Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
30.Maaf.


__ADS_3

Segala persiapan pertunangan sudah disiapkan oleh keluarga Hernandes, karena permintaan Arsen dan juga Embun yang hanya ingin bertunangan dengan keluarga saja, maka mereka memilih menyewa satu Kafe dalam beberapa jam untuk acara lamaran.


Dan sore itu entah mengapa Embun ingin sekali bertemu dengan Bagas, sesungguhnya sedikit banyaknya dia tetap merasa bersalah, karena hubungannya dengan Arsen malah sampai kesatu tahap yang lebih serius dan mungkin melampaui perjanjian permainan pertukaran pasangan ini.


Namun jika Embun terang-terangan meminta bertemu dengan Bagas, sudah pasti dia akan menolaknya, jadi dia menemukan satu ide, agar dia bisa berbicara dengan Bagas tapi seolah tanpa sengaja.


"Permisi, selamat sore Ma."


Dan satu-satunya jalan adalah menemui Mamanya Bagas, kebetulan dia punya toko kue disalah satu Ruko terdekat dari rumahnya.


"Eh Embun? sini masuk nak, wah.. sepertinya sudah lama kita tidak bertemu, apa kamu sibuk? kenapa sudah lama sekali tidak mampir ke Rumah?"


Seperti biasa, Mamanya Bagas memang orangnya ramah, dan selalu memperlakukan Embun dengan baik sekali bahkan sudah seperti anak sendiri.


"Iya Ma, maafin Embun ya, ini juga tadi kebetulan lewat, trus pengen ngobrol sebentar dengan Mama."


Bahkan dia sudah terbiasa memanggil Mama Bagas dengan sebuan Mama, dan itu sudah menjadi kebiasaan sejak dia berhubungan dengan Bagas, karena memang Mama Bagas yang menginginkannya.


"Kamu cobain kue Mama ya, ada menu baru loh, sebentar lagi Bagas juga kesini jemput Mama, nanti kita tutup Tokonya sebentar lagi, trus kita pulang ke Rumah ya nak, Mama rindu ngobrol banyak denganmu."


Hati Embun terasa sedikit sesak karenanya, perlakuan Mama Bagas begitu baik dengannya, dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi diantara mereka jika akhirnya harus berpisah.


"Terima kasih Ma, maaf malah jadi merepotkan Mama." Karena Embun tidak punya pilihan lain, karena entah mengapa dia ingin sekali meminta maaf dengan Bagas walau tidak harus mengatakannya secara jujur tentang keputusannya untuk bertunangan dengan Arsen malam ini.


"Ya enggaklah, justru Mama seneng kamu mau mampir kemari, kalau senggang mampirlah, biar Mama ada temen ngobrol?" Senyumnya selalu mengembang, bahkan dia membawakan berbagai jenis kue untuk Embun agar dia coba.


Ya Tuhan, apa keputusanku sudah benar? aku hanya takut jika harus melukai hati seorang ibu yang baik sepertinya.


"Terima kasih Ma, karena Mama selalu baik denganku." Embun hanya bisa tersenyum untuk menutupi kegundahan dihatinya.


"Kamu ini ngomong apa sih? kamu kan anak Mama juga, kalau kalian sudah siap juga Mama berharap sekali agar kalian segera menikah." Jawab Mama Bagas sambil mencubit pinggang Embun dengan gemas.


Maaf Ma, bahkan sebenarnya aku ingin meminta izin untuk bertunangan dengan pria lain, tapi itu sepertinya tidak mungkin.


"Entah mengapa Embun merasa tidak pantas menjadi menantu Mama." Celetuk Embun sambil menundukkan kepalanya dan memainkan sendal yang dia pakai.


"Hush... nggak boleh ngomong begitu, apa Mama pernah salah bicara atau kata-kata Mama pernah menyakitimu?" Dan Mama Bagas malah punya pemikiran yang lain setelah mendengar ucapan dari Embun.


