Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
37.Apa ini?


__ADS_3

Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya tak butuh waktu yang cukup lama, dia dan juga Embun sudah sampai di rumah sakit tempat dimana Nevika dirawat.


"Mama, bagaimana keadaan Nevika?" Arsen langsung berlari menemui Mamanya yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


"Kamu apain dia, kenapa Nevika jadi nekad begitu?" Tanya Mama Arsen yang sebenarnya kesal dengan Nevika, tapi kasihan juga saat melihatnya pingsan seperti tadi.


"Kenapa Nevika bisa tiba-tiba pingsan Ma?" Arsen masih mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari.


"Entahlah, tiba-tiba mulutnya berbusa dan ambruk pingsan begitu saja, untung saja Mama langsung membawanya kemari, kalau tidak mungkin dia sudah lewat."


"Astaga." Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan Embun hanya bisa mengusap punggungnya untuk sekedar menenangkan.


"Kalian punya masalah yang belum selesai?" Sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia bertanya-tanya sendiri didalam hati.


"Sudah aku selesaikan tadi Ma." Jawab Arsen dengan jujur.


"Kenapa baru tadi, kalian kan sudah tunangan, seharusnya sebelum kamu berbuhungan dengan Embun selesaikan terlebih dahulu urusan cintamu, siapa yang ngajarin kamu jadi pemain wnaita, hah?" Sebagai seorang wanita, Mama Arsen sangat menetang hal itu.


"Bukannya Mama yang menyuruh kami tunangan cepat-cepat?" Jawab Arsen yang langsung membalikkan pertanyaan Mamanya itu.


"Memang benar, tapi Mama kira kamu memang sudah putus duluan dengan Nevika, itu mengapa kamu berani tidur satu ranjang dengan Embun!" Mamanya tidak mau disalahkan begitu saja.


"Saat itu memang belum putus Ma." Arsen memilih duduk dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit itu.


"Jadi kamu selingkuh dengan Embun?" Mama Arsen langsung berkacak pinggang, seolah siap memberikan hukuman kepada putranya.


"Enggak bisa dibilang gitu juga Ma." Arsen menoleh kearah Embun, seolah meminta persetujuan untuk berbicara jujur dengan Mamanya dan Embun pun menggangukkan kepalanya, karena mereka tidak bisa menutupi hal ini, jika sudah begini ceritanya.


"Trus gimana ceritanya, Mama nggak ngerti deh, Mama takutnya nanti kamu bisa ikut terseret dalam hal ini, itu bisa dibilang percobaan bunuh diri loh dan itu semua gara-gara kamu!" Sesungguhnya dia hanya tidak ingin putranya terkena imbasnya, dna harus mengorbankan hubungannya dengan Embun.


"Arsen dan Embun memang keluar dari perjanjian awalnya, tapi bukan kami yang memulai semua ini Ma." Arsen mencoba menjelaskan awal mulanya.


"Perjanjian apalagi ini Arsen, aduh.. pusing kepala Mama." Umpat Mama Arsen yang bingung dengan kisah cinta anak muda jaman sekarang.


"Dengan keluarga pasien?" Namun saat Arsen ingin menjelaskannya dengan detail, Dokter yang menangani Nevika sudah keluar dari ruangannya.


"Ya, saya dokter." Jawab Arsen dengan tanpa berpikir panjang, membuat Embun merasa sedikit cemburu, karena Arsen begitu terlihat khawatir dan takut jika terjadi apa-apa dengan Nevika.


"Begini, apa pasien sedang ada masalah?" Tanya Dokter itu ingin tahu awal kejadiannya.


"Emm... mungkin iya dokter, apa keadaannya cukup serius?" Ucap Arsen yang tidak mungkin jika harus menceritakan dengan gamblang semuanya.


"Tadinya iya, namun sekarang keadaan pasien sudah membaik." Jawab dokter itu sambil menghela nafasnya seolah merasa lega.


"Sebenarnya penyebabnya pingsan tadi apa Dokter?" Tanya Arsen yang ingin tahu pasti.


