Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
39.Mengadu?


__ADS_3

"Terkadang di jalan yang mulus dan bagus pun seringkali kita terjatuh, namun harus tetap berdiri dan berlari meskipun kaki sulit untuk melangkah."


Memang tidak ada yang mudah dalam hidup ini, bahkan ketika kita sudah melakukan yang terbaik saja masih sering salah dimata orang lain.


"Kita mau kemana Arsen?" Embun menanyakan kembali, saat Arsen sudah mulai lebih tenang saat ini.


"Kemana saja, asal bisa berdua denganmu." Jawab Arsen sambil tersenyum manis dengannya.


"Ke Kuburan mau?" Celetuk Embun yang hanya ingin sedikit menghibur saja.


"Boleh saja kalau kamu tidak takut, bahkan aku ingin bertanya tentang rahasianya mbak Kunti." Jawab Arsen sambil sesekali melirik kearah Embun.


"Rahasia apa?" Tanya Embun sambil menaikkan kedua alisnya.


"Kenapa dia masih bisa tertawa, sedangkan orang menyebutnya dengan Setan." Ucap Arsen yang berhasil membuat Embun tertawa.


"Pfftth..haha, aku juga jadi penasaran, dulu saat meninggal dia kan dibungkus kain kafan, lalu kenapa bisa berubah menjadi gamis ya?" Jawab embun yang jadinya malah membayangkan hal itu.


"Ternyata kamu bisa lucu juga sayang?" Dan Arsen malah memikirkan yang lainnya, dia merasa sedikit lebih lega, setidaknya Embun tidak terlalu larut dalam kesedihan dari masalah yang mereka hadapi berdua.


"Ini cerita serem Arsen, aish... kenapa juga kita harus membahas itu, ganti topik, aku malah jadi merinding ini?" Embun langsung mengusap lengannya sendiri.


"Kita pulang kerumah orang tuamu saja kalau begitu, tunjukkan jalannya ya." Arsen sudah mantap dengan keputusannya.


"Untuk?" Tanya Embun untuk sekedar memastikan.


"Membahas pernikahan kita." Jawab Arsen yang memang sudah tidak mau lagi lebih lama terjebak dalam permainan Bagas dan Nevika walau kenyataannya sudah berakhir.


"Seriusan mau dipercepat?" Tanya Embun yang tidak ingin Arsen mengambil keputusan terburu-buru hanya karena amarah melanda.


"Huft... tidak ada jalan lain sayang, aku sudah terlalu muak meladeni Nevika dan orang tuanya yang egois itu, aku tahu aku salah, tapi anaknya sendiri yang memulainya, tapi dia tidak mau tahu, bisanya hanya menyalahkan aku saja." Celetuk Arsen yang tanpa sadar mengeluarkan unek-uneknya.


"Pikirkan dulu baik-baik, jangan mengambil keputusan hanya karena emosi saja?" Embun mengusap lengan Arsen dengan lembut.

__ADS_1


"Ini sudah keputusan terbaik yang aku pilih sayang." Arsen menghela nafasnya dengan perlahan, Embun selalu bisa membuat hatinya merasa lebih tenang.


"Yakin? pernikahan itu tidak boleh main-main Arsen, itu bukan hanya perjanjian kita dengan manusia saja, tapi dengan Tuhan juga." Embun tahu betul bagaimana perasaan Arsen saat ini, dia pun merasakan hal yang sama sebenarnya.


"Aku ingin bertanya satu hal denganmu Embun." Dia memperlambat laju kendaraannya, karena ingin berbicara yang lebih serius dengan Embun.


"Apa itu, katakan saja, jangan ada yang kamu tutupi dalam masalah ini." Tanya Embun yang memang sudah siap menerima konsekuensi apapun itu.


"Maukah kamu berjuang bersamaku?"


"Hah?" Embun tidak menyangka Arsen akan menanyakan tentang hal itu.


"Jika nanti ada masalah yang harus kita hadapi, atau hal-hal yang menguji perasaan kita, apa kamu masih tetap ingin bertahan denganku untuk melewati semuanya bersama?" Tanya Arsen untuk kembali memantapkan hatinya.


"Bismilah saja, aku tidak bisa menjanjikan segalanya, namun satu yang perlu kamu tahu, aku hanya ingin kamu yang menjadi pendampingku, untuk sekarang dan kedepannya nanti." Embun menatap sendu wajah Arsen yang memang terlihat tampan dalam situasi apapun.