"Bukan Ma, tentu saja tidak, bahkan Mama memperlakukan aku sangat baik sekali, walau aku bukan darah daging Mama." Embun memegang kedua lengan Mama Bagas dan mengusapnya perlahan,setidaknya dia bahagia pernah mendapatkan kasih sayang darinya.


"Embun, coba cerita sama Mama, apa kamu dengan Bagas punya masalah?" Seolah dia punya firasat lain, walau dia belum bisa menyimpulkannya, karena Bagas juga tidak pernah cerita apapun dengannya, bahkan keseharian putranya itu seolah tidak ada yang mencurigakan atau terlihat bersedih karena putus cinta, jadi Mama Bagas belum bisa mengambil kesimpulan.


"Tidak ada Ma, kami baik-baik saja."


Karena hakikatnya memang hubungan mereka baik-baik saja saat ini, yang gila hanya ide permainan ini saja menurutnya.


"Syukurlah, Mama sempat takut tadi, soalnya Mama sudah terbiasa dengan kamu, lagipula apa jadinya Bagas tanpa kamu, semua hal dari diri Bagas kamu yang memperhatikan, bahkan terkadang kamu yang lebih tahu tentang dia daripada Mama yang sudah melahirkan dia ke dunia ini."


Karena hubungan Bagas dan Embun sudah terjalin lama, jadi dia sudah paham dengan kebiasaan mereka berdua, apalagi Embun memang selalu perhatian dengan Bagas.


"Hmm... maaf ya Ma, karena Embun tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Bagas." Walau akhirnya harus begini, namun setidaknya Bagas juga pernah membuat dirinya bahagia.

__ADS_1


"Maksud kamu apa nak?" Tatapan wajah Mama Bagas memang sedikit menunjukkan rasa curiga, namun Embun berusaha tetap terus tersenyum agar tidak ketahuan.


"Embun merasa masih terlalu banyak kekurangan, atau mungkin sering membuat Bagas kesal, marah atau bahkan merasa bosan dengan Embun." Dia pun terus mengkoreksi diri sendiri, agar kedepannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Hey... tidak ada manusia didunia ini yang terlahir sempurna, aku yakin Bagas lebih banyak kekurangan daripada kamu, tapi kamu masih mau menerima dia bahkan selalu memperhatikannya." Jawab Mama Bagas yang tahu persis sifat asli Bagas, bahkan dia sering geleng kepala saat menasehatinya.


"Pokoknya, Embun berterima kasih sekali kepada Mama tentang semuanya dan maaf jika Embun pernah ada salah kata dan salah ucap dengan Mama." Selain dengan Bagas, Embun pun ingin meminta maaf dengan Mama Bagas karena mungkin kedepannya semua tak lagi sama.


"Kamu ini kayak mau pergi jauh aja deh, kamu sehat kan nak?" Mama Bagas takut jika kisah Embun seperti di sinetron, dengan tema penyakitan dan meninggal dunia.


"Alhamdulilah sehat Ma, boleh aku peluk Mama sebentar, karena hampir satu bulan ini kita tidak bertemu, aku rindu Mama?" Biasanya seminggu sekali mereka pasti masak bareng, apalagi jika hari libur, karena Mama Bagas pasti menyuruh Embun untuk datang.


"Tentu sayang, kenapa tidak?"


Mama Bagas langsung memeluk Embun dengan senyum yang merekah, bahkan mengusap-usap punggung Embun saat wanita itu terlihat mengeratkan pelukannya.


Maaf Ma, maafkan aku karena tidak bisa jujur denganmu, aku takut menyakiti hati dan perasaanmu sebagai orang tua, jika memang aku masih jodohnya Bagas, kita pasti akan dipertemukan kembali, tapi jika memang tidak, terima kasih karena sudah pernah menerima aku dengan segala kekuranganku.


Kali ini Embun merasakan sebak didada, dia ingin jujur, tapi dia tidak mampu melakukannya, karena Bagas juga pasti akan marah kalau dia bercerita tentang kejadian yang sesungguhnya.


