Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
42.Kadaluarsa.


__ADS_3

Bukan Bagas namanya, jika dia tidak berjuang sampai dititik akhir penghabisan, saat pagi itu dia ingin menjemput Embun untuk berangkat pergi bekerja bersama ke Kantor, namun ternyata rumahnya kosong dan tak lama kemudian dia mendapatkan kabar bahwa Embun dan juga Arsen cuti selama tiga hari secara bersamaan.


Kecurigaan Bagas semakin menjadi, dan seingatnya dia pernah memasang GPS tracker di ponsel Embun tanpa sepengetahuan Embun, jadi dengan mudah Bagas bisa melacak keberadaan Embun saat itu.


Namun karena Bagas baru berangkat pagi, sampai dititik lokasi dia sampai sudah siang dan ternyata disana Embun dan Arsen sudah sah menjadi pasangan suami istri, hanya tinggal acara resepsinya saja.


Ngeeeeeeeeengg!


Braaaaaaaaakkkk!


Karena amarahnya sudah meluap dan emosinya sudah memuncak, Bagas langsung menerjang saja tenda pernikahan Embun dan Arsen karena dia merasa sangat tersakiti, tega-teganya Embun menikah bukan dengan dirinya.


Tetangga yang sedang duduk menikmati kudapan resepsi itu pun terkejut dan ingin mencegahnya, namun Bagas melajukan motor besar miliknya dengan cepat sekali, sehingga mereka pun kuwalahan untuk menahannya masuk dan terjadilah yang memang harus terjadi.


Sesungguhnya orang yang Bagas incar adalah Arsen sebagai target utama, namun ternyata Takdir berkata lain, Embun malah mendorong tubuh Arsen agar menghindar dan akhirnya Tangan Embun sendiri yang terserempet dan tubuhnya terpental dari atas panggung sampai tak sadarkan diri, begitu juga dengan Bagas yang ikut terkapar karena tertimpa motor miliknya dan juga bongkahan panggung, seketika Bagas pun pingsan juga.


Tak selang beberapa lama mobil Ambulance terdekat pun datang setelah dipanggil oleh warga setempat, sehingga Embun dan Bagas bisa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.


POV EMBUN


"Aku dimana ini?"


Kepalaku masih terasa sedikit pusing saat aku membuka kedua mataku, dan suasana ditempat itu pun terasa aneh. Setelah kesadaranku pulih sepenuhnya aku mencium bau obat disana dan akhirnya aku menyadari kalau saat ini aku berada di rumah sakit.


Kilas balik kejadian diacara resepsi pernikahanku pun terlintas dan aku hanya bisa menghela nafas saja, karena mungkin acaranya kacau balau saat ini dan setelahnya aku sudah tidak ingat apa yang terjadi lagi.


"Aw.. tanganku kenapa ini?"


Saat aku ingin bangun, aku begitu terkejut melihat tangan kananku sudah diperban melingkar.


"Apa nona sudah sadar? apa yang anda rasakan?" Tanya seorang perawat yang mendekati kearahku.


"Iya Sus, tangan saya kenapa ya, kok sedikit nyeri?" Tanyaku sambil mencoba menggerakkan anggota tubuhku yang lainnya.

__ADS_1


"Tangan kanan Anda mengalami keretakan, tidak begitu parah, dan sudah berhasil kami tangani, kalau Nona sudah merasa membaik kami akan pindahkan anda diruang rawat inap sekarang." Ucapnya kembali.


"Apa ada orang lain yang terluka, yang datang bersamaku Sus?" Aku takut banyak yang menjadi korban diacara resepsi pernikahanku.


"Owh iya, mungkin pasien di sebelah, karena penanggung jawabnya sama dengan Anda." Jawab Suster itu sambil menunjuk tirai disebelah mereka.


"Astaga, apa itu suamiku? boleh aku melihatnya suster? soalnya kami baru saja menikah?" Ucapku, karena seingatku aku mendorong Arsen cukup kuat sebelum motor itu menerjang kursi pelaminan kami.


"Tentu, mari saya antar." Ucap Suster itu yang dari raut wajahnya pasti merasa kasihan melihat keadaanku, apalagi sisa make up pengantin diwajahku belum sepenuhnya hilang, hal yang biasanya dilakukan pasangan setelah menikah adalah bulan madu, tapi aku harus terkapar di rumah sakit.


"BAGAS?"


Betapa terkejutnya aku, bahkan kedua mataku seolah merasa tidak percaya saat melihat pria yang terkapar di ranjang pasien sebelahku itu ternyata adalah Bagas.


"Apa dia suami anda Nona?" Tanya Suster itu sambil mendorong kursiku disamping ranjang Bagas.


"Bukan, tapi--?" Aku tidak mungkin juga menjelaskan dengan detailnya kalau dia mantanku, bisa-bisa aku nanti viral dengan caption 'resepsi pernikahan hancur gara-gara sang Mantan'.


"Kalau begitu mari saya pindahkan ke ruang rawat inap saja, agar anda bisa beristirahat lebih nyaman." Karena saat itu aku masih berada di ruang IGD yang hanya berbataskan tirai saja dengan pasien yang lainnya.


