagi kamu kesini hah? urus saja kekasihmu itu, bukannya dia sedang sakit sekarang!" Teriak Bagas yang juga merasa kesal karena Arsen selalu datang diwaktu yang tidak tepat menurutnya.
"Dia bukan lagi kekasihku, karena kekasihku adalah wanita yang saat ini kamu pegang tangannya, lepaskan Embun sekarang juga!" Bentak Arsen yang begitu marah saat tangan Embun berada dalam cengkraman tangan Bagas.
Cup!
"Tidak akan!"
Bagas dengan santainya malah mengecup tangan Embun dengan lembutnya tanpa memperdulikan ucapan Arsen.
"Bagas kamu ini apa-apaan!" Dan Embun langsung ingin melepaskan diri, namun pegangan tangan Bagas terlalu erat.
"Nevika, apa kamu ingin menjadi orang jahat sekarang!" Bagas mulai memprovokasi Embun agar menolak Arsen saat ini.
"Tapi---?" Embun pun sempat tidak tega juga tadi, dan sempat sedikit goyah pendiriannya untuk berjuang bersama Arsen, namun kedatangan Arsen saat ini membuatnya sedikit lebih berani.
"Jangan coba-coba kamu mempengaruhinya!" Teriak Arsen yang semakin meradang.
"Kenapa? kenyataannya memang seperti itu bukan?" Ucap Bagas dengan tawa liciknya, dia benar-benar sangat membenci pria ini, karena semua keinginannya gagal gara-gara Arsen.
__ADS_1
"Embun, sekarang katakan, kamu pilih aku atau dia!" Arsen menoleh kearah Embun yang malah terlihat memejamkan kedua matanya.
"Jangan dengarkan ocehannya Embun, dia hanya orang serakah yang menginginkan kamu dan Nevika secara bersamaan." Tuduh Bagas yang memang sengaja ingin menjelek-jelekkan Arsen.
"Kamu lebih tahu aku seperti apa kan Embun, jika kamu memilihku, pegang tanganku!" Arsen tidak mau berkata banyak, namun jauh didasar hatinya dia percaya dengan perasaan Embun kepada dirinya.
"Nggak boleh!" Bagas langsung memegang kedua tangan Embun dengan erat.
"Embun, katakan saja sayang?" Ucap arsen yang terus menatap kedua kata Embun sedari tadi.
"Aku percaya padamu Arsen!" Jawab Embun sambil menggangukkan kepalanya.
Yes!
"Kamu dengar itu? cepat singkirkan kedua tanganmu itu!" Akhirnya Arsen punya kekuatan lebih untuk mempertahankan apa yang menjadi harapan hidup di masa depannya.
"Embun hanya milikku, jangan menyentuhnya!" Bagas bersikukuh memperahanlan Embun, padahal Embun sudah tidak berpihak lagi dengannya
"Lepaskan, jangan paksa aku menggunakan kekerasan dalam hal ini!" Arsen pun bisa berkata kasar, dia tidak mau menyerahkan kepemilikikannya untuk yang kedua kali dengan pria yang sama.
"Aku tidak perduli!" Teriak Bagas yang semakin terlihat menggila.
Bugh!
Karena sudah habis kesabarannya, Arsen langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Bagas.
"Ayo kita pergi sayang!"
Saat tubuh Bagas teronggok di Lantai, Arsen langsung menggengam tangan Embun dengan erat dan ingin membawanya pergi dari rumah itu.
"Kita mau pergi kemana Arsen?" Tanya Embun yang sebenarnya bingung, disatu sisi dia kasian melihat Bagas saat ini, namun disisi lain dia juga tidak mau kehilangan Arsen.
"MENIKAH!" Teriak Arsen dengan mantap.
"Hah?" Embun hanya melongo saja, namun dia tetap mengikuti langkah Arsen saat itu.
"Aku sudah tidak bisa membiarkan kamu lama-lama didekati terus oleh pria itu, jadi aku akan menghalalkanmu secepatnya." Ucap Arsen yang semakin mempercepat langkahnya.
Pranggggg!
"Jangan pergi Embun, jangan tinggalkan aku!"
Saat Arsen dan Embun mengabaikan dirinya yang tak berdaya, Bagas langsung mengamuk dirumah Embun, bahkan menghancurkan meja yang terbuat dari kaca diruang tamu itu.
"Bagas memang gila!" Umpat Embun yang menoleh sesaat.
"Jangan perdulikan dia dan jangan mengkhawatirkan rumahmu, besok kita jual saja rumah itu, karena rumah kamu sekarang ada disampingmu." Ucap Arsen dengan penuh keyakinan, seolah dirinya sudah mengatur masa depan mereka nantinya.
"Maksudnya?" Tanya Embun yang kurang begitu paham.
"Akulah rumahmu!"
Berrrrr!
Walaupun siang itu terasa terik, langit berwarna biru dan matahari bersinar dengan terang tanpa tertutup oleh awan, tapi Embun merasakan kesejukan dihatinya, karena menurutnya Arsen benar-benar lelaki yang punya pendirian kuat tanpa mudah tergoyahkan.
Tidak ada kata tidak mungkin, sebelum kamu sempat mencobanya. Jangan pernah takut menghadapi masa depan, hadapi lalu perjuangkanlah masa depan itu.
__ADS_1
Apabila kamu mampu memimpikannya, maka kamu juga bisa melakukannya. Ingatlah bahwa hari ini hanyalah hari yang buruk dan bukan kehidupan yang buruk.