"Dia terlalu banyak menelan pil tidur secara bersamaan, jadi bisa dikatakan dia overdosis, tapi sudah berhasil kami tangani sebelum terlambat dan sebentar lagi mungkin pasien sudah sadar."


"Terima kasih banyak Dokter."


"Iya, sebaiknya jaga emosinya, agar dia tidak terlalu stres, apalagi dia dalam masa penyembuhan, hindari berdebat dan hibur dia, mungkin dia hanya tertekan batin saja, dan takutnya dia akan semakin nekad nantinya." Jelas Dokter itu secara rinci.


"Baik dokter."


"Kalau begitu saya permisi, boleh ditunggu didalam tapi jangan banyak-banyak, biarkan pasien istirahat dulu." Ucap Dokter itu sebelum pergi keruangannya.


Dan Arsen langsung bergegas menuju ke ruang rawat inap dimana Nevika saat ini berada.


"Huft... astaga Nevika, apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah gila?"


Arsen menarik kursi dan duduk menghadap tubuh Nevika yang terbaring lemas dengan selang infus berada di tangan kirinya.


"Apa yang harus aku katakan dengan Papa dan Mamanya nanti?" Arsen sudah bingung duluan, apalagi sifat Papa Nevika yang sedikit memiliki temperamen tinggi.


"Arsen.. Arsen!" Saat Nevika membuka kedua matanya dengan perlahan, orang yang dia sebut pertama kali adalah Arsen.

__ADS_1


"Iya, aku disini, apa ada yang sakit? biar aku panggilkan Dokter?" Tanya Arsen yang langsung mendekat kearah Nevika.


"Tidak perlu, aku hanya butuh kamu dihidupku." Seketika Nevika langsung memeluk tubuh kekar Arsen.


"Nevika, kita sudah---" Arsen tidak mungkin menghempaskan pelukan Nevika saat itu, karena wanita itu masih lemah saat ini.


"Nggak mau, aku nggak mau putus denganmu, aku mau mati saja kalau kamu minta putus denganku?" Rengek Nevika dengan manjanya, dia akan melakukan apapun agar keinginannya bisa terpenuhi.


"Nevika, jangan begini, sepertinya kita sudah tidak sejalan lagi?" Ucap Arsen yang mencoba memberikan jarak diantara mereka.


"Bukan kita, tapi kamu! karena kamu mudah terbujuk rayu dengan wanita gila itu, hubungan kita sudah terjalin lama Arsen dan kamu dengan mudahnya melupakan aku begitu saja demi bersama wanita itu, ingat.. sampai kapanpun aku tidak rela melepasmu begitu saja!" Nevika seolah memberikan ancaman dengannya.


Dan saat Arsen ingin membantahnya, Papa Nevika tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Nevika? ada apa sayang, are you okey?" Tanya Papanya yang langsung menggeser tempat duduk Arsen dan memisahkan pelukan mereka.


"Papa, Arsen jahat denganku?" Nevika langsung mengadu dengan Papanya, karena dia tahu Papanya pasti akan membelanya habis-habisan.


"Arsen, kamu apakan anak Papa, bukannya kamu sudah berjanji untuk menjaganya? lalu kenapa bisa begini?" Sontak kedua mata Papa Nevika langsung mendelik kearah Arsen.


"Dia sekarang memilih wanita lain Pa dan Arsen ingin memutuskan aku." Adu Nevika kembali.


"ARSEN!" Suara Papa Nevika langsung melengking didalam ruangan itu.


"Maaf Om, tapi hubungan kami memang sudah retak." Jawab Arsen dengan jujur, dia tidakmau menutup-nutupi hal ini lagi.


"Bukannya seorang pria itu yang dipegang adalah ucapannya?" Papa Nevika mulai memojokkan Arsen dan seolah menagih janji pria itu tanpa ingin tahu penyebabnya apa.


"Iya Om, tapi---"


"Maaf, bisa berbicara dengan wali pasien?"


Saat Arsen ingin menjelaskan secara rinci inti dari permasalahan hubungan mereka,tiba-tiba Dokter yang menangani Nevika langsung kembali muncul, saat mendengarkan suara bising-bising diruangan itu.