"Ada apa ini, kenapa ada acara peluk-pelukan segala?" Tiba-tiba suara Bagas mengejutkan mereka berdua.


Seketika Embun membuang wajahnya untuk mengusap air matanya yang sedikit menetes, karena hanya bisa berkata-kata dalam hati saja.


"Akhirnya kamu datang juga Bagas, ini ada Embun, dia kebetulan lewat trus mampir tadi, kalian berdua ngobrol didepan sana, Mama mau siap-siap tutup Toko dulu." Mama Bagas langsung pergi meninggalkan mereka untuk mengemasi kue-kue dan menutup Toko miliknya.


"Hmm." Bagas hanya menggangukkan kepalanya saja, dia merasa sedikit aneh dengan Embun, karena melihat senyumannya sedikit dipaksakan, bahkan kedua sudut matanya terlihat memerah.


"Tadi aku tidak bermaksud mengingkari perjanjian kita, aku hanya rindu pengen ngobrol sama Mama kamu saja." Sebelum disalahkan Embun langsung menjelaskannya terlebih dahulu.


"Tadi ada perlu beli sesuatu di Mall dekat sini." Jawab Embun yang terpaksa kembali berbohong, padahal niatnya memang hanya ingin datang kemari.


"Nggak sama Arsen?" Dia melihat disekitar toko Mamanya siapa tahu Arsen menunggunya.


"Tidak, dia sedikit sibuk hari ini." Karena memang Arsen dan keluarganya heboh menyiapkan pesta pertunangan nanti malam.


"Owh iya, tumben kamu nggak sibuk juga, kalian berdua kan sama-sama orang sibuk." Ledek Bagas sambil tersenyum miring.


"Maaf." Akhirnya kata yang ingin dia ucap keluar juga.


"Heh? kenapa minta maaf?" Tanya Bagas dengan wajah herannya.


Karena malam ini aku akan bertunangan dengan Arsen.


"Tidak apa-apa, sekarang sepertinya aku mulai sadar, bahwa ternyata banyak sekali kekurangan yang ada pada diriku, sehingga mungkin kamu menjadi bosan denganku." Walau semua terasa pahit, namun untuk saat ini Arsen selalu bisa mengobatinya dengan cara dia sendiri.


"Embun, sudahlah! jangan bahas hal itu, ada Mama disini, lagian kita semua sudah sepakat kan, jadi santai aja?" Bagas tidak ingin keluarganya tahu soal ini, karena sudah pasti mereka akan kecewa dengannya.


"Hmm... kamu sehat kan?" Embun sudah lama tidak duduk berdua dengan Bagas seperti ini bahkan dia sudah mulai canggung sekarang, tidak senyaman dulu lagi.


"Kamu bisa lihat sendiri kan, badanku tetap segar bugar, sehat dan kuat." Ucap Bagas sambil memamerkan lengannya yang memang cukup berotot itu.

__ADS_1


"Tapi kamu agak kurusan, apa kamu sering lupa makan?" Tanya Embun yang menduga-duga saja, padahal dia hanya ingin menyindir Bagas saja.


"Sudahlah, jangan kayak emak-emak yang tahunya ngurusin makan aja, hidup bukan hanya soal makan Embun!" Umpat Bagas yang merasa tersindir, karena sekarang setiap pagi dia hanya sarapan roti saja saat ini, dia sudah kapok meminta Nevika untuk membuatkan sarapan, jadi dia memilih menolak jika ingin dibuatkan sarapan oleh kekasih sementaranya itu.


"Maaf, jika sikapku sering menjengkelkan bagimu." Ucap Embun kembali sambil membuang arah pandangannya jauh kedepan.


"Baru tahu? tapi ya sudahlah, aku harus segera pulang, ada janji dengan Nevika nanti malam." Bagas tidak ingin membahas hal yang mendalam dengan Embun saat ini, karena nanti ujung-ujungnya hanya bertengkar saja.


Apa dia mengusirku?