"Pasien mengalami patah tulang pada kaki kanan juga tangan kanannya, dan baru akan dijadwalkan operasi besok pagi, jadi saat ini masih dilakukan pertolongan pertama." Karena saat itu hari sudah sore, jadi mungkin prosedurnya memang seperti itu, namun setidaknya Bagas sudah diberikan pertolongan agar tidak merasakan kesakitan.


"Boleh minta tolong tinggalkan saya sebentar Sus, dia adalah Man-- emm... Rekan terbaik saya, cuma pengen melihatnya sebentar aja?" Ucapku, karena mungkin setelah ini aku bahkan tidak akan melihatnya lagi, Arsen pasti tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan aku melihat pria itu lagi.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya?" Ucap Suster itu yang mungkin sedikit memaklumiku.


"Terima kasih Suster."


Saat aku berada dalam jarak terdekat dengan Bagas, hatiku seolah ikut teriris, tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca,saat melihat keadaan Bagas saat dia terluka cukup parah seperti sekarang ini.


Tangan dan kakinya dijapit oleh papan sementara, agar tidak banyak bergerak, sedangkan wajahnya ada beberapa tempelan perban dan kedua matanya masih tertutup dengan rapat.


"Bagas, kenapa kamu harus melakukan hal ini?"

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin marah dengannya, karena aku yakin, dialah pria yang menggunakan motor itu untuk mengacaukan resepsi pernikahanku, namun saat melihat keadaannya, aku hanya bisa menangis saja tanpa berani untuk memukulnya.


"Maafkan aku Bagas, hiks.. hiks.."


Air mataku sulit sekali untuk aku tahan, bagaimanapun juga, aku pernah begitu menyayangi pria yang tergeletak tak berdaya dihadapanku ini.


"Kamu tidak harus menyiksa dirimu seperti ini hanya karena aku Bagas?"


Saat aku memegang satu tangannya, ada rasa hangat yang aku kenal, karena dulu tangan itu selalu berada dalam genggamanku setiap hari.


"Tadi pagi, aku sudah melangsungkan Akad Nikah dengan Arsen, dan saat ini aku sudah resmi menjadi istri dari Arsen, tolong izinkan aku, tolong restui aku menikah dengan Arsen ya, maaf.. aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu, untuk bersanding denganmu."


Dadaku terasa sesak, aku sebenarnya juga merasa bersalah dengan hal ini, namun aku tidak punya pilihan lain, karena mungkin ini yang terbaik walau mungkin dalam versiku.


"Mungkin jodoh kita hanya sebatas pacaran saja, terima kasih karena pernah mendampingi keseharianku, terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku, tapi tolong... relakan aku dengan Arsen, kita buka lembaran hidup baru masing-masing, aku percaya kita berdua bisa hidup bahagia walau tidak bersatu, maafkan aku Bagas."


Air mataku benar-benar tumpah disana, bahkan aku meletakkan kepalaku diatas jemari Bagas agar suara tangisanku tidak menggangu pasien yang lain.


"Bagaimanapun juga, aku pernah bahagia bersamamu, bagaimanapun juga aku pernah begitu menyayangimu, semoga kelak kamu menemukan jodoh yang bisa merubah hidupmu, jadi tolong jangan seperti ini lagi Bagas, jangan sampai kamu terluka hanya karena aku, anggap aku sebagai temanmu, bukan musuhmu." Perlahan aku usap wajahnya, bahkan sebenarnya aku lebih rela Bagas memakiku, daripada harus melihat dia diam tak berdaya seperti ini hanya karena aku.


"Nona, keluarga Anda sudah menunggu?" Dan Suster itu sudah muncul kembali, mungkin takut jika aku menggangu istirahat Bagas.


"Iya Sus, lima menit lagi boleh?" Pintaku, karena mungkin hanya ini kesempatanku berbicara dengannya, walau mungkin dia tidak mendengarku, tapi aku bisa merasa sedikit lega.


"Baiklah."


Setelah perawat itu menutup kembali tirai itu, aku kembali mendekat kearah Bagas.


"Bagas, aku pergi ya, maaf tidak bisa menemani disaat sakitmu, karena aku sudah punya tanggung jawab sebagai istri orang lain, semoga kamu cepat pulih dan sehat kembali seperti sedia kala, jika setelah ini kita sudah tidak bisa bertemu lagi, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu pernah menjadi kenangan terindah walau juga pernah menjadi yang terpahit untukku, semangat ya Bagas, semoga operasimu besok berjalan dengan lancar."


Perlahan aku bangkit dari kursi rodaku, karena memang hanya tanganku yang terasa nyeri, kedua kakiku terasa baik-baik saja, jadi aku bisa berjalan seperti biasa.


"Bagas, aku pamit ya."

__ADS_1


Saat aku sudah sampai ditepi tirai, aku kembali mendekat kearah Bagas, dan perlahan aku kecup jemari tangannya, sebagai ucapan selamat tinggal dan ucapan terima kasih untuk yang terakhir kalinya karena bagaimanapun juga pria ini pernah menjadi tahta tertinggi didalam hatiku, walau saat ini sudah Kadaluarsa.


POV Embun End


__ADS_2