"Terima kasih sayang, kalau begitu tunggu apa lagi, jangan ragu, masih ada Tuhan yang akan selalu bersama kita." Jawab Arsen sambil menoel dagu lancip milik Embun.


"Hmm... baiklah."


"Mama, Papa?" Saat mobil mereka baru saja memasuki halaman rumahnya, ternyata kedua orang tua Embun sudah duduk diteras berdua.


"Kalian sudah datang?" Mama Embun tersenyum melihat kedatangan putrinya.


"Mama sama Papa kok ada diluar, kayak yang tau aja kalau kami mau datang?" Embun merasa sedikit aneh, karena tidak biasanya sore-sore begini mereka ngobrol diluar, apalagi angin di tempat itu berhembus cukup kencang.


"Masuklah." Mama Embun langsung mengajak mereka masuk kedalam rumah, karena takut lama-lama masuk angin jika ngobrol diluar.


"Permisi Om, Tante?" Sapa Arsen dengan ramah.


"Kita makan malam sekalian ya, kalian pasti lelah karena perjalanan yang cukup jauh." Ucap Mama Embun yang ternyata sudah menyiapkan banyak hidangan istimewa diatas meja makan.


"Mama sudah masak?" Tanya Embun yang semakin heran,mereka hanya tinggal berdua saja, tapi kenapa hidangannya banyak sekali pikirnya.

__ADS_1


"Sudah, masakan kesukaanmu pun ada." Jawab Mama Embun yang langsung memberikan piring untuk mereka.


"Empal Gentong?" Senyum Embun melebar saat melihat makanan kesukaannya terhidang disana.


"Iya, emping melinjonya juga ada." Mama Embun menunjukkan emping yang pas untuk makanan berkuah itu.


"Mantap, ayo kita makan Arsen, masakan Mama lezat sekali." Embun langsung mengambilkan empal gentong itu ke mangkuk miliknya.


"Aku percaya, karena masakanmu pun selalu enak." Puji Arsen dengan mantap.


"Hehe.. kamu bisa aja, sini aku perasin jeruk nipis dulu, walaupun jeruk ini nggak ada manis-manisnya,namun jika disatukan dengan Empal Gentong, rasanya pasti mantap sekali." Jelas Embun yang sebenarnya sudah menahan air liurnya sedari tadi saat mencium bau kuah itu.


"Benarkah?" Arsen memang suka masakan-masakan yang jarang dia temui.


"Begitu juga dengan kehidupan, walau awalnya perih tapi akan ada nikmat tersendiri didalamnya." Celetuk Mama Embun setelahnya.


"Mama bahas soal apa ini? Embun ngomongin soal Empal Gentong loh ini?" Tanya Embun yang langsung melirik kearah Mamanya.


"Bagas tadi menelpon Papa."


Duar!


"Uhuk.. Uhuk.."


Baru saja Arsen ingin menelan kuah Empal Gentong itu yang rasanya nikmat itu, namun dirinya langsung tersedak begitu mendengar nama Bagas disebut.


Belum juga dia menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya kemari, namun kenapa hal ini sudah terjadi pikirnya.


Dan rasa takut itu mulai muncul ke permukaan, padahal selama ini Arsen selalu percaya dengan dirinya sendiri, yang biasanya menyelesaikan masalah dengan mudah, tapi didepan kedua orang tua Embun, dia ketar-ketir juga.


"Astaga, minum dulu, nggak usah buru-buru." Embun langsung menuangkan air putih untuk Arsen, padahal dirinya juga sudah was-was, karena dari raut wajah Papanya, beliau terlihat serius sekali.


"Apa benar sesungguhnya kalian berdua belum putus dari pacar kalian masing-masing, lalu kenapa secepat itu kalian melakukan pertunangan, apa kalian hanya bersandiwara dalam pertunangan kalian itu, jika benar begitu ayah benar-benar kecewa dengan kalian berdua?" Ucap Papa Embun dengan helaan nafas kasarnya.

__ADS_1


Ternyata tadi begitu Arsen dan Embun pergi, Bagas langsung mengadu kepada kedua orang tua Embun, karena Bagas memang punya nomor telpon kedua orang tua Embun dari dulu.


To Be Continue...


__ADS_2