"Baiklah, aku juga ada urusan penting dengan Arsen malam ini." Jawab Embun yang juga tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan lagi, dia hanya ingin meminta maaf saja, dan sudah dia lakukan jadi dia bisa pulang dengan hati hang lebih tenang.


"Cih... terserah kalian saja, aku juga tidak perduli." Bagas langaung melengos.


"Kalau begitu aku pamit, sekali aku minta maaf untuk semuanya." Embun bangkit bahkan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Bagas.


"Kamu ini kenapa, asyik minta maaf aja?" Walau merasa aneh, namun dia menyambut juga uluran tangan Embun.


"Saling memaafkan bukannya bagus, daripada harus bermusuhan ya kan?" Jawab Embun dengan senyum termanisnya, walau dia belum tahu endingnya, namun setidaknya dia ingin meninggalkan kesan baik dengan Bagas sebelum dia bertunangan.


"Apa sih?" Bagas sebenarnya bertanya-tanya didalam hati, namun gengsi untuk bertanya jujur.


"Mama, Embun pamit pulang dulu ya?" Embun langsung pamit dnegan Mama Bagas.


"Nggak mau mampir ke Rumah dulu nak?"


"Lain kali saja Ma, itu pun kalau masih bisa, soalnya Bagas juga mau pergi katanya." Sesungguhnya kata-kata Embun sudah menyimbolkan semuanya, namun mungkin mereka tidak berpikir jauh.


"Kenapa nggak bisa, harus bisa dong, emang kalian nggak kencan, bukannya ini weekend?" Ledek Mama Bagas.


"Tidak Ma, kami punya urusan penting masing-masing, sekali lagi Embun minta maaf ya Ma, kalau ganggu Mama beres-beres tadi, semoga Mama sehat selalu dan diberikan umur yang panjang dan semakin cantik tentunya." Ucap Embun yang berusaha tetap terlihat ceria, walau hatinya terasa sedikit kelu, karena sepertinya dia tidak akan bisa sedekat ini lagi dengan beliau.


"Kamu ini bisa aja, kalau begitu hati-hati dijalan nak."


"Iya Ma, salam juga buat Papa." Embun melambaikan tangannya tanpa mau menoleh kearah Bagas yang terus memperhatikannya.


"Pasti." Banyak kata tanya, namun dia memilih diam saja.


"Sudah selesai belum Ma, ayo kita pulang, aku ada acara nanti malam." Bagas langsung mendekat kearah Mamanya.


"Bagas, kenapa Mama merasa ada yang aneh dengan sikap Embun ya, kalian tidak bertengkar bukan?" Dia masih penasaran sebenarnya.


"Tidak Ma, kami baik-baik saja, apa Mama nggak lihat tadi?" Jawab Bagas yang tidak berpikir kearah sana.


"Iya, cuma Mama rasa Embun kayak yang--"


"Sudahlah, ayo kita pulang, sudah tua itu jangan terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang dilakukan anak muda, sudah bukan jamannya Ma." Bagas langsung menyahutnya saja, agar pembahasan mereka tidak melebar sampai kemana-mana.


"Entah mengapa Mama merasa akan sedikit jauh dari Embun." Celetuk Mama Bagas kembali.


"Emang jauh, rumah kita kan memang jauh dari rumah Embun, sudahlah, ayo pulang!"

__ADS_1


Bagas tidak mau banyak berpikir, apalagi tentang omongan Embun yang memang agak sedikit aneh juga pikirnya, tapi Bagas tidak perduli terlalu jauh tentang itu, dia langsung menarik lengan Mamanya untuk mengajaknya pulang, karena dia sudah tidak sabar ingin berkencan berdua dengan Nevika, karena mereka berencana mau dinner romantis malam ini.


Dalam dunia yang penuh dengan fatamorgana ini pedulilah secukupnya, jangan kurang tapi juga jangan berlebihan, sebab kurang peduli itu melukai mereka dan terlalu peduli itu melukai diri sendiri.


__ADS_2