"Bukannya sudah saya peringatkan tadi, tolong jaga emosi pasien, takutnya nanti pasien akan berbuat nekad lagi." Ucap Dokter itu sedikit berbisik dengan Arsen.


"Fuhh... baik Dokter." Dan Arsen hanya bisa mengganguk pasrah, tapi dia tidak mungkin juga memarahi Papanya Nevika saat ini.


"Kalau begitu saya permisi." Dokter itu langsung kembali ke ruangannya lagi.


"Arsen, aku ingin berbicara denganmu, ikuti aku!" Ucap Papa Nevika yang langsung mengajak Arsen untuk keluar ruangan.


Dan saat itu Embun baru saja ingin masuk kedalam ruangan Nevika, namun dia melihat Arsen keluar dengan seorang pria paruh baya, sehingga Embun memilih mengurungkan niatnya dan ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan, karena raut wajah mereka terlihat serius sekali.


"Arsen, apa kalian berdua punya masalah?" Papa Nevika langaung memulai sesi interogasinya.


"Maafkan saya Om." Dan hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan, walaupun bukan sepenuhnya salah Arsen.


"Arsen, kamu tahu kan kalau Nevika itu adalah anakku satu-satunya?" Tegas Papa Nevika kembali.


"Iya Om."


"Dulu saat kamu datang meminta izin untuk berpacaran dengannya, kamu sudah berjanji tidak akan menyakitinya bukan?" Suaranya pun sudah mulai penuh dengan penekanan,seolah tidak terima jika putrinya terluka karena pria dihadapannya kini.


"Tapi masalahnya kali ini, Nevika yang---"


Plak!


Belum juga Arsen mengatakan yang sejujurnya, namun tangan Papa Nevika sudah mendarat di pipinya, bahkan meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Om tidak perduli, kalau sampai Mamanya Nevika tahu keadaannya sekarang, bisa gawat tau nggak? kenapa dengan kalian ini, jika ada masalah selesaikan baik-baik, jangan sampai ada orang ketiga dalam hubungan kalian, aku bahkan sudah memberikan kepercayaan yang penuh kepadamu Arsen, tapi kamu hancurkan begitu saja, aku kecewa denganmu!" Kecam Papa Nevika dengan amarah yang sudah mulai meninggi.


Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya, ternyata anak dan bapaknya sama saja, selalu memaksakan keinginan mereka tanpa perduli dengan orang lain!


"Aish." Dan Arsen hanya bisa mengumpat didalam hati dengan senyum getirnya, dia tidak mungkin membalas pukulan itu, apalagi dengan orang yang lebih tua.

__ADS_1


"Kamu dengar sendiri apa yang dibilang Dokter tadi kan? Jadi Om tidak mau tahu, sebelum keadaan Nevika membaik, kamu harus selalu ada disisi Nevika, mengerti kamu." Tegas Papa Nevika yang seolah memberikan ancaman.


"Tapi Om?" Arsen sebenarnya keberatan, tapi dia tidak mungkin membuat keributan dirumah sakit itu.


"Pegang janjimu sebagai seorang pria, Paham kamu!" Seolah dia tidak menerima penolakan.


"Haish!"


Arsen langsung menjambak rambutnya sendiri begitu Papa Nevika sudah pergi meninggalkannya, dia bukan menyalahkan Papa Nevika yang memarahinya, namun dia menyalahkan diri sendiri, kenapa dia dulu dengan mudahnya dibutakan oleh cinta.


"Kasihan Arsen, apa aku terlalu egois jika memaksakan diri untuk masuk dalam hubungan mereka?"


Dan Embun memejamkan kedua matanya sambil bersandar di tembok, dia tidak ingin menjadi egois hanya karena mementingkan perasaannya sendiri.


"Embun, kamu disini?" Saat Arsen baru ingin menemuinya ternyata dia sudah berada disebalik tembok dengan lamunannya.


"Owh... iya." Jawab Embun yang kaget karenanya.


"Embun, sebaiknya kamu pulang saja, aku takut nanti jika Nevika atau Papanya melihatmu dia malah ngamuk dan kamu akan menjadi sasarannya nanti." Arsen hanya tidak ingin jika Papa Nevika akan menyakiti hati Embun dengan kata-kata pedasnya.


"Hmm." Dan Embun sadar diri, karena dia juga mendengar sendiri pembicaraan mereka tadi.


"Maaf ya? nanti aku hubungi kamu kembali, bawa saja mobilku, okey?" Arsen mengusap kepala Embun dengan perlahan, dia tidak ingin wanita kesayangannya itu terseret dalam amukan keluarga Nevika.


"Aku naik Taksi saja." Jawab Embun dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Kenapa, kamu marah denganku?" Arsen langsung menoel dagu Embun, dia tahu kalau perasaan Embun pasti tidak baik-baik saja saat ini.


"Tidak." Embun pura-pura santai, walau hatinya sudah tidak karuan.


"Kalau begitu bawa saja mobilku, besok aku akan datang kerumah kamu." Ucap Arsen kembali.


"Arsen, apa tidak sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita? mungkin ini yang terbaik untuk kita semua." Celetuk Embun yang mengutarakan apa yang dia pikirkan sedari tadi.


"Kamu benci denganku?" Tanya Arsen yang kembali menampilkan senyumannya, agar Embun tidak terlalu bersedih karena hubungan mereka.


"Enggak, bukan maksudku begitu, aku hanya--"


"Apa kamu ingin aku kembali dengan Nevika?" Arsen langsung memancingnya.


"Jika itu memang terbaik, lakukanlah." Walau dia seolah tidak rela karena hatinya sudah terpaut jauh dengan pria dihadapannya kini, namun Embun juga tidak mau egois.


"Itu sama saja kamu ingin menyiksa batinku sayang, karena rasaku dengan Nevika sudah hilang dan tergantikan olehmu." Arsen mengatakan yang sesungguhnya.


"Lalu aku harus bagaimana Arsen, aku bingung!" Jawab Embun sambil memalingkan wajahnya.


"Sudahlah, semua pasti akan baik-baik saja, tolong beri aku waktu, okey?"Arsen tidak ingin Embun terlalu banyak berpikir dan membuat dirinya stres memikirkan soal Nevika dan segala dramanya.


"Hmm." Untuk saat ini dia memilih mengikuti apa kata lelakinya saja.


"Pulanglah, besok kita bisa kangen-kangenan lagi." Ucap Arsen yang sengaja ingin menghibur kekasihnya itu.


"Arsen?" Embun menatap Arsen dengan penuh tanya, bisa-bisanya dia berkata seperti itu disaat mereka sedang menghadapi masalah genting seperti ini.


"Kenapa, apa kamu ingin malam ini saja aku mengunjungimu? atau kamu rindu tidur berpelukan denganku? atau mungkin kamu rindu aku saat neee--"


"STOP, aku pulang sekarang, bye!"


Sebelum Arsen berkata yang tidak-tidak dan mengatakan aib mereka sendiri, dia langsung membungkam mulut Arsen dan memilih segera pergi dari sana.


"Hehe... hati-hati bawa mobilnya sayang, rindu boleh tapi ngebut jangan, okey!" Teriak Arsen dengan senyuman godaannya, sedangkan Embun semakin mempercepat langkahnya karena merasa malu sendiri mendengarnya.


Maafkan aku Embun, karena mungkin hubungan kita tidak akan mulus kedepannya, akan ada banyak rintangan yang menghadang, akan ada banyak duri yang melukai langkah kita, tapi percayalah, aku akan selalu memperjuangkan kamu hingga akhir, karena kamu begitu berharga dan begitu istimewa untukku, aku sayang kamu Embun...


Arsen hanya bisa menatap lesu punggung wanita kesayangannya yang semakin jauh melangkah pergi dari pandangannya, kalau boleh meminta, mungkin Arsen memilih kabur dan membawa Embun pergi jauh-jauh dari kehidupannya saat ini, namun itu tidak mungkin, karena masalah itu harus dihadapi, bukan dihindari.

__ADS_1


__ADS_2